Lembaran Baru Dalam Rahasia Hati

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Pengalaman Pribadi
Lolos moderasi pada: 20 September 2018

Malam bertabur bintang. Beralaskan atap, berselimutkan langit, dan dengan bantal tangan menyilang aku menikmati suasana malam ini. Aku tidak sendiri karena Tramp selalu ada di sampingku. Ya, Tramp adalah alat musik yang sering kumainkan ketika aku sendirian. Tidak hanya ketika sendirian, aku juga sering mencurahkan isi hatiku melalui Tramp. Berbicara melalui dan dengan Tramp menurutku lebih menyenangkan. Tentu saja, Tramp tidak seperti orang-orang yang terkadang hanya dapat mendengar tetapi tidak dapat mengerti hati dan perasaan kita.

Bintang. Tiba-tiba ada bintang yang jatuh. Bintang itu mengingatkan aku pada kisah kasihku saat itu. Saat aku masih begitu polos dan lugu. Saat pertama kalinya aku harus mengorbankan hatiku untuk sahabatku, Tria. Bintang itu seolah menjadi magnet yang menarik aku dan pikiranku sebagai benda logam kemudian melekat pada bagian manapun dari magnet itu.

“Otan!! Otan!!”, seseorang memanggilku.
Suara itu tidak asing lagi bagiku. Tangan itu kembali meremas pundakku. Tria, sahabatku yang hampir setiap hari melakukan hal yang sama: memanggil nama lalu meremas pundakku. Tria adalah seorang pria yang sangat sempurna di mataku. Dia adalah pria multitalent. Bermain alat musik, bernyanyi, dan melukis manga adalah keahliannya. Banyak gadis yang menyenanginya di sekolah. Namun, belum ada seorang gadis pun yang menyimpan rasa padanya. Mungkin karena jerawat begitu mencintai wajahnya dan merasa rugi untuk meninggalkannya.

“Eh, Tria. Tumben nggak telat”, dengan senyum menyindir aku membalas Tria.
“Hehehe, iya nih. Kebetulan tadi di jalan dapat tumpangan”, jawab Tria sambil melap keringatnya.

Aku dan Tria berjalan melewati beberapa ruangan tanpa memberikan perhatian sedikitpun. Tidak berapa lama akhirnya kami sampai di ruangan kami. Ruangan dimana aku dan Tria menuntut ilmu demi masa depan yang cerah. Ups, aku hampir lupa. Bukan masa depan yang cerah melainkan masa depan yang gemilang. “Cerah” dan “Gemilang”. Menurutku, itu adalah dua kata yang berdekatan maknanya. Berbeda dengan Tria, dia memilki makna tersendiri untuk setiap kata dan ternyata dia lebih menyukai kata “Gemilang”.

“Tan, minggu depan acara pengukuhan kita kan?”, Tria bertanya.
“Pengukuhan? Masa? Tahu dari mana?”, dengan nada agak terkejut aku menjawab.
“Hah? Kamu belum tahu? Ketinggalan jaman loe bro!”

“Tahu dari mana?”, balasku dengan wajah serius.
“Mading, Tan. Aku tadi lihat di mading. Nggak percaya? Lihat aja sendiri!”, jawab Tria seraya menunjuk ke arah mading.

Aku berjalan untuk membuktikan kebenaran dari ucapan Tria. Mataku membalak. Ternyata semua yang dikatakan Tria benar adanya. Sambil memperbaiki dasi segitiga yang menggantung di leherku, aku berjalan kembali menuju tempat dimana Tria berada, di ruangan kelas.

Pengukuhan. Pengukuhan adalah hal yang biasa dilakukan di sekolah ini. Setiap angkatan pasti akan dikukuhkan. Aku adalah bagian dari angkatan kedua di sekolah ini dan baru akan dikukuhkan minggu depan. Tebak saja, sekolah yang kutempati saat ini adalah sekolah baru. Hari ini, semua orang mulai sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk acara itu. Mulai dari tata acara, pakaian, penyambutan, dan hiburan sudah mulai dipersiapkan.

Detik demi detik berlalu, jam pun enggan untuk menanti, begitu pula dengan hari yang terus berganti. Tidak terasa, hari dimana aku dan seluruh angkatan kedua akan dikukuhkan pun tiba. Entahlah, di acara ini kakak kelasku lebih banyak mengambil peran. Seperti raja yang dihibur oleh para dayang-dayangnya. Begitulah kami diperlakukan pada acara ini. Tidak banyak tenaga yang terkuras. Hanya sedikit melakukan aksi kasamaptaan dan proses pemakaian jaket. Setelah itu, kami hanya duduk manis menikmati acara selanjutnya.

Bangga dan bahagia. Bangga karena aku dan teman-temanku telah dikukuhkan langsung oleh Bapak Bupati dan Bapak Wakil Bupati. Bahagia karena ada ayah dan ibu yang menemani aku pada acara ini. Kentalnya kebersamaan membuat haru timbul di hatiku. Namun, rasanya semua itu tidak lengkap. Sepertinya ada yang kurang di acara ini. Apa? Hah, Tria. Selama acara ini Tria tidak menampakkan batang hidungnya barang sedetik saja.

Kulangkahkan kakiku dan dengan mata stereo aku mencari tahu keberadaan Tria. Tempat ini tidak begitu luas, tetapi rasanya sangat sulit untuk segera menemukan Tria. Tentu saja, aku mencari Tria di antara kakak kelas dan teman-teman ku yang sibuk berfoto satu sama lain. Membentuk kerumunan di segala sisi. Memegang tongsis dan berpose sok imut. “Di mana si pria jerawat itu berada?”, gumamku dalam hati.

“Tria.. Tria. Boleh nggak kita foto bareng?”, terdengar suara kakak kelas yang tidak asing bagiku.
“Oh. Boleh, kak”, suara Tria begitu khas.

Ternyata Tria sedang asyik berfoto dengan kak Ailien. Tidak hanya dengan kak Ailien, ternyata kak Yaya juga ada di sana. Kuperhatikan mereka dari jauh. Ya, aku tidak ingin mengganggu kebahagiaan Tria. Setelah lama menunggu, akhirnya kudapati Tria melambaikan tangan kepadaku.nampaknya, dia akan segera menghampiriku. Selangkah mengarah padaku.
“Eh, Tria. Tunggu! Kakak juga mau foto bareng kamu,” tiba-tiba kak Yaya menarik langkahnya kembali.

Suasananya tiba-tiba berubah. Suhu di tempat ini semakin panas. Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja. Saat sedang sibuk menggunakan tanganku sebagai kipas, Tria meremas pundakku.
“Tan, maaf ya”, sambil mengangkat alis dia mengatakan maaf.
“Maaf? Untuk apa? Nggak ada yang salah kok”, aku menjawab dengan wajah datar.
“Hehe, maaf karena udah buat kamu nunggu lama. Ya, maklumlah fans aku minta foto bareng”, Tria berbisik.
Kutempelkan jari telunjukku di keningnya yang penuh jerawat. Sontak, kepalanya terdorong 45 derajat ke belakang. Hal inilah yang selalu kulakukan untuk menyadarkan Tria dari kesombongannya. Tria tidak membalas tindakanku itu. Tentu saja, dia sudah tahu maksudnya.

Acara pengukuhan selesai. Gerbang menjadi tempat terakhir pertemuanku dengan Tria saat itu. Sesampainya di rumah, dengan cepat aku menuju kamar. Tramp telah menyambutku di depan pintu. Tramp memanggil hatiku untuk segera memainkannya. Saat memainkan Tramp, bayangan Tria dan kak Yaya mengganggu pikiranku. Suhu di kamarku tiba-tiba naik. Bulir-bulir keringat membasahi tubuhku. Kuputuskan untuk berhenti memainkan Tramp.
Kurebahkan tubuhku di atas tempat tidur tiga kaki. Terasa begitu nyaman. Mungkin ibu baru mengganti baju tempat tidurku ini. Kupandangi langit-langit kamar seraya memikirkan mengapa suhu ruangan dapat dengan cepat meningkat sesaat ketika aku mengingat kedekatan Tria dengan kak Yaya. Entahlah, aku masih saja tidak mengerti.
Otan, kak Yaya mengonfirmasi permintaan pertemananku di facebook. Keadaan yang sangat baik bukan? Hehehe….

Pesan singkat dari Tria membuat jantungku berdetak lebih lebih cepat. Seperti akan menghadapi perang. Suhu kamarku meningkat, wajahku memerah, dan pikiranku terasa goyah. Kugeleng-gelengkan kepalaku dan ku atur suasana untuk kembali seperti semula. Kuhela nafas panjang dan mencoba untuk tidak menghiraukan suara-suara sumbang dari hatiku.

Detik, jam, hari, minggu, dan bulan terus berganti. Tidak terasa sudah sebulan Tria menjalin komunikasi dengan kak Yaya. Begitu kata Tria. Pagi itu, sang fajar datang dengan cerahnya. Menghangatkan tubuh manusia yang sempat membeku karena udara dingin yang mencekam. Seperti biasa, aku selalu mendapatkan cerita pagi dari Tria. Tidak lain dan tidak bukan tentang kedekatannya dengan kak Yaya.

Tidak berubah. Keadaan yang kualami saat mendengar cerita kedekatan Tria dengan kak Yaya masih tetap sama dan sampai saat ini aku belum juga mengerti mengapa aku mengalami hal yang demikian. Saat berusaha untuk mengerti, bel istirahat mengabarkan bahwa aku dapat mencari suasana baru di luar kelas. Aku duduk bersandar di teras. Mataku seolah mencari. Mencari seseorang yang bernama Yaya. Aku sudah berusaha untuk menghentikan misi mataku yang terus mencari. Tapi tetap saja, gagal.

Dia keluar. Akhirnya mataku megakhiri misi pencariannya karena telah menemukan orang yang dicari. Dia duduk di teras kelasnya. Tidak sendiri. Dia tidak sendiri. Ada gadis lain di sampingnya. Tampaknya aku juga mengenal gadis itu. Kakak kelas yang juga tidak asing bagiku. Mereka terlihat begitu dekat. Saling berbagi cerita dan bersenda gurau. Gadis itu. Bukan, bukan kak Yaya. Tapi gadis yang ada di sampingnya. Sedikit mencuri kapasitas pandanganku dari arah kak Yaya.

“Otan…,” Tria meremas pundakku dan ikut bergabung duduk di teras kelas.
“Tria. Kau membuat aku terkejut. Ada apa?”, aku melihat Tria.
“Nanti malam rencananya aku akan datang ke rumahmu. Bolehkah?”
“Tentu. Tentu saja boleh. Kebetulan tidak ada tugas yang harus dikumpulkan besok pagi”, aku menjawab dengan nada semangat.

Pukul 19.00. Itu waktu kunjungan yang direncanakan Tria. Ternyata, kebiasaan buruknya belum juga hilang. Jam karet. Untungnya ada Tramp yang membuatku lupa akan keterlambatan Tria. Pukul 19.45, akhirnya Tria datang. Atap rumah. Itu tempat pertemuan kami di rumahku.

“Tan, sepertinya aku mulai menyukai kak Yaya. Menurutmu, bagaimana? Apa kak Yaya akan membalas perasaanku?”, Tria memulai perbincangan dengan awal yang kurang menyenangkan menurutku.
“Kenapa? Apa yang unik dari kak Yaya?,” aku mencoba untuk mengendalikan suasana.
“Entahlah. Senyumnya membuatku tenang dan pandangannya begitu tentram. Selain itu, dia juga gadis yang sangat cantik menurutku. Hehehe..,” begitu bersemangat Tria mengatakan hal itu.

Mengapa? Mengapa bisa begini? Sepertinya aku juga merasakan hal yang sama seperti apa yang dirasakan Tria. Tentang senyuman dan pandangan itu. Aku hanya bisa diam membisu. Menjadi pendengar yang baik untuk semua cerita yang disampaikan Tria. Hatiku terasa sakit. Tapi, tidak begitu sakit. Jantungku berdetak cepat. Tapi, tidak secepat ketika pertama kali aku melihat Tria bersama kak Yaya.

“Otan, lihat! Ada bintang jatuh. Ayo buat permintaan”, Tria segera menutup matanya.
“Aku berharap seseorang yang senyumnya membuat hatiku tenang dan pandangannya yang begitu tentram, dapat merasakan hal yang sama seperti apa yang kurasakan. Kuharap aku tidak akan sakit dengan segala perasaan yang kupunya.” Tria menyampaikan keinginannya dan aku hanya bisa diam menyaksikan semua itu.

“Plak!”, tempat Tramp tersenggol oleh kucing kesayangan ibu. Kuusap wajahku dan menyadarkan diriku dari lamunan panjang yang membawaku untuk mengenang kembali kisah kasihku waktu itu. Kuarahkan pandanganku kepada jam tangan hitam yang menempel di tangan kiriku. 22.00, itu waktu yang ditunjukkannya. Sudah begitu larut ternyata. Sesaat ketika aku akan kembali ke dalam rumah, tiba-tiba ada bintang jatuh.
“Ku harap rahasia hatiku tidak akan melukai hatiku lagi. Kuharap sahabatku akan tetap bahagia bersama gadis yang waktu itu menjadi bagian dari rahasia hatiku. Kuharap gadis lain yang sempat mencuri sedikit pandanganku waktu itu akan menjadi bagian dari rahasia hatiku yang akan menyembuhkan hatiku.”

Harapanku menjadi penutup malam ini. Harapanku itu akan menjadi pembuka pagiku esok. Lembaran baru dari rahasia hatiku. Lembaran baru dengan tinta yang lebih indah dalam rahasia hatiku. Kuharap dapat menyembuhkan hatiku.

Hp_Scenis

Cerpen Karangan: Putri Handayani
Blog / Facebook: Putri Handayani
Namaku Putri Handayani; ig: putrii0806 ; twitter: putri_askaasga ; SMA 3 Tarutung ; Laguboti; Siborongborong; Medan

Cerpen Lembaran Baru Dalam Rahasia Hati merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mencintaimu Dalam Diam

Oleh:
Dunia dan Cinta. Orang bilang mereka berdua saling menguatkan. Dimana ada Cinta di situ ada Dunia. Dan terkadang Cinta yang membuat seseorang Bodoh melihat dunia. Namun Cinta pula yang

Wedding Dress

Oleh:
Pagi itu mentari bersinar cerah, tak sedikitpun ia berhenti memancarkan cahaya. Aku duduk termenung sendiri pagi itu. Pandanganku memburu tajam pada sebuah cincin pernikahan yang kupegang. Tak berapa lama

Lengkapi Diriku

Oleh:
CINTA tak berwujud… Namun membuahkan banyak drama.. Tersenyum, gelisah, sendu, berbunga bahkan air mata.. Semua erat dengan istilah cinta… Bola mata sayu sedikit demi sedikit terbuka. Sejenak kuhela nafas..

Silent Girl

Oleh:
Hari ini aku sengaja berangkat pagi, karena biasanya milo akan berangkat di jam dan menit-menit seperti sekarang. sebelum itu dia memang sedang bersamaku, menunggu mobil yang akan membawa kami

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *