Kuis Pak Guru

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Inspiratif, Cerpen Pendidikan
Lolos moderasi pada: 18 September 2017

Sudah menjadi kebiasaan Pak Rachmat untuk memberikan kuis pada murid-muridnya di setiap pelajarannya. Mereka amat senang bermain kuis. Terutama Erin, sang juara kelas.

“Siapakah Presiden Republik Indonesia yang ke-3?”
Erin buru-buru mengangkat tangannya. “Saya tahu jawabannya, Pak Guru! BJ Habibie!” pekiknya bersemangat.
“Ya, betul…!” Pak Rachmat membenarkan jawaban Erin. Di bangkunya, Erin tersenyum sumringah.
“Pertanyaan berikutnya: Apa nama ibukota Jepang?”
“Saya, Pak Guru!” Erin mengangkat tangannya lagi. “Ibukota Jepang adalah Tokyo!”
Pak Rachmat tersenyum. “Jawabanmu tepat sekali, Erin!”
“Horee…!” Erin bersorak puas.

Suara kasak-kusuk mulai terdengar dari sebagian anak. Mereka tidak menyukai sikap Erin yang mereka anggap berlebihan. Ada juga yang menggerutu karena didahului oleh anak perempuan itu.

“Siap-siap pertanyaan berikutnya, ya,” Pak Rachmat melanjutkan. “Coba, siapa yang tahu, sembilan dikalikan tujuh sama dengan …?”
“Saya, Pak Guru!” Erin kembali berseru.
“Jawabannya adalah …”

Nadia, sang ketua kelas, buru-buru menyela. “Erin, kok, kamu terus yang menjawab?”
“Iya, gantian dong! Aku kan juga tahu jawabannya!” seru Aji, si kapten tim sepakbola, kesal.
“Tapi kamu tidak mengangkat tanganmu!” tukas Erin.
“Kamu selalu mendahului!” kali ini Fiko, anak yang masih suka menangis di kelas, protes.

“Oke, oke…” Pak Rachmat segera menengahi sebelum perselisihan berlanjut. “Erin, coba sekarang kita berikan kesempatan kepada Aji untuk menjawab. Ayo, Aji, sembilan dikalikan tujuh sama dengan …?”
Aji menjawab yakin, “Tujuh puluh tiga, Pak Guru!”
“Hahaha…” sontak tawa anak-anak kelas 3 meledak. Mereka menertawakan jawaban Aji yang salah. Mendapat reaksi seperti itu, muka Aji langsung bersemu merah karena malu.
“Huu… sudah kencang, salah pula!” cibir Erin pedas.
“Sudah, sudah!” Pak Rachmat mengetuk-ngetuk mejanya dengan keras. Murid-murid langsung hening. Pak Rachmat melanjutkan, “Sikap kalian tadi tidak baik. Kalau ada teman kalian yang salah menjawab, jangan ditertawakan. Malah kalian harus menghargai keberaniannya untuk menjawab. Ingat, kalian bisa belajar dari kesalahan orang lain maupun diri sendiri. Jadi mulai sekarang, kalian tidak boleh mengejek usaha teman kalian. Oke?”
“Oke, Pak Guru…!” balas anak-anak kelas 3 serempak.
“Bagus!” Pak Rachmat mengacungkan jempolnya. “Nah, sekarang kita lanjutkan kuisnya. Siapa yang bisa menjawab pertanyaan tadi?”

“Jawabannya enam puluh tiga!” Erin langsung berteriak.
Pak Rachmat tersentak. Sejurus kemudian, ia tersenyum. Ia tidak ingin mengecewakan murid pintarnya itu karena sudah menjawab pertanyaannya. “Kamu benar, Erin!”
“Yes!” Erin berseru senang. Wajahnya berbinar-binar karena ia berhasil menjawab pertanyaan Pak Rachmat. Ia tidak mempedulikan tatapan kesal teman-temannya.

Pak Rachmat melihat arloji di tangan kanannya. “Wah, waktunya tinggal sepuluh menit.” Lalu ia menatap murid-muridnya. ‘Itu artinya, waktunya menulis jurnal. Ya, kalian boleh menulis sekarang.”
Murid-murid kelas 3 segera mengeluarkan buku jurnal mereka. Menulis jurnal adalah kebiasaan lain yang diterapkan Pak Rachmat. Melalui jurnal itu, murid-murid biasanya diminta menulis apa yang mereka alami hari itu. Kadang-kadang mereka menuliskan perasaan mereka, baik senang, sedih, malu atau kesal. Setelah selesai ditulisi, jurnal-jurnal itu diletakkan di atas meja Pak Rachmat. Pada saat murid-murid sudah pulang, Pak Rachmat menyempatkan diri untuk membacanya. Dari situ, Pak Rachmat dapat mengetahui masalah yang dihadapi tiap murid dan mencari jalan untuk menyelesaikannya.

TENG! TENG! TENG! Bel waktu pulang sekolah berdentang di seluruh penjuru sekolah.
“Sampai jumpa besok, Anak-anak!” Pak Rachmat melambaikan tangannya.
Satu per satu anak keluar dengan tertib. Erin berdiri di depan Pak Rachmat sebelum dia keluar.
“Besok kita main kuis lagi, ya, Pak Guru?” pintanya.
“Insya Allah!” angguk Pak Rachmat.

Kelas telah sepi. Pak Rachmat kini duduk di kursinya. Ia mulai membuka jurnal murid-muridnya.

Erin menulis:
Pak Guru, aku suka bermain kuis. Hari ini aku senang karena bisa menjawab semua pertanyaan Pak Guru. Aku yakin besok aku bisa menjawab lebih banyak pertanyaan lagi dengan benar.

Lalu jurnal Aji. Anak itu menulis:
Aku malu, karena jawabanku salah saat bermain kuis tadi. Untunglah Pak Rachmat tidak marah. Tapi aku tidak suka pada Erin. Dia sombong!

Jurnal ketiga adalah milik Nadya:
Hari ini Pak Rachmat memberi kami kuis. Soal-soalnya sih gampang. Sebetulnya aku bisa menjawabnya. Tapi Erin selalu mendahului aku. Seharusnya dia juga membagi kesempatan buat yang lainnya.

Pak Rachmat terus membaca jurnal demi jurnal. Terakhir adalah milik Fiko:
Aku tidak suka bermain kuis. Membosankan! Apalagi Erin tidak pernah ngasih kesempatan buat yang lain. Dasar sok pintar!

Pak Rachmat tersenyum membaca jurnal Fiko. Ya, Erin memang pintar. Tetapi ia tidak disukai teman-temannya karena tidak pernah memberikan mereka kesempatan untuk menjawab. Selain itu, Erin sering meremehkan teman-temannya.
Pak Rachmat duduk termenung di kursinya. Apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikan masalah ini?

Keesokan harinya, Pak Rachmat bertemu murid-murid kelas 3 lagi. “Bagaimana, apakah kalian siap bermain kuis lagi?” tawar Pak Rachmat riang.
Hampir sebagian murid langsung mengeluh dan hanya Erin yang menyambut antusias. “Aku siap, Pak Guru! Aku siap!”
Nadya mengangkat tangannya. “Pak Guru, aku sih mau saja bermain kuis. Tapi Pak Guru harus adil, ya. Murid di kelas ini kan bukan cuma satu orang,” Nadya melirik sinis ke arah Erin.
“Aku tidak mau ikutan!” cetus Fiko sebal. “Bosan!”
Murid-murid lain ikut ribut menolak bermain kuis. Sementara Erin berlagak tidak peduli. Pak Rachmat mengangkat kedua tangannya untuk menenangkan suasana kelas. Murid-murid tenang seketika.

“Kita akan bermain kuis. Tapi… “ Pak Rachmat menggantung kalimatnya.
“Tapi apa, Pak Guru?” tanya Aji penasaran.
Pak Rachmat tersenyum. “Tapi maaf… “ Pak Rachmat berdehem-dehem, “tenggorokan Pak Guru sedang sakit, nih. Pak Guru sepertinya tidak bisa membacakan soalnya.”
“Yaah…” Erin langsung patah semangat. “Jadi, kuisnya batal?”
“Tentu saja tidak,” jawab Pak Rachmat. “Kita akan tetap bermain kuis. Tapi akan ada seseorang yang menggantikan Pak Guru.”
“Siapa, Pak?” Erin terbelalak ingin tahu.
Pak Rachmat terdiam sesaat seraya tersenyum. Lalu ia menatap Erin. “Kamu.”
Erin terperangah. “Hah? Saya, Pak Guru?”
“Ya, kamu, Erin. Ayo, maju ke sini. Anak-anak, berikan tepuk tangan yang meriah untuk pembawa acara kuis kita yang baru: ERIN…!”
Tepuk tangan terdengar namun tidak terlalu kencang. Murid-murid nampaknya masih kesal dengan Erin. Sementara itu, Erin maju ke depan kelas dengan perasaan aneh. Setibanya di depan meja guru, Erin langsung menerima potongan-potongan karton kecil berisi soal dan jawaban dari Pak Rachmat.

“Kenapa harus saya, Pak Guru?” tanya Erin ragu-ragu.
“Karena Pak Guru yakin kamu bisa!” jawab Pak Rachmat. Setelah itu, Pak Rachmat menatap murid-muridnya. “Dengarkan pertanyaannya baik-baik. Jika kalian tahu jawabannya, angkat tangan kalian dan langsung jawab. Paham?”
“Paham, Pak Guru…” jawab murid-murid serempak.
“Soal pertama! Erin?” Pak Rachmat mempersilakan Erin.

Erin mulai membaca. “Kapan kita memperingati hari Sumpah Pemuda?”
Nadya segera mengangkat tangannya dan berteriak, “28 Oktober!”
“Benar!” seru Pak Rachmat. Nadya langsung berteriak gembira.

“Negara manakah yang menjadi juara piala dunia sepakbola tahun 2010?” Erin melanjutkan pertanyaannya.
Aji langsung berdiri dan berteriak, “SPANYOL!”
“Seratus buat Aji!” seru Pak Rachmat.
“HOREEE…!” Aji menari-nari kegirangan. Murid-murid lain tertawa melihat tingkahnya. Ada juga yang bertepuk tangan.

Erin membaca lagi. “Binatang yang hidup di dua alam disebut…?”
“Amfibi!” dua orang anak yang duduk di belakang menjawab bersamaan.
Pak Rachmat bertepuk tangan. “Jawaban kalian benar! Hebat!”

Suasana mulai menghangat. Erin membaca soal berikutnya. “Apa nama ibu kota Bangladesh?”
Kelas mendadak senyap. Sepertinya tidak ada yang mengetahui jawaban pertanyaan itu. Nadya dan Aji saling berpandangan. Sementara itu di depan kelas, Erin geregetan. Ingin rasanya ia memberikan jawaban pertanyaan itu.

“Apa, ya, ibu kota Bangladesh? Ayo, siapa yang tahu?” Pak Rachmat berusaha memancing jawaban murid-muridnya.
Tiba-tiba tangan Fiko terangkat. “Ibu kota Bangladesh…?” dia nampak ragu-ragu. “… Dhaka?”
Pak Rachmat spontan berteriak, “SERATUS UNTUK FIKO! JAWABANMU BENAR!”
Kelas langsung gegap gempita. Di bangkunya, Fiko langsung melompat dan memekik penuh suka cita. Semangatnya mendadak muncul.

Selanjutnya kuis berjalan meriah. Erin membaca soal penuh antusias. Murid-murid pun berlomba-lomba menjawab pertanyaan. Beberapa di antara mereka malah ada yang berhasil menjawab dengan benar lebih dari lima soal, termasuk Nadya. Anak itu terlihat sangat senang.
Tak lama kemudian kuis pun berakhir. Semua anak bertepuk tangan. Pak Rachmat ikut larut dalam kegembiraan itu.

“Anak-anak, hari ini Pak Guru senang sekali karena kalian bisa menjawab semua pertanyaan kuis dengan baik. Kalian memang murid-murid yang hebat. Tetapi bukan hanya itu yang Pak Guru bangga. Hari ini kalian bermain kuis tanpa mengejek atau menertawakan teman kalian yang salah menjawab. Itu adalah sikap yang terpuji. Luar biasa! Pertahankan!”
Semua murid bertepuk tangan dan merasa senang dipuji Pak Rachmat.

“Erin, bagaimana pendapatmu tentang teman-temanmu? Bukankah mereka pintar karena berhasil menjawab pertanyaan kuis tadi?”
Erin mengangguk sambil tersenyum dipaksakan. Sebenarnya ia ingin ikut bermain. Ia sangat yakin dapat menjawab seluruh soal tanpa menyisakan sedikit pun pada yang murid lain.
“Anak-anak, bagaimana menurut kalian tentang Erin? Bukankah dia pembawa acara kuis yang cerdas dan hebat?”
“Ya…!” seluruh murid sependapat dengan Pak Rachmat. Kemudian tepuk tangan yang keras membahana di ruangan itu.
“Hidup Erin!” seru Nadya.
“Erin hebat!” puji Aji.
“Jempoool…!” Fiko menunjukkan ibu jari kanannya kepada Erin.

Erin terkesiap. Ia tidak menyangka mendapat sambutan seperti itu. Tiba-tiba saja ada perasaan aneh menyeruak masuk ke dalam hatinya. Ya, Erin mendadak merasa malu. Selama ini ia sering meremehkan kemampuan teman-temannya. Ia merasa dirinya paling pintar daripada mereka. Ternyata hari ini teman-teman Erin mampu menunjukkan kemampuan terbaik mereka. Erin merasa tidak enak. Apalagi mereka menyanjungnya sebagai pembawa acara kuis yang baik.

“Baiklah, Anak-anak!” Pak Rachmat menyudahi kegembiraan. “Waktu pelajaran kita hampir habis. Kalian tahu kan apa yang sekarang harus dilakukan?’
“JURNAAAL…!” seru murid-murid kelas 3 kompak.
Pak Rachmat terkekeh. “Hehehe… Pintar! Selamat menulis!”

Kelas menjadi tenang. Murid-murid menulis jurnal mereka. Dari belakang mejanya, Pak Rachmat menatap mereka. Ia merasa bahagia melihat murid-muridnya yang cerdas dan antusias. Ia juga merasa senang karena telah menemukan cara untuk menyelesaikan masalah Erin dan teman-temannya. Ide pura-pura sakit tenggorokan telah berhasil dilaksanakan. Dengan cara itu, Pak Rachmat dapat memberikan kesempatan bagi anak-anak lain untuk menjawab kuis. Ia juga berharap Erin tidak lagi dimusuhi teman-temannya.

Saat murid-murid telah pulang, Pak Rachmat kembali membaca jurnal mereka.

Jurnal milik Erin yang pertama dibuka:
Hari ini aku bahagia karena menjadi pembawa acara kuis. Tapi aku juga merasa malu karena ternyata teman-temanku bisa menjawab semua pertanyaan dengan benar. Mereka pintar! Aku janji tidak akan meremehkan mereka lagi!

Aji menulis:
Yeee! Aku berhasil menjawab kuis. Hidup Spanyol!

Nadya menulis:
Hari ini aku begitu gembira karena berhasil menjawab tujuh pertanyaan kuis. Yes! Eh, aku juga salut dengan Erin, lho. Dia bisa membawakan kuis dengan baik. Aku ingin seperti dia! Besok aku mau main dengannya. Aku nggak akan musuhin dia lagi.

Terakhir, jurnal Fiko:
Pak Guru, besok main kuis lagi, ya?

Cerpen Karangan: Nafy N.
Blog: nepysworld.blogspot.co.id

Cerpen Kuis Pak Guru merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dulu

Oleh:
Menyedihkan sekali kisah persahabatanku dengan Rinka. Dia dulu sahabatku. Dia dulu orang yang bisa kupercaya. Dia dulu selalu menghiburku saatku bersedih. Dulu kami saling berbagi cerita. Tapi itu semua

Hitam Putih Pergaulan

Oleh:
Dalam kenangan masa lalu yang sangat buruk tentu Naila tak mau lagi jatuh ke jurang yang sama. Karena salah memilih sahabat, ia menjadi anak pemalas dan boros. Sebelumnya ia

Dipaksa Nikah

Oleh:
Pendidikan merupakan hal yang paling penting untuk Hamdah kejar karena ia tahu kalau masa depan seseorang ditentukan oleh sejauh mana pendidikan mereka. Perasaan senang terus membanjiri jiwa Hamdah dan

Amelia Clothes Shop

Oleh:
Amelia namanya. Biasanya dipanggil Ameli. Umurnya baru 16 tahun. Seumuran anak SMA gitu. Tapi, dia sudah jadi pengusaha cilik! Hah? Kok bisa sih? Mimpi kali ya? Eits, ini bukan

My School Activity

Oleh:
Matahari bersinar terang. Cuaca di pagi hari ini sangat cerah. Awan-awan juga seakan menyambut pagi yang cerah ini. Sekarang, aku sudah sampai di sekolahku. Aku berjalan memasuki sekolahku. Tepatnya,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *