Life

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 2 June 2019

2 Tahun yang lalu, aku bertemu dengan seorang pria yang membuatku menyadari arti dari kehidupan yang kujalani. Tapi, tepat disaat aku ingin berterimakasih padanya dia menghilang dari hidupku tanpa jejak. Ia hanya meninggalkan kenangan yang menjadi bagian hidupku yang tak akan pernah kulupakan. Aku teringat pada suatu kejadian bersamanya dimasa lalu,

2 Tahun yang lalu..
Akhirnya aku sampai di tujuanku, sembari melihat indahnya pemandangan laut biru, aku bersandar pada pohon besar sambil mendengar lagu. Angin sepoi sepoi membuatku mengantuk hingga aku tertidur. Anehnya aku melihat diriku yang sedang tertidur dan aku melihatnya. “Pria” itu memperhatikanku yang sedang tertidur, aku lalu menegurnya tapi justru dia lari dariku. Aku pun langsung mengejarnya, tapi larinya sangat cepat sehingga aku tidak bisa menyusulnya dan entah sejak kapan sinar terang itu muncul membawaku dimasa lalu disaat dia memberinya sebuah nasehat. “Aku paham mengenai keras kepalamu, prinsipmu dan juga sikap idealismemu itu. Tapi, sebelum kau menjalani hidup yang produktif, akan lebih baik jika kau memahami arti dari kehidupan yang kau jalani.” Itu adalah nasehat terakhir yang diberikannya padaku. Tapi aku masih belum paham dengan semua ini, semua ini membuatku bingung akan apa yang terjadi. Aku bahkan menjadi gugup, sangat gugup karena sepertinya aku telah salah memahami arti dari hidupku.

Selama ini aku terus hidup dengan kekosongan. Aku tidak menjalani hidup seperti kata “pria” itu. Aku masih tetap sama seperti dulu, seorang gadis yang hidup dengan kekosongan yang mengisi ‘kekosongan’ itu dengan penderitaan. Aku tidak pernah hidup dengan harapan, selalu hidup dengan luka dari orang lain. Aku sadar, aku akhirnya sadar apa arti dari hidupku. Aku hanya perlu menjalani hidup ini dengan bahagia, berharap bisa berjumpa dengan hari esok. Agar aku bisa menanti hari esok dengan tersenyum.

Seketika aku terbangun dan mendapati pria itu tersenyum dan berkata padaku, “Akhirnya kau paham maksudku. Sekarang kau tidak perlu hidup dengan kekosongan itu lagi, sekarang isilah kekosongan itu dengan perasaan bahagia yang kau rasakan, jangan isi kekosongan itu dengan penderitaan yang terus kau tanggung. Aku sudah selesai, dan kuharap kita bisa berjumpa lagi, hanya saja tidak sekarang. Mungkin di kehidupan selanjutnya kita dapat berjumpa, saat itu temuilah aku dengan tersenyum bahagia, dengan keadaan yang berbeda. Tapi saat ini, aku hanya bisa mengucapkan terima kasih dan sampai jumpa.” Sebuah cahaya terang tiba tiba muncul entah darimana asalnya. Seketika dengan munculnya cahaya itu, dia menghilang dari hadapanku.

Masa sekarang…
Sejak kejadian itu, aku terus berharap dan menanti agar dapat bertemu dengannya, kali ini dengan tersenyum.
Pria itu, aku masih tidak tahu di mana ia, bahkan aku tidak tahu apa ia masih ada di dunia ini atau tidak. Aku ingin sekali bertemu dengannya meski hanya sedetik, karena “sedetik” itu terasa satu tahun bagiku. Jadi aku ingin sekali bertemu dengannya, tapi sepeti katanya, kami akan bertemu, hanya saja tidak sekarang. Mungkin di kehidupan selanjutnya. Saat itu, akan kupastikan aku bertemu dengannya dengan tersenyum, sebagai bukti bahwa aku telah menjalani hidup sesuai harapannya. Bahwa aku baik baik saja, meskipun ia tidak ada di sisiku.

The End

Cerpen Karangan: Naura Zharifa Ardhana
Blog / Facebook: Ardiansyah

Cerpen Life merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dongeng Kertas

Oleh:
Di atas meja itu, kamu bisa melihat buku-buku berjajar rapi… tempat pensil, lengkap dengan pulpen, penghapus, dan penggaris bergambar kartun kucing. Di dalam laci meja itu, ada sebuah kotak

Lelaki Penunggu Senja

Oleh:
Setelah berlabuh di penghujung jalan yang merindu, ada beberapa kenangan yang bersandar di pundaknya. 12 November 1995 Pukul 7:00 pagi, lelaki rembulan yang sederhana sedang menunggu kekasihnya. Namun, sampai

Diary Rintikan Gerimis Membawa Kenangan

Oleh:
Saat ku tulis cerita ini aku berharap kamu membacanya, dan kamu tau kalau aku tak pernah melupakanmu seperti kamu melupakan aku. Aku masih menyimpan rapi tentang kenangan kita. Malam

Bintang Harapanku

Oleh:
Angin malam bertiup perlahan membuat rerumputan dan daun bergoyang dengan sendirinya. Malam yang sejuk ditemani dengan seseorang yang sangat berarti bagiku, bagi hidupku. Ku pandangi lautan angkasa yang terlihat

Aku, Kamu dan Dia

Oleh:
Aku dan kamu adalah sahabat sejak kita kecil. Kita sangat dekat dan selalu menghabiskan waktu bersama. Hingga kita beranjak remaja, kita mulai menyadari bahwa ada perasaan lebih dari sekedar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *