Hanya Untuk Menunggu (Lagi)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 30 September 2014

Aku menatap semu ke sebuah lorong gulita yang bersiluet dan sunyi, entah apa yang aku tunggu seakan pandanganku tak beranjak kabur dan ingin terus menatap kegelapan itu. “tuk.. tuk.. tuk…” hentakkan kaki seseorang pun tak membuatku terkejut. Aku masih tetap fokus dengan pandanganku. Di gedung tua ini aku menghabiskan setengah hariku hanya untuk memandangi lorong itu, lorong yang tersambung dengan pintu masuk dan keluar sehingga aku bisa mengetahui siapa saja yang datang dan pergi melalui lorong itu.

“Hey. What are you doing? Are you okay?” wanita paruh baya dengan rambut pirangnya berusaha memperhatikan aku dan dia terlihat bingung dengan keadaanku yang hanya duduk melamun terpengarah terhadap satu pandangan. Aku mencoba mengubrisnya “yeah, I’m fine” ku selipkan senyuman tipis yang kutampilkan di wajahku, tanpa ku alihkan pandanganku dari sudut lorong itu. Wanita itu beranjak kemudian dia mengelus tanganku dengan lembut dan menghapus kedinginan di ruangan ini seakan hangat dan membuatku nyaman. Dia berlalu dengan tergopoh-gopoh karena membawa barang-barang yang besar hingga dia menghilang di balik pintu masuk.

Dari Matahari terlihat terik dan bersemangat memulai hari, sampai Hujan rintik meredamkan aspal yang melepuh dan kini mulai membanjirinya. Jalan semakin Macet dan orang-orang berlalu-lalang mencari tempat teduhan, dari gedung ini sepi dan sunyi hingga aku mulai merasakan nafasku sesak dan kakiku terjepit barang-barang yang mereka bawa. Seseorang berseragam rapih yang bekerja di tempat ini bertanya kepadaku “selamat Malam Nona, Apa kau menunggu seseorang? Sedari siang aku melihatmu disini namun kau tak beranjak sekalipun dari tempat ini. Ada yang bisa saya bantu?” Aku mulai tersadar, seharian aku di tempat ini dan aku terbelalak melihat sekelilingku, sungguh ramainya disini “oh tidak, terima kasih. Saya mau pulang saja” aku bergegas berdiri, namun jemari kakiku mulai keram rasanya seperti disemuti puluhan ribu semut rangrang yang berkonvoi di kakiku. Aku merintih kecil hingga membuat petugas itu kembali bertanya “apa kau baik-baik saja nona?” dengan sigap ku pulihkan tenagaku yang tersisa lalu ku jawab “ya, saya baik-baik saja” dengan mengabaikannya aku berjalan melewatinya, sungguh arogan sekali sikapku ini tanpa mengakhiri perhatiannya dengan kata terima kasih, masa bodoh.

Menerobos hujan yang deras tanpa mengenakan pelindung anti air sehelai pun, Aku berjalan santai tak kupedulikan orang-orang yang menawariku ojek payung ataupun taksi yang berderet di pangkalannya. Pakaianku basah, Jalanku mulai tak berarah, pikiranku kembali merenung entah campur aduknya perasaanku kini yang ku inginkan hanya menangis. Aku tak habis pikir, hari ini ku habiskan hanya untuk menunggu (lagi) sudah berapa banyak waktuku yang tersita hanya untuk menunggu. “katamu kau akan pulang! Katamu kau akan kembali! Katamu kau tak akan buatku menunggu lagi! Katamu kau akan tepati janji!…” suaraku melampaui suara hujan, bibirku keriput sampai kurasakan hingga ke jemariku. Setengah nafas aku berusaha bernafas, sempoyongan aku berjalan, lagi-lagi kau buatku menelen asa mengundang hampa.

Aku lelah jika harus terus menunggu, menanti harapan palsu, membuat hidupku layaknya abu, rapuh dan menyapu alur. Jika ingin datang mengapa kau buatku semerana ini, Jika tak ingin datang mengapa kau beri aku untaian harapan yang tak dapat kau wujudkan? Hari ini seharusnya kau sudahi penantian panjangku, seharusnya kau menyadarinya, di Stasiun tengah Kota aku menunggu mengharapkan kedatanganmu, sosokmu yang selalu membuatku cemas bahkan melebihi kecemasan akan diriku sendiri. Semoga kau lekas pulih dari retaknya ingatanmu akan diriku.

Dari Langit yang menggapai Matahari
Menunggu Pelangi hingga Pagi
Aku lelah Menanti

Cerpen Karangan: Permatahati Desi
Blog: http://permatahatiidesi.blogspot.com/

Cerpen Hanya Untuk Menunggu (Lagi) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Selama Kita Masih Memandang Langit Yang Sama

Oleh:
“hei” suara Nada mengagetkanku dari lamunanku. “hayo lagi ngapain pagi-pagi udah ngelamun di jendela, nungguin si itu yah? haha” Pertanyaannya langsung membuatku memerah layaknya udang direbus.. yah, tapi memang

Tungku Tanpa Api

Oleh:
“Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku, menghadapi kemerdekaan tanpa cinta…” -W.S Rendra- PEREMPUAN itu gelisah di batas fajar, kemuning pancaran langit tak lagi terbias di wajahnya. Setiap jengkal tubuh

Salahkah Menantimu?

Oleh:
Hari demi hari berlalu, tahun demi tahun aku lewati, waktu pun terus berjalan mengikutiku tanpa pernah menatap kembali sang mentari yang dahulu telah pergi. Aku masih disini menantimu, mengharapkan

Penantian Yang Sia Sia

Oleh:
Entah kenapa, sampai saat ini aku masih saja menunggunya di tepi sungai ini. Di tepi sungai yang penuh dengan cerita cintaku dengannya. Saat aku berdiri berdua juga bermain berdua

Bukan Salah Bintang Jatuh

Oleh:
Tepat satu tahun yang lalu aku bersama Bagas, sahabatku di sini. Di atas bukit kecil di tengah taman kota. Aku membaringkan tubuhku di rerumputan hijau halus yang memenuhi taman

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *