Zebra Cross

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 9 April 2016

Pagi ini langit masih berwarna khas biru seperti biasanya. Gumpalan awan yang meneduhkan pun bertebaran di cakrawala seperti biasanya. Udara yang masuk ke dalam rongga hidungku terasa amat segar, tapi masih saja seperti biasanya. Langkah kakiku melewati beberapa bangunan yang masih seperti biasanya. Sejenak aku berhenti untuk mengencangkan tali sepatuku di sebuah kursi taman, istirahat sebentar seperti biasanya. Sudah satu kilo lebih aku ber-jogging ria menghangatkan tubuhku seperti biasanya. Mentari kini sudah meninggi dan terasa sedikit panas seperti biasanya. Dari awal sampai di taman ini membuatku tersadar bahwa semua yang ku alami dan ku rasakan pagi ini masih terasa sama.

Aku mulai lagi langkahku dan meninggalkan kursi taman tempat aku beristirahat tadi. Kini aku tak berlari lagi, ku rasa sudah terlalu lelah dengan jarak yang telah menguras sebagian besar tenagaku. Lagi pula aku memang sedang tidak dikejar waktu. Kantor tempatku bekerja sedang libur tiga hari. Entah karena apa? Aku tidak begitu peduli. Sekarang lebih baik berjalan dengan santai sambil sesekali mengamati orang-orang yang berlalu lalang di kota ini. Seorang ibu-ibu berpakaian kumal sambil menggendong anaknya datang mendekatiku. Tampak tangan kanannya sedang membawa gelas mineral bekas yang terisi beberapa pecahan uang.

Aku rasa sangat mudah untuk menebak apa yang ingin ia lakukan. Untung aku mempunyai pecahan uang lima ratus rupiah sisa kembalian membeli air minum tadi. Urusan selesai. Beberapa langkah kemudian seorang penjaja koran mendekatiku. Seperti biasa ia menawarkan dagangannya dengan cara khas penjual koran. Seperti biasa pula aku menolak membeli. Kehidupan telah dimudahkan dengan teknologi informasi dan komunikasi modern, terkadang aku berpikir mengapa masih ada yang memproduksi media berwujud padat seperti ini. Mungkin itu untuk tujuan strata sosial menengah ke bawah saja yang kesulitan menemukan informasi secara instan. Atau untuk eksistensi mereka saja sebagai awak media. Entahlah?

Langkah kakiku berhenti lagi. Kali ini bukan karena aku ingin beristirahat atau mengencangkan sepatuku lagi. Namun, sejenak aku dan orang-orang di samping kiri-kananku harus menunggu isyarat lampu lalu lintas yang mengizinkan kami untuk menyeberang. Menunggu setiap kendaraan itu berhenti walaupun mungkin ada saja oknum nakal yang melanggar. Ya, menunggu adalah sebuah kata yang dimaknai berbeda-beda oleh setiap insan di kota ini. Mungkin beberapa orang merasa kesal atau bosan untuk menunggu. Sebagian lagi merasa sabar dan aku berada pada golongan yang ini.

Desakan orang-orang dari belakang punggungku menyadarkanku dari lamunan bodoh. Satu hal yang membuatku sabar dalam menunggu adalah karena aku dapat melamunkan banyak hal. Dan dari melamun itu membuatku mempunyai duniaku sendiri. Cukup aneh memang, dimana banyak orang mencintai dunia ini namun aku lebih mencintai dunia lamunanku. Alasanku? Simpel saja, dunia lamunan dapat dirubah dengan mudah sesuai keinginan. Dunia nyata? Mungkin juga dapat dirubah sesuai keinginan. Namun, hal itu membutuhkan usaha serta kerja keras yang tinggi dan itulah yang membuatku tidak suka. Terlalu banyak tekanan. Zebra cross yang akan aku seberangi kali ini masih sama saja. Dengan aspal hitam dengan garis warna cat putih yang mulai memudar, serta beberapa kotoran hewan yang bersatu menjadi sebuah harmoni khas di jalanan.

Aku menikmati langkah kecilku melewati zebracross ini. Membiarkan orang lain mendahuluiku dengan harapan ada yang tidak hati-hati hingga tertabrak. Jika benar terjadi, aku bisa menjadi sosok pahlawan karena membantu menyelamatkan nyawa orang. Mengingat aku memiliki kenalan sopir ambulans di kota kecil ini. Hal itu mungkin bisa sedikit menjadi pemanis hidupku yang terasa datar ini. Atau mungkin apa aku saja yang tertabrak? Ah, tidak. Masih banyak hal yang ingin ku lakukan di kota ini. Ketika aku memikirkan semua itu tiba-tiba seseorang membuatku hampir tersungkur di tanah setelah menabrakku dari belakang. Namun, kedua tanganku masih sanggup menahan beban tubuhku ini. Untung hanya manusia, pikirku saat itu. Dengan begini mungkin aku bisa sedikit memarahinya untuk memberi sensasi berbeda di hari ini. Akan tetapi…

“Maaf Mas, saya tidak sengaja.”

Ketika aku mendengar suaranya kemudian mendongak ke atas melihat parasnya aku merasa seakan waktu berhenti saat itu. Aku tak menyangka orang yang menabrakku pagi ini adalah seorang malaikat. Hanya saja tak ada sayap yang melengkapinya kali ini. Malaikat ini berwujud wanita nan cantik berbaju putih. Ia berhasil membuatku tertegun. Membuat lidahku seakan kelu menjawab permintaan maafnya. Hanya kepalaku saja yang mampu mengangguk bodoh yang mengisyaratkan tidak apa-apa. Senyum penyesalannya terasa indah sekali, walaupun sekejap kemudian ia hilang dalam kerumunan. Apakah ia orang baru di kota ini? Pikirku setelah tersadar dari kebekuanku karenanya. Mulai saat itu aku merasakan sesuatu yang berbeda. Apakah ini yang namanya jatuh cinta pada pandangan pertama? Sensasi yang begitu menyenangkan dan mungkin sensasi inilah yang aku cari-cari dalam perjalanan hidupku.

Hari kedua kantor libur. Hari ini sengaja aku tidak berlari-lari pagi seperti biasanya. Entah kenapa? Padahal setiap hari aku selalu berlari-lari pagi seperti biasanya. Mungkin semua karena dia yang membuatku berubah. Ya, wanita yang menabrakku kemarin. Ia membuatku kali ini sudah berada di trotoar samping zebra cross menunggu. Menunggu kemunculannya kembali. Otakku telah penuh terisi akan paras cantiknya serta segala pertanyaan yang ingin ku tanyakan padanya. Semoga ia segera datang, aku sudah tak sabar menunggunya.

Kerumunan orang-orang telah memenuhi trotoar. Sambil berjejalan aku berusaha mencari-cari wajah yang aku kenal kemarin. Tanpa ku sadari orang itu telah berada tepat di samping kananku. Kali ini tubuhnya terbalut baju berwarna merah dengan beberapa renda berbentuk bunga nan manis di sekitarnya. Jatungku berdegup kencang melirik wajahnya yang cantik kala itu. Aku berdehem mencoba mencari perhatiannya. Saat ia melirikku dengan senyumannya, kembali ia berhasil membuatku tertegun. Saat itu ia hanya diam, membuatku berpikir apakah ia tidak mengenali wajahku setelah kejadian kemarin?

Sungguh aku ingin menanyakannya, namun aku merasa membeku. Teramat beku hingga lidahku juga membeku tak mampu berkata-kata. Sihir apa sebenarnya ini. Walaupun aku membeku namun mataku tak lepas darinya. Sampai ketika ia telah melewati zebra cross lalu menghilang lagi di kerumunan orang, kebekuan tubuhku pun ikut menghilang. Lagi-lagi aku tidak mengejarnya. Aku merasa belum siap dengan diriku sendiri. Mungkin aku masih harus mengumpulkan keberanian hari ini, sehingga ketika esok bertemu aku mampu bertanya banyak padanya. Ya, aku telah memutuskan bahwa esok adalah akhir dari kebekuanku padanya. Semoga ia masih melewati zebra cross ini lagi.

Hari ketiga dan juga hari terakhir kantorku libur. Hari terakhir pula aku harus terbebas dari kebekuanku. Aku harus bisa berbicara padanya. Semalaman aku begadang memikirkan cara apa yang tepat untuk memulai perbincangan. Aku yakin kali ini aku sudah sangat siap. Sedari tadi aku sudah berada di bibir zebra cross. Aku merasa kerumunan di pagi ini berkurang tak seperti biasanya sampai ku sadari hari ini adalah hari minggu. Hari di mana banyak orang libur bekerja. Sedikit gelisah hatiku menyadari hal itu, karena ia yang aku tunggu juga tak segera datang.

Apakah akan sia-sia pagi ini? Apakah aku tak bisa bertemu lagi dengannya? Segala pikiran negatifku seakan dihempaskan gelombang kedatangannya kala itu. Ia sungguh teramat cantik. Kali ini sebuah jaket cokelat elegan menutupi tubuhnya. Beberapa ikat bunga mawar yang ia bawa menambah indah pesonanya. Wajahnya yang berseri-seri itu seakan ditujukan padaku. Langkahnya semakin mendekati tempat di mana aku berdiri. Tepat di hadapanku, setangkai mawar ia ambil dari ikatannya lalu diberikannya padaku. “Di terima ya Mas, semalam saya baru saja dilamar seseorang yang saya sukai. Oleh karena itu saya ingin berbagi kebahagiaan dengan memberikan mawar pada semua pejalan kaki yang melewati zebra cross ini.”

Seakan hatiku benar-benar remuk redam mendengar ucapannya. Aku teramat terlambat. Kini ia tidak lagi membuatku membeku, tetapi membuatku hancur berkeping-keping. Sungguh aku kecewa pada diriku sendiri. Sekarang ia bukan hanya telah menyeberangi zebra cross itu lagi, namun ia juga telah menyeberang dari hatiku yang teramat dalam. Bukan hanya menghilang dalam kerumunan, namun juga menghilang dari segala harapan yang ku buat untuknya.

Kehidupan memang begitu sulit ditebak. Namun, hari ini aku mengetahui satu hal: Hidup ini layaknya menyeberangi zebra cross. Kita selalu melewati hitam putih kehidupan. Terkadang kita mendapati keberuntungan di zebra cross, semisal mendapat uang di sana. Terkadang kita juga bisa menjumpai kemalangan, seperti tertabrak kendaraan atau semacamnya. Aku pun mengalami kemalangan itu. Tidak hanya tubuhku yang ia tabrak, ia juga telah menabrak hatiku. Namun, aku tahu setiap penyeberangan zebra cross pasti memiliki ujung tujuan dan aku akan tetap berjuang menuju tujuan itu walaupun aku masih mencarinya saat ini.

Cerpen Karangan: Awan
Facebook: Awan Lailatul Qadr

Cerpen Zebra Cross merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


First Time

Oleh:
‘Hari ini kita ketemu ya.’ Gubrak!! Hatiku tersentak kaget melihat isi sms darinya. Sebenarnya ini bukan yang pertama kalinya dia mengajakku untuk bertemu. Tapi tetap saja, aku selalu kaget.

My Girl

Oleh:
Suasana kelas 12 ipa 1 begitu ramai maklumlah hari ini hari pertama masuk sekolah di kelas 12 ini. Siswa-siswi sibuk memilih teman sebangku mereka plus bangku yang letaknya paling

Jika Ini Cinta

Oleh:
Alunan lagu lembut Cinta Putih dari Kerispatih seperti dentuman lagu rock haeavy metal yang memecah gendang telingaku di telingaku melalui headphone. Badanku tergolek lemah, mataku tak sanggup terbuka. Hanya

Valentine Pertama

Oleh:
Pagi itu di sebuah sekolah menengah pertama, tepatnya SMP HARAPAN 2, langit terlihat cerah burung-burung pun berkicau riang seperti biasanya. Suasana cerah itu berbeda dengan suasana hati seorang gadis

Semangat Cinta Pertama

Oleh:
Masa SMP adalah masa dimana peralihan menuju ke remaja, setiap jam istirahat pasti masih main lari-larian sama teman-teman khususnya kelas tujuh. “Tangkap aku kalau bisa Wil, cemen kan loe

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *