Sebuah Memori

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 25 October 2017

Di bawah pepohonan rindang beratapkan gugusan kapas putih yang terbentang, di tengah pepohonan itu ada seseorang yang sedang duduk termenung, kepalanya tertunduk lesu seakan merenungi sesuatu yang terasa penuh di kepalanya mungkin lebih dikatakan beban yang berat dalam dirinya. Ya orang itu bernama karina.

Semilir angin dibuatnya, ikut melambai-lambai dedaunan yang kini mengitari apa yang dipikirkan. Memori itu terasa hangat bila diingat, tapi entah kapan dilupakannya.

“Karina”. Panggil seseorang ditengah candanya. “Rafa, kenapa?” tanyaku antusias. “Aku mau ajak kamu ke suatu tempat?” ajaknya sembari menarik tanganku yang kini tengah duduk. “Ke mana?”.

Tak lama sampai di tempat itu, tempat yang beralaskan rerumputan hijau, nuansa sejuk yang mengitari lambain angin yang pelan. “Jadi tempat ini yang kamu mau tunjukkan tadi?”. “Iya, kamu senang kan?”. Saat itu aku langsung mengangguk pertanda mengiyakannya. Saat itu ku ingin selalu di sini melihat tempat ini.

Tak kusadari Rafa mengambil sepucuk bunga yang diberikan padaku. “Karina, aku ingin tempat ini menjadi kenangan yang tak terlupakan hingga nanti kita berpisah”. ujarnya pelan. “Ya, mungkin suatu saat nanti tempat ini akan menjadi memori yang tak terlupakan”. Jawabku tersenyum.
“Mau main kejar-kejaran?”. “Ayo siapa takut, tapi kalau yang kalah traktir es krim ya”. “Ya, kejar aku”. Serunya.

Aku berusaha lari paling depan, kupikir ini bukan kejar-kejaran tapi balap lari. Aduh… “Ye aku menang”. Celotehnya merayakan kemenangan. “Ihhh… Rafa curang, kan kamu yang lari duluan”. Ngambekku dengan wajah manyun ditengah nafas yang yang tersengal-sengal. “Ya.. ya… Maaf deh, ya udah biar nggak ngambek aku yang traktir kamu es krim”. Ucapnya seraya menatapku dengan tersenyum. “Benarkan?” celotehku seakan tak percaya. “Ya karina bawel”. Sembari berlari menjauh. “tunggu”.

Ketika sampai aku terduduk lemas sambil sesekali mengatur nafas yang hampir tersendak tadi. Sedang rafa yang memesan es krim. “Nih eskrimnya”. Seraya duduk di sebelahku. “Lho, kok kamu tahu rasa kesukaanku?” tanyaku heran. “Ya lah, masa nggak tahu”. “Makasih”.

Tak kurasa aku memakan es krim sampai berceceran di sekeliling mulutku. “Kalau makan jangan belepotan”. Ucapnya dengan tangan yang membersihkan es krim yang belepotan di sekeliling mulutku.

Tak sadar gugusan senja telah datang, kini aku sudah berada di rumah, aku sangat teringat kejadian siang tadi, mungkin benar perkataannya, tak akan pernah terlupakan sampai nanti.

Hari kian berlalu kulewati, denting jam berjalan dengan cepat, berjalan melewati ruang tiap detiknya. Pagi yang cerah dengan gugusan awan putih mengitarinya seakan berlalu tanpa sadar berganti mega jingga yang melewati gugusan gelap diiringi kilauan bintang di sampingnya. Dan kini kusempatkan waktuku disela kerja yang begitu menyibukkan, kudatangi suatu tempat yang kini penuh dengan kenangan. Tempat dimana dulu terdapat suasana yang begitu menyenangkan.

Kini aku duduk di sebuah bangku taman di antara pohon yang selalu terdiam di tempat itu, kutatap bentangan kapas putih yang begitu cerah, dan membiarkan rambutku yang kini terombang-ambing oleh semilir angin. Ditengah itu kuhembuskan nafas panjang yang tadi seakan menusuk jiwa ini yang tak kusadar membuat badan ini terasa penat meski hanya memegang pena yang menari di atas lembaran yang terjilid rapi. Kuingat indah memori itu, kuharap bertemunya lagi dan kulihat senyumnya, candaanya yang membuatku tertawa dengan leluconnya.

Huft. Kutarik nafas ini yang melegakan ingatanku yang lalu. Kutulis harapan ini di bentang lembaran putih itu, dan kumasukkan ke sebuah amplop yang kini kutaruh di bangku ini dan kuharap bertemunya lagi. Entah apa yang kurasa, apa dia rindu padaku atau tidak, aku tak tahu saat ini aku ingin bertemunya lagi dengan leluconnya yang begitu lucu di balik kedengaranku. Tapi apa mungkin itu terjadi, ah.. entahlah…

Mega merah telah datang pertanda hari sudah senja, kuputuskan untuk pulang, ku bangkit dari keterpurukanku, kuharap hari esok akan lebih baik.

Paginya, seperti biasa tak bosan kudatangi tempat ini, apalagi ini hari libur yang terasa melegakanku, aku harap surat itu tak ada lagi di bangku itu, tapi saat kudatangi bangku itu, surat itu masih ada. Ah sudahlah tak usah kufikirkan. Mungkin aku tak bisa bertemunya lagi dan mungkin dia tak kembali ke sini.

Disela ku duduk sendiri dan hanya menatap kilaunya langit, ada seseorang memanggilku, entah siapa, biarlah. “Karina”. Suara itu sangat familiar bagiku, tapi siapa?. Kuberanikan menoleh tanpa suara barangkali dugaanku salah. Tapi aku tak percaya itu. “Rafa”. Seketika aku bangkit dari dudukku. “Karina makasih kamu sudah ingat tempat ini”. Ucapnya dengan senyum simpulnya. “Raf, sampai kapanpun akan kuingat tempat ini, kukira kamu sudah lupa semuanya, tapi aku salah ternyata kamu masih ingat”. Jawabku tersenyum. “Ya, aku senang hari ini bisa bertemu sama orang yang spesial bagiku”. Seraya memegang tanganku dan menatapku senyum. “Ehm.. siapa?” tanyaku polos. “Kamu, kamu orang yang spesial bagiku, kamu masih sayang kan sama aku?”. “Masih, sayang sebagai teman”. “Bukan, sayang lebih dari teman atau sahabat”. “Eh… gimana ya, ya deh aku sayang sama kamu”. jawabku tersenyum. “Terimakasih”. Ku tahu ini begitu rahasia, tapi jujur aku sangat bahagia bertemunya lagi.

Cerpen Karangan: Frida Alawiyah
Facebook: Frida Al-awiyahrifa

Cerpen Sebuah Memori merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kisahku

Oleh:
Akhir tahun 2009 tepatnya bulan desember tanggal 15, aku menjalin cinta dengan seorang wanita yang bernama “Nuvi”. wanita yang aku sayangi ini wanita yang ku kenal baik, perhatian dan

Promise You

Oleh:
Matahari bersinar begitu cerahnya, seorang wanita paruh baya membangunkan gadis yang sedang menginjak remaja, arisya cahya putri. Seorang anak SMP kelas 8, yang tengah berada di atas pulau kapuknya

Ketika Senja Tiba

Oleh:
“sudah 2 tahun ini aku tak mendengar kabar dari Senja. Ia bagaikan ditelan bumi, hilang begitu saja tanpa jejak” Bagas merindukan Senja, kawan lamanya yang menghilang. “iya ya Gas.

Dear Adre

Oleh:
Dear Adre, Aku terdiam di satu tempat yang kuyakin kamu tahu. Tempat favoritku. Entah harus kumulai dari mana, begitu banyak cerita yang terjadi. Bahagia, sedih, cinta dan air mata.

Aku Dan Dia

Oleh:
Him.. Semua kenangan itu kembali saat aku bertemu dengannya. Sore itu di sebuah stasiun. Aku bertatap muka dengannya. Seorang gadis yang kini sudah menjadi wanita dewasa. Dia masih sama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *