Keputusan Di Antara Dua Pilihan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Pengalaman Pribadi, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 8 July 2016

Bahagia, itulah kata sederhana yang aku rasakan ketika mengenal seorang wanita cantik berkerudung dan sederhana. Aku mengenal dia ketika aku duduk di bangku 11 SMA. Aku mengetahui wanita tersebut dari salah seorang temanku bernama Nadia yang sudah lama aku kenal sejak SMP. Memang aku yang sengaja bilang kepada Nadia untuk mengenalkan kepada salah seorang temannya yang masih jomblo. Nadia memang teman baik dan akhirnya aku dikenalkan kepada salah seorang teman di kelasnya dan nadia memberikan nomer hp wanita tersebut, wanita itu bernama Siti dan dia teman dekat Nadia di sekolah. Setelah aku mengetahui nomer hp nya, aku memberanikan diri untuk memulai berkenalan dengannya melalui pesan singkat.

“Assalamuallaikum, ini dengan Siti?” sambil berharap dia membalas pesan singkat yang aku kirimkan kepadanya.
Tidak lama kemudian terdengar suara dering pesan singkat dari hp ku, sambil tersenyum dan berharap Siti membalas pesan singkat dariku, segera aku membuka hp ku dan memang benar siti membalas pesan singkat dariku.
“waalaikumsalam, iya aku Siti. Kamu siapa ya?” begitulah balasan dari dia.

Berawal dari pesan singkat itulah aku mulai mengenal dia, melalui pesan singkat itulah aku mengenal sedikit tentang dirinya, dan melalui pesan singkat itulah aku memberanikan diri untuk mengajak dia bertemu untuk mengenal lebih jauh tentang dirinya.

Suatu malam, setelah maghrib aku mengajak dia bertemu untuk yang pertama kalinya. Suasana yang cukup ramai, sering dilalui oleh kendaraan di pinggiran gang jalan yang dekat dengan tempat tinggal dia, disanalah aku bertemu dengannya. Aku melihat ada seorang wanita sedang duduk di sepeda motor, aku memberanikan diri untuk menghampirinya.

“Siti?” kataku sambil tersenyum malu.
“iya, kamu tian ya?” itulah jawaban dari dia.
“udah lama nunggu ya?” tanyaku
“nggak juga, lagian ini baru nyampe kok” jawab Siti.

Mulailah aku ngobrol dengannya. Dia orangnya asyik. Ketika aku ngobrol dengannya, aku merasa nyaman dan bahkan kita memiliki banyak kesamaan salah satunya ialah sama-sama menyukai musik dan dia pun mempunyai harapan yaitu ingin mempunyai pacar yang bisa memainkan alat musik gitar, dalam hati aku berbisik “Syukur Alhamdulillah, aku mempunyai sedikit keahlian dalam memainkan gitar hehe”
Kita asyik ngobrol dan saling mengenal satu sama lain, karena keasyikan mengobrol tidak terasa waktu sudah malam dan aku pamit kepada dia untuk pulang.

Keesokan harinya bertepatan dengan ulangtahunku, sore hari dia mengajak aku untuk bertemu dengannya di suatu taman dekat rumahku, Aku tidak mengetahui apa yang mau dia bicarakan kepadaku, dan aku pun tidak berpikir bahwa akan ada sesuatu yang dia lakukan kepadaku, aku berpikir dia hanya ingin bertemu saja denganku.
Aku melihat dia sedang duduk di taman seorang diri dan aku menghampirinya, tiba-tiba dia memberikan sebuah bingkisan berwarna hijau kepadaku. Aku bingung, ini ada apa kok tiba-tiba dia memberi bingkisan.

“Selamat ulang tahun, semoga panjang umur, sehat selalu, menjadi anak sholeh dan membanggakan orangtua” itulah ucapan yang dilontarkan siti kepadaku.
“Amin, terimakasih ya siti” jawabku sambil girang hati.

Aku ingin sekali ngobrol lama dengan dia, tapi kondisi tidak mendukung. Pada saat itu langit sudah mendung dan akan turun hujan. Akhirnya aku mengantarkan dia pulang karena khawatir akan turun hujan. Di tengah perjalanan menuju pulang, turunlah hujan yang lumayan deras dan akhirnya saya memutuskan untuk berteduh dengannya di pinggir jalan.
Aku memang sudah menyukainya sejak pertama kali bertemu, tetapi aku belum berani untuk mengungkapkan kepadanya. Aku kira ini waktu yang tepat untuk mengungkapkan rasa sukaku kepadanya. Bicara atau tidak ya? bicara atau tidak ya? begitulah pikiranku pada saat itu, tapi aku harus memberanikan diri untuk mengungkapkannya. Sambil gugup dan malu, akhirnya aku memberanikan diri untuk mengungkapkannya.

“Siti? Aku suka kamu” ucapku sambil memandangnya.
Dia tidak membalas ucapanku, dia hanya tersenyum tersipu malu. Kondisi hujan sudah reda, aku kira sekarang sudah waktunya untuk melanjutkan perjalanan pulang. Setelah sampai di depan rumah, dia memanggilku.
“Tian? Aku juga suka sama kamu” sambil pergi menuju rumahnya.

Luar biasa bahagianya pada saat itu bahkan ketika diperjalanan menuju rumahku, aku senyum-senyum sendiri seperti orang yang tidak waras hehe. Aku tidak akan pernah lupa dengan kejadian tersebut. Sesampainya di rumah, aku mengirim pesan singkat kepada siti.
“Makasih ya siti untuk hari ini, aku bahagia sekali dan beruntung bisa kenal sama kamu” ucapku lewat pesan singkat.
“Iya sama-sama tian, makasih juga udah suka sama aku dan nemenin aku” jawab Siti.
Aku bersyukur karena bertepatan dengan ulangtahunku, aku mempunyai seorang wanita cantik yang baik dan sangat peduli kepadaku.

Akhirnya aku berpacaran dengan Siti. Sudah hampir 1 tahun, aku menjalin hubungan dengan Siti. Tapi selama 1 tahun menjalin hubungan, kita jarang bertemu dikarenakan aku mempunyai kesibukan di sekolah. Aku mengikuti kegiatan eskul futsal, nasyid dan tergabung dalam anggota OSIS di sekolah. Aku mengalami dilema, sebab sudah sangat sering aku menyakiti dia karena jarang memberi kabar dan lama membalas pesan singkat darinya, tapi dia selalu memaafkanku dan selalu memberikan kesempatan kepadaku. Aku merasa tenang dan lega, sebab dia selalu memaafkanku ketika aku jarang memberi kabar atau lama membalas pesan singkat dari dia, tapi di sisi lain aku merasa tidak tega karena sikapku yang tidak bisa memberikan perhatian penuh kepadanya dan aku merasa untuk saat ini aku belum pantas untuk menjadi pacarnya sebab dia begitu baik dan selalu memberikan perhatian penuh kepadaku. Aku ingin membicarakan masalah ini kepadanya, bahwa untuk saat ini aku ingin fokus terhadap sekolahku dan aku tidak ingin menyakitinya terus dengan kesibukan-kesibukanku di sekolah. Tapi sangat sulit bagiku untuk mengungkapkannya sebab kalau aku bilang seperti itu kepadanya, aku takut dia lebih sakit hati lagi. Seharian aku memikirkan masalah ini, aku berusaha mencari solusinya, berdoa kepada Tuhan, merenung ketika malam hari, akhirnya masalah ini pun berpengaruh terhadap kefokusanku ketika sekolah. Aku bertarung dengan perasaanku yang sangat menyayangi siti, tapi aku tidak mau terus menyakiti dia. Sudah saatnya aku harus membicarakan masalah ini kepadanya dan memang harus segera dibicarakan kepadanya karena kalau tidak segera dibicarakan, pasti hati siti terus tersakiti oleh sikapku.

Suatu malam, aku memberanikan diri menelpon dia untuk membicarakan masalah ini. Awalnya aku tidak bisa untuk membicarakan ini kepadanya, sebab aku khawatir dia akan tersakiti. Dengan berat hati, perlahan aku menjelaskan masalah ini kepadanya, menjelaskan kenapa aku harus mengakhiri dulu hubungan ini sebab aku harus fokus sekolah, aku berjanji kepadanya suatu saat aku akan kembali kepadanya dan untuk saat ini kita berteman saja seperti waktu sebelum kita pacaran.
Dia mengerti kondisi yang aku alami dan dia pun menerima keputusanku untuk tidak berpacaran dan berjanji untuk fokus terhadap sekolah.

Perasaanku campur aduk, aku merasakan lega karena dia menerima keputusanku dan bersedia menjadi temanku untuk saat ini. Di sisi lain, aku juga merasakan sedih karena menyakiti wanita yang aku sayangi. Tapi dengan keputusan tersebut, akhirnya aku bisa fokus untuk mengejar prestasi di sekolah, bisa fokus untuk mengasah kemampuan, mengembangkan bakatku di eskul serta kepengurusan OSIS. Dan pada saat kelas 12 SMA, teman-teman kelasku mempercayai aku untuk menjadi ketua murid di kelas, suatu kebanggan bagiku karena mendapatkan kepercayaan dari semua temanku di kelas. Selain itu, aku pun sukses mendapat peringkat kedua di kelas ketika kelas 12 yang sebelumnya belum pernah aku dapatkan.

Memang ini pilihan yang sulit, sebab aku dihadapkan dengan dua pilihan antara berpacaran ataukah fokus sekolah, tapi aku yakin bahwa keputusan yang aku putuskan untuk fokus terhadap sekolah adalah keputusan yang tepat dan dapat mengantarkan aku kepada kesuksesan selama di sekolah dan masa yang akan datang. Sampai saat ini, dalam hati kecilku aku masih mencintai dan masih menyayangi Siti sebab aku akan memenuhi janjiku yang sebelumnya aku sampaikan kepada Siti, bahwa suatu saat aku akan kembali kepadanya.

Cerpen Karangan: Kustian S.Surya
Facebook: kustiansurya

Cerpen Keputusan Di Antara Dua Pilihan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Inspirasi Hidupku

Oleh:
Saat ini, aku dalam keadaan paling terpuruk. Hidupku hanya berteman dengan sepi, sunyi dan kegelapan. Aku merasa di dunia ini hanya ada diriku seorang. Aku letih dengan semua ini.

Halte

Oleh:
Sore itu Edo, pergi sendirian ke toko buku. Dia menunggu bus di halte yang letaknya tidak jauh dari kampusnya. Ada 5 orang yang berada di halte itu. Sambil menunggu,

Nabi Adam dan Manusia Purba

Oleh:
Pada hari ini kita hidup di mana kekayaan dianggap sebuah tonggak kesuksesan. Kesuksesan hanya diukur dari banyaknya materi atau harta yang dimiliki seseorang, dan bukan diukur dari banyaknya prestasi

Pengagum Rahasia

Oleh:
Namaku Shafira Azzani, atau biasa dipanggil Fira. Aku bersekolah di sebuah Madrasah tsanawiyah, dan sekarang aku duduk di kelas 3. Itu berarti sudah tiga tahun aku berada di Madrasah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *