Assalamualikum Si Gilang Kecil

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Pengalaman Pribadi
Lolos moderasi pada: 18 October 2017

Asslamualaikum, saya cahya gumilar anak ke dua dari tiga bersaudara. Saya anak laki-laki satu-satunya di keluarga, itu berarti dua saudara saya perempuan. Saya lahir tanggal 14 bulan desember pada tahun 1995, itu tandanya saat saya menulis artikel ini saya berusia 21 tahun. Kedua orangtua saya adalah seorang PNS bapak bekerja di salah satu instansi pemerintah daaerah di kecamatan wanareja, sedangkan mama saya adalah seorang perawat gigi di salah satu rumah sakit daerah di kabupaten cilacap. Oh iya.. sebelumnya saya sekarang tinggal di kabupaten cilacap lebih tepatnya cilacap barat itu tandanya wilaya dimana wilayah tersebut perbatasan langsung dengan jawa barat. Benar sekali, tempat saya lebih dekat ke jawa barat daripada ke kabupaten sendiri.

Banyak yang beranggapan menjadi seorang PNS itu terjamin kehidupannya, mungkin untuk segelintir orang itu memang benar akan tetapi tidak untuk keluargaku sendiri. Keluargaku sendiri adalah keluarga yang tidak mewah akan tetapi tidak juga kekurangan. Aku didik untuk hidup sederhana oleh kedua orangtuaku, orangtuaku selalu bilang “janganlah kamu lihat orang di atas kita, lihatlah orang yang ada di bawah kita” kata-kata itulah yang selalu mengingatkan aku untuk selalu bersyukur apa yang telah aku peroleh.

Saat ini aku adalah seorang mahasiswa smeseter enam di salah aatu perguruan tinggi swasta di yogyakarta. Untuk menjadi seperti sekarang ini aku sudah merasakan pahit manisnya kehidupan walaupun perjalanan hidupku masih panjang, akan tetapi aku sudah begitu banyak mendapat pelajaran yang berarti tentang kehidupan, mulai dari yang aku tidak tahu sampai aku tahu apa itu hidup.

Oke sebut saja aku Gilang, gilang adalah nama yang dipakai untuk memanggilku saat aku berada di rumah. Gilang kecil tumbuh menjadi anak-anak seperti kebanyakan anak-anak pada umumnya tubuhnya kecil dan hitam, banyak yang bilang gilang kecil itu nakal. Saat pertama masuk TK (Taman Kanak-kanak) gilang kecil pun bersemangat untuk bersekolah, saat di TK gilang kecil sudah mulai belajar apa arti kemandirian, itu terbukti dengan para anak lainnya yang diantar atau pun dijemput bahkan ada yang ditunggu sampai jam TK usai oleh orangtuanya entah ibu atau bapaknya. Tapi apa yang terjadi oleh gilang kecil, apakah dia ada yang mengantar? Atau menjemputnya? Atau bahkan ditunggu sampai selesai?. Perlu kalian tahu, banyak para orangtua yang mengantar anak-anaknya pada hari pertama anak tersebut mengenal apa itu bangku sekolah, akan tetapi tidak dengan gilang kecil. Saat hari pertama masuk TK gilang kecil berangkat sendiri karena tahu orangtuanya tidak bisa mengantar karena sibuk. Oleh karena itu, gilang kecil pun berangkat seorang diri pada hari pertama masuk TK.

Hari demi hari telah berlalu, gilang kecil tumbuh semakin besar dan semakin nakal. Saat gilang kecil masih duduk di TK nol besar, dia sering membuat keonaran seperti membuat menangis teman sekelasnya pada TK tersebut. Hal ini yang membuat para orangtua murid lainnya mencap gilang kecil sebagai anak yang nakal.

Ada suatu kejadian yang tidak akan pernah di lupakan oleh gilang kecil. Pada suatu hari pada saat jam istirahat gilang kecil berniat untuk membeli jajanan yaitu telur gulung, saat itu harga satu telur gulung adalah seratus rupiah dia membeli satu telur gulung dengan uang lima ratus rupiah pada saat telur belum siap bel masuk pun berbunyi gilang kecil pun berpikir apakah akan melanjutkan sampai telur gulungnya usai atau masuk ke kelas. Akhrinya dia memutuskan untuk terus melanjutkan membeli telur gulung namun kini dengan perasaan tegesa-gesa saking tergesa-gesanya akhirnya dia lupa jika uang yang dia berikan belum dikembalikan sisanya sebesar empat ratus rupiah.

Gilang kecil baru menyadari hal itu ketika sudah berada di kelas, tidak lama kemudian ada salah satu orangtua murid lebih tepatnya orangtua dari teman dia sendiri. Gilang kecil pun memberanikan diri bertanya “apakah pedagang telur gulung masih berada di luar?” orangtua dari teman dia pun menjawab “ohh barusan sudah pergi”. Dengan seketika gilang kecil pun bingung karena uang kembaliannya belum sempat ia terima, dan keesokannya dia kembali menemui si pedagang dan bertanya “mang uang kembalian kemarin belum” si pedagang akhirnya menjawab “yang mana? perasaan kemarin sudah” dengan muka polos gilang kecil pun terdiam dan kembali melangkah menuju kelas.

Setalah kejadian itu gilang kecil pun tidak pernah membeli lagi yang namanya telur gulung, entah kebetulan atau tidak si pedagang tidak kembali berjualan di TK gilang kecil. Saat TK gilang kecil diberi uang saku sebesar lima ratus rupiah per harinya, berbeda jauh dengan murid lainnya yang bahkan bisa mencapai dua ribu rupiah, wajar mereka bisa karena meraka ditemani oleh para orangtuanya. Bahkan tidak sedikit yang bisa membeli mainan pada saat bersekolah seperti itu, berbeda dengan gilang kecil jika ingin membeli sebuah mainan dia harus merengek kepada kedua orangtuanya, barulah dia bisa membeli mainan seperti teman lainnya.

Itulah bebrapa penganalan tentang si gilang kecil pada saat dia berada di TK nol besar, selanjutnya akan mencoba menceritakan si gilang kecil yang mulai memasuki kehidupan sebagai siswa SD. Tunggu kelanjutannya masih banyak cerita yang akan terungkap dari kisah kehidupan si gilang kecil.

Cerpen Karangan: Cahya Gumilar
Facebook: gumilar
Cahya Gumilar, cilacap 14 desemeber 1995 mahasiswa di perguruan tinggi swasta di yogyakarta.

Cerpen Assalamualikum Si Gilang Kecil merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sederhana Saja

Oleh:
Sekarang aku disini, menimba ilmu di kota sendiri. Gagal menjadi anak rantau seperti kebanyakan teman-temanku. Gagal menjadi anak yang bisa lebih mandiri tanpa bergantung pada orangtua dan keluarga. Berkali-kali

Fallen

Oleh:
Apakah kalian sudah pernah merasakan ‘jatuh’ dalam hidup kalian? Bukan Jatuh Cinta, oke? Jatuh yang ku maksud di sini adalah jatuh dalam jurang kegagalan dalam hidup. Terdengar mengerikan, bukan?

Cobaan

Oleh:
Namaku Clara Jennefy, umurku 11 tahun aku tinggal di Tasikmalaya. Aku sekolah di SD Gombyong 3, kelas 6. Di kelas aku dipilih sebagai wakil ketua kelas, aku sudah menjadi

Moment of 3 Years

Oleh:
Nama saya Ikbal Fahmi, biasa dipanggil ikbal. 2 tahun yang lalu dimana kita sama-sama mendapatkan kelas baru, teman baru, sahabat baru, dan spesial yang baru. 2 tahun yang lalu

Kenapa Aku Lakukan?

Oleh:
Aku sangat ingin mengikuti kursus komputer. Selama 1 tahun aku menunggu, sampai Ayahku memberikan izin. Akhirnya Ayahku pun memberikan izin. Hari pertama aku mengikuti kursus, aku menatap tampang-tampang calon

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *