Di Kota ini (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Pengalaman Pribadi
Lolos moderasi pada: 12 February 2018

Sebut saja aku Pemimpi, Penyendiri atau Perusak. Ya itu mungkin sekilas yang ku bisa lihat dan tergambar dari bagian hampir semua dari diriku. Aku tak banyak berbagi cerita kepada orang lain tentang hal-hal yang menurutku itu adalah kisah yang hanya “kita” boleh miliki, kita itu hanya aku dan diriku. Ya, aku tau mungkin itu sebuah perumpamaan yang bodoh, tapi aku tak peduli selama itu memang yang ingin kutulis di cerita bodoh ini. Aku dibesarkan dengan cara yang sangat baik dan kuat, tapi aku tumbuh dan berkembang dengan cara membangkang. Mungkin dan aku sangat yakin bahwa bukan dengan cara ini lah yang mereka harapkan aku tumbuh. Dan aku sangat yakin mereka mengharapkanku tumbuh dengan cara lain yang seperti biasanya dan semestinya, yaitu dengan belajar yang baik-baik, berteman seperlunya, bermain tak perlu segitunya, dan yang paling penting pulanglah kembali ke kota asalmu ini secepat mungkin…

Tapi ini bukan cerita tentang sebuah keluarga yang memiliki anak yang bandel, atau sebaliknya bukan cerita tentang keluarga yang broken home atau rusak berantakan, dan memiliki anak yang baik dan hebat. Ini hanya cerita sekedar… sekedar curhatan atau luapan emosiku yang mungkin adalah sisi lain dari diriku yang mereka kenal dan fahami. Oh ya.. aku sudah tidak memiliki sosok ayah sejak aku ingin memulai kuliahku di kota ini, tapi semua itu menjadikanku menjadi seorang yang sangat tegar dan mandiri, belajar dari setiap kehidupan yang pernah kulalui bersama ayahku dulu, setiap pesan yang ia sampaikan akan selalu menjadi fondasi hidup idealismeku ini.

Aku dibesarkan dengan cara yang membangkang, ya aku terlahir di keluarga yang baik-baik, keluargaku berdasarkan kebanyakan orang adalah sebuah kebanggaan, banyak yang menjadi seorang dokter, ada yang seorang arsitek, polisi atau tentara, dan bekerja di sebuah perusahaan atau lembaga pemerintahaan yang memungkinkan dekat dengan banyak orang yang berkuasa di atas sana. Tapi kini ku melihat diriku, hanya lah seorang mahasiswa yang untuk lulus dan mendapatkan sebuah ijazah kelulusan adalah sebuah hal yang sangat sulit kudapatkan, tak semudah membalikan telapak tangan.

Mimpi? Yah.. itu mungkin sebuah ungkapan yang cukup tepat ingin kutulis di bagian ini.. ku punya banyak mimpi besar, mimpi-mimpi yang tak biasa, mimpi yang kuyakini tak semudah membalikan telapak tangan bisa kudapatkan. Ku butuh perjuangan keras untuk mendapatkannya.. tapi dari dulu hingga sekarang hanya satu modalku, Percaya. Ku selalu percaya pada diriku apapun yang kuhadapi dan kualami ku selalu percaya ku pasti bisa. Suatu saat nanti..

Dimulai dari tahun-tahun perkuliahanku di kota ini, semuanya baik-baik saja. Sangat baik malahan.. aku memiliki nilai perkuliahan yang baik, teman-teman yang baik, dan pastinya pacar yang baik. Tapi semua itu mulai hilang seiring waktu berjalan, seiring berganti semester selanjutnya semakin hilang. Teman-teman baik yang dulu kumiliki sekarang kita hanya sekedar say hi, apa kabar? dll, yah hanya sekedar itu.. mungkin salah satu penyebabnya adalah ku selalu termakan egoku ini. Aku sangat gengsi, aku sangat percaya diri, dan aku sangat cuek terhadap apapun. Oh yaa.. sebelum lebih jauh membahas pertemananku di awal-awal tahun, hanya sekedar memberi tahu pacarku yang baik itu dia adalah bagian dari pertemenan baikku dengan teman-temanku yang baik di awal tahun ini. Jadi bisa kau bayangkan, setelah ku kehilangan teman-teman baikku, ku pasti juga akan kehilangan dia. Dan bagiku semua itu bukanlah menjadi suatu hal yang besar dan patut disesali berlebihan. Aku tidak peduli karena ku juga banyak memiliki teman teman yang lainnya yang bisa dikatakan membuat mataku terbuka dari sisi lainnya.. dan wanita? Ku selalu berusaha tak ingin berlebihan terhadap satu hal itu.. jika ku kehilangan ku yakin selalu ada gantinya yang lebih baik lagi, dan soal melupakan itu hal termudah yang bisa kulakukan..

Aku memiliki banyak passion dalam hidupku.. ku suka dengan olahraga, ku suka dengan kegiatan kegiatan outdoor seperti lari, bermain bola atau basket, atau bersepeda yang kupinjam dari teman-temanku yang memilikinya lalu dengan sepasang handphone dan headset, musik selalu menjadi obatku dan sahabatku di berbagai macam suasana hatiku atau di mana pun ku berada. Dan yang selalu ada dalam diriku. aku adalah seorang petualang.. aku akan selalu berpergian ke mana pun ku mau tak peduli sebarapa jauh dan hanya memegang duit seberapa pun yang kumiliki saat itu ketika memang aku butuh sebuah petualangan akan kukejar itu. Aku suka pantai, Naik gunung, atau sekedar travel city ya hanya berjalan-jalan di sebuah kota yang menarik bagiku. Passionku itu menjadi sebuah boomerang padaku saat ini.. dulu ku sangat menikmatinya tapi kini ku yakin itu menjadi salah satu alasan kenapa hingga saat ini aku belum juga lulus dari kota ini.

Dan di bagian ini.. aku akan bercerita tentang apa yang ku alami di kota ini, di mulai pertengahan kuliahku hingga di hampir penghujung batas akhir kuliahku kini. Di mulai dari sebuah perj*dian.. aku sudah sering kali ikut sebuah permainan j*di semasa ku sd, smp, atau sma di kota besar itu. Tapi itu semua belum cukup buatku, aku terjerembab kembali dalam sebuah permainan yang asik tapi mematikan. Dimulai dengan lingkungan baru, teman-teman baru dan akhirnya kita semakin dekat tapi kita semua memliki kesamaan yaitu perj*dian. Kita suka bertaruh terhadap apapun.. permainan bola liga kecil hingga besar, dan juga mulai dari tim yang tidak kau ketahui sebelumnya hingga tim sepak bola yang kau idolakan. Kartu gaple, kartu poker, dan lain sebagainya kita akan mencari sebuah permainan yang bisa kita mainkan bersama lalu kita akan bertaruh dengan seribu strategi yang kita miliki untuk memenangkannya. Yah kami bertaruh, lalu siapapun yang menang dan kalah aku tau akan sama-sama dirugikan, kenapa? Karena sang pemenang mungkin bisa saja kehilangan sebuah teman, dan yang kalah dia kehilangan sebuah uang dan itu ada pada temannya sendiri. Bisa kukatakan kita bertaruh terhadap apa yang teman kita sendiri taruhkan, dan jika mereka kalah yang kita ambil adalah milik teman kita sendiri, ya terkesan teman makan teman, lucu dan menyedihkan bukan?

Lalu kini kita sadar hal itu.. teman makan teman itu tidak benar. Kita mulai kini ketika ingin bertaruh.. bermainlah dengan pemain besar. Yaitu j*di online.. kita bertaruh disitu, dimulai nilainya kecil hingga besar dan tak ada habisnya.. disitu lah aku mulai semakin terjerembab.. aku seorang yang tidak mudah untuk menganggap diriku adalah seorang pecundang yang bisa dikalahkan dan di lain sisi aku juga orang yang selalu percaya dan optimis bahwa aku pasti bisa mengalahkan apapun. Yah memang.. terkadang itu memberikanku sebuah hasil yang tak terbayangan.. kehidupan yang hura-hura pastinya.. minuman, wanita, party, drugs itu menjadi bagian diriku dulu. Tapi apa yang kudapatkan ketiak ku kalah? Nyawaku. Ketika ku tak bisa membayarnya, aku harus bisa mencari ke mana pun hingga itu terlunasi, jadi ku terkadang meminjam duit teman-teman sekitarku ketika mereka memang ada dan sampai teman-temanku yang tak pernah sadar kalau aku begitu gilanya terhadap berj*di. Yang kudapatkan setelah itu adalah nama baikku. Aku terkadang tidak mampu untuk memenuhi ekspetasi mereka untuk membayar hutangku, jadi itu juga terkadang membuatku selalu malu tak ada habisnya. Tapi satu hal yang selalu kusampaikan adalah.. maaf bila ku belum bisa membayarnya, kau hanya perlu pegang omonganku bahwa aku dapat dipercaya dan aku lelaki yang akan bertanggung jawab. Dan selalu pasti kukembalikan, terkadang ku malah memberinya lebih dari yang kupinjam..

Singkat cerita, kami memutuskan untuk berpindah tempat yang kami tinggalkan bersama-sama saat itu. Karena kurasa perlu ini bahwa kami memiliki kebiasaan dan hobby yang nyaris sama, dan itu akan menjadi penghalangku untuk segera meninggalkan kota ini. Jadi kuputuskan untuk berpindah tempat, dengan beberapa teman baruku. Ku tinggal di rumah yang cukup nyaman dan bagus menurutku dengan harga yang juga bagus. Aku nyaman dengan rumah itu, tenang sekali dan bersih pula.. tapi baru berjalan 1 bulan kutempati tempat itu.. ku menemukan suatu fakta baru.

Apa itu? Rumah tersebut berstatus Rumah sitaan BNN. Waw, cukup kaget ku mengetahui fakta ini karena ku yakin kedepannya ada suatu hal yang akan terjadi dan itu akan membuatku terbawa-bawa. Aku mengetahuinya dari warga sekitar dan satpam yang ada di tempat ku tinggali, karena memang kami cukup dekat. Dan memang yang mendapatkan rumah itu terlebih dahulu adalah temanku, yang memang kami minta siapa pun berhak mencari rumah baru dan siapa pun yang mendapatkan harga bagus dan rumah baik terlebih dahulu harap langsung mengabari kami. Ya memang teman kami ini selalu mengabari perkembangan rumah ini hingga pembayaran selesai pun kita yang lainnya jarang ikut terlibat secara langsung, ya aku tau itu menjadi sebuah kesalahan yang telah kulupakan dan sepelekan. Karena aku terlalu percaya terhadap temanku ini hingga ku terlalu sibuk mengatur dalam internalnya saja di antara kami siapa yang harus bayar sekian.. dan siapa yang belum dan lain sebagainya.. intinya bagaimana kita bisa menempati rumah ini dengan nyaman terlebih itu memang yang kubutuhkan. Tapi aku lupa dengan hal-hal selain itu, di luar internal temanku ini membuat sebuat perjanjian dan bisnis yang tidak kuketahui. Ya dia mengelabui kami.. dia berbohong soal harga sebenarnya dan status rumah ini yang sitaan BNN. Dia hanya bercerita tentang status rumah ini sitaan ketika kita sudah menempati rumah ini sekitar satu bulan. Lebih tepatnya dia menceritakan ini hanya padaku, karena aku berfikir dia memang cukup menghormatiku. Tapi hal lainnya? Soal harga rumah tersebut yang belum terungkap..

Hingga pada akhirnya sang pemilik rumah, merasa perlu untuk mengenal yang lainnya yaitu aku. Mulailah obrolan dan lain sebagainya sebuah pertemanan yang biasa saja bagi saya. Tujuan awalku hanya untuk membongkar kebohongan temanku ini tidak lebih, hingga pada akhirnya dia berkata jujur padaku, mungkin karena kurasa dia sudah cukup jenuh dan sulit dipercaya temanku ini.. iya menceritakan yang sebenarnya kepadaku. Sungguh, membuatku marah.. hingga akhirnya aku temui dia secara langsung dan menanyai soal tersebut dan kebenarannya. Hingga sampai-sampai ingin kutusuk dia dalam sebuah perselisihan kecil kita saat itu. Tapi dia menunjukan respon yang lain, berawal dari respon yang jagoannya, busung dada yang karena dia memang berbadan besar, dan omongannya yang tinggi, itu semua hanya membuatku ingin tertawa dan ingin ku semakin menghajarnya hingga aku kehilangan kesabaran ku hanya berdiri di depannya dan mengajaknya kembali ke rumah kita selesaikan berdua dan aku memang memiliki koleksi pisau di kamarku, dan ia pun tau itu. Lalu ku mengajaknya ke sana untuk selesaikan secara jantan, kuajak dia mengambil sepasang pisau dan kita lihat siapa yang terjatuh terlebih dahulu. Tapi.. sebelum semua itu terjadi lebih jauh tenyata respon yang dia berikan tidak terbayang olehku.. dia langsung duduk kembali dan merangkulku dan sambil berkata “kita ini teman, kita bersahabat, dan lain sebagainya” aku tidak ingin mengingat semua ucapan itu karena mulai detik itu hingga sekarang dia hanyalah seorang pecundang bagiku. Aku hanya menyuruhnya diam, dan pergi. Aku benar-benar penuh dengan amarah saat itu, dan kecewa sekali. Dia memperlakukan kami sebagai permainan bisnis busuknya dan terlebih lagi ketika dia kuajak selesaikan dengan caraku dia menolaknya, dia yang selalu beranggapan dan menunjukan dirinya tangguh, dan berbadan besar, dan sangat bertanggung jawab. Bagiku dia tidak lebih dari seorang pecundang..

Hingga ada suatu peristiwa kembali yang datang padaku dan temanku ini, si pemilik rumah ini hanyalah seorang pemuda yang saya kenal seperlunya dan secukupnya.. ternyata ia adalah seorang anak dari mafia atau Bandar besar yang dulu pernah ada di beberapa kota, pada saat itu. Dan ia pemuda ini baru saja keluar dari penjara Karena persoalan pencurian sebuah mobil. Itu semua yang masih belum kupahami betul betul dengan baik hingga saat ini. Dan setelah keluar dari penjara ia diasuh oleh sekumpulan orang yang dulu mungkin bisa dikatakan kawan-kawan ayahnya ketika bisnisnya masih berjalan. Ayahnya seorang pemain besar.. sudah banyak berpindah-pindah tempat penjara dan salah satunya nusa kambangan, tapi itu tidak membuatnya jera bisnisnya akan selalu berjalan hingga akhirnya semua itu terhenti ketika ia ditangkap oleh BNN beserta istirnya. Habis sudah perjalanannya di dunia nark*ba ini.

Kami didatangi oleh sekelompok orang mungkin 7-12 orang ke rumah, ketika itu aku dan temanku sedang bersantai-santai di rumah, hingga satpam rumahku berlari-lari ke rumahku dan bilang bahwa pemuda tersebut sang pemilik rumah ingin dibawa oleh sekolompok orang dan pemuda tersebut berteriak menyebut nyebut nama kami berdua. Oke.. benar adanya apa yang kukhawatirkan selama ini terjadi. Kuambil beberapa pisau dan kuselipkan di pinggangku di balik baju. Ku berjalan ke depan komplek yaitu di pos satpam berjalan untuk melihat apa yang sebenernya terjadi. Oke singkatnya seperti yang kuceritakan sebelumnya dia lari dari kelompok itu karena dia rasa dia telah ditipu oleh kelompok itu habis sudah duitnya hingga pemuda tersebut memutuskan untuk lari dan kabur untuk menemui teman-teman lamanya dan juga ingin melihat rumahnya yang dulu pernah ia tinggali dan ingin mencari duit di situ dengan di kontrakan dan kami lah yang menempati rumah itu. Singkat cerita sekelompok itu ingin mebawa pemuda ini untuk ikut bersamanya dan meraka bilang ingin membunuhnya.. dan itu suatu hal yang tak bisa kubiarkan. Hingga ku akhirnya memutuskan untuk terlibat ke dalamnya.. aku mencegah maksud dan tujuan mereka. Bersama temanku ini kami berusaha sebisa mungkin untuk mereka tidak membawa pemuda ini. Karena kami tidak ingin menjadi sebuah saksi pembunuhan yang tentunya kami fikir ini akan merepotkan kami lebih jauh dan seingat kami alasan kami ada di kota ini, kami ingin kuliah dan menyelesaikannya secepat mungkin, bukan untuk terlibat dalam hal-hal seperti ini.

Tibalah.. saya dan temanku ini untuk mengambil sebuah keputusan dengan kelompok tersebut.. saya yang menemuinya terlebih dahulu dan saya hanya ingin berbicara langsung pada yang saya anggap lebih dewasa dan berkuasa di situ.. oke berjumpalah saya dengan si orang besar ini. Hal pertama yang ia katakan adalah “janganlah saya ikut campur dalam urusan ini, karena semakin saya menyulitkannya dia berkata akan memenjarakan saya dan akan membuat saya cacat atau menderita di dalam penjara”. Tapi sebisa mungkin saya mencoba untuk tenang dan mengatur strategi.. akhirnya saya mengeluarkan sebuat kata-kata yang cukup berani dan saya hanya bespekulasi saja apakah ini akan berhasil.. sebelum dia semakin menganggap saya remeh dan bercerita panjang lebar apa yang ia dapat perbuat terhadap saya.. saya hanya tersenyum dan memintanya untuk diam dan dengarkan saya, yang saya katakan adalah “pertama saya ingin meluruskannya bahawa saya di sini tidak untuk memihak pada siapapun, kedua saya tak bisa membiarkan dia mendapatkan apa yang ia dan teman-temannya inginkan begitu saja karena beberapa alasan, dan yang ketiga saya jelaskan kepadanya bahwa dia tidak perlu panjang lebar bercertia atau menakuti apa apa yang bisa ia perbuat terhadap saya lebih jauh, karena hal tersebut hanya membuat saya tertawa. Saya menjelaskan kepadanya, bahwa saya tidak mengenal dia siapa dan orang-orang di belakangnya tapi sebaliknya juga begitu dia tidak mengenal siapa saya dan orang-orang yang di belakang saya dapat perbuat kepadanya. Karena permasalahan seperti ini sering sekali saya temui ketika saya sma dan di kampung halaman saya dan ini hanyalah persoalan kecil bagi saya, dan saya perlu ingatkan saya tidak memihak siapapun di sini dan saya tidak inigin terlibat apapun dengan permasalahan yang ada di sini yang tidak saya ketahui, saya di sini tidak bisa membiarkan mereka untuk mendapatkan pemuda itu untuk disiksa atau mungkin diculik kembali bersama mereka, saya hanya ingin kuliah dengan damai di sini”. itu yang saya sampaikan kepadanya. Dan ternyata hal tersebut setelah dia pikir-pikir kembali berhasil, dengan bantuan dari seroang prajurit tentara yang saya yakin adalah utusan dari orang-orang kelompoknya tersebut kami berhasil menyelesaikan beberapa perosalan malam itu dengan sedikit lebih tenang dari pada sebelumnya, dan hasil dari kesepakatan tersebut memang tidak bisa dihindarkan lagi bahwa pemuda tersebut memang harus dibawa oleh kelompok ini, tapi permintaan saya adalah satu bawa ia kembali pada jam 3 pagi dalam keadaan tetap sadar dan bernyawa, dengan kata lain saya tak peduli meski ia dihajar dan dipukuli oleh mereka setidaknya dia selamat tidak kehilangan nyawa dan tidak diculik kembali bersama mereka pastinya. Menurut saya dan teman untuk saat ini adalah jalan yang terbaik dan keputusan yang tepat. Dan memang persetujuan kami dengan kelompok itu selesai dan disetujui dan pastinya ditepati.. teman saya dikembalikan dalam keadaan yaaa sedikit “bonyok” namun masih bisa tertawa ketika saya bercerita dan tertawa melihat keadaanya.

Oke ini singkat cerita yang baru berjalan setengah sepanjang ku saat ini masih berkuliah di kota ini, di kota yang dingin yang dulu tempat pesinggahan orang-orang belanda, kota yang dipenuhi banyak tempat untuk nongkrong dari yang murah sampai mahal dan lain sebagainya.. ya kota yang memang menarik dan juga sekaligus penuh kesedihan dalam perjalanannya.. mungkin saya akan bercerita kembali lebih jauh perjanalanku ini yang penuh moment yang tak disangka-sangka dan kalo memang menurut kalian ini pantas dan menarik untuk diceritakan lebih jauh saya akan tulis kembali cerita saya DI KOTA INI bagian ke-2. Terima kasih sudah membacanya.

Cerpen Karangan: Rockaversa

Cerpen Di Kota ini (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hari-hariku di Sekolah

Oleh:
Pada waktu sekolah, saya merasa senang sekali bisa belajar di ruangan kelas yang sejuk, pada pagi hari yang indah ini, hati riang seperti pagi merindukan matahari, oh senangnya saya

Merindukanmu

Oleh:
Sinar mentari menyinari kamarku. Melalui jendela kamar yang terbuka. Wangi bunga-bunga di halaman yang diselimuti oleh embun pagi, memenuhi kamar mungilku yang juga berhias bunga. Pagi ini begitu cerah.

Ulang Tahun Ke 14

Oleh:
Namaku Riswan Maulana usiaku 16 tahun. Aku duduk di kelas 2 SMA. Seperti yang tertera di namaku aku lahir di bulan oktober tepatnya tanggal 30 tahun 2000. Kisah ini

Kecelakaan Menakutkan

Oleh:
Namaku Shasa. Aku baru anak SMP kelas 1. Setiap hari aku harus bangun pagi karena jarak sekolah dengan rumahku lumayan jauh. Pagi-pagi mama sudah membangunkanku. “Sha, ayo bangun cepat,

Salting Membawa Petaka

Oleh:
Sabtu di minggu ini, tidak seperti biasanya kami semua wajib untuk datang ke sekolah. Karena di sekolah kami sedang mengadakan acara sejak hari kamis yang lalu. Tepatnya sejak tanggal

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *