Aku Dan Dia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 10 November 2017

Him..
Semua kenangan itu kembali saat aku bertemu dengannya. Sore itu di sebuah stasiun. Aku bertatap muka dengannya. Seorang gadis yang kini sudah menjadi wanita dewasa. Dia masih sama seperti saat kami berpisah dahulu. Rambutnya masih panjang dan bergelombang bagai rumput laut. Matanya masih memancarkan binar-binar kebahagian walau aku sudah pernah meninggalkannya untuk waktu yang lama. Kami bukan berpisah, aku yang meninggalkannya di stasiun waktu itu. Meninggalkannya saat dia bersedia untuk menyerahkan hidupnya kepadaku. Dia adalah seorang gadis yang penuh impian. Pertemuan pertama kami adalah di stasiun yang kini menjadi tempat aku berdiri. Saat itu tersesat dan gadis itu menawari bantuan dan dengan singkat aku jatuh cinta padanya. Gadis itu membuatku untuk terus tetap tinggal. Dia membuat duniaku jadi lebih kecil. Aku tak tau apapun selain dia.

Tapi aku merindukan duniaku yang luas. Aku ingin pergi. Tak ada yang lebih menakutkan memiliki dunia kecil seperti gadis itu. Dia tinggal di tempat sama untuk separuh kehidupannya. Bertemu dengan orang yang sama dan melakukan hal yang sama. Dunia yang lebih luas memanggilnya tapi dia menolak panggilan itu untuk tetap tinggal di sangkarnya. Jika terus begitu, aku yang bisa mati. Untuk apa mencinta tapi kebebasanku terkekang. Maka saat kesempatan untuk pergi dari dunia kecil gadis itu datang, tak kusia-siakan. Hari itu tanggal 17 Januari, kami berjanji untuk mengikat janji sehidup semati dan aku pergi.

Aku memang bebas. Dunia sudah kujelajahi dengan sempurna tapi duniaku mendadak kosong. Aku tak lagi menemukan kepuasan yang dahulu aku rasakan saat berkelana. Hatiku sesak tiap kali mengingatnya. Aku tak tau mengapa itu terjadi yang jelas aku merindukannya. Satu atau dua hari kemudian, seminggu bahkan bertahun-tahun aku masih merasa kosong yang sama. Waktu terus bergerak Tapi aku hanya melihat langit dengan pikiran kosong dan semua kenangan kebersamaan kami. Aku ingin menertawai diriku sendiri. Bukan dunia bebas ini yang aku inginkan tapi dunia bersamanya adalah impianku. Aku membuang impian itu, aku baru tau apa itu kosong saat meninggalkannya di atas altar. Aku ingin kembali. Tapi aku tak harus bilang apa saat kami bertatapan nanti. Aku tak mampu mendengar amarahnya karena itu akan sangat menyakitkan bagiku. Tapi diam juga akan membuatku terus terperangkap dalam kosong yang berujung. Aku ingin tau kabarnya. Aku ingin dengar suaranya aku ingin melihatnya. Karena aku merindukannya, kembali merindukannya bahkan saat aku memejamkan mata, aku tenggelam dalam air mata. Aku terus memikirkan kehidupan dengannya jika aku tetap tinggal bersamanya. Menghabiskan hari tua bersamanya dan memiliki banyak anak bersamanya. Lalu kemudian aku berpikir apa dia merasakan rindu yang sama denganku?. Berkali-kali aku berharap kalau cinta yang kumiliki hilang ditelan lupa tapi sayangnya tak bisa. Aku terus memikirkannya dari hari ke hari sampai hari ini. Saat aku melihatnya lagi di stasiun itu aku masih memiliki rindu yang sama.

Aku berharap bisa memberitahunya kalau yang kita miliki saat ini hanyalah kesalahan waktu. Aku ingin memberitahunya bahwa aku begitu bodoh untuk tak mencoba hidup bersamanya. Aku ingin memberitahunya bahwa aku menyadari hidup tanpanya hanya membuat duniaku kosong tak berujung. Aku ingin memberitahunya bahwa aku masih mencintaimu, mencintaimu dan terus kembali ke saat bertemu denganmu dan pergi dari hidupmu. Aku masih di sini. Di stasiun tempat kita berpisah. Aku berharap bisa menulis kembali kisah yang dahulu pernah aku tinggalkan. Aku berharap bisa memutar waktu dan mengatakan apa yang hendak aku katakan padanya saat kami bertatap muka. Aku ingin memeluknya. Aku ingin menyampaikan semua pemikiranku sebelum berkarat dimakan usia. Tapi, aku lagi-lagi berhenti.

Seorang pria lain menghampirinya. Dia mengecup bibirnya dengan hangat. Ada sepasang cincin indah melingkar di atas jari manis masing-masing. Aku tersenyum. Aku sudah terlambat. Lucu rasanya menyadari bahwa di hari-hari selanjutnya aku akan tidur sendiri lagi. Terbangun dengan tanpa siapapun di sisi ranjang motelku. Aku hanya memiliki rembulan sebagai teman malamku itu pun jika tak ada rembulan aku akan berteman dengan bintang. Aku akan menghabiskan musim dinginku dengan segelas bir tanpa teman dan mungkin aku akan menjahit sepatu sendiri saat aku tua nanti. Yang jelas aku tak lagi bisa memeluknya dan melihat impiannya akan masa depan yang akan kami habiskan 10 atau 20 tahun lagi. Karena dia salah, aku tak berjodoh dengannya. Aku tak lagi bisa merayunya dan berkata kita akan hidup bersama untuk ratusan tahun. Karena kami tak akan pernah bersama. Ada orang lain yang lebih baik untuk menjadi pasangannya dan orang itu bukan aku. Aku yang pernah meninggalkan seorang pengantin di sebuah stasiun.

Aku hanya bisa tersenyum. Kini hatiku tak lagi kosong. Aku sudah mendapatkan jawaban dari keterlambatanku. Aku memang tak pandai berkata-kata. Hanya untuk kembali pada hari ini aku harus menghabiskan waktu bertahun-tahun. Aku terpenjara pada saat-saat kebersamaan kita tanpa memikirkan apa yang terjadi setelah lama pergi. Aku mendesah dengan dada yang begitu lapang untuk pertama kali. Aku seperti terlahir untuk patah hati. Aku tak tau bahwa apa yang kuberikan padanya saat kami bersama hanyalah sebuah angan yang tak pernah jadi kenyataan karena kau dan aku tak akan bersama. Aku menertawai semua janjiku dahulu yang ternyata ditepati oleh orang lain.

Aku menyadari sesuatu setelah pertemuan ini. Seperti hidupnya yang terus berjalan aku akan terus maju. Walau sulit untuk melupakannya setidaknya aku tak lagi kosong. Aku sudah mendapat jawaban dari keterlambatanku. Setelah pertemuan ini aku akan kembali pada rutinitasku. Aku akan merok*k di atas rajangku, memeluk diriku yang kesepian dan hidup dalam kenangan tentang dirimu karena itu terasa lebih baik dari pada menyesali semua keterlambatanku.

Her..
Dimana aku? Siapa aku tanpa dirimu? Aku terperangkap dalam kepahitan ini selama bertahun-tahun. Aku mencintaimu sekaligus membencimu. Kau sudah memberi warna pada hidup monokromku tapi kau juga yang meninggalkanku dalam kegelapan. Aku menginginkanmu saat pagi datang dan terus merindumu saat malam tiba. Aku bergantung padanya dan dia bergantung padaku. tak ada yang salah waktu itu. Sampai aku tau kalau dirinya terpenjara akan hubungan ini. Dia pergi bahkan saat aku berlari mengejarnya di stasiun ini, dia mengabaikanku. Dia tetap pergi dengan segudang mimpinya yang lebih besar dari cintanya padaku. aku rasa ini bukan dongeng yang sering diceritakan oleh nenekku dahulu. Saat jodoh datang aku dan dia akan melakukan apa saja agar cinta itu terus hidup. Aku hanya seorang pemimpi saat aku sadar dia benar-benar pergi. Dimana kamu? Aku sudah berkeliling dunia luasmu hanya untuk menemukanmu tapi kau hadir dalam mimpiku bukan bersamaku. Di manapun dirimu, aku akan menemukanmu. Aku akan mengenalimu saat kita bertemu lagi nanti. Meski sudah banyak matahari tenggelam yang terlewati hanya untuk melihatmu lagi aku masih akan mengenalimu. Di manapun dirimu, apapun dirimu aku akan mengenalimu. Saat kita bertemu lagi, aku akan terus melihat ke arahmu. Menghargai setiap senyuman dan gerak tubuhmu agar aku terus hidup dalam pikiranku.

Aku kembali ke titik pertemuan dan perpisahan kita setelah lelah mencarimu. Aku masih di sini. Menantimu sementara manusia terus datang dan pergi dalam hidupku. Tapi, aku masih di sini. Tempat dimana semua cerita manis itu dimulai. Aku melihat tempat ini seperti kuburan. Langit jadi muram tanpamu, awan-awan tak lagi membangkitkan ingatan indah tentangmu. Mereka membisu untuk sekedar bercerita akan masa lalu. Aku lelah dengan kepahitan yang terus membuat hidupku tambah muram. Aku mulai bertanya tanya apa mungkin kau melakukan hal bodoh yang sama sepertiku? Aku ingin mati karena kepahitan yang kau tinggalkan untukku. Sampai datanglah hari ini. Hari dimana aku bertemu denganmu lagi di stasiun ini. Aku mendadak takut akan segala hal yang sudah ada di depanku. Tak ada lain yang kuinginkan selain di sini melihatmu. Selama ini aku menunggu saat ini datang. Karena dari matamu aku tau bahwa doaku untuk bertemu denganmu tercapai. Aku ingin memelukmu dan menyampaikan kepahitan apa yang aku jalani tanpamu. Tapi, aku berhenti. Aku menyadari bahwa keinginan untuk memelukmu dan menyampaikan kepahitan hidupku tanpamu adalah sebuah ketidak pantasan.

Ini bukan seperti di dalam film. Ini bukan kisah sepasang pecinta yang berakhir dengan manis. Ini jelas bukan dongeng saat Putri Salju berkata bahwa pangerannya akan datang. Dan aku dengan bodohnya percaya hal itu mentah-mentah. Aku pernah menunggumu wahai pangeranku. Saat semua orang berkata bahwa kau tak akan pernah pulang untukku, aku terus menunggu. Menunggu hari dimana kau menjelaskan apa yang membuatmu pergi dan kenapa kau kembali. Aku bahkan mencarimu saat aku bosan menunggu. Aku menunggu sampai tuhan memberi pertanda bahwa waktu sudah berjalan lama dan aku terperangkap di hari yang sama lagi menyakitkan itu.

Aku menyadari bahwa menunggu menghabiskan waktu dan kau tak pernah ada kabarnya. Aku hidup dalam kepahitan bahwa tak ada lagi yang bisa mencintaiku seperti dirimu mencintaiku. Aku menutup semua kemungkinan akan cinta lain selain dirimu sampai aku sadar kau memang mungkin tak akan pernah kembali. Waktu memudarkan keinginanku untuk bersamamu. Kau hanya sebuah kenangan manis yang sayang untuk dilupakan. Aku mulai mencari sesuatu yang pernah kau ambil dariku. Sampai pada suatu hari aku menemukan kepinganmu dalam diri orang lain walau itu tak sesempurna dirimu. Aku perlahan belajar bahagia. Walau tak sebahagia saat bersamamu. Tapi aku belajar. Belajar untuk terus mengenangmu dalam ingatan pahit namun begitu manis.

Hari ini aku bertemu denganmu. Kau di sana. Berdiri dengan tegak jauh di depanku. Waktu terasa melambat. Aku ingin memegang tanganmu dan menghabiskan waktu bersamamu. Melupakan segala pahit yang pernah kau tinggalkan untukku. Harapan hidupku kembali bersemi saat aku melihat rupamu dari sana. Kau masih sama saat melambaikan tangan padaku. Aku balas dengan senyuman. Aku tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan karena melihatmu lagi setelah bertahun-tahun. Aku menemukanmu. Aku mengenalimu.

Kami hanya menghabiskan waktu yang kami punya hanya untuk saling pandang. Aku tau kau ingin berkata bahwa apa yang mereka miliki saat ini hanyalah kesalahan waktu. Matanya berkata bahwa kau merasa begitu bodoh karena meninggalku di stasiun ini. Tarikan napasnya memberitahuku bahwa kau merindukanku, mencintaiku dan terus kembali ke saat manis pertemuan kami dan tenggelam dalam sedih saat mengingat bahwa dirinya tega meninggalkanku di tempat ini. Kau kembali ke sini. Di stasiun ini. Aku berharap bisa menulis kembali kisah yang dahulu pernah aku tinggalkan. Aku berharap bisa memutar waktu dan mengatakan apa yang hendak aku katakan padanya saat kami bertatap muka.

Tapi ini bukan seperti di dalam film. Ini bukan kisah sepasang pecinta yang berakhir dengan manis. Hari ini, semua kepahitanku pergi seiring langkahmu yang terus menjauh dari stasiun itu. Kau memang tak berkata apa-apa. Tapi matanya memberitahu segala yang ingin dia katakan. Ada sebuah aura yang memberi tahu kalau kami masih menyimpan rasa itu. kami saling mencintai hanya saja waktu tak membuat kami bersama. Kau akan hidup sebagai cinta pertamaku dan selalu begitu. Aku akan dan dia akan bahagia dengan jalan yang kami pilih untuk diri kami sendiri. Dia dengan jiwa bebasnya dan aku dengan dunia kecilku.

FIN

Cerpen Karangan: Sybill November

Cerpen Aku Dan Dia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bunga Merah Muda

Oleh:
Burung-burung berjajar rapi membentuk barisan yang abstrak. Bertengger di atas pohon yang merdu apabila sedang melambai. Suara siulannya bagai melodi yang indah. Mereka berjajar di taman menunggu si awan

Salah Paham

Oleh:
“Apa? Lo jadian sama Rival?”, suara Ribkha membuat semua pengunjung menoleh ke kami berdua. Kami hanya bisa cengar cengir melihat seluruh mata yang menoleh ke kami. Memang dasar deh

23 Hari Untuk Selamanya

Oleh:
6 tahun yang lalu, ada seorang cowok yang bernama Egy dan seorang cewek yang bernama Clara dan mereka satu sekolah di SMA Bangsa. Mereka berdua sangat dekat dari awal

Dari Balik Jendela

Oleh:
Aku ingin kembali pada masa dimana aku selalu melihat senyumanmu. Memang cukup menyedihkan merangkai detik, menit, jam yang menyusun dirinya membentuk hari-hari yang melelahkan untuk menunggu sahabat impian, yang

Aku Percaya

Oleh:
“Tapi gue suka sama dia ca.” jelasku, “tapi apa yang lu dapet dari ini semua? ga ada! lu Cuma di sakitin!” amarah ica “gue ga ngerti sama perasaan ini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *