4 April

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Pengalaman Pribadi
Lolos moderasi pada: 10 May 2016

Mukaku buruk? Emang, terus kenapa? Telingaku budek? Emang terus kenapa? Kalau dihitung-hitung aku emang punya seribu, sejuta, bahkan miliaran kekuranganku yang mungkin aku sendiri gak sadar atas semua kekuranganku. Itu kata-kata yang selalu terlontar dalam benakku seraya ku dengar ocehan seorang perempuan yang tak lain dia adalah ibuku sendiri. Ejekan, kritikan, bentakan, yah semua itu apalah jenisnya hari ini tepatnya dari awal bangun tidur dan entah sampai kapan berakhirnya (karena sampai detik ini ku buat cerpen ini kata itu masih berlanjut). Dari yang katanya telingaku budek, mukaku yang butek katanya, badanku yang bau beras raskinlah, dan lainnya.

Rasanya aku ingin masuk ke dalam kardus lalu kardus itu diangkut yang jauh dari tempat sekarang yang untuk aku berdiri ini. Hancur rasanya itu pasti, oke, hinaan itu memang baik untuk aku maju. Tapi kalau bertubi-tubi gini pastinya hancurlah otakku. Untuk lebih jelasnya akan ku ceritakan kronologi ceritanya. Kisah ini dimulai saat aku mulai menikmati libur UN yang jatuh pada hari senin dan berakhir pada hari rabu. Tengah malam tepatnya tepatnya. Aku mulai memang tapi bernada tinggi seperti membentak.

“Vin! Cepat bangun!” Yah ternyata suara itu dari ibuku.
“Ya.. Apa?” jawabku dengan nada ngantuk-ngantuk.
“Ambilin Vit!” perintahnya yang terdengar tak jelas di telingaku.
“Apa?” Tanyaku meminta kejelasan.
“Ambiliin Vit..!! Tuh di sana..” ucapnya dengan nada tinggi dan mulai marah.

Ya sejujurnya aku masih tak begitu mendengar dengan jelas aku berusaha berpikir sambil beranjak dari kasur sambil kedip-kedip, aku yang dalam mimpi tadi bermimpi Vit itu adalah salep penghilang bulu rambut aku segera mencari di meja dandan ibuku. Saat aku mulai muter-muter tidak menemukan apa yang ku cari. Tiba-tiba dari kamar muncul suara nada tinggi dan keras, “Gak di situ laaahh Vin! Vitnya ya di luar di tempat minuuum!” katanya marah marah tapi tetap saja aku masih bingung apa yang harus aku ambil sampai aku tak sengaja membaca kardus bertuliskan Vit. Yah dari situ akhirnya aku baru mudeng apa yang harus aku ambil. Dengan segera ku ambil dan ku berikan padanya, seraya ku berikan seraya kudengar sebuah kalimat, “Kamu, budek banget sih..” katanya. Tapi ku tak peduli itu akhirnya aku tidur lagi, dan mimpi indah lagi. Rasanya aku baru melanjutkan tidur 5 menit yang lalu tapi kembali ku dibangunkan lagi dengan nada yang sama. Tapi kali ini dengan sebuah pukulan kecil di kaki.

“Vin.. Bangunin semuanya suruh salat terus nyalain sanyo.” perintahnya beruntun. Pusing, ngantuk, lesu masih bercampur aduk. Dengan langkah terpaksa aku mulai laksanakan perintahnya satu per satu. Karena hari ini aku libur dan kebetulan lagi tidak salat akhirnya aku kembali tidur di sofa. Tak terasa dari awal pukul lima sampai beralih pukul enam aku baru membuka mata dengan dilengkapi suara menguap. Baru saja aku duduk membuka mata sambil memandangi ruang tamu yang sudah sepi karena semua adik-adikku sudah berangkat sekolah tiba-tiba suara ibuku melengking lagi.

“Viinn… Cepet mandiii… terus ke depan!”
“Ya.. Bu..” dengan suntuknya ku jawab serta ku langkahkan kaki bergegas ke kamar mandi. Dalam mandi aku juga tak lupa ku gosok gigi, dan pastinya cuci muka 2 kali. Tapi semua itu tak sedikit pun berpengaruh dan melindungiku dari kata ibuku berikutnya. Yah kata itu muncul setelah aku selesai menjadi kasir di toko.
“Kok mukamu butek banget? Cuci muka ya lah!” Katanya terucap darinya di tengah kerumunan pembeli yang seketika pun ikut menyempatkan diri menonton kejadian yang kurang lebih berdurasi tiga menit itu.
“Udah.. Koh…” jawabku menyangkal opininya itu yang 100% salah besar.
“Udahlah sana ke belakang.. Cuci muka lagi!” perintahnya.

Kaki yang mendadak jadi enteng itu langsung lari karena senang akhirnya bebas tugas. Ya walaupun aku sudah bebas tugas tetap saja aku harus mencuci mukaku lagi ya kali ini ku cuci mukaku yang katanya butek ini lebih lama dan dengan gosokan yang lebih keras lagi. Sepuluh menit berlalu selesailah sudah muka ini ku cuci. Karena nanti sore aku ada les akhirnya ku buka hp-ku. Ku lihat ada pesan masuk. Setelah ku buka ternyata dari Felly.

“Nanti les jam 2. Fisika.”
“Ya oke.” jawabku.
Karena aku punya waktu yang sedikit longgar aku sempatkan untuk berselancar di medsos yang cukup terkenal “Fb” namanya sembari ku tatap layar tv yang dari tadi nyala gak tahu siapa yang nonton. Mungkin baru jangka waktu 15 menit berlalu, rasanya baru saja ku merasa santai, tiba-tiba…

“Viiinnn… Siiniiiii!” suara ibuku melengking lagi.
“Iyaaa….” jawabku tak kalah kerasnya. Keras bukan berarti melawan tapi hanya sekedar ibuku dengar jawabanku. Aku segera lari dan berharap tak dikatai butek lagi. Tapi harapanku pupus begitu saja setelah langkahan kaki terakhirku menuju ibuku itu.
“Buteekk bangeettt sih?”
“Hmm..” jawabku kecewa karena usahaku tadi sia-sia dan sangatlah sia-sia.
“Nih transfer..” perintahnya lagi.
Dengan cepat aku beranjak pergi melaksanakan tugas. Tak lama kemudian aku kembali ke rumah dan menghadap ibuku lagi menyerahkan bukti transfer itu.
“Cuci muka.. Ya.. Lah! Yang bersih! Mukamu buteek banget. Sana ke belakang lagi.”

Cleb tak terduga kata itu muncul lagi, di depan ramainya pembeli ditambah lagi beberapa sales yang mukanya terlihat kaget dan ada yang nyengir juga melihat insiden ini. Lalu tanpa tunggu lama lagi langsung saja ku langkahkan kaki pergi menuruti perintahnya. Ku lirik jam dinding menunjukkan pukul 12.20 akhirnya ku putuskan untuk tidur, agar ku bisa menenangkan sedikit otakku ini yang sedari pagi penuh dengan kata-kata butek. Rasanya nyaman sekali, ku pejamkan mata di atas kasur yang sebenarnya gak empuk mungkin karena saking penatnya kepala ini aku langsung terlelap nyenyak. Hingga gaduh, berisik, nan merusak mimpi indahku, terdengar membangunkanku yang ternyata itu adalah suara adikku yang baru pulang sekolah.

“Jam berapa mbrot?” tanyaku pada adikku yang sering ku panggil gembrot.
“Jam dua kurang,” jawabnya santai.
“Yang bener.. Mbrot?” jawabku agak kaget.

Lalu ku langsung bergegas mandi tak lupa gosok gigi dan cuci muka lagi dengan harapan ada perkembangan setidaknya aku tak lagi dikatai butek di depan umum. Sialnya semua celanaku ternyata sedang dicuci begitu pun baju hem-ku. Akhirnya karena ku buru-buru ku ambil pakaian seadanya. Setelah selesai aku bergegas pergi ke depan toko menemui ibuku dan meminta izin. Ku kira semua akan lancar tanpa ejekan dan kritikan tapi ternyata tidak.

“Bu.. Aku berangkat les dulu ya..”
“Ya udah cepet sana! Udah mukane butek banget, bajune acak-acakan gimana sih? Yang bener yalah apa-apane!”
“Ya..” satu kata untuk semuanya. Langsung ku pergi menuju les-lesan. Lima belas menit berlalu akhirnya sampai jua.
“Bagus.. Lengkap sudah.. Di rumah dimarahi terus. Les telat. Hebat banget.” gerutuku seraya masuk ruangan les. Kebetulan tempatnya di ruangan paling awal jadi aku bisa langsung duduk.

Ya dengan keadaan yang pikiran yang belum tertata ini aku mengikuti les dengan hanya menulis jawaban-jawabannya saja. Satu jam setengah berlalu les-lesan pun selesai. Seperti biasa aku dijemput telat. Satu per satu temanku pergi pulang. Dan akhirnya hanya tersisa aku sendiri. Biasanya jemputanku itu datangnya lama ku putuskan untuk duduk di kursi sambil bermain clash of clans (coc). Game inilah yang selalu menemaniku di setiap keadaanku, karena baterai hpku sudah menunjukkan angka kritis akhirnya ku putuskan berselancar di fb saja. Waktu bergulir cepat tak terasa jemputanku sudah datang. Setelah 15 menit berlalu sampai juga aku di rumah. Akhirnya aku masuk rumah ganti baju dan sejenak menyempatkan mataku menonton tv sampai seketika terdengar suara itu.

“Viiin.. Nasinya ditatain..” agak rendahan dikit nadanya. Mungkin karena lelah.

Tanpa kata-kata langsung ku ambil magicom lalu ku tatakan di atas piring-piring. Setelah adzan berkumandang kami semua sekeluarga mulai makan. Dalam sesi makan ini ibuku tak banyak berkomentar tentangku dia sibuk menceritakan kejadian-kejadian di toko tadi siang. Aku agak sedikit lega. Berharap semuanya telah berakhir. Tapi harapanku itu tak terkabul seketika itu juga, setelah sesi makan selesai ibuku langsung mengulang kata-katanya tadi siang. Kalau dihitung-hitung mungkin ada 3 menit semua kata-kata itu diucapkanya kembali. Aku yang sudah bosan. Aku hanya mengiyakan apa yang diperintahnya.

Waktu maghrib berlalu salat maghrib pun sudah selesai dikerjakan. Aku pun mulai santai kembali karena obrolan sudah berganti dengan kisah lain, tapi ternyata obrolan itu pun tak lepas dari ejekan dan kritikan serta komentar tentangku lagi. Karena saking jenuhnya aku mendengarkannya akhirnya ku buka laptopku dan mulai ku tulis semua kisahku dalam bentuk sebuah cerpen. Sampai setelah setengah jalan cerpen ku tulis, ibuku mulai berhenti berkomentar tentangku. Dan pergi tidur. Yah mungkin dia lelah. Dan berakhirlah ceritaku hari ini tanggal 4 april 2016. Ku akhiri cerita ini. Wassalamu’alaikum wr.Wb.

Tamat

Cerpen Karangan: Alvinisha Arofah
Facebook: All

Cerpen 4 April merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Roda Yang Berputar

Oleh:
Masih jelas terekam di ingatanku 16 tahun yang lalu. Saat itu aku memasuki masa SMP. Kedua orangtuaku memutuskan untuk menyekolahkanku di sebuah pesantren, di Jakarta. Sedangkan mereka masih menetap

Apatah Arti Namaku?

Oleh:
Dua puluh tiga tahun yang lalu menjadi momen bahagia bagi kedua orangtuaku. Keduanya melakukan beberapa tradisi kehamilan dalam adat Jawa seperti tujuh bulanan atau yang sering disebut “Tingkeban/mitoni”. Tingkeban/mitoni

Enjoy Bin Joy Bersama Rohis Tangsel

Oleh:
“Busnya dimana, ah?” ucap Pak Taufiq di akhir salamnya. Beliau adalah guru dari Mts. Miftah ‘Asaadah yang datang bersama dengan siswanya, wajahnya masih kusut. Terlihat masih larut menyisihkan mimpi.

I Love You Mom

Oleh:
Pada Tanggal 5 Januari 2014 Semua keluargaku sepakat untuk membawa mamah ku ke rumah sakit, kami memaksa mamah agar mengikuti kemauan kami. Setelah tiba di rumah sakit tersebut sebut

Aku Dan Kenangan LKO A.1 304

Oleh:
18 juni 2013 Hari dimana aku “rizky dwi utami (ririn)” dan ketua osis sma negri 9 palembang mendatangi tempat yang akan di adakan kepelatihan tersebut. Awalnya tak pernah menyangka,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *