Back To June (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Pengalaman Pribadi
Lolos moderasi pada: 7 December 2016

Sudah 1 tahun aku melepas kepergiannya. Melepas rasa yang membuat sesak di dada, membuat pilu, membuat air mataku terus mengalir. Kisahku sama sekali bukan kisah romeo dan juliet, melainkan kisah sederhana seorang gadis.

Pagi ini aku duduk di jendela menatap ke luar, hujan begitu derasnya hingga membuat kacaku penuh dengan embun. Secangkir teh hangat berada di depanku. “kamu gak kuliah dek?” tanya appa-ku (ayah), “minggu libur pa” jawabku sambil menyeruput teh itu lalu appa-ku pergi bekerja.

Hujan ini mengingatkanku kepada seseorang yang begitu aku harapkan akan berada di sisiku, tapi.. ah sudahlah. Pukul 10:00 aku ada janji dengan seseorang di mall yang terkenal di Bandung, dia adalah teman lamaku sewaktu aku masih di smp. Lalu aku bersiap-siap, mandi berdandan cantik dan berpakaian rapi. Di zaman serba modern ini sudah ada aplikasi transportasi umum online, setiap hari aku menggunakan aplikasi ini karena appa-ku tidak pernah bisa mengantarkanku.

Setibanya di mall aku menelepon temanku itu, “hallo cik, aku udah sampai nih kamu dimana?” tanyaku, “di foodcourt vi, sini ya” jelasnya. Lalu aku menutup telepon dan langsung pergi nenuju foodcourt, karena hari ini hari minggu dan foodcourt selalu penuh dan ramai jadi aku kebingungan mencari si Chika.

10 menit memutar foodcourt akhirnya aku menemukannya di meja 24, dia tidak menyadari kedatanganku karena dia asyik menonton youtube di laptopnya, “WOY” Teriakku mengagetkan dia “astaga vi, kamu tuh kebiasaan dari smp selalu begitu hahah kagetkan aku” ucapnya, lalu aku melihat ke arah laptopnya dia, dan aku kaget karena orang di youtube tersebut aku sangat mengenalinya. Chika kebingungan karena aku melihatnya begitu serius “WOI!!!” kini giliran dia mengagetkanku, “eh apa? kenapa?” tanyaku, “ngeliatinnya biasa aja dong, ganteng kan?” tanya dia, aku hanya tersenyum ke arahnya “kamu kenal dia cik?” tanyaku, “iya, kemaren lusa dia ngajak aku jalan pake mobil tapi cuman buat pemandu aja sih. Tau gak? dia ganteeeng banget” jelasnya, lalu aku menatapnya dan aku yakin dia menyukai lelaki di youtube itu, aku pun mulai terdiam, karena bengong chika mengagetkanku lagi, “hahaha biasa aja dong vi, dia sepupuku. Dia kenal kamu kok soalnya dia pernah cerita banyak tentang kamu” jelasnya, lalu mataku melotot ke arahnya dan tak percaya apa yang dia ucapkan “seriusan cik? dia cerita apa aja tentangku?” tanyaku penuh ambisius “iya jadi dia bilang kalau kamu cerewet banyak ngomong, hal kecil selalu ditanyakan” ucap chika “udah gitu aja?” tanyaku penuh kecewa, chika hanya mengangguk “tapi tenang, minggu depan dia ke rumahku vi, kamu dateng aja pura-pura mau menginap” jelasnya, lalu aku mengangguk “mau mesen makan gak? aku laper nih” tanyaku lalu kami memesan makanan. Banyak hal yang kami ceritakan, sampai lidah kami kelu dan pipi kami pegal karena terus tertawa.

2 Jam berlalu chika pamit untuk pulang dan kami berpisah, tapi aku tidak pulang ke rumah melainkan aku pergi ke pemakaman umum di daerah pasteur, ada janji yang belum aku tepati disana. Pemakamannya tidak terlalu jauh dari arah mall ini, jadi aku memutuskan untuk berjalan kaki yang hanya memakan waktu 2 menit saja. Setibanya di pemakaman. Aku membacakan doa di depan kuburan seseorang yang pernah membuat aku tersenyum setiap saat, namun dia pergi lebih cepat dari dugaanku. Dia adalah pacarku bernama andrius setiawan, mungkin ini yang terbaik untuknya dan aku juga harus rela melepasnya. Lalu aku berdoa dan pergi.

Di gerbang pemakaman aku memesan taksi online untuk pulang dan menunggu beberapa menit taksi itu datang. Sepanjang perjalanan aku hanya memikirkan kenangan manis bersama andrius hingga ingin menangis tapi andrius selalu bilang “menangislah ketika kau melakukan kesalahan, jangan menangisi orang yang telah pergi dari kehidupanmu”. Kata-kata itulah yang selalu menahan air mataku.

Setibanya di depan rumahku, aku membayar taksi itu lalu masuk ke rumah. Meminum minuman dingin dan duduk di depan sofa sambil menonton tv “ah rasanya sepi sekali, aku bosan! apa yang harus aku lakukan? seandainya kamu masih ada” ucapku lalu menangis, “maaf dri aku gak bisa tepatin janjiku untuk tidak menangis” ucapku sambil melihat foto andrius lalu menangis, rasanya begitu sesak!.

Hari demi hari berlalu, hingga tepatnya hari sabtu dimana sepupu chika atau orang yang sangat aku kenal ke rumahnya.
beep beep beep, dering hp-ku berbunyi, lalu aku mengangkatnya “hallo?” tanyaku “vi kamu dimana? jadi ke rumahku gak?” tanya chika “1 jam lagi aku otw yah, masih ada kelas cik” jelasku “mau aku jemput gak?” tanyanya, “gak usah cik, aku naik taksi online nanti ya” jelasku lagi “oh ya udah vhie, see you” laku chika menutup teleponnya.

30 menit selesai lalu aku memsan taksi online dan menunggu di indomaret point, 15 menit aku mecek hp-ku tapi taksi itu tidak kunjung datang “hih! kemana sih taksinya perasaan gak macet banget deh, cancel aja kali ya” ucapku kesal, lalu aku cancel pemesanan taksi online itu dan menelpon chika “chik, kayanya aku telat deh taksi onlinenya gak dateng-dateng” jelasku “ya udah kamu tunggu disana, biar aku jemput, jangan kemana-mana” ucapnya langsung menutup telponnya “eh gak usah cik… cik.. laah dimatiin” ucapku sambil melihat ke arah hp.

20 menit kemudian suara klakson mobil berwarna silver terus berbunyi, aku yang sedang meminum teh berkemasan botol langsung melihat ke arah mobil itu “siapa yang bunyiin? berisik banget” ucapku, tak lama kaca mobil itu terbuka dan itu ternyata chika “VHIIEEEE!!” teriak chika, lalu aku menghampirinya, “haduh aku kira siapa ternyata kamu chik” ucapku “ya udah masuk yuk, kita ke supermarket dulu buat beli makanan. Buat kita, bakalan ada malam yang panjang” ucapnya, lalu aku masuk ke dalam mobil dan kami berdua menuju supermarket ternama di Bandung.

Setibanya di supermarket
“vi, si itu udah ada di rumahku sejak sore. Pas tadi kita telepon itu dia pengen ikut cuma aku tolak” jelasnya, “ooh” ucapku sambil meminum susu kemasan “ooh doang? ayolah vhie move on! Lupain si andrius” ucapnya sambil menurunkan tanganku yang sedang memegang susu kemasan itu, “aku maunya gitu chik, tapi move on ke dia? kayanya gak deh” jelasku “kok gak?” tanyanya sambil mengambil 3 bungkua snack yang berada di rak belanjaan, “dulu aku juga pernah suka sama dia, tapi.. mungkin aku bukan selera dia jadi aku diacuhkan dan akhirnya aku bertemu andrius” jelasku “tapi vhie, penampilan kamu dulu sama sekarang beda. Aku yakin dia bakalan heran sama penampilan kamu yang sekarang. Soalnya dia bilang ke aku waktu kamu sama dia ketemu penampilan kamu tuh kaku dan pas lihat di foto berubah 180 derajat” jelasnya sambil kami berdua menelusuri lorong snack. Lalu aku mengabil snack “lihat nanti aja deh chik”. 30 menit berbelanja kami ke parkiran lalu menuju rumah chika.

Sesampainya di rumah chika, aku membawa 2 kantung kresek belanjaan sementara chika 3 kantung. Aku melihat mobil yang aku kenal sekali, yap! mobil itu mobil yang pernah menjemputku bulan juni 2 tahun yang lalu. Chika melihat ke arahku dan tersenyum “iya vhie itu mobil dia, ayo masuk” Ajaknya lalu aku mengangguk dan kami masuk lewat pintu belakang.

Semua belanjaan yang kami beli kami taruh si meja makan dekat dapur. Chika mengeluarkan daging babi dan dalaman sapi yang masih segar terbungkus “BII..” teriaknya memanggil pembantu, lalu pembantu itu datang “iya non?” tanya pembantu itu dengan logat khas jawanya itu, “ini bi, kan aku sama vhie dan dicko mau makan daging bibi bisa masakinnya gak? kalau bibi mau ambil aja setengahnya” jelasnya “nje non bisa” ucapnya. Aku yang melihat daging itu rasanya mual, mukaku sudah memerah dan aku mulai menutup hidung. “Loh vhie kenapa?” tanyanya, aku pun mual-mual “loh chik lo gak tau kalau vhie gak bisa makan daging merah?” Ucap seseorang yang suaranya sangat aku kenali “DICKO!” ucapku dalam hati, hatiku mulai berdebekup kencang rasanya ingin kabur. “loh vhie kamu gak bisa makan daging merah?” tanya chika sedikit khawatir, lalu aku mengangguk “yah kamu gak bilang, ya udah bi ganti aja jadi ayam, kan ada tuh di kulkas daging ini ke kulkasin aja” jelas chika sambil memegang dahi, pembantu itu mengiyakan. “ya udah vhie, ko yuk ke balkon aja kita ngopi-ngopi” ajak chika lalu kami bertiga ke balkon.

BERSAMBUNG

Cerpen Karangan: Revhieana Pantien
Facebook: Cyankdyadevh[-at-]yahoo.com
Hai nama gw Revhieana Pantien. Umur gw 21 tahun asal dari Bandung. Oh ya cerita ini kisah asli dari kehidupan gw.

Cerpen Back To June (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Because Your Smile

Oleh:
Biasanya pengalaman kisah cinta seseorang sudah pasti berbeda, ada yang berakhir dengan bahagia ataupun ada yang berakhir menyedihkan bahkan menyakitkan. Dan terkadang kisah cinta seseorang memberikan kesan yang mendalam

First Love in Junior High School

Oleh:
Oke lah, hari ini hari Senin 24 Oktober 2016. Gak tau kenapa tiba tiba dia duduk di serong kiri depan aku dan aku ngerasa ini sebuah pertanda. Saat aku

Tangan Siapa?

Oleh:
Saat itu, seperti malam-malam sebelumnya pastinya gue tidur. Seperti biasa gue tidur sendiri di kegelapan malam di kamar gue karena lampunya dimatiin. (ya iyalah gobl*k). Entah kenapa dan mengapa

1 Bulan Dalam Kesendirian

Oleh:
Pagi yang cerah selalu kuawali dengan senyuman dan doa untuk keluargaku dan… Dia -kekasih gue- ciyeee. Waktu itu hari minggu pagi kekasih gue ngajak gue jalan-jalan, tapi gue nggak

Sahabat Pertama

Oleh:
Ini adalah kisahku, kisah yang selalu kukenang, disaat sedang berada di sekolah pertamaku yaitu pada masa TK. Haii.. this me yang menulis cerita ini dengan senang hati. Di sekolah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *