Berkah Nurut Kepada Orangtua (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Pengalaman Pribadi, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 10 April 2018

Mentari pagi mulai menampakkan wujud dari perut bumi setelah semalaman beristirahat. Sedikit demi sedikit mulai naik untuk menampakkan diri dan menghampiri langit nan biru. Kicauan burung seraya bangun tidur menambah suasana pagi yang cerah namun sedikit mendung. Bagiku itu semua tidak berpengaruh untuk membangkitkan aku dari tempat tidurku. Ibu yang senantiasa berteriak memanggil-manggil namaku tanpa menghampiriku ke tempat tidur, membuat aku semakin malas untuk bangun dari tempat tidurku. Berbeda dengan Bapak yang selalu menghampiriku ke tempat tidur tanpa berteriak sedikitpun. Memang, perbedaan karakter dari kedua orangtuaku membuat aku sedikit mengerti bahwa perbedaan itulah yang dapat melengkapi satu dengan yang lainnya. Karakter Bapak yang lembut dan penyabar, diimbangi dengan karakter Ibu yang sedikit agak keras, menjadi hal sulit untuk dijelaskan secara detail, namun setiap harinya itu sudah biasa buatku. Aku memang dilahirkan dari keluarga yang cukup sederhana dan dengan keadaan keluargaku yang seperti itu membuat kehidupanku menjadi gak neko-neko dan terbiasa hidup dengan kesederhanaan.

Dari depan mataku nampak jam dinding sudah menunjukkan pukul 08.00 WIB, namun aku masih tetap saja belum beranjak dari tempat tidurku. Suara yang tidak asing terdengar oleh telingaku.

“Tok tok tok, ayo cepat segera bangun, sudah pukul 08.00 lho,” terdengar dari luar kamarku suara Bapak mencoba membangunkanku dengan mengetuk pintu kamarku yang sedikit terbuka.
“Iya pak sebentar lagi, masih ngantuk,” aku coba menjawabnya walaupun dengan suara yang agak ngelantur karena masih dalam keadaan kurang sadar.
Dari kejauhan terdengar suara teriakan yang agak keras.
“jadi anak kerjanya tidur saja, gitu kok kalau malam sering begadang,” yah itu suara Ibu, mungkin kesal dengan tingkahku yang suka molor tidak bangun-bangun dari tidur. hahaha
Setiap kali ibu mencoba membangunkanku dengan cara seperti itu, berteriak dari kejauhan, menyalahkan aku, atau yang lain, pasti aku tidak pernah menjawabnya kecuali kalau ibu mau menghampiriku. Kakiku serasa ada yang menggoyang-goyang.

“heh, ayo bangun, sarapan dulu nanti dilanjutkan lagi tidurnya tidak apa-apa”, akhirnya Bapak menghampiri ke tempat tidurku untuk bisa membangunkanku.
“sebentar lagi pak, 5 menit lagi”, aku masih saja ngeyel.
“5 menit, nanti malah keblabasan, ayo segera cuci muka terus makan, sebelum dimarahi ibumu”.
Aku coba tarik selimutku, membalikkan badan, dan membangunkan badan ini yang sebenarnya masih ingin melanjutkan tidur.
“iya pak”, aku lekas bangun dari tempat tidur dan langsung menuju kamar mandi untuk cuci muka supaya sedikit lebih segar. Setelah cuci muka dan sudah lumayan segar langsung mengambil makanan untuk sarapan pagi. Aku memang kebiasaan makan dulu sebelum mandi. Kadang-kadang kalau sudah kelaparan ya cuci muka dengan nasi, biasanya kalau orang jawa menyebutnya raup sego.

Aku sudah menyelesaikan ujian nasional dan ujian-ujian yang lain, tinggal menunggu pengumuman kelulusan dari sekolahku MTsN di desaku sendiri. Sekolah yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah, tetapi tidak ada kata tidak telat ketika aku berangkat ke sekolah. Astagfirullah, kebiasaan buruk ketika sering terlambat itu terbawa sampai sekarang. Keseringan terlambat membuat teman-teman, guru-guru, sampai tukang bersih-bersih pun hafal denganku yang langganan terlambat. Maklum, jarak sekolah yang tidak terlalu jauh biasa aku tempuh hanya dengan berjalan kaki dengan teman-teman sedesaku. Kita biasa berkumpul untuk saling menunggu satu sama lain di dekat sawah sambil duduk-duduk menunggu. Dari sekian teman-teman yang biasa berangkat bersama, hanya aku yang sering ditinggal berangkat dahulu karena kelamaan menungguku. Tak jarang ketika itu aku berjalan dengan secepat kilat, bahkan lari seperti dikejar preman. Entah apa yang ada di benak temanku ketika 3 tahun selalu berangkat dan pulang bersama hanya aku yang paling kelamaan ditunggu. Tapi bagaimanapun juga aku tetap menganggap mereka teman baikku dan semoga begitu juga anggapan dari mereka terhadapku.

Hari ini adalah hari dimana pengumuman kelulusan ujian nasional akan diumumkan. Kita semua sebagai siswa/i kelas 3 di suruh menunggu di rumah sampai pukul 12.00. Apabila sampai jam tersebut tidak ada guru yang datang ke rumah kita, bisa dibilang kita sudah dianggap lulus, begitu perkataan para guruku pasca disekolah. Anehnya ketika akan ada pengumuman kelulusan UN, aku yang biasa tidak bisa bangun pagi, seketika itu entah semalam mimpi apa, pagi jam 06.00 sudah terbangun. hahaha mungkin karena perasaan sangat penasaran bercampur ketakutan karena takut tidak lulus.

Sekitar pukul 09.00, temanku datang ke rumah. Kebiasaan dari teman-teman desaku yang suka dolan ke rumah untuk sekedar ngobrol santai sambil menyeduh kopi. Memang, ketika ada temenku yang datang ke rumah, aku hanya bisa menyuguhkan secangkir kopi dan itu biasa kita minum bersama.

“Assalamu’alaikum, suara temanku terdengar di depan pintu berjalan masuk sambil tersenyum”.
Aku yang lagi bersantai sambil nonton tv menoleh dan menjawabnya, “Wa’alaikumsalam, monggo masuk”.
Temanku yang dari tadi tersenyum langsung duduk di samping tempat aku nonton tv.

“Gimana hasil UN mu? lulus ta?” temenku menanyakan hasil UN kepadaku.
“Belum tahu, ini disuruh nunggu sampai pukul 12.00 nanti. Kalau misalkan sampai pukul 12.00 tidak ada guru yang datang ke rumah, berarti lulus”, aku sedikit tegang menjawab pertanyaan temanku.
“Heleh, pasti kamu lulus kok, ditunggu saja sambil minum kopi sepertinya enak nih, hehehe”, temanku mencoba meyakinkanku sambil menyindir untuk dibuatkan secangkir kopi dengan senyuman kecil.
“hahaha, amin, semoga saja seperti itu, sebentar tak buatkan dulu”, aku menjawabnya sambil berjalan menuju dapur untuk membuatkan secangkir kopi.
Setelah kopi sudah jadi, kami berdua saling bergantian menyeduh kopi sembari ngobrol sana sini. Hingga secangkir kopi yang sudah kubuat tinggal letek hitam di cangkir dan di lepek.

Setelah sudah ngobrol kesana kemari dan kopi yang kubuatkan sudah habis, temanku memutuskan untuk kembali pulang ke rumahnya. Dan bersamaan dengan itu tidak ada satu guru pun yang datang ke rumah dan alhamdulillah bisa dipastikan aku sudah Lulus Ujian Nasional (UN).

Cerpen Karangan: Mohamad Tsamru Fuadi
Blog / Facebook: mbeljheeblog.com / M Tsamru
Nama panjangnya adalah Mohamad Tsamru Fuadi. Ia biasa dipanggil dengan 3 sebutan nama yang berbeda, yaitu Tsamru, Adi, dan teman-teman yang sudah sangat akrab memanggilnya dengan sebutan Mbeljeh/Mbeljhee. Ia sekarang berusia kurang lebih sekitar 20 tahun, tepat pada bulan Juni depan bertambah 1 tahun. Ia dilahirkan di Jombang, pada tanggal 04 Juni 1996. Ia tinggal di pojok utara kota Jombang, perbatasan antara Kota Jombang dan Mojokerto dari utara sungai brantas, di Jalan Kauman RT.04 RW.01, Dusun Keboan Kidul, Desa Keboan, Kecamatan Ngusikan, Kabupaten Jombang, kalau diteruskan Jawa Timur, Indonesia. Ia merupakan anak pertama dari 1 anak yang dilahirkan oleh orangtuanya, lebih tepatnya anak tunggal. Meskipun biasanya anak tunggal dimanjakan oleh orangtuanya, hal itu tidak terjadi pada dirinya. Ia dari kecil dilahirkan dalam keluarga yang cukup sederhana, oleh karenanya tidak dimanjakan seperti anak tunggal pada umumnya. Ia dari kecil bersekolah di lingkungan madrasah, baru kali ini masuk perguruan tinggi dengan label negeri, bukan islam. Ia sekarang sedang melanjutkan pendidikan di Universitas Negeri Surabaya, Fakultas Ilmu Pendidikan, Jurusan Pendidikan Luar Sekolah. Dan ia juga bergabung bersama PMII Rayon Sahabat tercinta, Komisariat UNESA. Motto hidupnya yakni “Allah lebih mengetahui dan mengerti apa yang terbaik untuk kita” maksudnya, apapun yang terjadi dalam setiap langkah kehidupan kita, semuanya itu pasti ada hikmah dan manfaatnya, jangan dibuat ribet, percayakan semuanya pada Allah.

Cerpen Berkah Nurut Kepada Orangtua (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Misteri Sebuah Perasaan

Oleh:
Matahari yang mulai tampak di belahan timur bumi, ditengah dingin yang menusuk kulit. Membuat hati tak bisa mengelak untuk menyapa dunia. Hari yang penuh dengan aktivitas, hari yang selalu

Hikmah di Balik Musibah

Oleh:
Sabtu, 20 Juli 2013 seperti biasanya aku bangun pagi karena akan berangkat bekerja. Tapi hari itu lain dari biasanya, aku lebih bersemangat untuk bangun pagi. Rasanya ingin cepat-cepat sampai

Hello To Myself

Oleh:
Quqila Mataku menatap sesosok pria yang sedang asyik memainkan piano, sambil sesekali aku menuangkan pemandangan indah itu pada secarik kertas yang kugenggam. Pria itu adalah Kevin. Ya, aku menyukainya

Kutu Beras

Oleh:
Rabu, sembilan maret pukul tujuh lewat dua menit. Hari ini libur, horrayy!! Tapi tugas yang sangat menumpuk, pekerjaan yang menggantung di mana-mana, belum lagi masalah-masalah lain yang muncul di

Skate Love

Oleh:
Aku suka suara itu. Menenangkan rasanya. Aku suka saat benda kecil berbentuk lingkaran itu bergesekan dengan aspal. Melintas dengan lihai di antara padatnya ibu Kota. Aku suka saat papan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Berkah Nurut Kepada Orangtua (Part 1)”

  1. Dea Cahyaningsih says:

    Bagus cerpenya ka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *