Malaikat Di Panti Asuhan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Pengalaman Pribadi
Lolos moderasi pada: 27 April 2018

Sang mentari pagi kini datang dan memberiku sumber energi. Aku selalu diajak untuk menatap seluruh isi bumi ini. Aku selalu ingin menjadi seperti burung yang suaranya digemakan oleh angin dan awan, seperti ranting yang bersahabat dengan angin dan udara, ingin menjadi seperti senja yang cahayanya menyatukan langit dan bumi. Impianku selalu mengiringi segala usaha dan perjuangan hidup ini.

Kini tibalah waktunya bagi Aku dan Adriana menjalani kerasulan di panti pro live Jakarta Timur. Ada perasaan takut namun juga senang sebab aku sungguh ingin merasakan kehidupan anak-anak asuhan dengan kegiatan yang mereka lakukan. Berbagai pertanyaan muncul dalam pikiranku ketika akan memulai kerasulan ini
“Apa yang akan kulakukan di sana?”
“Bagaimana situasi tempat tersebut?”
Banyak pertanyaan lain yang muncul, rasanya memang tidak karuan.

Waktu terus berjalan hingga jarum jam menunjukan pkl 07.30. kami segera menginjakkan kaki ke luar gerbang biara. Dalam kegalauan hati aku terus melangkah. Perasaan bercampur aduk, mulai dari rasa cemas, gelisah sekaligus penasaran. Rasa penasaran timbul karena aku sama sekali tidak mengetahui situasi dan tempat kerasulan. Aku berserah kepada Tuhan, biarlah Tuhan sendiri yang menunjukan jalan yang baik.

Tibalah di panti Asuhan Pro Live jakarta Timur ini, ternyata area ini tidak terlalu besar. Tak ada halaman bagi anak-anak untuk bermain. Sesaat kemudian kami bertemu dengan Pak Andre selaku pembimbing anak-anak. panti asuhan ini dihuni oleh anak-anak dengan rentang usia sd-kuliah. Sambil bercakap-cakap pak Andre menceritakan kepada kami tentang anak-anak dan juga tentang jadwal kami selama merasul di sana.

Pa Andre memperkenalkan kami kepada anak-anak bahwa ada dua calon suster yang akan merasul di panti. Aku sangat bahagia melihat wajah mereka yang manis dan ceria.
“selamat pagi suster” sapaan lembut yang penuh keceriaan menjadi semangat bagiku. Pangilan “suster” kepadaku sesungguhnya menjadi hal yang menyemangatiku. Panggilan tulus yang mereka ucapkan meskipun sekadar menyapa, namun selalu tergores di hatiku.

Setelah perkenalan kami melanjutkan rangkaian kegiatan anak-anak di sana. Di panti asuhan ini aku merasa bahwa hari-hariku di warnai dengan kegembiraan. Kami saling bercerita, canda dan tawa bersama.
Dari setiap anak ternyata mempunyai cerita kehidupan yang beraneka ragam. Kondisi mereka yang sangat memperhatinkan adalah latar belakang keluarga, masa lalu, dan faktor lain yang pada akhirnya menyebabkan mereka berada dan sebagai anak-anak panti asuhan.

“Ayo sus, makan yang seadanya. Jangan malu-malu”. Kata pak Andre.
“Ayo sus, kita makan bareng”. Kata seorang anak
“Sus, kami di sini hanya makan begini-begini saja. Hanya telur, tempe, tahu dan sayuran”. Lanjut pak Andre.

Waktu makan bersama menjadi hal yang sederhana tapi memilliki makna yang dalam. Makan bersama ini dapat memupuk rasa persaudaraan antara anak-anak. Aku sangat tersentuh dengan kebiasaan baik yang mereka lakukan antara lain saat menyiapkan peralatan makan, berkeliling membagi nasi, lauk dan sayuran. Dan setelah selesai makan ada yang bersihkan peralatan makan dan menyapu ruangan. Semua dibagi dalam kelompok yang sudah terjadwal. Anak-anak saling membantu dan melayani satu sama lain.

Beberapa kegiatan tambahan yang kulakukan adalah mengajak mereka membaca buku, mengerjakan Pr, membuat Kreativitas.

Kegiatan-kegiatan ini mereka lakukan dan berjalan dengan baik.
Suatu malam aku termenung dalam kamar. Pandanganku melayang keluar jendela dan melihat bintang-bintang yang indah menerangi kegelapan malam. Aku duduk termangu di bawah sinar rembulan, mencoba bertanya.
“Tuhan apa yang kau kehendaki dariku?. Aku merasa tidak begitu banyak yang dapat kulakukan untuk membantu dan melayani anak-anak”.
Kemudian aku menyadari bahwa aku datang di panti asuhan ini sebagai perpanjangan tangan Tuhan. Aku menyapa, mendengarkan cerita hidup mereka dan menghibur setiap anak yang merasa sedih.
Dalam kesunyian malam aku selalu membayangkan wajah anak-anak panti asuhan ini.

Hari demi hari, malam pun berganti malam. Serangkain kegiatan telah kami lalui dan kami jalani bersama.
Setiap manusia punya cerita kehidupan masing-masing. Begitu pula dengan anak-anak panti asuhan ini, mereka menjalani kehidupan di panti asuhan ini dengan suka dan duka.

Di depan rumah ada seorang anak yang bernama Ariel sedang duduk sendiri. Aku pun segera menghampirinya dan bertanya.
“Dek, pada ngapain? Kok duduk sendirian?”
“Duduk-duduk saja sus”. Jawabnya.
“Dek, apakah kamu bahagia tinggal di panti asuhan ini?” tanyaku.
“Iya sus, bahagia sekali”.
“kamu merindukan orangtuamu nggak?” tanyaku lebih lanjut.
“Bagaimana mungkin aku merindukan mereka, aku sama sekali tidak mengenal mereka. Aku sering menangis dan bertanya pada Tuhan. Kenapa orangtuaku tega meninggalkanku?. Apa salahku?” suara tangisannya sengguh memilukan hatiku.
Aku hanya terdiam seribu bahasa. Sulit kubanyangkan situasi batin yang di alaminya itu.
“Oh Tuhan, kenapa aku bertanya ini kepadanya?” gumamku dalam hati.

“Dek, maaf ya jika pertanyaan suster membuatmu jadi menangis”.
“Iya sus, nggak apa-apa kok. Aku senang bisa berbagi cerita jika suster bersedia mendengarkanku”.
“Iya Dek, kamu bisa bercerita kapan pun, aku mau kok mendengarkan cerita hidup kamu”.
Sejak saat itu Ariel selalu bercerita padaku tentang apa yang terjadi dengan dirinya.

Bukan Ariel saja yang datang bercerita padaku, tapi sebagian anak-anak juga datang membagikan kisah hidup mereka. Tangisan mereka sangat memilukan hatiku. Aku selalu menduga bahwa hujan telah menggenangi mata mereka padahal kesedihanlah yang membuat gumpalan awan berubah menjadi air mata. Suara tangisan mereka memantul gema ke udara. Aku hadir di tengah-tengah mereka dan selalu mencoba menenangkan pikiran mereka. Kerinduan mereka akan kasih sayang kedua orangtua menjadikan semesta hening.

Tak terasa tiga bulan sudah berlalu bagiku menjalani kerasulan di panti asuhan Pro Live. banyak yang bisa kupelajari mengenai arti hidup. Aku tidak bisa berlama-lama di sana karena aku harus kembali ke biara. Aku hanya bisa membawa mereka ke dalam doaku. Aku mengenangkan wajah–wajah malaikat di panti asuhan ini sama seperti bunga kamboja rindu pada gundukan tanah. Aku pun melukiskan wajah mereka seperti halnya bulir embun memberikan tekstur pada daun. Aku pun suka menyusuri ladang tomat dan mengambang di atas perkebunan Teh agar bisa membayangkan segala kesegaran di bumi yang beraneka ragam ini.

Cerpen Karangan: Ermenilda Ahus
Blog: enunhy.blogspot.com

Cerpen Malaikat Di Panti Asuhan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sarcasm is a Custom

Oleh:
Bagi kalian yang bertelinga lebar, apa ada pernah diejek lembeng sebelumnya…? Lembeng dalam artian ini adalah, seseorang yang bertelinga lebar. Di kampungku, orang-orang yang bertelinga lebar adalah mayoritas. Dan

Lilin Tertiup Angin

Oleh:
Sang surya mulai tenggelam di ufuk barat. Perlahan awan berarak menutupi kilaunya dan hembusan angin menambah lengkapnya suasana. Aku mulai mengenakan dress merah, high heels dan sedikit riasan di

Hari-hariku di Sekolah

Oleh:
Pada waktu sekolah, saya merasa senang sekali bisa belajar di ruangan kelas yang sejuk, pada pagi hari yang indah ini, hati riang seperti pagi merindukan matahari, oh senangnya saya

Kebersamaan Tanpa Batas

Oleh:
Sinar mentari pagi tersenyum manis, semanis coklat ketika cinta melekat, tetesan embun masih membekas di antara rimbunan tumbuhan. Dalam kekosongan jiwa ada kekosongan raga, otakku terus berfikir saat ku

Terimakasih Atas Dukunganmu

Oleh:
Aku terdiam, tertunduk dan memejamkan mata. Dan tiba-tiba aku menitikan air mata yang membasahi jilbabku. Hati ini tersakiti, hati ini membengkak dan hati ini menahan amarah. Sungguh kesalahan yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *