Hujan, Laut dan Kenangan itu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Pengalaman Pribadi
Lolos moderasi pada: 25 August 2017

Malam yang dingin. Kutengadahkan wajahku ke atas. Menatap langit, sepertinya langit masih berselimut mendung. Teras rumah juga masih basah. Tadi sore hujan turun lagi, sepertinya akhir-akhir ini hujan seringkali turun, membasahi bumi ini.

Semilir angin menerpa tubuhku, suasana masih sejuk. Sama dengan suasana yang kurasakan pada waktu itu. Pikiranku menerawang jauh, memutar sedikit memori ingatanku. Pada siang setengah sore itu, aku dan teman-teman pergi ke pelabuhan bagian timur untuk mencari inspirasi.

Di sana terlihat lautan terbentang luas. Suasana laut yang menyenangkan, menyejukkan, sekaligus menentramkan hati ini. Aku duduk di atas bebatuan di pinggir genangan air laut. Melihat suasana sekitar laut, sesekali terdengar suara lonceng pertanda kapal berangkat dari Madura menuju Surabaya, kebetulan saat itu lokasinya tidak jauh dari pelabuhan Kamal. Kuarahkan pandanganku ke arah Surabaya, ternyata jarak antara Madura ke Surabaya tidak terlalu jauh. Aku malah membayangkan jika saja dibuat jembatan di atas laut tersebut, maka akan lebih mudah jika ingin pergi ke Surabaya, tidak usah naik kapal yang terkadang jalannya tidak sesuai dengan yang diinginkan, belum lagi jika hanya satu kapal yang beroperasi. Bisa-bisa waktu terbuang sia-sia hanya untuk menunggu datangnya kapal. Semuanya sudah pernah aku rasakan. Aku hampir hafal dengan suasana kapal, pelabuhan, dan kawan-kawannya.

Siang itu, suasananya mendung. Dari arah Surabaya terlihat semakin gelap, sepertinya Surabaya sedang hujan. Awan gelap itu mulai berjalan ke arah Madura. Angin berhembus dengan kecepatan standar, semakin lama semakin kencang hingga membuat daun-daun berterbangan. Ranting-ranting juga mulai berjatuhan membuat aku dan teman-teman ketakutan. Takut jikalau ranting itu mengenai tubuh kami. Pasti rasanya lumayan sakit.

Saat suasana langit semakin gelap, teman-teman malah asyik makan “Sewel”. Angin berhembus semakin kencang. Seperti dugaanku sepertinya hujan akan segera turun sore ini. Tidak lama kemudian, air mulai jatuh mengenai tubuh ini, aku dan teman-teman buru-buru berlari mencari tempat berteduh.

Semakin lama hujan semakin deras, aku memang suka hujan dan suasana laut. Saat hujan datang aku selalu gembira, namun saat ini entah kenapa aku merasa cemas dan ingin hujan segera berhenti. Arah jarum jam pun serasa berjalan lebih cepat dari biasanya. Rasa panik muncul dalam diriku. Bagaimana jadinya jika hujan tak kunjung berhenti. Karena aku harus segera pulang ke Surabaya.

Lama sekali aku menunggu, hujan tak kunjung reda. Tetes demi tetes air hujan bersatu dengan air laut. Air hujan yang turun itu menghasilkan genangan air di permukaan tanah, menjadikan tanah menjadi becek. Jalanan menjadi seperti kubangan air. Orang-orang di sekitar sana ada yang sedang asyik main hujan-hujanan. Begitu juga dengan teman-teman yang sepertinya sudah lelah menunggu hujan reda, mereka nekat ikut main hujan-hujanan. Namun, saat itu aku sedang tidak berminat untuk main hujan-hujanan. Aku lebih suka melihatnya dari jauh.

Untung saja sore itu, hujan akhirnya reda sehingga aku bisa melanjutkan perjalanan pulang ke Surabaya. Walaupun gerimis masih setia menemaniku di sepanjang jalan. Aku menatap lautan dari dalam kapal, mengingat suatu kejadian yang baru saja terjadi. Memang di dunia ini mencari orang baik tidaklah sulit, namun mencari orang tulus juga tidaklah mudah. Ini bukan sekedar omong kosong tetapi aku sendiri yang merasakannya. Beberapa menit yang lalu, sebelum aku naik kapal ini, aku merasakan bahwa dia benar-benar tulus menolongku. Sesuatu yang jarang sekali aku rasakan.

Seseorang yang menyelamatkanku, menolongku, bahkan mengerti keadaanku. Dia tidak banyak bicara namun tindakannya itu sungguh menyentuh hati. Keterpaksaan yang biasa aku jumpai pada yang lain, ternyata tidak bisa aku temukan pada dirinya. Setiap ucapan yang keluar dari mulutnya tiada yang menyesakkan hati ini. Aku merasa nyaman saat bersamanya. Kenangan itu masih kusimpan hingga saat ini, dan tidak pernah aku lupakan seumur hidupku.

Aku bangkit dari lamunanku, menutup pintu, dan masuk ke dalam rumah untuk tidur karena besok pagi masih banyak hal yang harus aku lakukan.

Cerpen Karangan: Nurus Sa’adah
Facebook: Nurus Sa’adah

Cerpen Hujan, Laut dan Kenangan itu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maafkan Aku Sahabat

Oleh:
Libur sekolah telah usai, kini aku harus memasuki sekolahku yang baru, aku bersekolah di SMP N 1 Kroya. Sekolah ini termasuk favorit di daerah tempatku tinggal. Kebetulan kedua sahabatku

Pertemuan Yang Singkat

Oleh:
Hari itu tanggal 1-2 November adalah hari yang sangat berkesan dalam hidupku karena hari itu aku mengikuti jambore literasi. Di sana aku mendapat teman dari berbagai daerah. Saat di

Who I Am?

Oleh:
Hari ini langit kota Padang dipenuhi awan hitam. Orang-orang bilang awan itu adalah awan kumulonimbus. Awan yang menandakan akan turunnya hujan. Benar saja, beberapa detik kemudian aku melihat hujan

Semua Tentangmu Mr. W

Oleh:
Bukan hanya sekali aku jatuh cinta, tapi berkali-kali. Dan untuk kali ini, aku jatuh cinta pada seorang pria hebat, yang berhasil mencuri hatiku. Dia adalah seorang pria yang tanpa

Ini Pungli?

Oleh:
Pagi itu, saya diajak oleh kakak perempuan saya untuk pergi ke kantor kepala desa tempat saya tinggal. Tujuannya untuk membuat SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) sebagai salah satu syarat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *