Guru Yang Baik

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Pendidikan
Lolos moderasi pada: 4 February 2015

Tia benar-benar jengkel mengajari adiknya, Yogi yang baru saja duduk di kelas 2 SD. Jangankan mengerti perkalian, penambahan dan pengurangan saja masih sering salah. Padahal ketika seusia Yogi, Tia sama sekali tidak mengalami kesulitan dalam pelajaran apa pun. Ia selalu duduk di ranking satu.

Berbeda dengan Yogi adiknya yang hanya memiliki nilai yang pas-pasan. Pokonya Tia tidak mau mengajari adiknya lagi. Keputusannya benar-benar bulat. “Tia, kalau bukan kamu, lalu siapa yang akan mengajari adikmu? Mama dan Papa kan harus bekerja sepanjang hari. Kamu kan kakaknya, berbaik hatilah pada adikmu sedikit,” keluh Mama. Tia hanya mendengus kesal.

Ting tong… terdengar bunyi bel pintu. Tia buru-buru lari ke depan. Krek! Udin temannya berdiri di depan pintu dengan senyuman khasnya. Teman sekelasnya itu memang suka sekali tersenyum lebar. “Selamat siang! Saya dari warung mie ayam Sedap yang baru saja buka. Saya mengantarkan pesanan 3 mie ayam komplet!” serunya penuh semangat.
“Hah? Apa-apaan kamu Udin? Kayaknya aku nggak pesan mie ayam deh!” kata Tia bingung. “Tapi… rasanya aku tidak salah alamat,” kata Udin ikutan bingung. “Ah, benar Udin. Tadi Tante yang pesan kepada ibumu. Semua jadi berapa harganya?” tanya Mama yang muncul dari dalam rumah.
“Semuanya jadi 15.000 rupiah, Tante,” jawab Udin riang. Mama menyerahkan uang pas di sambut Udin penuh suka cita. “Terima kasih, Tante. Selamat menikmati. Saya permisi dulu. Yuk Tia, aku duluan,” katanya berpamitan.

Tia membawa masuk mie ayam yang dibeli Mama. Ternyata rasanya enak. Yogi si penggemar mie ayam pun merengek minta tambah. Dasar payah! Anak itu bisanya hanya makan saja, keluh Tia dalam hati. Sejak saat itu keluarga Tia jadi sering berlangganan mie ayam di warungnya Udin. Karena tidak begitu jauh, kadang-kadang Yogi pergi berjalan kaki ke warung mie diantar Mbak Nia.

Di kelas pun, Udin sangat rajin mempromosikan mie ayam buatan ibunya. Ia membawa menu warung yang dipesan sehari sebelumnya untuk bekal makan keesokan harinya. “Tia, adikmu suka sekali dengan mie ayam ya. Hampir setiap hari dia main ke tempatku, lho. Kapan-kapan kamu datang juga dong. Sekali-sekali kutrakir deh!” kata Udin cengengesan.
“Beneran nih, Din? Kalau begitu, nanti siang aku datang ke warungmu, deh,” kata Tia yang disambut dengan senyum lebar khas Udin.

Siangnya, Tia benar-benar datang ke warung Sedap. Letaknya di ujung gang, hanya berbeda 5 rumah dari Tia. Yogi dan Mbak Nia juga diajak.
“Eh, Yogi datang lagi!” sapa Udin tersenyum. Warungnya bersih dan apik. Ibu Udin tersenyum manis melihat kedatangan kami. Dengan mata berbinar-binar, Yogi menghampiri Udin yang sedang mencuci mangkuk, sendok dan garpu.
“Kak Udin harus mencuci 17 mangkuk. Sekarang sudah dicuci 6, berapa mangkuk kotor yang tersisa?” tanya Udin pada Yogi seperti main tebak-tebakan. “Sebelas!” seru Yogi. “Wah pintar. Yogi sekarang bisa langsung menebak, ya. Sekarang coba tebak lagi. Kalau tadi ada 5 orang datang memesan mie ayam, masing-masing 3 mangkuk, ada berapa mie ayam yang harus Kak Udin buat?” tanya Udin lagi.
Lagi-lagi dengan cepat Yogi menjawab, “15 mangkuk mie ayam.” Tia benar-benar heran. Sejak kapan adiknya jadi pintar perkalian dan tambah kurang? “Pintar! Sekarang pertanyaan terakhir! Jika ada orang yang membeli lima mangkuk mie ayam komplet seharga lima ribu rupiah dan dua mangkuk pangsit rebus seharga tiga ribu lima ratus, lalu ia membayar dengan uang lima puluh ribuan, berapa kembaliannya?” tanya Udin.
Wah, ini pertanyaan yang cukup sulit bagi Yogi! Tia yakin adiknya pasti tidak bisa menjawab. Namun lagi-lagi dengan cepat Yogi menjawab, “Kembaliannya delapan belas ribu rupiah.” Tia tertegun mendengar jawaban Yogi. “Yak, seratus untuk Yogi. Hebat! Yogi pintar seperti Kak Tia, ya! Kak Udin tambah lagi dua pangsit rebus sebagai hadiah,” kata Udin bersemangat, disambut sorak gembira Yogi.
Sejak kapan Yogi akrab dengan Udin? Lagipula Udin kan tidak termasuk ranking sepuluh besar, kok bisa-bisanya ia mengajarkan matematika dengan mudah pada Yogi? Tia saja yang jauh lebih pintar tidak bisa. Rasanya Tia jadi malu sendiri.

Keesokan harinya, sewaktu istirahat, Tia memanggil Udin. “Apa yang kamu lakukan pada Yogi, Din? Kok dia tiba-tiba jadi pintar matematika? Tanya Tia. “Oh, itu. Yah, biasa saja sih. Aku tahu dari ibumu kalau Yogi butuh bantuan untuk belajar matematika. Jadi, setiap Yogi datang aku ajak dia menghitung tanpa ia sadari. Mula-mula menghitung sendok yang ada di atas meja, sampai soal tebak-tebakan yang kemarin. Yogi itu sebenarnya pintar lho, Tia! Ia cepat bisa. Habis kakaknya saja pintar, pasti adiknya juga pintar,” kata Udin memuji.
“Ah, tidak. Kamulah yang pintar mengajar, Udin. Kamu yang hebat. Selama ini aku tidak pernah berhasil mengajarkan Yogi. Maukah kamu mengajarkan aku caramu mengajar Yogi? Aku juga ingin mengajari Yogi,” kata Tia tulus.
Udin tersenyum lebar. “Tentu saja, dengan senang hati. Tapi, mie ayamnya tidak gratis, lho. Bangkrut aku kalau terus-terusan traktir kamu, hehe…” kata Udin cengengesan.
Udin… Udin… Dia memang teman Tia yang baik hati. Rupanya kali ini Tia si bintang kelas 5A harus mengaku kalah dari Udin yang biasa-biasa saja. Tidak, Udin bukan sekedar anak biasa. Ia bisa mengajari Rafly yang kurang pandai berhitung hingga lancar. Untung ada Udin.

Cerpen Karangan: Aldi Rahman Untoro
Blog: aldirahmanuntoro.blogspot.com
Menurut saya, menulis adalah kegiatan yang mudah dan menyenangkan.

Cerpen Guru Yang Baik merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sahabatku Mengerti Aku

Oleh:
Alena Sharina biasa dipanggil rina dan sahabat baiknya deana sisiliya biasa dipanggil dea adalah 2 sekawan yang sangat dekat mereka tidak bisa dipisahkan. Suatu hari Dea bercerita kepada Rina

My Adventure with my BFF

Oleh:
Sarah, Rain, Evellyn dan Ani adalah sepasang sahabat. Mereka gemar berpetualang dan juga pecinta alam, itulah dunia mereka. “Anak anak, Miss akan beritahu bahwa seminggu kemudian akan diadakan kemah

Asal Mula Batu Kuwung

Oleh:
Dahulu, ada saudagar kaya, ia sombong dan kikir. Penduduk desa sangat membencinya. Suatu hari, saudagar kedatangan pengemis berkaki pincang meminta makanan. Saudagar itu malah menghardiknya. “Enak saja pergi sana!”

Menolong Secara Ikhlas

Oleh:
Jam telah menunjukkan pukul 12 WIB siang. Arin, Deva, dan Sundari telah memasukkan buku pelajarannya. Siang itu pelajaran ipa dari bu Anggi telah usai. Setelah semua murid siap dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Guru Yang Baik”

  1. puja diana says:

    guru adalah pahlawan tanpa jasa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *