Abdiku Untukmu, Ibu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Pendidikan, Cerpen Perjuangan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 5 June 2013

Aku terbangun di pagi itu dengan penuh kedamaian. Ku dengar kicau burung dan mentari menambah hangat sambutan pagi. Aku Silvia, umurku 17 tahun sekarang. Ibuku seorang single parent. Ya, ayahku sudah di panggil yang maha kuasa ketika umurku masih 4 tahun. Segera aku bangun dan menuju ke kamar mandi, setelah itu memakai baju seragam, dan keluar dari kamarku. Aku menengok ibu yang sedang menyiapkan dagangannya.
“Nak, sarapan dulu. Tuh makanannya udah Ibu siapin di atas meja,” kata Ibu.
“Iya, makasih ya bu,” jawabku sambil tersenyum.

Seselesainya aku sarapan, ku pakai sepatuku, kemudian pamit pada ibu.
“Bu, Silvi pergi dulu ya. Assalamu’alaikum,” aku pamit pada Ibu sambil mencium tangannya.
“Wa’alaikumsalam. Hati-hati di jalan ya nak,” kata Ibu. Kalimat itu selalu Ibu ucapkan sebelum aku pergi sekolah.

Hari itu aku tidak merasakan hal yang aneh. Semua sama seperti biasanya. Namun hal yang mengejutkan terjadi ketika aku pulang sekolah. Ibuku tidak ada di rumah, tetanggaku bilang beliau di bawa ke rumah sakit. Aku tertegun menganga tidak percaya. Beribu pertanyaan muncul di pikiranku. Tanpa berpikir panjang, aku langsung meluncur ke rumah sakit tempat Ibu dilarikan. Setelah lama menunggu hasil pemeriksaan, ternyata dokter memvonis Ibuku terkena penyakit kanker otak stadium tiga.
“Ya Allah, kenapa jadi seperti ini? Sejak kapan Ibu mengidap penyakit ini?” gumamku. Tak terasa air mata mengalir di pipi, jantungku seakan berhenti berdetak.

Mulai dari hari itu aku memutuskan untuk mandiri, menyiapkan segala sesuatu dengan tanganku sendiri. Aku juga menggantikan Ibu berjualan. Suatu hari aku menanyakan satu hal kepada Ibu.
“Bu, ada yang mau Silvi tanya nih,” kataku memulai pembicaraan.
“Mau nanya apa, nak?” kata Ibu.
“Silvi kan udah kelas tiga, sebentar lagi Silvi lulus dari SMA dan insya’Allah ngelanjutin ke perguruan tinggi. Kira-kira nanti Ibu mau Silvi ngelanjutin kemana?” tanyaku.
“Kalo bisa, nanti Ibu mau kamu lanjut ke Universitas Indonesia,” jawab Ibu.
“Ya udah, Silvi bakal usahain semaksimal mungkin untuk mengabulkan permintaan Ibu. Silvi akan usaha keras mulai dari sekarang,” ujarku dengan senyum dan nada optimis.

Mulai dari hari itu, dengan giat aku belajar dan berusaha untuk mewujudkan permintaan Ibu, serta tidak lupa aku selalu berdo’a. Di samping itu aku juga dengan sabar menggantikan Ibu berjualan setelah pulang sekolah.
Waktu terus berlalu, tanpa terasa aku sudah sampai di “Penghujung Putih Abu-abu”, hari ini aku akan menerima pengumuman kelulusan. Alhamdulillah aku lulus dengan hasil yang memuaskan.
“Ibu, Silvi lulus, hasilnya juga memuaskan. Nilai Silvi yang paling besar di sekolah,” aku berteriak sambil berlari dari depan pintu.
“Alhamdulillah ya, Silvi. Ibu seneng dengernya,” Ibu merespon.
Raut kegembiraan terpancar dengan sangat jelas di wajahnya, seakan-akan beliau lupa akan penyakit yang diidapnya.

Sekarang targetku tinggal 1 lagi, masuk ke Universitas Indonesia. Semua berkas dan formulir pendaftaran ke Universitas Indonesia sudah di urus dan di kirim. Aku tinggal menunggu hasil. Aku menunggu dengan harap-harap cemas.

Akhirnya hari itu datang juga. Dari pagi aku sudah bersiap untuk melihat hasil kelulusan di universitas tersebut. Selama di perjalanan ritme detak jantungku tidak karuan, rasanya jantungku hampir lepas. Aku mendekati papan pengumuman dengan perasaan tak karuan. Ku urut jariku di daftar nama peserta yang diterima, betapa terkejutnya aku ketika melihat namaku di urutan ketiga, Silvia Pratiwi.

Tak sabar aku ingin kembali ke rumah untuk memberitahukan berita ini kepada Ibu. Aura senang dari beliau sudah bisa kubayangkan.
“Ibu, Ibu, Silvi berhasil! Silvi masuk ke Universitas yang Ibu mau, Universitas Indonesia. Silvi juga ada di urutan ketiga,” seruku dengan senyum sumringah.
“Alhamdulillah, nak. Akhirnya permintaan Ibu yang terakhir bisa kamu penuhi. Semoga kelak kamu juga bisa jadi yang terbaik disana,” ujar Ibu dengan nada pelan.
Binar di mata Ibu langsung nampak, beliau kelihatan bangga. Tetapi, entah mengapa aku merasakan sebuah getaran yang berbeda ketika ku tatap sorot matanya, dan ketika ku dengar kalimat itu. Aku hanya mengangguk dan tersenyum.
“Oh iya, Silvi pergi jualan dulu ya bu,” kataku.
“Ya sudah, hati-hati di jalan ya,” jawab Ibu. Pesan terakhir itu memang tak pernah lupa beliau sampaikan.

Dengan santainya aku berjalan mengelilingi komplek, menjajakan barang daganganku. Setelah daganganku habis, langsung saja aku pulang ke rumah. Tapi tiba-tiba aku menyaksikan pemandangan yang tidak biasa. Bagaimana tidak, saat itu rumahku ramai dan ku lihat sebuah bendera kuning dikibarkan di depan rumahku. Tanpa banyak berpikir, aku berlari ke dalam rumah. Betapa hancur hatiku ketika melihat orang yang paling ku sayang sudah terbujur kaku. Seketika tangisku pecah saat itu juga, ku peluk dan ku cium kening Ibu untuk yang terakhir kalinya. Jujur, kesedihan yang tak terbendung melandaku saat itu. Tapi di sisi lain, aku juga merasa cukup puas, karena di detik-detik terakhirnya aku bisa membuat beliau tersenyum dan bangga akanku. Inilah bentuk abdiku untukmu, IBU.. :’)

Cerpen Karangan: Destia Eka Putri
Facebook: Destia Eka Putri Azhar

Cerpen Abdiku Untukmu, Ibu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rain

Oleh:
Bunyi alarm membangunkanku tepat pukul 06.00 pagi. Aku berusaha beranjak dari tempat tidurku walaupun mataku ini masih belum bisa diajak kompromi. Ketukan orang di luar mengagetkanku hingga aku terjatuh

Pendengarmu

Oleh:
Pagi ini aku tak tahu mau dibawa ke mana sama abah, semua baju dan barang-barangku sudah tertata rapi dalam tas yang siap dibawa bersamaku. Aku hanyalah seorang anak laki-laki

Kado Buat Mama

Oleh:
Aku tinggal di sebuah kota di komplek yang mayoritas pemilik rumahnya adalah kalangan pengusaha. Aku tinggal bersama mama dan seorang pembantu karena Papaku kembali ke Amerika setelah papa dan

Ayah Tercinta

Oleh:
Namaku dhian, aku bersekolah di SMA negeri 1 giri di kota banyuwangi. usiaku belum 17 tahun. hari ini hari minggu di bulan maret, 1 bulan sebelum ujian nasional SMA,

Kisah Sederhana

Oleh:
Manusia dengan manusia menikah, kemudian hidup bersama. Tapi kau adalah wanita yang menikahi hujan, maksudnya, kau seperti suami istri dengan hujan, saking dekatnya. –pagi itu cuaca sedang tidak menjadi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *