Skuad Para Pemimpi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Pendidikan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 17 February 2019

Setiap kejadian hidup akan tersimpan secara sistematis di dalam memori otak dan hal-hal kecil bisa memicu kenangan itu. Kenangan adalah sesuatu yang menyenangkan, bagian-bagian kecil dari masa lalu. Kadang ia meninggalkan mozaik yang aneh dan indah. Fragmen tanpa pesan hanya menimbulkan sebuah kesan.

Kenangan juga seperti sebuah coklat, sekali kau gigit dan memakannya kau tak akan berhenti melahapnya. Ia akan membawamu berlayar ke samudera penuh rahasia. Memberimu banyak kejutan, apalagi tentang cinta. Simpanlah apa yang seharusnya tersimpan dan buanglah apa yang tak ingin kau ingat, tapi jangan hilangkan kenangan yang bermakna.

Bengkulu, 5 tahun yang lalu
BADS singkatan dari inisial nama empat cowok terhits di sekolah. Skuad tersohor karena prestasi individuanya. Siswa pemegang juaran umum dan siswa berprestasi di non akademiknya. Siapa yang tak mengenal Dian, Suryadi, Bayu serta diriku? Semua siswa di sekolah tahu dan mengenal kami. Mungkin agak berlebihan harus menjelaskannya, tapi karena ini memori penting jadi akan kuceritakan.

B untuk Bayu yang paling muda dan ganteng. Seorang lelaki spesial di skuad kami. Ia adalah Arjuna, lelaki berkarisma dan mengoda. Fisiknya sedang, putih, mata sipit dan gayanya elegan. Seorang yang juga humble dan memiliki selera humor yang tinggi. Semua cewek di sekolah kami selalu perhatian dengannya, dia pandai membuat cewek jatuh cinta kepadanya.

A untuk diriku sendiri. Kata orang aku jaim, cuek, sebagian lain mengatakan aku ramah. Entahlah, terlalu banyak komentator dalam hidupku. Tak ada yang spesial dariku, kecuali kepribadian yang sistematis dan perfeksionis yang kubawa dari gen keluarga. Aku tak ingin mengatakan aku ganteng, karena sejatinya orang lainlah yang menilai bagaimana diriku tapi rata-rata mengatakan aku tidak jelek.

D untuk Dian yang jenius. Manusia tercerdas di skuad kami. Seseorang yang multitalenta. Dia adalah bintang dan leader kelompok. Secara fisik dia pendek sama sepertiku, beda dengan Bayu atau Suryadi yang lebih tinggi. Warna kulitnya kuning langsat sama sepertiku, hanya bedanya di hidung aku mancung dan dia bangir. Untuk segi ketampanan kami memiliki nilai yang sama.

S untuk Suryadi yang puitis. Langkah-langkahnya seperti syair, berirama. Dia satu-satunya anggota skuad kami yang antik. Kalian tak akan melihatnya terbata dalam berbagai hal. Dia sangat rajin dan gigih dalam keinginannya. Ciri khas di wajahnya ia memiliki tahi lalat di bawah hidung sebelahan kanan dan itu yang membuatnya tampak manis.

Kami adalah kegilaan. Pemilik rencana futuristis dari setiap petualangan. Suatu hari kami pernah mendaki bukit kaba secara spontan, tanpa persiapan apa-apa hanya badan yang kami bawa. Demi rasa bahagia serta kepuasan diri, kami berempat bisa menjadi manusia bebas dan penuh keinginan. Banyak hal-hal konyol sering kami lakukan. Melakukan hal baru untuk mendapatkan pengalaman. Kami adalah lelaki biasa, tapi bukan lelaki standar. Kami adalah kompleksitas dari sebuah persahabatan yang canggih.

Empat lelaki biasa dengan mimpi luar biasa. Kami tak ingin bermimpi ala kadarnya. Mimpi kami luas seperti cakrawala, hebat dan tinggi. Kami juga tak ingin dibodohi mimpi, tanpa ada keinginan kuat serta kemampuan. Kami nyakin, Tuhan pasti akan memeluk setiap keinginan suci manusia. Keinginan kami hanya berkeliling dunia seperti Marcopolo atau Ibnu Batutah. Kami selalu menghayal hal itu. Kadang menuliskan impian itu pada botol lalu membuangnya ke laut, atau menuliskannya dibibir pantai sambil menyaksikan ombak menghapusnya. Pantai panjang benar-benar menjadi saksi mimpi kami. Kuharap ia juga akan menjadi saksi keberhasilan kami, sebab disanalah kami akan berkumpul dalam kondisi sukses nantinya.

Waktu terus melaju, menyeretkan harapan dan cita-cita. Mimpi yang pernah diikrarkan sekarang berada pada ujungnya, dimana hari itu pengumuman UN SMA. Kami berkeliling dengan memengang amplop berwarna putih. Perasaan kami tak karuan saat ingin membuka amplop kelulusan. Semua jadi tanpak misteri. Banyak kemungkinan bisa terjadi. Teryata, untuk melihat hasil kerja keras selama ujian begitu mendebarkan jantung. Lewat hitungan, kami membuka amplop berisi nilai serta kelulusan. Hasilnya jelas, kami lulus. Sang jenius Dian mendapat nilai sempurna, Suryadi mendekati sempurna. Bayu dan aku sedikit di bawah mereka. Kami saling tersenyum dan mengucapkan syukur yang dalam.

Ritual kelulusan mencoret baju dengan spidol atau cat semprot tak kami lakukan saat itu. Kami tahu bagaimana merayakannya dengan fantastis, hal yang bermanfaat dan berguna. Kami melakukan pengalangan dana, mengumpulkan baju layak pakai untuk anak panti asuhan. Selesai acara di panti saat itu, sorenya kami berkumpul di pantai panjang. Mendiskusikan banyak hal serta rencana ke depan.

“Kita semua harus ikut tes bea siswa, sesuai dengan keinginan kita studi ke Eropa” kata Dian, disela diam kami.
“Iya benar. Kita harus lulus dan kuliah ke Eropa bareng” kata Suryadi menambahkan.
“Yah, setuju bro” jawab Bayu.
“Oke” jawabku simple.

Beberapa minggu setelah tes beasiswa. Kami melihat hasil tesnya secara online dan kami semua lulus. Mimpi kami terasa hangat, Tuhan mendengar do’a kami. Aku terharu, beryukur dengan dalam. Tapi hal diluar kendali terjadi. Aku dan Bayu tak bisa mengambil bea siswa itu. Mendadak meninggalnya bapak mengubah rencana untuk studi. Aku harus menjadi tulang punggung keluarga dan bekerja banting tulang untuk membiayai adik-adikku sekolah. Sama dengan dengan Bayu, kondisi ayahnya yang tak sehat membuat ia harus mengantikan ayahnya mengurus usaha keluarganya.

Perpisahan memang meninggalkan kesedihan tapi aku nyakin karena perpisahan juga seseorang nanti akan menjadi kuat. Kini hanya Dian dan suryadi yang melanjutkan studinya di Universitas Oxford Inggris. Aku dan Bayu mencari peruntungan lain. Mungkin kami akan kuliah, tapi hanya sebatas di Indonesia.

Langkah pertama dian dan suryadi untuk keliling dunia sudah tergenggam bersama studinya. Setidaknya mereka sudah memiliki kunci untuk menjelajah Eropa. Aku dan bayu mengumpulkan mozaik lain kehidupan, berharap tuhan masih baik hati untuk memberi jalan pada mimpi kami. Pikiran kami selalu optimis, sebab aku tahu bahwa kita adalah apa yang kita pikirkan.

Setelah kepergian bapak, aku ke Yogyakarta mencari peruntungan hidup. Membantu kakak sepupu Andre Kualan, mengelolah bisnis pernak-perniknya. Sudah 10 tahun kak Andre menjalani bisnis itu dan ia sukses menjadi pengusaha muda yang terkenal di Yogyakarta. Aku belajar dengan kak Andre berharap mendapat ilmu dan pengalaman. Setelah lima tahun belajar aku sekarang bisa mandiri dan mengelolah bisnis sendiri. Alhamdulillah rezeki terus mengalir dan aku mampu membiayai adik-adikku sekolah.

Seperti angin, bayu cepat berkembang. Ia berhasil membangun kembali bisnis keluarganya. Minuman yang sering kita minum Oke Water adalah contoh produk perusahaannya. Sekarang, tak ada lagi yang bisa menghalang kami untuk keliling dunia.

Yogyakarta, Januari 2015
Senja di Yogyakarta menginggatkan aku senja di pantai Panjang Bengkulu. Dimana skuad BADS sering berkumpul untuk menikmati indahnya senja dan surya yang tenggelam, sambil membicarakan hal apapun dengan bebas tanpa batas. Sebuah persahabatan yang penuh kehangatan, dimana suka dan duka kami bagikan.

Sekarang sudah 5 tahun sejak kelulusan SMA. Aku menikmati menjadi pemilik usaha kerajinan tangan di Yogyakarta. Jatuh bangun merintis, belajar dengan banyak orang sampai menekuninya sendiri hingga aku mampu membiayai kehidupan keluarga serta sekolah adik-adikku. Mimpi-mimpi yang dulu sempat tertunda kini mulai menarikku kembali. Bayu sekarang menjadi penguasaha minuman. Impian ingin studi ke Eropa dia tunda juga, karena kondisi kami dulu sama. Aku tahu bahwa suatu saat nanti aku dan Bayu akan menyusul Dian dan Suryadi. Rasanya tak akan lama, aku mulai mencium bau Eropa yang begitu hangat.
“Aku selalu menunggumu brother” kata Bayu. Dia selalu seperti itu. Sahabat yang luar biasa.

Keadaan yang membuat kami untuk menunda studi bukan berarti memadamkan bara panas mimpi di dada. Bahkan semangat itu semakin hari semakin menyala dan mengebu. Sekarang, aku dan Bayu menjadi mitra bisnis. Kami membuka usaha travel dan guide untuk turis di Yogyakarta. Meskipun impian kami ke Eropa belum terlaksana, tapi kami bahagia dengan pencapaian kami saat ini yaitu menjadi pengusaha muda. Mimpi yang dulu sempat tertutup kini pintunya harus kami dobrak lagi. Tak ada lagi masalah biaya. Aku sudah bisa membiayai kuliah ke Eropa dengan usaha pernak-pernik yang aku rintis.

Surya tenggelam bersama setiap kenangan, warna orangenya yang begitu menawan membuatku larut dalam setiap bayang. Kulihat handphoneku, ada pesan whatsapp masuk. Group BADS di whatshapp. Rupanya dua berandal gila, Dian dan Suryadi akan pulang. Kami janjian akan bertemu sebulan lagi, dan pantai panjang akan menjadi saksi kembalinya BADS. Aku sudah sms Bayu dan kami akan mengila kembali.

Bengkulu, Febuari 2015
“Yeah… Kita kumpul lagi brother”
Seperti sebuah susunan zat yang terpisah, kini materinya kembali bersatu. Kami mengulang momen. Kembali bercerita tentang BADS. Tentang impian dan tentang masa depan. Dian, dan Suryadi kini telah berhasil mendapat gelar S1 nya di Universitas Oxford Inggris. sedangkan aku dan Bayu sibuk dalam usaha kami.
“Selamat brother” kataku pada Dian dan Suryadi.
“Kami bangga pada kalian” kata Bayu menambahkan.
“Thanks brother” Senyum Dian dan Suryadi yang terpancar membawa kebahagiaan. Lama kami membicarakan rindu. Senja pantai panjang membawa suasana kehangatan. Sama seperti lima tahun dulu waktu masih SMA.
“Bro, kali ini kita akan ke Eropa berempat kan?” Pertanyaan Dian dan Suryadi kembali menguatkan mimpiku. Menjelajah Paris seperti yang aku inginkan. Pergi ke Inggris menyaksikan pertandingan Liga Inggris. Pergi ke Jerman dan Spanyol. Ah, rasanya mimpi itu dekat sekali. Senyum terpancar Bayu mengodaku. Aku tahu isi pikirannya. Kali ini kami berempat akan berkeliling dunia untuk mewujudkan mimpi kami.

Paris, Agustus 2015
Seperti perasaan cinta, perasaan bahagia itu tak bisa diungkapkan hanya dengan kata-kata. Apabila belum merasakan jatuh cinta, maka jangan mengatakan bahwa cinta adalah A atau B. Sebab akan terlihat seperti bualan belaka, jika kau bukan pakarnya.

Mimpi keliling dunia bukan suatu yang mustahil. Tuhan mendengar dan mewujudkan harapan makhluknya yang mau kuat untuk bisa maju. Sejak kelulusan sampai saat ini banyak usaha yang telah aku lakukan untuk bisa membuatku mandiri. Semua itu aku lakukan untuk satu tujuan, yaitu keliling dunia. Berdo’alah, berusahalah, Tuhan pasti akan memberi jalan.

Entah bagaimana skenario-NYA, skuad BADS bisa berada di Paris dalam Festival La Tomatina, Ajaib! Dian dan suryadi yang seharusnya berada di Inggris mengambil studi S2 nya tiba-tiba ada di festival itu. Sialnya bayu juga, dia dikelilingi oleh dua gadis paris pula. Ahhh berandal!

Aku jelas, kenapa bisa berada di Paris. Sejak mendapatkan beasiswa bulan april lalu dari Erasmus Mundus Action 2 Project yaitu kerjasama (konsorsium) antara universitas-universitas di Eropa dengan universitas-universitas di negara dunia ketiga, salah satunya Indonesia. Aku sekarang kuliah di Universitas De Girona, Paris.

Sekarang kami berada di Brunol, daerah timur Paris. Tempat Festival La Tomatina berlangsung. Tak menyangka kami bisa bertemu dan berkumpul lagi seperti ini. Seperti mimpi, seolah telah direncana. Kebetulan yang unik, dimana Dian dan Suryadi sedang studi banding ke Paris dan mereka tak menyiakan Festival La Tomatina ini. Bayu, dengan kebetulan anehnya. Ia diajak mitra bisnisnya untuk berlibur di Paris. Lalu tiba-tiba seperti sebuah takdir kami bertemu dengan kejaibannya, boom. Skuad BADS di Paris dalam Festival La Tomatina.

Seperti saus, jalan-jalan menjadi merah oleh tomat yang hancur. Badan basah, dan bau tomat begitu memanjakan hidung. Selama kurang lebih dua jam festival berlangsung, lalu kami bergegas membersihkan diri untuk petualangan berikutnya. Entah apa lagi?

Meskipun kami belum bisa keliling dunia. Tapi studi ke Eropa adalah cita-cita luhur kami. tak menyangka celotehan kami ketika masih SMP dan SMA dulu tentang mimpi studi ke Eropa bisa terwujud. Kami berpegang pada janji Tuhan, bahwa “Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum/individu, kalau kaum/individu itu sendiri tidak ingin mengubahnya” dalam jiwa, kami sangat percaya itu. Itulah sumber kekuatan mengapa kami selalu optimis.

Petualangan kami berlanjut ke Museum Louvre, dulunya itu adalah istana kerajaan Perancis. Museum Louvre termasuk salah satu museum paling besar di dunia dan tentunya menjadi yang paling populer di Paris. Kami berbaur diantara ratusan turis lain, menikmati suasana Paris yang esotis. Satu dua kami menemukan orang indonesia dan kami berfoto ria. Paris meninggalkan kesan tersendiri sekaligus tempat awal dimana aku akan berjuang menembus mimpi.

Paris, Mei 2017
BADS adalah fragmen memori yang berharga. Saat menyelesaikan tulisan ini aku berada di Cafe De Flore, kafe paling tua di Paris. Suasana klasiknya menginggatkan ku pada BADS. Untuk mereka yang sekarang berada di habitatnya sendiri. Suryadi sang puitis, puisimu memainkan peran kehidupan yang anggun. Dian yang jenius membuat kami selalu mudah dalam berbagai hal karena kepintaranmu. Bayu, Arjuna kelompok yang selalu membuat kami mendapatkan kenalan dari kaum hawa, dan aku yang menuliskan catatan ini agar kenangan itu abadi.

Aku bahagia memiliki sahabat seperti mereka yang selalu membantuku bangkit ketika terpuruk dan membangunkan jiwaku saat lemah. Itulah indahnya persahabatan. BADS! itulah nama kami dan biasanya kami dipanggil.

Sepotong coklat kecil kumakan dari brownies yang baru kupesan, menginggatkan aku kembali pada masa lalu yang indah, tentang persahabatn empat anak manusia yang berbeda karakter. Terima kasih untuk kalian, Suryadi yang sedang membuat buku kumpulan puisinya yang ketiga. Dian yang sekarang sedang jatuh cinta dengan kihara, cewek jepang temannya sewaktu ia menghadiri perlombaan bahasa Inggris di Kyoto Jepang. Terakhir untuk Bayu, sahabat dan patner kerja yang luarbiasa. Aku iri dengan kegantenganmu dan aku suka solidaritasmu. Kalian semua terbaik, kalian saudaraku, terima kasih. Kita adalah BADS, melakukan yang terbaik dimanapun kita berada.

Cerpen Karangan: Saunichi Agus Sauchi
Facebook: Saunichi Agus Sauchi fb.com
Pengagum awan
Penikmat coklat

Cerpen Skuad Para Pemimpi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Way

Oleh:
Mentari berwarna oranye mulai menghiasi wajah langit di atas sana. Lagit biru dengan goresan lembut berwarna putih itu menambah penampilan yang kian cantik. Suara nyanyian merdu si makhluk bersayap

Jendela Cerita Menembus Mimpi

Oleh:
Indonesia tanah air beta Pusaka abadi nan jaya Indonesia sejak dulu kala tetap dipuja-puja bangsa Serentak puluhan suara menggemakan sebuah ruangan dari sudun ke sudut, ribuan tepuk tangan pun

Mahameru, Tidak Seru

Oleh:
“Feb, aku tunggu di bawah ya”. Teriak Kiki dari bawah. Namaku Febi, Mahasiswa di salah satu perguruan swasta di Bandung, aku kini ada di semester 3 dalam Fakultas Ilmu

OSIS Displeasure

Oleh:
Sialan, tahu begitu kutendang tulang keringnya lebih keras dari kemarin hingga dia meringis kesakitan seperti seorang bayi yang merengek minta susu pada ibunya. Bagaimana tidak, orang itu telah menipuku

Hilangnya Balon Hitamku

Oleh:
Sabtu pagi, aku terbangun dengan riangnya. Aku sadar bahwa inilah kamar istimewaku. Kubuka jendela tua ini dengan senyum semangat. Udara pagi ini menyegarkanku. Aku segera beranjak dari tempat tidurku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *