60 Menit Sosial Media

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Pengalaman Pribadi, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 9 January 2016

Namaku Aulia. Saat ini umurku 14 tahun. Aku tinggal bersama orangtua. Dengan segala aturan rumah yang ketat, aku hidup dengan 4 anggota keluarga. Cukup harmonis, tapi kebebasan bergaul dengan teman-teman di luar sana menjadi impian kecilku. Menurut Plato, puisi lebih mendekati kebenaran dibanding sejarah. Aku suka puisi, tanpa mengurangi rasa hormat pada sang filosof aku juga suka sejarah. Sejarah memperkenalkan generasiku pada orang-orang hebat di masanya.

Aku mewakili dunia berterima kasih pada The Google Guys, Larry Page, dan Sergey Brin. Mereka adalah tokoh idola sekaligus motivasiku, muda, idealis, dan jenius. Coba bayangkan, jika mesin pencari google tidak ada. Aku yakin, 100 tahun yang akan datang, sejarah akan mencatat prestasi mereka Layaknya Einstein, Leonardo Davinci, Aristoteles, dan lain-lain. Dan satu lagi yang sangat penting bagiku ialah Nabi Muhammad Saw, rahmat bagi semesta alam.

Hebatnya, sejarah juga mengajarkan masa depan, apa yang akan aku lakukan hari ini menjadi bekalku di masa depan. Saat umurku masih menduduki jenjang SMP, aku lebih suka menghabiskan waktu di depan layar monitor, menulis semua apa ku rasakan di blog pribadiku. Jika bosan melandaku, aku akan bersantai di coffe shop, sendirian dengan membawa laptop milik pamanku. Coffe shop adalah rumah keduaku, tempat yang menyenangkan bagiku untuk bisa berekspresi sepuasnya tanpa ada yang mengusikku.

Namun sejak pindah saat memasuki SMA, aku jarang mengunjungi rumah keduaku itu. Bahkan sudah tidak pernah lagi. Aku orangnya Introvert. Kurang bisa bergaul dengan dunia luar, bersosialisasi dengan orang lain sangat kurang. Aku lebih suka berdiam diri dan memerhatikan yang ada di sekitar, aku suka sekali bermain gadget, yang utamanya untuk menambah wawasan, melalui google tentunya. Makanya aku lebih memilih untuk diam jika berada di keramaian.

Kebiasaan dari kecil, ditekan oleh aturan keluarga, kurang bisa beradaptasi di lingkungan baru menjadi ciri-ciri utamaku. Sosial media menjadi tren di kalangan remaja, tak terkecuali aku. Aku mulai mengenal twitter, facebook, friendster, dan lainnya. Semua jaringan sosial media tersebut membuatku menjadi tahu perkembangan dunia seperti apa. Bisa dibilang aku ketagihan karena tergiur dengan tren-tren yang menjadi perbincangan orang-orang di dalam maupun di luar pulau tempat tinggalku.

Hari demi hari aku mulai mendalami ilmu pengetahuan melalui sosial media, aku juga mulai bersosialisasi dengan orang-orang yang tidak aku kenal. Bercanda, berbicara hal-hal absurd, sekedar menyapa, dan lain-lain. Kadang juga iseng-iseng menjahili orang, yang aku sendiri tidak tahu latar belakanganya. Aku mulai mengenal autofollowers yang tidak sengaja ku temukan dari salah satu tweet followersku. Hingga suatu hari, aku membalas sebuah tweet yang mengatakan “sistem yang cukup licik.” Aku tertarik membalas tweet tersebut dengan kalimat “licikin aja balik.”

Beberapa hari kemudian si empunya tweet membalas tweetku yang aku kirim tempo hari. Percakapan kami terus menerus berlanjut, hingga dia meminta username facebookku. Namanya Bagas, nama itu aku ketahui dari username twitternya. Orang ini cukup membuatku terhibur, karena selera humor kami sama-sama tinggi. Kami setiap harinya selalu saling membalas pesan, obrolan kami sangatlah humoris, karena itu aku semakin lama, semakin ingin mengenal dia lebih jauh.

Suatu saat dia mengajakku chattingan di sebuah sosial media yang dibuat oleh miliuner termuda di dunia. Dia memberiku sebuah nama untuk mencari akun miliknya, tapi aku sudah mencarinya hingga kehabisan akal, tapi tetap saja tidak menemukan akunnya, menurutku akun miliknya menonanaktifkan untuk ditemukan di pencarian, dan sampai keesokannya aku menginginkan kalau dia saja yang mencari akunku, dan menjadikan teman, agar kami bisa mengobrol dan agar lebih dekat.

Obrolan pertama kami di facebook saat itu adalah pengenalan, yaitu saling bertanya tentang diri kami, seperti tempat tinggal, sekolah, tingkat pendidikan, nama asli, tanggal lahir, asal daerah, dan lain lain. Aku tidak menyangka kalau dia memiliki tingkat pendidikan yang sama denganku. Dia saat itu kelas 3 SMP, dan aku juga 3 SMP. Setiap hari kami selalu mengobrol melalui sosial media. Aku ini orang termasuk yang gila browsing, ya entah kenapa rasanya seru, jika kita membaca suatu hal yang bersifat baru, dan tidak banyak orang yang tahu, sekaligus menambah wawasan.

Kami berdua selalu mengobrol apa pun yang ingin dibicarakan, karena baru kenal, dia banyak menanyakan tentang diriku agar dia percaya kalau sosokku ini benar-benar ada di dunia, karena aku merasa dia masih tidak percaya kepadaku, aku pun mengajaknya bertukar pengalaman tentang diri sendiri, dan dia mau. Aku membuatnya sangat cepat hingga 10 lembar, karena aku mempunyai daya ingat yang cukup tinggi, aku bahkan masih ingat saat umurku 5 tahun.

Aku meminta emailnya, agar bisa mengirim cerita hidupku melalui file word. Setelah 6 jam berlalu, aku pun menyuruhnya untuk memeriksa email masuk, dan saat itu juga dia langsung mengunduhnya, lalu membacanya melalui melalui laptopnya. Dia juga mengirim file word tentang kisah hidupnya, setelah diberitahu untuk mengecek email, aku langsung mengunduh filenya. Setelah aku membaca kisah hidupnya, ternyata masa kecil dia tidak beda jauh dengan masa kecilku yang penuh dengan tekanan orangtua.

Banyak pengalaman yang ia ceritakan di file text tersebut, hingga aku sendiri ketawa geli karenanya. Ternyata dia tinggal di Jakarta Selatan, sangat jauh dengan pulau yang ku huni, Sulawesi Selatan. Kami setiap hari selalu saling mengirim pesan di facebook, hingga terlintas di pikiranku, “mengapa dia selalu membalas pesanku?”
“mengapa dia tidak mengobrol dengan teman sebayanya, padahalkan dia sedang di sekolah?”

Hingga pada akhirnya aku pun bertanya kepadanya, “kenapa lo lebih memilih chat sama gue, daripada sama teman teman lo yang lebih nyata, dibanding gue yang sebagai orang asing, kita aja belum pernah ketemu?” tanyaku kepadanya lewat pesan. “gini, mereka itu punya kesibukan sendiri, entah ngobrol sama pacarnya, atau ngobrol-ngobrol nggak jelas gitu, mendingan gue ngobrol sama lo, biasanya sih gue kalau lagi jam kosong, atau paling enggak ngunduh-ngunduh lagu, kalau lagi bawa laptop..” Jawabnya.

Sempat terlintas di pikiranku, bahwa sangat jarang sekali ditemukan remaja yang jarang bersosialisasi, mungkin dia orangnya introvert atau biasanya yang disebut pendiam yang sangat suka sekali bekerja di belakang layar, yang tidak beda jauh dengan diriku. Perbandingan waktu kami adalah 60 menit, biasanya aku selalu menghitung waktu yang berada di sana. Kami menjadi sangat akrab. Kami berdua setiap hari demi hari selalu saling mengirim pesan, dan bertukar tentang diri sendiri, pengalaman lucu, bertukar masalah, dan masih banyak lagi.

Januari 2014. Hari ini hari rabu, tidak terasa perkenalanku dengan Bagas sudah hampir setahun, 2 bulan lagi. Aku tak menyangka menemukan sosok yang bisa memotivasiku, walaupun tidak pernah bertemu tapi dia mampu membuat semuanya menjadi mungkin. Mulai dari mengajariku bersosialisasi tanpa harus mengenal lawan bicara, menjadi orang yang bisa berguna tanpa harus menguras banyak waktu, dan mengajariku menjadi manusia idealis, produktif, dan penuh dengan kreatifitas yang diadopsi dari hobiku menulis di blog.

Aku dan Bagas mempunyai mimpi yang sama, yaitu ingin mengubah dunia dengan usaha kami masing-masing. Kami mempunyai target untuk bersekolah di Pulau yang sama, aku di Jakarta dan dia di Bandung. Dia pernah bertanya padaku, “kalau udah lulus SMA nanti, kamu mau lanjut universitas di mana?”
“udah yakin bisa lulus SMA?” candaku.
Dia menjawab, “yeeee, serius gue.”

“STPI Matraman Raya, Jakarta Timur. Lo sendiri di mana?” jawabku.
“kalau gue di ITB atau UI, ngambil jurusan teknik informatika. STPI itu dekat dengan rumah kerabatku, nanti kalau kamu di Jakarta telepon aku aja, nanti kita ketemu, ngobrol-ngobrol tentang kisah hidup kita beberapa tahun belakangan selama kita chattingan..” timpalnya.
Aku hanya menjawab, “insyaallah.” Kami membuat beberapa perjanjian, di antaranya, akan terus mengobrol di sosial media hingga kami benar-benar bertemu secara langsung di masa depan.

Dia memberitahuku sesuatu, dia bilang aku dan dia bukan bertemu di sosial media twitter melainkan autofollowers yang merupakan sebuah aplikasi penambah followers di twitter. Respon awalku adalah “kaget.” karena menurut analisaku, dua orang yang berbeda pulau bahkan di dunia akan memiliki peluang 5% untuk bisa bertemu di aplikasi autofollowers dan mengobrol sedalam ini. Aku menyimpulkan bahwa aku termasuk orang yang beruntung dari sekian juta pemakai sosial media twitter, dan menjadi salah satu dari daftar 5% orang yang beruntung di sosial media.

Saling terhubung di sebuah aplikasi autofollowers, bertemu dan pertama kali berbicara di twitter, obrolan berlanjut di sosial media facebook dan sebuah harapan besar bertemu di dunia nyata di masa depan. Aku yang dulu tidak peduli dengan lingkungan sekitarku, kini mulai mengamatinya melalui sosial media. Perkenalan dengan perbadaan waktu 60 menit mampu merubah sedikit duniaku. Tentunya dengan mengamati sedikit perkembangan tren dunia, dan tidak merubah sedikit pun dari diriku sendiri.

Cerpen Karangan: Aulia Polii
Blog: auliapolii.blogspot.com
Namaku Aulia Polii, jangan lupa kunjungi blogku yaa, auliapolii.blogspot.com

Cerpen 60 Menit Sosial Media merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Yang Berakhir Tragis

Oleh:
Perkenalkan dulu, kenalkan Shinta temen sebangku Ayu mereka bersekolah di SMA Harapan Jaya Jakarta Selatan kelas XI-IPA/3, dan temennya atau cowok yang Ayu yaitu Tian yang bersekolah di SMA

Keakuran Dari Sebuah Pertemanan

Oleh:
Pagi ini tidak seterik pagi kemarin, matahari malu-malu menunjukkan dirinya ke permukaan tanda badai besar akan datang, dia Latifah Mudrikah berjalan dengan seksama menuju sekolahnya yang terpaut 500m dari

Bagian Dari Kejutan

Oleh:
Aku sheryl, gadis yang masih mengenakan seragam SMA. Hari ini adalah salah satu hari terbaik bagiku. 23 tahun yang lalu seorang gadis terlahir di dunia. Aku baru sadar hari

Sahabat Segalanya

Oleh:
Kini libur panjang telah usai, murid-murid SMP 1 BYB mulai masuk sekolah sekaligus pembagian kelas bagi kelas VIII dan IX. Loli berburu informasi kelas yang ia dapatkan, begitupun murid-murid

Caramel

Oleh:
Rey lupa kalau dasinya terbawa oleh Pandu. Sialnya Pandu udah ngebut sama motornya. Ah! Bagaimana ini, jika dasinya tidak ada Rey akan kena hukuman saat upacara hari senin. Rey

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *