Gara Gara Siti

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Pengalaman Pribadi, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 23 October 2017

Hari ini adalah hari dimana aku berstatus sebagai siswi SMA. Ya, setelah 3 tahun lamanya mengenyam bangku SMP aku kini berubah status. Aku kembali ke kampung setelah 3 tahun lamanya di kampung orang. Aku memutuskan kembali, tepatnya atas suruhan Ibuku dengan alasan tak ingin terus berjauhan, ya mau bagaimana lagi. Dan itu artinya sebentar lagi semuanya akan bermula. Teman baru, guru baru, pelajaran baru, bahkan suasana baru dan semua itu dimulai dengan sebuah perkenalan.

Aku tidak menyukai perkenalan. Karena bagiku perkenalan adalah sesuatu yang ribet. Disamping banyak orang yang menyukai perkenalan aku malah menghindarinya. Tidak, ini bukan tentang aku yang anti-sosial atau aku sombong. Hanya saja aku bermasalah pada nama. Bukan, namaku tak buruk dan juga bukan aku tak bersyukur. Namun aku memiliki 2 nama. Ya, aku memiliki 2 nama. Bukan nama yang dengan 2 kata, tapi ini memang 2 nama. Ya seperti 2 orang tapi aku sekaligus memilikinya.

Ini bermula ketika aku mulai masuk sekolah dasar. Namaku diganti dikarnakan aku yang sering sakit-sakitan. Mengganti nama adalah solusinya. Biasa, orang tua di kampung memang begitu. Sebelum mendaftar sekolah aku diberi pilihan nama, mau pilih nama Miftahul Jannah atau siti wahdaniah. “Kalau siti wahdaniah nak, itu hampir mirip dari nama nenekmu yaitu Madania. Ada juga adenya nenek siti hadania dan juga tantemu yang Wardaniah” kata Ibuku mengusulkan. Ya, aku yang saat itu tidak terlalu mengerti apa-apa langsung kuterima saja usulan Ibuku. Dan berakhirlah keputusan, menjadi siti wahdaniah. Itulah asal-usulnya pergantian namaku. Oiya, sebelum nama aku diganti aku memiliki nama Marlina Shanty. Jauh beda kan. Iya, aku tau. Tapi nama itu pemberian Bapakku yang katanya itu sih diadopsi dari nama seorang pramugari cantik. Haha ini konyol, tapi itulah kenyataannya. Dan nama itu kini melekat sampai saat ini sebagai nama panggilanku. Namun, di sekolah ini aku akan memakai nama itu sebagai nama panggilanku. Disamping sudah banyak orang yang tau namaku shanty disamping juga aku akan menghilangkan nama Siti dari hidupku.

Ya, di SMP kemarin orang-orang memanggilku Siti dikarenakan salah satu temanku yang saat itu menanyakan namaku ya kujawab saja Siti wahdaniah, spontan aja dia memanggilku Siti. Mau menolak ya ribet takutnya percakapannya ngelantur panjang kali lebar, dan itu membuatku malas karena bisa dibilang aku orangnya cuek. Ya sudahlah terserah. Namun ternyata nama itu merembes kepada semuanya, dan berakhirlah nama itu sampai 3 tahun kusanding. Ini bukan tentang nama yang orang bilang “ndeso” atau apalah itu, namun yang aku tidak suka adalah itu nama adeknya nenekku, masa iya aku punya nama yang sama. Namun inilah kenyataannya. Aku terbilang orang yang tidak suka dengan kesamaan, entah itu nama, pakaian atau apalah itu. Aku lebih menyukai perbedaan.

Kali ini, seperti yang siswa-siswi baru pada umumnya aku mencoba mencari tempat duduk setelah tadi membaca papan pengumuman yang menunjukkan pembagian kelas. Aku memilih bangku kedua dari depan, belum sempat aku duduk bel tanda upacara berbunyi, spontan semua murid berhamburan menuju lapangan. Aku jalan biasa saja, toh juga sampai di bawah masih berbaris ini itu atau apalah.

Saat berjalan seseorang menyapaku, “hai, kamu di kelas berapa?” tanyanya. Dia adalah orang pertama yang menyapaku setelah aku menginjakkan kaki di sekolah ini dan tunggu dulu dia tidak menanyakan namaku, namun mungkin lebih tepatnya belum. “Aku di kelas X.f” jawabku singkat. “Wah, sama dong” balasnya. “apa kamu sudah dapat bangku, kalau iya mau tidak sebangku denganku?” lanjutnya menawarkan. “Oh iya sudah, aku di bangku kedua dari depan, iya aku juga belum punya teman sebangku” kataku menerima ajakannya sambil senyum tipis ke arahnya, aku hanya ingin membuat kesan pertamaku baik dengan senyum. Setelah itu tidak ada lagi percakapan, selanjutnya hanya memperhatikan anak tangga yang kami pijakkan, menjaga agar tidak salah langkah. Namun, baru aku sadari ternyata sepatu aku sama dengan punya dia, entah dia menyadari atau tidak. Sebenarnya aku risih namun tidak seperti biasanya aku lebih cuek aja, mungkin karena kesan dia menurutku baik dan tidak terlalu banyak bicara.

Sesampainya kami di lapangan, semua murid merapikan barisan. “oiya, nama aku Miftah.” katanya membuka pembicaraan lagi. Dan jeng jeng. Aku bersorak dalam hati, untung saja namaku dulu bukan Miftah. Apalah jadinya jika sama, tidak bisa kubayangkan. Sepatu sudah sama masa iya nama juga. Ya aku bersyukur. “oh iya, aku shanty” balasku memperkenalkan nama sambil berdoa agar dia tak melanjutkan pembicaraan ini. Kan ribet kalau di sini jelaskan ini itu, lagi pula aku malas. Dan benar, kulihat Miftah hanya tersenyum tanpa membuka suara lagi.

Setelah upacara yang melelahkan, tibalah saatnya memulai pelajaran. Guru masuk dalam kelas dan memperkenalkan dirinya sebagai wali kelas kami. Hari ini belum ada pelajaran, yang ada hanya perkenalan dan pemilihan pengurus kelas. Wali kelas kami mulai membaca absen yang sedari tadi berada di tangannya. Aku tidak terlalu tertarik melihat siapa yang disebutkan namanya, hingga sebuah nama mengalihkan perhatianku “Miftah amatullah”, spontan di sebelahku menjawab “hadir”. “Oh jadi nama lengkapnya Miftah amatullah” kataku dalam hati. Selanjutnya guru menyebut nama “Miftahul jannah” spontan aku mencari suara yang menjawab hadir, begitu pula Miftah di sampingku. Aku lihat ada guratan terkejut di matanya namun itu tidak berlangsung lama lalu kulihat dia menatap seperti ada yang sedang dipikirkannya. Dan sekali lagi aku bersyukut tidak memilih nama Miftahul jannah.

Beberapa nama berlalu hingga giliran namaku “siti Wahdaniah” hadir pak. Jawabku singkat. Kulihat Miftah menoleh kepadaku dengan wajah terkejut dan pastinya bingung. Itu ekspresi wajah yang sudah sangat aku hafal dan aku tau maksud darinya. Namun tanpa berusaha memperjelas kebingungannya, dia kembali memperhatikan guru tersebut. Aku menilainya seorang yang patuh dan sepertinya dia pintar.

Setelah perkenalan dan pemilihan pengurus kelas yang menurutku membosankan akhirnya kelas berakhir. Sebagian dari murid memilih ke luar kelas entah itu ke mana aku tidak peduli namun juga sebagian memilih tinggal dengan tujuan memperdalam perkenalan. Aku memilih tetap berada di bangku yang sedari tadi memberiku kenyamanan seperti halnya Miftah. “Hei, aku kira namamu Shanty jika aku tidak salah ingat” cercanya membuka percakapan yang sudah kupastikan dia menahan keingintauannya dari tadi. Aku tersenyum menahan tawa “iya, nama aku siti Wahdaniah dan nama panggilan aku Shanty. Itu nama kecilku sebelum diganti. Sebelumnya Marlina Shanty” jelasku sebelum dia bertanya kenapa ini dan kenapa itu. Selanjutnya dia hanya ber-oh ria sambil sesekali mengangguk mengerti tak lepas itu dia juga tertawa kecil. Aku tidak tau maksud dari ketawanya namun aku malas untuk menanyakannya lagi. Selanjutnya hanya ada percakapan ringan sebelum seorang cowok menghampiri meja kami dan tanpa permisi langsung duduk di depan kami, aku kira dia teman Miftah ternyata dia pun tak mengenalnya. Dia mulai memperkenalkan dirinya sebagai Muzammil dan aku hanya tersenyum mengangguk dan begitu juga Miftah. Selanjutnya dia menyebutkan nama Miftah yang membuat Miftah memperbaiki duduknya dengan wajah keheranan, kemudian dia pun melanjutkan dengan menyebut nama Sitti, spontan aku menegakkan punggungku yang sedari tadi bersandar di bangku. Dia memanggilku dengan nama Sitti astaga “t” nya pun double. “Hei, namaku siti Wahdaniah. Panggil saja Wahdaniah atau apa yang penting jangan Sitti, “t” nya dua lagi”, cercaku ketus. Aku sengaja tak menyebut nama panggilanku karena aku sangat malas menjelaskan apalagi kepada dia. Kulihat dia malah ketawa, panjang pula. Aku bertambah kesal. Dari sinilah awalnya dia selalu memanggilku dengan Sitti, walau berapa kali kutegur dia tetap begitu meski sesekali patuh jika dilihatnya aku begitu kesal. Namun, dari sinilah kami bertiga terlihat akrab tapi lebih tepatnya mengakrabkan diri.

Suatu hari aku berangkat sekolah bareng sekampungku, Dia seletting denganku dan juga teman SD ku dulu hanya saja sekarang kami tak sekelas. Sebelum masuk gerbang sekolah aku melihat motor yang sangat tidak asing, motor yamaha berwarna biru yang sudah nampak tua namun tetap terlihat terawat. Aku ingat, ini seperti motor om dari teman kelasku dulu sewaktu SMP yang ku tau mereka juga dari daerah yang sama denganku hanya saja beda kecamatan. Aku mulai bercerita kepada temanku ini tentang kemiripan motor ini dengan om temanku itu. Sembari berjalan ngos-ngosan dikarenakan menuju kelas yang tanjakan, aku melihat seorang anak laki-laki. “Oh tidak, mudah-mudahan itu bukan dia” doaku dalam hati. Namun nyatanya itu benaran dia. Entah aku harus senang karena bertemu teman lama atau aku harus khawatir. Ya, apalagi kalau bukan nama itu. Aku mendekatinya dan menyapanya, kulihat ada guratan keheranan di matanya ya tentu saja seperti aku tadi namun dia pun menjawab seadaanya, dulu juga aku tidak begitu akrab dengannya. Dia menjelaskan bahwa dia pindah sekolah begitupun omnya yang akan mengajar di sini dan untung saja dia tidak menyebut namaku sampai aku pamit pergi dan untungnya lagi aku tidak sekelas. Aku berlalu dengan perasaan lega walau masih ada kekhawatiran yang terselip.

Bel istirahat berbunyi menandakan waktu istirahat. Salah satu teman perempuanku mendekatiku menyapaku dan membujukku agar mau mengantarku melihat anak baru yang tidak lain teman SMP ku itu. Yang sebelumnya telah aku ceritakan. Ya, aku mengalah karena bujukannya salahku juga cerita, ya sudah. Aku mengantarnya yang jaraknya dari ujung ke ujung itu karena kelasnya di X.A sedangkan aku X.F. Sesampai di sana aku menyapanya dan mengajaknya berbincang, temanku di samping memperhatikan perbincangan kami dengan serius atau lebih tepatnya memperhatikan wajah anak baru itu. Aku malas berlama-lama di sini berada di ruangan yang menurutku asing, aku pamit dan beranjak sampai dia memanggilku “Siti” oh astaga astaga apa tadi dia memanggilku Siti. Seketika itu lututku kurasa bergetar aku keringat dingin dan nampaknya aku terlihat pucat. “Iya” jawabku singkat sambil mencoba menahan kegugupanku. Kulihat dia seperti sedang memikirkan sesuatu. “Akh, tidak jadi” balasnya sembari tersenyum, dan itu membuatku lega. Dengan cepat kutarik tangan temanku tadi keluar dari kelas yang “horor” itu. Aku tau sedari tadi dengan wajah bingungnya, “eh shanty, tadinya aku kira dia memanggilku, ternyata shanty” katanya sambil tertawa. Aku pun tertawa lebih tepatnya melepaskan kelegaanku, aku bersyukur nama temanku ini hampir mirip dengan namaku Fitri dan Shanty, hanya berakhir “i” yang sama dan itu sangat menolongku. Hari ini aku selamat. Dan kuharap ini yang terakhir.

Haha maaf buat yang korban nama dan adegan
Oiya aku harap ada yang respon tapi jangan sampai menyebutku Siti. Ok

Cerpen Karangan: Marlina Shanty Wahdaniah
Facebook: Marlina Shanty Wahdaniah
Marlina shanty wahdaniah
#wach_dha96

Cerpen Gara Gara Siti merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kecacatan

Oleh:
Haruskah seperti ini. Aku yang sekarang tidak ada artinya di dunia ini. Yang dulu adalah kesempurnaan sekarang hanyalah kecacatan. Bahkan alam semesta ini tidak peduli sama penderitaanku. Yang bisa

200 Percent Sweet Seventeen

Oleh:
Deburan angin menerpa wajah mungilnya. Kacamatanya berembun. Entah percikan air apa yang menyelimuti kacamatanya itu. Kakinya yang telanjang memainkan pasir yang tak berdosa itu. Pansusnya digantungkan di tali slingbag

Love Or Terror Letter?

Oleh:
Matahari tersenyum kembali, menampakkan cahayanya dari arah jendela kamar Vanie. Dinding kamar yang berstiker panda dan kelinci tersenyum itu seolah ingin membangunkan dan menyapa Vanie yang sedang asyik tidur

Mimpi

Oleh:
Suci menatap ke arah jendela, lalu ia membuka tirai jendela yang masih tertutup itu. Angin begitu kencang berhembus. Cahaya putih begitu cepat melesat, membuatnya terkejut. Setelah cahaya putih itu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *