Bumbu Senyuman Licik

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 11 March 2016

Aku berjalan perlahan mengikuti hitungan detik menuju dapur untuk mengambil segelas air hangat, namun tak ku sangka kesadaranku akan tubuh yang semakin tua ini mulai lemah merasa lelah walau hanya setengah jalan menuju dapur. Apakah aku setua itu? tidak, aku baru 30 tahun, tapi mengapa rasanya seperti sudah umur 50-an? Apakah dapur rumahku sejauh itu? Tentu tidak, sepertinya ini hanya karena faktor fisik, penyakit maag yang ku derita ini selalu pandai membuatku terlihat kalah. Nampaknya aku merasa ingin memberikan motivasi pada diriku sendiri, “ayo Baim, ayo.. kau pasti bisa melangkah mencapai tujuanmu, pasti kau bisa melakukannya, kau pasti bisa.”

Melihat hangatnya malam ini membuatku merasa begitu tenang. Duduk di teras rumah sambil meminum teh hangat dan menatap langit malam adalah rutinitas yang sangat menenangkan, namun yang tak kalah menenangkan adalah ketika dalam situasi dan kondisi apa pun ikut berperan penting dalam menghayati pukulan butiran hujan yang berjatuhan dari langit. Peristiwa seperti itu selalu saja berhasil membuat tubuhku yang semakin menua ini merasakan sebuah ketenangan yang begitu hebat.

Dan itu membuatku mengingatnya, mengingat kejadian masa silam yang begitu manis, bahkan lebih manis dari madu atau apa pun itu. Tuhan… Aku benar-benar merindukannya, mengapa perasaan rindu ini semakin dalam saja. Tatapan gadis itu sama sekali tidak bisa ku lupakan. Dengan teganya dia membiarkanku sendiri menunggunya selama bertahun-tahun. Faktanya, dia sama sekali tidak pernah memberikanku kalimat perintah untuk menunggu. Namun entah mengapa hati, pikiran, dan tubuh ini selalu saja memiliki inisiatif yang sangat luar biasa untuk bertekad menunggunya kembali dari luar negeri. Entah apa hari ini dia merindukanku atau tidak aku tidak begitu peduli, entah apa hari ini dia masih menyayangiku atau tidak aku juga tidak begitu peduli. Entahlah..

Aku rasa penantian ini bisa saja akan abadi sampai mendapat sebuah kalimat pasti dari hidung badut kesayanganku itu. Astaga.. dasar hidung badut, mengapa aku tetap saja mencintaimu walau sudah beberapa kali tersakiti hanya karena ulahmu itu. Ternyata kau begitu kejam, kau membiarkanku sendiri melemah tak berdaya di kota yang terasa sunyi ini. Benar, aku merasa sepi dalam keramaian dan itu memang keinginanku. Entah mengapa sejak tidak ada kau di sisiku, aku selalu saja ingin sendiri, namun entah mengapa lagi dunia seakan-akan berpihak kepadaku, sebuah drama yang mengesankan. Keadaan sepertinya tidak ingin membiarkanku merasa sendiri, selalu saja ada orang-orang yang berada di dekatku, entah itu orang yang benar-benar peduli ataupun hanya sekedar berpura-pura peduli.

Hari ini terasa terlalu pagi bagiku setelah semalaman hanya menatap langit malam bersama teh hangat di tangan kananku. Namun kesadaranku akan pekerjaan yang wajib ku lakukan di pagi ini harus tersalurkan, aku harus semangat melawan rasa sakit ini demi membagi beberapa ilmu untuk anak-anakku yang kekurangan ilmu itu. Tiba-tiba saja kejadian aneh terjadi saat aku memulai kegiatan mengajar, sepucuk surat yang dikirimkan seorang guru membuatku segera membukanya secara perlahan sambil memikirkan pertanyaan-pertanyaan tanpa jawaban yang muncul dalam benakku, siapakah dia? surat apakah ini? apa yang akan disampaikan oleh manusia misterius itu?

Setelah membuka dan mulai membacanya tanganku rasanya mengalami gemetar hebat. Hidung badut? Astaga… Mengapa engkau baru mengirim surat sekarang setelah 7 tahun berlalu? suratmu memaksaku melakukan sebuah spekulasi hebat di depan murid-muridku, berusaha tetap tenang dengan menambahkan sedikit bumbu senyuman licik secara terus menerus. Setelah membaca surat darimu aku baru sadar, ternyata selama ini aku salah kaprah akan dirimu, engkau tidak pernah berniat untuk meninggalkanku terlalu lama. Keadaan yang membuatmu terpaksa harus menghabiskan banyak waktu berada di sana, dan ternyata engkau masih menyayangiku.

Jadi selama ini aku yang jahat? bukan kau? maafkan aku hidung badut, aku benar-benar salah, kali ini kau tiba-tiba saja membuat tubuhku yang lemah ini merasa semangat, semangat yang luar biasa. Kau berhasil membuatku tersenyum, aku akan menunggumu datang, seperti janjimu, setahun lagi setelah kau dan orangtuamu kembali pindah ke kota ini kota tempat kita menabur benih-benih cinta, dan kita akan menikah lalu kemudian hidup bahagia. Aku akan sabar menantimu seperti hari-hari kemarin, tidak ada yang berubah kecuali penyakitku yang mulai membaik, ini janjiku.

Cerpen Karangan: Ningrum Wulansari Heriyono
Facebook: Ningrumwulansari15[-at-]gmail.com / Ningrum Wulansari H
Selain di facebook kalian juga bisa mengunjungi IG, line, dan twitter say @ningrumwh, mari membaca agar semakin kreatif.

Cerpen Bumbu Senyuman Licik merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Blue Eye

Oleh:
Hari demi hari kini Aku lewati tanpamu. Kamu, yang selalu mewarnai hariku dimana pun Aku berada. Namun kini… engkau pergi tanpa jejak yang tidak Aku ketahui pasti. Kak Reno,

Sebuah Memori

Oleh:
Di bawah pepohonan rindang beratapkan gugusan kapas putih yang terbentang, di tengah pepohonan itu ada seseorang yang sedang duduk termenung, kepalanya tertunduk lesu seakan merenungi sesuatu yang terasa penuh

Karena Hujan

Oleh:
Hujan turun lagi membasahi langit langit rumahku. Kali ini hujanya deras. Jalanan terlihat sepi. Hanya percikan percikan air yang kini dapat kulihat. Awalnya hujan sangat menyebalkan bagiku. Tidak bisa

I’ll Be Waiting For You, My Sun

Oleh:
Drtt.. drrrt.. suara handphone berdering membangunkanku, sebuah pesan baru saja masuk “Selamat pagi, maaf ya aku belum bisa menemuimu karena aku harus mengikuti kegiatan di kampusku” Juandra. Ohiya, Juandra

Sang Hujan Menanti Pelangi

Oleh:
Dalam sepotong sore di bawah gelitikan hujan yang menyerbu, tawa tercipta di tengah gemuruh nada hujan yang sendu. Menunggu henti hujan, menghentikan dingin yang menyerbu dengan senyum hangatmu yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *