Bukan Kisah Insomnia Biasa

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Pengalaman Pribadi, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 8 September 2016

Ini kisahku, aku adalah seseorang yang akhir-akhir ini merasa tidak enak dengan diri ini karena menderita sebuah gangguan kesehatan. Ahh, mungkin gangguan kesehatan ini bukanlah separah penderita kanker, penderita kecelakaan lalu lintas kronis, maupun gangguan kesehatan yang mengancam nyawa lainnya sih. Tidak kok, tenang, ini hanya salah satu gangguan kesehatan yang menyebabkan beberapa hal mungkin tidak berjalan sebagaimana mestinya perilaku kehidupan orang normal kebanyakan.

Yaa, cerita ini kutulis dini hari di saat banyak orang terlelap dengan tidur dan mimpi indahnya. Ketika orang-orang bisa mendapatkan istirahat di jam biologis yang tepat tersebut, aku merasakan suatu hal sebaliknya. Yaa, aku menderita gangguan semacam insomnia atau bagi banyak kalangan yang sudah banyak mengetahui, itu adalah salah satu penyakit susah tidur atau memejamkan mata dengan pulas di saat waktu yang seharusnya pada tubuh digunakan untuk beristirahat dan tidur.

Penyakit ini sudah kualami kira-kira berapa lama yaa.. aku kurang mengetahui dengan jelas mulai terjangkitnya aku dengan penyakit ini, namun hal ini berkaitan dengan pola hidup yang kurang baik yang aku jalani akhir-akhir ini mungkin. Atau mungkin seharusnya aku jelaskan dulu latar belakang kehidupanku kepada kalian dulu baru nanti kalian dengan enak bisa mendengar atau merasakan ceritaku lebih lanjut? Penting gak yaa bagi kalian? Ohh belum tentu yaa..

Ya udah, perkenalkan, namaku adalah Ruddi, mahasiswa semester akhir jurusan biologi di salah satu universitas negeri di kotaku, Surabaya. Yaa saat ini aku menjalani kuliah di semester akhirku yang mana mungkin bagi banyak kalangan yang tahu akan hal ini, biasanya disibukkan dengan adanya tugas akhir atau dalam bahasa keren disebut skripsi. Dalam tugas akhir atau skripsi tersebut biasanya tersimpan begitu banyak komentar maupun opini dan sebagian besar mungkin jika ditilik dari kondisi lingkungan sekitarku menandakan bahwa saat-saat proses pengerjaan tersebut merupakan saat-saat yang sangat-sangat membutuhkan kesabaran serta perjuangan yang begitu keras. Begitu pula dengan diriku saat ini. Aku juga mengerjakan tugas akhir maupun skripsiku dengan perjuangan yang keras. Ahh apakah iya sudah benar-benar diperjuangkan dengan keras? Rasa-rasanya hal tersebut relatif mungkin yaa.. Iya, sekarang mungkin saja aku bisa mengatakan bahwa pengerjaan skripsiku itu bisa jadi merupakan usaha kerasku, tapi setelah ini mungkin aku bisa saja bersantai sambil menonton film, ataupun bermain sosial media yang terdapat di ponselku. Yaa, seperti itulah mungkin gambaran kehidupan yang aku alami akhir-akhir ini.

Aku mengambil skripsi dalam semester ini seperti kebanyakan mahasiswa semester akhir lainnya, namun dalam pengerjaannya sangat berliku-liku. Disini konsistensi dan semangatku benar-benar diuji. Yaa benar saja karena mungkin menurutku hal terberat yang mengganggu proses pengerjaan skripsi salah satunya mungkin adalah niat untuk menyelesaikan itu sendiri atau bisa disebut juga motivasi diri untuk menyelesaikannya. Selain mungkin gangguan dari hal-hal teknis macam susah ketemu dosen, atau dosen yang perfeksionis terhadap tulisan-tulisan naskah skripsi, ataupun yang agak horror bagi jurusanku mungkin penelitian yang kelewat sulit apalagi berbiaya mahal dan memakan waktu yang lama. Nah, mungkin yang banyak menggangguku adalah masalah niat ataupun motivasi dalam mengerjakan skripsi itu sendiri.

Sebenarnya motivasi untuk menyelasaikannya sudah ada sih, namun motivasi itu bisa naik bisa turun. Yaap, mungkin bagi kalangan yang religius, motivasi tersebut seperti tingkat keimanan seseorang, yang dapat bertambah kuat imannya, maupun menurun tingkat imannya karena beberapa hal. Nah, dalam hal ini suatu saat motivasiku dapat membumbung tinggi karena aku juga ingin segera menyelesaikan apa yang sudah aku mulai dan merupakan tanggung jawabku terhadap apa yang sudah diamanahkan kepadaku termasuk menjadi mahasiswa ini, yang dibiayai oleh pemerintah, dan kapan hari sempat disinggung oleh dosenku bahwa aku adalah mahasiswa yang dibiayai dengan dana pemerintah yang mana dana pemerintah itu diperoleh dari pajak yang dipungut kepada tiap warga negara, maka seharusnya dana tersebut dipergunakan sebagaimana mestinya untuk mencetak mahasiswa yang dapat bertanggungjawab, misalnya dengan menggunakan fasilitas tersebut sebagaimana mestinya dan terdapat batas waktu pula dimana dana tersebut dapat terus disalurkan kepada yang mahasiswa penerimanya. Jika mahasiswa tersebut tidak bisa memenuhi standar yang ditentukan oleh pemerintah, maka siap-siap saja dana tersebut bisa dicabut.

Dalam hal ini kebimbangan yang menerpaku adalah, dana beasiswa dari pemerintah tersebut pada normalnya merupakan rejeki yang bisa aku dapatkan hingga bisa lulus tepat waktu yaitu setara dalam kuliah dalam jangka waktu delapan semester. Saat ini aku berada dalam semester delapan, dan dengan tugas akhir yang belum selesai di sela-sela menuju deadline untuk merampungkan naskah skripsi, diriku malah membuat tulisan ini. Begitu mungkin yang banyak aku rasakan saat ini, hingga pola tidurku mengalami perubahan.

Oke, kembali lagi.. sampai mana tadi. Terlalu banyak yang aku ceritakan yaa? Atau masih bingung dengan tulisanku yang bergaya acak-acakan dengan alur lompat-lompat dan banyak disesali dengan hal-hal yang tidak perlu? Ohh baiklah ini hanya kisah tulisanku di saat mengalami hal terjaga di malam hari saja kok. Beginilah rasanya memang di saat orang-orang bisa terlelap memejamkan matanya sambil berharap di pagi harinya mereka dapat beraktivitas dengan lincah, gesit dan penuh semangat untuk menghasilkan sesuatu, aku harus terjaga dengan beberapa aktivitas yang mungkin tidak seberapa produktif atau menghasilkan sesuatu. Nah, maka dari itu mungkin tulisan ini bisa jadi salah satu obat penawarku dalam hal ketidakproduktifan tersebut. Minimal aku menghasilkan sebuah karya berupa tulisan yang entah bagus atau tidak, namun bisa dibaca dan dipahami sebagai salah satu hasil dari ketidakproduktifan di malam hari (bahkan sampai dini hari) yang seenggaknya bisa membantu sedikit. Biasanya sih memang tidak banyak hal yang dapat kulakukan di jam-jam dini hari seperti ini. Bayangkan, mau olahraga, tapi takut berisik dan mengganggu tetangga. Misal mau mengurus sesuatu hal, yaa jelas tidak mungkin kan banyak kantor-kantor urusan yang tutup. Untungnya penyakit ini menjangkitiku di era-era milenium begini dimana banyak kecanggihan teknologi berperan dalam umat manusia. Bayangkan jika insomnia ini dialami pada masa-masa jaman batu. Yaa aku memang tidak benar-benar tahu rasanya hidup di jaman batu karena memang tidak pernah merasakan bagaimana hidup pada jaman itu. Tapi mungkin pada masa itu, orang-orang juga belum benar-benar tahu mungkin yaa pola hidup yang sehat dan jam biologis yang sehat itu seperti bagaimana. Ahh sudahlah, tidak perlu dibahas lebih lanjut lagi karena tidak penting juga dibahas disini karena ini juga bukan tulisan mengenai fakta sejarah yang benar-benar murni ataupun fakta ilmiah kehidupan di masa lampau. Aku cuma membandingkan saja bagaimana rasanya mengalami insomnia yang tidak terjadi di masa sekarang ini.

Oke, sampai disini, kira-kira sekitar 3 halaman dalam software pengolah kataku, tulisan ini aku buat. Sebenarnya masih banyak yang pengen aku sampaikan disini sih. Karena kisah insomniaku ini sudah terjadi berhari-hari atau mungkin berbulan-bulan sehingga sebenarnya lebih banyak lagi yang bisa kusampaikan. Namun, apa daya karena aku juga bukan seorang penulis yang ulung, maka tulisan ini bisa saja berhenti suatu saat. Itu pun juga karena motivasi mungkin yaa.. yaa seperti itulah motivasi bekerja. Aku juga sebenarnya masih bingung dengan bentuk dan jenis tulisan ini. Dalam tata bahasa Indonesia yang pernah aku pelajari dulu di masa sekolah ataupun juga di masa kuliah, penulisan bebas yaitu termasuk dalam genre atau dalam kelompok prosa. Yaa tulisanku ini benar-benar bebas. Karena aku bisa mengajak kalian yang membaca ceritaku ini dengan leluasa untuk mendalami apa yang aku ceritakan. Ehh tapi emang sejauh ini aku sudah menceritakan apa saja bagi kalian? Kan Cuma beberapa pengalaman pribadi yang belum tentu menarik juga buat kalian dalami. Okelah, kembali lagi ke bentuk tulisan tadi. Bisa jadi ini merupakan sebuah curhatan pribadi yang dalam masa kekinian dapat dikategorikan sebagai tulisan yang umujm dilihat pada blog-blog pribadi. Boleh yaa dibilang begitu? Boleh.. karena dalam banyak blog yang dibaca oleh aku sendiri selaku penulis, juga pernah berisi semacam curhatan pribadi dari pemilik dan penulis blognya. Tapi sebenarnya aku ingin mengkategorikan tulisanku ini sebagai sebuah cerita pendek. Pendek gak yaa sekitar segini ini? Atau mungkin tidak memenuhi kriteria dalam cerita pendek karena tidak adanya interaksi antara sang tokoh utama dengan tokoh lainnya? Atau juga bisa tidak bisa termasuk cerpen karena tidak ada konflik yang harus diselesaikan sang tokoh utama? Wah terlalu banyak hal yang menjadi faktor yaa kalau begitu. Namun, aku juga mungkin ingin sesuatu yang beda yang dalam hal ini punya keinginan untuk membuat cerpen ini menjadi bersambung dengan beragam kisah yang ditawarkan dalam setiap bab atau sub bagian ceritanya.

Mungkin jika dianalogikan ke dalam bentuk audio visual bisa jadi seperti film webseries atau serial televisi gitu deh yaa.. Jadi mungkin bisa memancing rasa penasaran dari penonton, eh dalam hal cerita berarti pembaca untuk tertarik mengikuti kisah-kisah yang akan kuceritakan selanjutnya begitu yaa.. bisakah? Untuk menjadikan hal itu kenyataan, mungkin awal mulanya adalah dengan terlebih dulu memasang niat yang kuat. Yaa, tidak lain dan tidak bukan, niat itu merupakan hal yang utama dalam melakukan suatu hal. Jika niat sudah didapatkan, maka pekerjaan yang dilakukan akan dirasa lebih ringan? Apakah selalu begitu. Mungkin sih. Atau iyaa lahh.. banyak pengalaman yang sudah membuktikan kok.

Oke kembali lagi ke kisah yang bersambung yang kuinginkan dalam ceritaku ini. Jadi mungkin tulisan perdana tentang kisah insomniaku ini menjadi penghantar awal dalam membuka lembaran-lembaran yang lain mengenai kisah perjuanganku hidup dengan adanya gangguan ini. Selanjutnya nanti bisa disambung lagi dengan kisah-kisah lainnya yang dapat menggugah selera baca para orang yang tertarik (jika memang benar-benar ada yang tertarik). Mungkin iyaa, nah jadi dengan adanya keberlanjutan tersebut, tidak menjadi beban juga bagaimana kisah ini diakhiri dengan cepat atau lambat, karena menurutku tiap kisah bisa menghadirkan nuansa-nuansa yang segar. Iyaa menurut aku sendiri mungkin. Atau seenggaknya nanti tulisan ini bisa menjadi tulisan diary atau catatan yang manis dikala aku berjuang dalam menyelesaikan studiku mengejar gelar sarjana. Dan mungkin bisa dibaca-baca lagi ketika aku sudah lulus nanti dengan mengingat betapa luar biasanya perjuanganku saat ini.

Oke, part satu selesai yaak. Hehe. Dan sepertinya tulisan ini hanya bertahan dalam satu saja mungkin yaa karena aku harus kembali menghadapi realita dunia nyata dan aku harus bangkit untuk mencapai apa tujuanku. Semoga gangguan insomnia ini hanya sekedar ganjalan yang membuatku lebih memaknai hidup. Dan begitu saja akhir kisah ini.

Cerpen Karangan: Aldino Kamaruddin Santoso
Blog / Facebook: aldinoks.blogspot.com / Aldino Kamaruddin Santoso
Aldino Kamaruddin Santoso atau biasa dipanggil Aldino untuk saat ini merupakan mahasiswa biologi universitas airlangga yang memasuki tahap semester akhir. Di sela-sela kuliah, memiliki aktivitas di bidang seni sinematografi maupun kegiatan lain seperti unit kegiatan catur. Pengalaman selama hidup menuntun pula ke dunia tulis-menulis dan akhirnya melirik cerpen sebagai suatu dunia yang cukup menarik untuk digeluti. Beberapa tulisan sudah pernah dibuat namun terkadang berhenti di tengah jalan, semoga ke depannya dapat bangkit terus motivasi untuk menulis dan mungkin bisa jadi juga sebuah lahan baru bagi lapangan pekerjaan dalam industri kreatif.

Cerpen Bukan Kisah Insomnia Biasa merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Secangkir Kopi dan Renungan Sore

Oleh:
Kopi sudah menjadi bagian dari keseharian. Menikmati secangkir kopi di pagi hari dan sore hari, bagiku sudah menjadi ritus yang wajib kulakukan. Ibarat beribadah jika aku melewatkanya seperti ada

Story About Aisyah

Oleh:
Namaku Hanum, aku mempunyai seorang teman bernama Aisyah. Seorang teman yang benar-benar saya kagumi, sungguh nikmat syukur yang Allah kirimkan kepada hambanya. Aisyah, wanita bercadar, bergamis anggun dan penghafal

My Live With My Best Friend

Oleh:
Namaku Arnetta fasya sayyidina, Biasa dipanggil, Fasya. Aku anak tunggal. Setiap hari, aku hanya menari nari kan jari jemariku di keyboard laptopku ini. Ya, hanya untuk berfacebookan, atau sekedar

Aku dan Kamu Best Friend Forever

Oleh:
Aku dan kamu bagaikan sebuah tali sepatu yang apabila hilang satu, maka yang lain akan merasa kehilangan. ketika kamu dan aku bersama, aku merasa bahwa kebahagiaanku datang kembali. Bagaimana

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *