Bullying

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Pengalaman Pribadi, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 1 August 2020

Hari itu terasa sangat berat untuk melangkah. Sangatlah gelisah hatiku para teman temanku memusuhiku (bahkan, mulai membullyku) karena aku memakai tas yang kebetulan motifnya sama seperti yang geng mereka pakai. Mereka mulai memanggilku sang ‘copas’ alias copy paste.

“KRIINGG” Bel masuk sekolah sudah berbunyi. Yang tadinya aku bersembunyi di balik pos satpam karena takut, akhirnya memberanikan diri untuk masuk ke kelas. Aku pun mulai melangkahkan kakiku masuk ke dalam kelas dengan rasa sedikit takut. Untungnya, Ada guru yang sudah duduk di meja guru bersiap untuk belajar.

Aku melihat para pembullyku menatapku sinis. Tiba tiba ada satu suara yang terdengar samar samar “Eh, Si copas datang tuh..” Ucap Sasa. Sasa adalah ketua geng dari grup geng yang cukup terkenal di kelasku. Aku yang mendengarnya membuat Jantungku mulai berdentum kencang, tanganku terasa dingin. Akhirnya akupun duduk dan berusaha untuk tenang.

“KRIINGG” Bel istirahat pun berbunyi, aku langsung membuka tasku dan mengambil kotak makanku yang berwarna merah muda, dan bersiap untuk makan siang. Ketika aku sedang makan, Datanglah sasa dan Anggota gengnya yang berdiri tepat di hadapanku. Aku yang sedang makan, Langsung segera memberhentikan aktivitasku yang sedang makan.

“Maksud lo apa plagiat tas geng kami?!” Ucap salah satu anggota sasa. “iya Nih! Copas Copas aja! Bilang aja kalo iri ga bisa masuk geng kita!.” Ucap Sasa dengan nada tinggi. Aku yang mendengar kata kata pedas itu. Langsung menangis di hadapan mereka. Anggota geng sasa terlihat khawatir melihatku menangis. Takut, Takut aku akan mengadu ke orangtua Maupun guru. “Dasar cengeng! Gitu doang nangis! Makanya, Kalau ga mau diginin Jangan copas copas tas anggota kita!” Ucap sasa dengan nada kemenangan.

Tak lama kemudian, Guru Matematika, Bu Morin. Masuk ke dalam kelas dan melihat keadaan aku yang sedang dibully oleh Sasa. “Ada apa ini?” Tanya bu Morin kepada anak anak. Semuanya terdiam termasuk Sasa dan anggotanya. Akupun memberanikan diri untuk berbicara yang sebenarnya. “Ssay..a Di di..Bully Ssam…aa Mereka bbuu.. Gara gara saya ga sengaja membeli tas yang kebetulan sama motifnya kaya mereka bu..” Dengan suara isak tangisanku.

“Apa benar itu sasa? Yang Sisi katakan?” Geng sasa diam seribu Bahasa mulutnya terkatup rapat. Tak bisa mengucap 1 kata pun. Tiba tiba, Ada suara berteriak dari belakang. “Iya bu. Itu benar! Tadi saya melihat sisi dibully bu di meja depan” Ucap salah satu anak laki laki.

“Ya ampun Sasa! Kamu membully temanmu hanya karena dia memakai tas yang kebetulan motifnya sama sepertimu?!” Ucap bu Morin dengan nada yang cukup tinggi. “Iyyaa.. Bu. Saya minta maaf” ucap sasa dengan nada bersalah. “kamu jangan meminta maaf kepada Ibu. Kamu minta maaflah kepada sisi”.

“Si, Aku minta maaf ya telah membullymu hanya karena hal sepele. Aku sekarang mengerti apa kesalahanku. Aku sangat minta maaf. Please aku minta maaf”. Ucap Sasa diikuti dengan anggota Sasa yang lainnya. “Gapapa. Aku juga sudah maafin kalian.” Kami pun bersalaman tangan sebagai tanda damai, Sampai sekarang pun kami masih berteman walau kita sudah tak bersekolah di tempat yang sama lagi.

Cerpen Karangan: Patricia Roselyne
Blog / Facebook: patricia roselyne
Nama: Patricia Roselyne
Kelas: 9 SMP

Cerpen Bullying merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Unexpected

Oleh:
Matahari kembali hadir, meninggalkan peraduannya tersenyum ceria menyapa bumi. Meninggi dan semakin meninggi bersamaan dengan lembayung fajar di ufuk timur yang bergegas sirna. Aku memasuki sekolah beriringan dengan beberapa

Berapa Nilai Ulangannya?

Oleh:
Di sebuah taman yang indah penuh dengan bunga bunga mawar merah yang semerbak, terdapat dua orang lawan jenis yang terlihat sedang menikmati harinya. Pas coba lihat dari kejauhan, ternyata

Sahabat Scouts Selamanya (Part 3)

Oleh:
“Arifin, apa ini jalan selanjutnya?” sembari terus memperhatikan jalan setapak itu, lalu Zia melihat ke kiri memandangi arus dan ranting-ranting yang terdapat di depan. “Ini ada dua jalan, satu

Pucuk Harapan

Oleh:
Siang hari langit teduh dan tampak kebiruan. Matahari bersinar terang tanpa segumpal awan pun yang menghalangi rerimbunan rumpun pohon bambu. Sejuk angin yang berhembus dari celah rerimbunan pepohonan yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 responses to “Bullying”

  1. Alwya humaira fateen says:

    cerpen ini bagus,dan memperingatkan untuk tidak saling membully,dan berani untuk berbicara

  2. Djanu Rahmadi says:

    Bullying adalah penggunaan,kekerasan,ancaman atau paksaan untuk menyalahgunakan.

    Cara pencegahan bullying : membangun konsep diri yang baik,tumbuhkan rasa percaya diri, tidak terpancing untuk melawan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *