Tak Ada Mawar Yang Tak Berduri

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Pendidikan
Lolos moderasi pada: 30 April 2014

Ketika itu Silvy sedang merenungi nasibnya yang selalu buruk. Ia memang mempunyai hobby melamun, dan merenungi kejadian yang sudah dilaluinya. Saat itu Silvy sedang berada di tepi danau dekat rumahnya. Rupanya ia melamun bahwa dirinya mempunyai cita-cita mulia menjadi seorang guru teladan. Silvy memang mempunyai impian tersebut sejak kecil.

(Dalam lamunannya, Silvy sedang mengajar di sebuah sekolah SMPN ternama di kota. Kala itu ia kebingungan melihat murid kesayangannya tidak masuk sekolah. Sepulang mengajar, ia menemui murid tersebut. Namun tak disangka, di tengah perjalanan ia bertatap muka dengan seorang lelaki dan berkenalan dengannya. Raka, itulah namanya.)

Tak lama kemudian, Silvy terbangun dari lamunannya akibat teriakan adiknya yang bernama Syila.
“Kak Silvy!!! Dipanggil ibu tuh!!!” teriak Syila
“Ya, Dik!” jawab Silvy

Suatu ketika Silvy pun sudah lulus SMA. Namun ia bingung memilih akan meneruskan ke Universitas ataukah putus sekolah sampai jenjang menengah atas. karena, kedua orangtuanya sudah tak mampu lagi.

Dikarenakan Silvy adalah siswi yang tergolong pandai, maka, biaya untuk melanjutkan ke universitas ditanggung oleh pemerintah. akhirnya terlaksanalah impian Silvy untuk menimba ilmu menjadi seorang mahasiswi.

Cerpen Tak Ada Mawar Yang Tak Berduri

Ketika jenjang semester 4 masih dalam separuh perjalanan, beasiswa untuk Silvy terputus entah kemana. Dalam kebingungan, angan Silvy terputus untuk melanjutkan kuliahnya. Ia hanya dapat berbagi ilmu kepada adiknya, Syila.
Harapan Silvy yang ingin berbagi ilmu pada orang banyak tak tercapai. Untuk menghilangkan rasa kejenuhannya, ia pergi ke danau tempat ia merenung dahulu. Saat sedang asyik merenung, terdengar suara lelaki yang menghampiri di belakangnya.
“Silvy, mengapa kamu bersedih?” Tanya suara tersebut.
Tak lama kemudian, Silvy berbalik badan dan tercengang menatap lelaki tersebut. Rupanya Ia adalah Raka, lelaki yang ia lamuninya dahulu.
“Ra…ka?”
“Iya, aku Raka!”
Mereka pun berbincang-bincang membicarakan sesuatu. Ternyata Raka memberi sebuah amplop kepada Silvy.
“Apa ini?” Tanya Silvy terheran
“Kamu buka saja.”
Ketika dibuka, ternyata isinya seamplop uang untuk melanjutkan kuliah Silvy. Dan ketika Silvy hendak mengucapkan Terima Kasih, Raka menghilang dan tak lagi terlihat.

Keesokan harinya, Silvy mulai menjalani hari dengan wajah berseri-seri. Dalam hitungan tahun, Silvy sudah lulus kuliah dan melaksanakan wisuda. Setelah beberapa hari, Silvy mulai mendaftarkan diri menjadi seorang guru. Ternyata ia diterima dan dapat berbagi ilmu pada orang banyak.

Sepulang mengajar di sekolah tersebut, Silvy kembali berdiam diri di danau dekat rumahnya. Datanglah Raka dengan membawa setangkai bunga mawar. Lalu, bunga tersebut diserahkan kepada Silvy. Dikarenakan Silvy kurang berhati-hati, tangannya terkena pada kumpulan duri yang menancap pada batang bunga mawar tersebut.
“Aduh!!! kok banyak durinya sih?” Tanya silvi
“Tak ada mawar yang berduri” jawab raka
“maksud kamu?.” Tanya silvi lagi
“pribahasa itu seperti nasibmu! yaitu: tak ada kebahagiaan yang di dapat, tanpa jerih payah!” jawab raka
“terima kasih ya raka, kamu selalu membuatku bahagia!” ucap silvi

Cerpen Karangan: Livia Ervita
Facebook: Livia Ervita Pelangi Senja

Nama: Livia Ervita
TTl: Probolinggo,12 Juli 1999
Hobby: Mengkhayal
Facebook: Livia Ervita Pelangi Senja
Kelas: X (Sepuluh) M.A Miftahul Ulum Banyuanyar Lor

Cerpen Tak Ada Mawar Yang Tak Berduri merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ujian Untuk Andin

Oleh:
Malam semakin mencekam,,angin bertiup menampar alam, hingga menusuk tulang rusuk yang semakin hari semakin rapuh dengan tangan yang lebam. Ku lihat taburan bintang yang indah di atas langit sana,

Senja di Tepi Pantai

Oleh:
“Aku menyayangimu seperti halnya, aku menyayangi saudaraku, Ku tak kan Biarkan waktu dan Usia memisahkan persahabatan kita. Ku kan teriakan pada dunia bahwa kau adalah sahabat terbaikku” Aku masih

Partners in Goodness

Oleh:
Layaknya gadis kecil centil dan genit yang suka mencari teman, pelepasanku setelah mengalami bullying selama satu tahun adalah mencari teman, dan lebih baik lagi, mendapatkan sahabat. Aku tidak ingat

Sekuntum Bunga Kamboja

Oleh:
Mengayuh sepeda tua berpuluh-puluh mil jauhnya, bersandar di bahu angin jalanan yang panas, berkelok-kelok medan terjal dan sekarung beras mengiringi kayuhan sepeda tuanya. Pagi buta menyambar keriputnya kulit bapak

Pemimpi Dalam Amplop

Oleh:
Jantungku seakan berayun-ayun seumpama buah mangga yang digoyangkan oleh angin. Berdegup kencang, darahku serasa mengalir deras. Ubun-ubunku bagaikan mendidih, serupa direbus di dalam panci. Bergulat di dalam benakku pikiran-pikiran

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *