Dedikasi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Inspiratif, Cerpen Pendidikan, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 27 March 2019

Matahari belum benar-benar menampakkan sinarnya, tetapi seorang wanita paruh baya telah sibuk membersihkan rumahnya yang tidak besar juga jauh dari kata mewah. Sambil membantu suaminya bersiap untuk pergi bekerja sebagai seorang buruh, ia juga harus mengurus anaknya yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama untuk pergi ke sekolah. Lalu setelah semua kewajibannya telah ia tuntaskan, ia pun bersiap dan pergi menuju sekolah tempat ia mengajar.

Begitulah kegiatan setiap pagi yang dilakukan Wati, seorang guru honorer yang sudah berusia 52 tahun. Jarak tempat tinggal dan sekolah tempat ia mengajar cukup jauh, ia harus menempuh perjalanan menggunakan ojek sejauh 3 km dan berjalan kaki sampai sekolah sejauh 2 km karena medan jalan yang berat. Keceriaan, rasa sayang tulus dan juga penghormatan yang diberikan para muridnya membuat Wati tetap melakukan perjalanan melelahkan itu dengan penuh semangat tanpa keluhan hanya untuk bisa tetap mewujudkan cita-citanya, yaitu menjadikan para muridnya sebagai orang terpelajar yang sukses di masa mendatang. Di sekolah tempat ia mengajar Wati selalu memberikan arahan kepada murid-muridnya untuk tetap semangat dalam belajar karena merekalah generasi penerus bangsa.

Segera setelah ia sampai di sekolah tempat ia mengajar ia langsung mengikuti kegiatan upacara yang akan segera dimulai. Saat pengibaran bendera, sambil hormat, Wati tersenyum melihat para muridnya dengan penuh khidmat menyanyikan lagu Indonesia Raya. Ia senang melihat bahwa para muridnya begitu mencintai negeri ini meskipun keadaan mereka masih jauh dari kata kesejahteraan dan kurang mendapat perhatian dari pemerintah. Setelah upacara selesai, ia bersama-sama para muridnya menuju ke kelas mereka.

“Selamat pagi anak-anak” sapa Wati pada murid-muridnya.
Dengan penuh semangat murid-muridnya membalas sapaan Wati, “Selamat pagi ibu guru.”
Kemudian Wati mulai mengabsen semua muridnya,
“Jadi semuanya hadir ya, 4 siswi dan 6 siswa.”
“Iya ibu guru.”
“Apakah pr kalian sudah kalian kerjakan?”
“Sudah ibu guru.”

Hal inilah yang membuat Wati tetap mengajar di sekolah itu tanpa keluhan, karena meskipun kondisi sekolah itu jauh dari kata layak untuk digunakan dan memiliki murid yang sangat sedikit serta harus melalui medan jalan yang sulit, namun para muridnya selalu rajin dan sangat bersemangat saat belajar, bahkan saat kondisi cuaca sedang tidak baik.

Hari demi hari telah berlalu, kegiatan Wati tetap berjalan seperti biasa tanpa ada masalah yang berarti. Saat ia akan mengabsen murid-muridnya seperti yang selama ini ia lakukan, ia keheranan karena muridnya hanya 9 orang.

“Di mana Bernadus? Mengapa ia tidak hadir?”
“Kami tidak tau dimana ia berada, ibu guru.”
Murid-muridnya juga keheranan, karena mereka sedari tadi tidak melihat Bernadus dimana pun.

Setelah pulang sekolah Wati dan murid-muridnya pun memutuskan untuk pergi ke rumah Bernadus, salah satu muridnya yang tidak masuk tanpa keterangan, untuk mengetahui kondisinya. Mereka khawatir jika sesuatu telah terjadi pada Bernadus, karena ia adalah murid yang sangat rajin, apalagi Bernadus termasuk anak yang sehat sehingga ia jarang sekali sakit.

Saat mereka melewati sebuah kali dalam perjalanan menuju rumah Bernadus, Wati terkejut saat seorang muridnya berteriak,
“Ibu guru, lihat!”
Saat pandangan Wati tertuju pada objek yang ditunjukkan anak muridnya, kakinya terasa lemas dan terjatuh. Dilihatnya Bernadus sedang mengambang di pinggir kali, tersangkut rantai pohon yang terkulai. Wati dan para muridnya dengan segera menuju rumah Bernadus untuk memberitahukan orang tuanya perihal Bernadus dan meminta tolong kepada para penduduk kampung untuk mengangkut Bernadus. Diduga Bernadus tergelincir dan jatuh ke dalam kali dalam perjalanan menuju sekolah tadi pagi. Sebagai guru yang mendidik Bernadus di sekolah, Wati juga ikut terguncang mengetahui kematian Bernadus. Ia tak percaya cahaya dari salah satu bintangnya telah padam. Itulah yang Wati pikirkan, saat ia hanya mempunyai 10 orang murid dan harus kehilangan salah seorangnya sangat membuatnya sedih. Ia sangat ingin menyalahkan pemerintah karena kurang memperhatikan kenyamanan dan kemanan sarana pendidikan yang ada di pedalaman, tapi apalah dayanya, ia hanya seorang warga sipil biasa yang masih berstatus guru honorer di usianya yang tak lagi muda. Kematian Bernadus membuatnya bertekad akan berusaha lebih keras untuk mendidik dan menjaga para muridnya.

Sebulan setelah kematian Bernadus, keadaan di sekolah mulai berjalan normal dan tidak lagi berduka. Karena kejadian yang dialami Bernadus, pihak sekolah memberikan pengarahan kepada para murid untuk berhati-hati dan tidak berlarian saat melewati kali juga sekitarnya. Para orang tua juga mengawasi anak-anak mereka saat melewati kali. Dirasa usaha yang dilakukan masih kurang untuk menghindarkan anak-anak dari kecelakaan yang bisa terjadi kapan saja, akhirnya para orang tua juga pihak sekolah memutuskan untuk bahu-membahu memperbaiki jalan dan jembatan juga menambahkan fitur kemanan pada kali itu.

Kebijakan yang akan dijalankan itu membutuhkan dana yang sangat besar, pihak sekolah juga para orang tua sudah menyumbangkan bahan dan mengumpulkan dana sebisa mereka tetapi semua itu belum cukup untuk memperbaiki keadaan kali itu sebagaimana mestinya. Akhirnya pihak sekolah pun mengambil keputusan berat. Kepala sekolah memanggil satu-satunya guru honorer yang ada di sekolah itu untuk menegoisasikan sesuatu,
“Ibu Wati, maafkan saya sebelumnya, seperti yang ibu ketahui, kami membutuhkan dana yang cukup besar untuk memperbaiki keadaan kali, tetapi kami tidak mempunyai dana yang cukup. Dengan segala hormat, bisakah kami memotong gaji ibu?”
Tanpa berpikir panjang, Wati menyetujui permintaan kepala sekolah.
“Maafkan kami ibu Wati. Kami tidak bisa memberikan ibu gaji yang layak selama ini, lalu sekarang dengan terpaksa kami harus memotong gaji ibu dari seratus ribu rupiah menjadi lima puluh ribu rupiah. Sekali lagi maafkan kami bu Wati.”
Wati hanya tersenyum menanggapi perkataan kepala sekolah. Ia tidak menyesal atas keputusannya. Karena ia tidak pernah menyesal dan tulus dalam melakukan tugasnya, yaitu membantu anak Indonesia untuk menggapai pendidikan yang lebih baik, karena merekalah generasi penerus bangsa Indonesia. Caranya mengabdi pada negeri ini adalah dengan memajukan generasi penerus bangsa ini, demi Indonesia yang lebih baik.

Cerpen Karangan: Dian Rida Alexa SR
Blog: dianridaalexasr.blogspot.com

Cerpen Dedikasi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cita Citaku dan Masa Depanku

Oleh:
Hai namaku Bila Ratna Ayu panggilanku Bila. Aku duduk di bangku Kuliah. Aku anak kedua dari empat bersaudara. Dulu ketika aku bertentangan dengan orangtuaku karena Masa Depanku, aku hampir

Guruku Inspirasiku

Oleh:
Inilah aku seorang gadis berumur 12 tahun yang mengejar mimpi. Namaku Aisyah, aku adalah salah satu siswi di SMP yang ada di Magelang. SMP-ku termasuk ke dalam SMP yang

Masuk Sekolah Baru

Oleh:
Nama ku Catty aku mempunyai saudara kembar lho! Namanya Cindy, aku pindah sekolah karena Ayahku di pindah tugaskan di daerah sini. Semula aku bersekolah di SMP 1 Kusuma Bangsa,

Tak Terjelaskan (Part 2)

Oleh:
Ernita duduk dan menatap jendela-jendela kaca kelas. Ia selalu melakukan hal itu, karena biasanya Rudi muncul melewati kelas dan terlihat di kaca jendela, karena kelas mereka bersebelahan. Namun, tujuh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *