Meski Bukan Pilihan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Pengalaman Pribadi
Lolos moderasi pada: 8 July 2018

Kuawali cerita ini dengan pengalaman belajar di bangku sekolah di Kota Pelajar sebut saja Yogyakarta. Tepatnya tahun 1997 aku menghabiskan masa belajarku sebagai seorang pelajar yang dimana dinamika belajar masih didampingi oleh hadirnya seorang guru. Sedikit cerita, mengobati rasa kangenku yang ingin bertemu sosok guru-guruku yang pernah mendampingi dan menempa hidupku melalui pengalaman belajar bersamanya sangat menguras perasaanku yang menganggumi sosok-sosok mereka… ya sosok guruku yang luar biasa.

Hari demi hari tibalah saatnya aku harus merasa siap untuk meninggalkan bangku sekolah. Meskipun sulit aku harus memilihnya karena memang tidak ada pilihan lain. Aku harus berjuang menempa diriku untuk mengalami pengalaman belajar mengenai kehidupan dengan tingkatan yang lebih menantang lagi.

Kampus Sanata Dharma Yogyakarta itu menjadi pilihanku untuk melanjutkan pengalaman belajarku. Kuyakinkan diriku dengan pilihan jurusan yang menerimaku saat mengawali kuliah di kampus. FKIP ya FKIP itulah fakultas yang menerimaku untuk menempaku selama lima tahun di kampus itu. Sepintas saat yang terlintas dalam benakku, aku hanya memahami fakultas yang menerimaku, fakultas yang lulusannya nanti akan menjadi guru. Tak kalah lagi yang aku pikirkan adalah aku diterima pada jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia Daerah. Lulus jadi guru Bahasa Indonesia.

Hhmmm… akhirnya memang tidak ada pilihan lain dengan jurusan yang tidak bisa berganti lagi. Hari demi hari kulalui tempaanku. Aku sedikit tahu kampusku itu banyak yang mengenal kampus yang humanis. Kampus yang hampir setiap sudut bangunannya dilengkapi dengan banyaknya jendela sehingga dikenal dengan kampus seribu jendela. Kampus yang penuh dengan komunikasi yang membaur tanpa memandang satu sama lain. Mulai dari rektor, dekan, staf dosen pengajar, staf karyawan, dan semua mahasiswa terbentuk dan membentuk dengan penerimaan yang humanis.

Kesan humanis itu selalu aku temukan dalam keseharianku menghabiskan waktu untuk belajar materi kuliah maupun menempa pribadiku dengan pengalaman mengenal peristiwa dan terlebih boleh mengalami setiap kejadian dengan orang-orang yang kutemui di kampus itu. Rutinitas inilah yang kujalani setiap hari hingga lima tahun lamanya.

Tahun 2005 aku diizinkan untuk memperoleh gelar sarjanaku di kampus itu setelah dua jam menjalani ujian skripsi. Lega saat itu yang kurasakan, bahagia yang boleh aku bagikan dengan orang-orang terdekatku terutama keluargaku yang selalu mendukung selama ini, dan bangga yang boleh aku rasakan di dalam diriku ternyata aku bisa mendapatkan gelar sarjana setelah mengalami tempaan yang berwarna. Akhirnya, tepatnya di bulan Oktober 2005, aku diwisuda. Pertama kali aku mengenakan baju kebesaran yang selama ini hanya dapat aku lihat pada tayangan televisi, ya aku mengenakan toga. Sungguh perasaan haru yang menyelimuti diriku saat itu bahwa aku lulus dan diwisuda.

Dua bulan berlalu, setelah kegiatan wisuda itu berlangsung kesibukanku menunggu panggilan dari beberapa sekolah dan perusahaan yang aku kirimi surat lamaranku saat itu. Di saat menunggu itu aku menaruh harap agar aku tidak dipanggil dari salah satu sekolah yang aku kirimi lamaranku. Karena aku memang tidak menginginkan bekerja sebagai guru waktu itu. Menunggu dalam waktu dua bulan ternyata tidak sia-sia aku jalani. Di suatu siang, saat aku sedang santai, tiba-tiba pintu depan rumahku terdengar bunyi suara ketukan untuk beberapa kali bahkan berkali-kali ketukan itu meyakinkanku bahwa itu pintu rumahku yang berbunyi.

Akhirnya aku beranjak menuju ke ruang tamu untuk menjumpai sosok yang berada di balik pintu rumahku. Aku terperangah ternyata seorang pengantar surat yang menanyakan kepadaku, “Apakah benar ini rumah Katharina Mariana..?”. Jawabku dengan spontan, “iya pak benar dengan saya sendiri, kalo boleh tahu ada apa ya pak?” Tanyaku lebih lanjut dengan tukang pos. “Ini ada surat” jawaban terakhir tukang pos itu sebelum pergi. Aku pun langsung menebak bahwa surat yang aku terima siang itu adalah surat balasan dari salah satu lamaran yang telah aku kirim. Tanpa berpikir panjang, aku langsung menemui ibuku yang saat itu sedang sibuk berbenah di dapur. Kutunjukkan surat yang kubuka itu kepada ibuku. “Surat apa ini, Nduk?” tanya ibuku. Akupun langsung menjawab, “surat balasan dari lamaranku, bu” jawabku. “Puji Tuhan dan syukur Nduk, ibu senang dengarnya”, jawab ibuku sambil memberikan tangannya memintaku untuk membalas uluran tangannya.

Sehari setelah aku menerima surat balasan itu aku coba menyenangkan diri sendiri. Di benakku saat itu adalah aku dapat kerja jadi guru. Guru …ya jadi guru. Kucoba memikirkan lagi soal panggilan itu, sambil menunggu hari dimana aku harus mengikuti tahapan dari panggilan tersebut. Tibalah waktunya yang ditunggu, aku harus ke Jakarta memenuhi panggilan tersebut. Perjalanan menuju Jakarta aku lalui dengan kereta api, stasiun demi stasiun kulalui dengan biasa saja. Aku membayangkan apakah aku mungkin akan jadi guru.

Akhirnya, 1 Maret 2006 aku mulai menjalani panggilan sebagai guru di salah satu sekolah swasta Katolik di Jakarta Selatan. Aku terpilih menjadi salah satu guru di SMA Charitas sebagai guru pengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia. Hari demi hari kucoba menjalani dan menghidupi pekerjaanku dengan bersemangat. Satu per satu aku mulai mengenal rekan-rekan kerjaku mulai dari rekan guru, rekan karyawan, dan semua yang aku temui di sekolah ini. Warna-warni pengalaman bersama rekan kerja kulalui dengan menyenangkan.

SMA Charitas berdiri tahun 1988 yang bernaung dibawah Yayasan Pendidikan Charitas yang dikelola oleh para biarawati konggregasi Fransiskus Charitas yang menghidupi semboyan “In Omnibus Charitas” yang memiliki arti “Kasih di dalam segalanya” membentuk semua pribadi yang menjadi pendidik dan karyawan kependidikan. Kucoba memahami semboyan itu dengan menjalani rutinitasku sebagai guru.

Menyelami keseharian dengan bertemu murid-murid menjadikanku mau belajar untuk mengenal keragaman karakter yang dimiliki oleh murid-murid. Keragaman karakter yang aku temukan dalam diri murid-murid itu diwarnai dari latar belakang keluarga yang mayoritas dengan ekonomi menengah dan menengah ke bawah. Selain itu pula, kemampuan yang dimiliki murid-murid yang dipercayakan di sekolahku masuk ke dalam golongan kemampuan sedang dan rendah.
Keseharianku bertemu dengan murid-muridku mengajakku untuk mau berbuat lebih banyak dengan menumbuhkan hal-hal positif yang harus kububuhi dengan menanamkan cinta kasih dalam berproses bersama lewat dinamika belajar. Pengalaman senang pun aku rasakan saat mendampingi anak-anak demikian pula dengan pengalaman tidak menyenangkan pun turut menghiasi diriku bersama mereka. Suka pun kurasakan ketika belajar keunikan yang dimiliki oleh anak-anak. Tak ketinggalan pula pengalaman duka pun kurasakan namun semuanya dapat kulalui dengan berjalannya waktu. Interaksiku dengan mereka terjalin dengan tanpa adanya batasan ketika kami boleh berproses dalam dinamika belajar. Interaksi dimana kami saling belajar melengkapi dalam pemahaman materi yang dipelajari setiap kami tatap muka dalam hitungan jam pelajaran setiap minggunya. Interkasi inilah yang membuatku selalu yakin bahwa aku bisa mendampingi murid-muridku itu dengan kerelaan dan pengorbanan yang tanpa batas.

Sebelas tahun lebih dua bulan aku menghabiskan diriku untuk menyelami dunia pendidikan, banyak hal yang kupahami dengan memaknai pentingnya belajar dari keunikan tanpa melihat kekurangan dari dimiliki setiap pribadi yang aku temukan dalam lingkungan kerjaku. Dukungan keluargaku pun sangat mendukung dengan pekerjaanku sebagai guru. Dukungan nyata pun selalu aku dapatkan melalui doa-doa tulus dari ibuku, ya doa yang tiada putus selalu disampaikan kepadaNya dengan harapan agar aku dapat menjalani panggilan mulia ini dengan tulus dan sederhana.

Sampai tulisan ini aku buat, aku pun dibawa pada kesadaran sebagai pribadi yang harus senantiasa yakin dengan langkah-langkah kecil yang dapat memberikan harapan yang baik. Selalu membentuk pribadi yang tidak memandang orang dari kekurangannya namun memandang semuanya itu sebagai keunikan yang selayaknya diterima dengan sepenuh hati. Harapan nyata yang dapat aku berikan selama menempa diriku di tempat kerjaku ini di SMA Charitas, semoga aku membentuk diriku selalu menjadi pribadi yang sederhana dan menaburkan cinta kasih.

Cerpen Karangan: Katharina
Blog / Facebook: kathe_kathe13[-at-]yahoo.co.id

Cerpen Meski Bukan Pilihan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


1 Bulan Dalam Kesendirian

Oleh:
Pagi yang cerah selalu kuawali dengan senyuman dan doa untuk keluargaku dan… Dia -kekasih gue- ciyeee. Waktu itu hari minggu pagi kekasih gue ngajak gue jalan-jalan, tapi gue nggak

The Best Farewell

Oleh:
Dag dig dug… degup jantungku, tubuh bergetar langkah terpaku terdiam, terlihat mata memerah di hadapanku ia berusaha meraih kedua tanganku dan Bibir itu mulai berbicara “Maafkan aku ran, aku

First Rabbit

Oleh:
Pertama kali aku denger kata–kata itu bingung dan aneh. Kelinci pertama maksudnya apa coba. Aku sekarang sudah duduk di salah satu perguruan tinggi akademi kesehatan semester 4. Aku lebih

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *