Partner

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Pengalaman Pribadi, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 9 May 2018

Cerita ini dimulai dari sebuah rencana beberapa waktu lalu antara aku dan kedua sahabatku, Tyara dan Fitri. Waktu itu kami semua akan menghadapi UNBK. UNBK akan dilaksanakan dua minggu lagi. Aku dan kedua sahabatku telah banyak merencanakan hal keren dan menarik. Salah satunya adalah rencana camping di salah satu bukit yang ada di kabupaten sebelah yang tengah ramai dikunjungi. Kami sepakat akan pergi ke sana setelah UNBK selesai.

Perjalanan dari rumah kami ke sana memakan waktu sekitar 6 jam menggunakan sepeda motor. Perjalanan yang cukup melelahkan jika hanya kami bertiga saja yang menyetir. Maka dari itu kami juga mengajak teman lelaki kami yang tempo hari menemani kami mendaki salah satu gunung di daerah yang sama dengan bukit yang akan kami kunjingi. Yah, meskipun kami ini para pembalap (heh, pembalap konon) tapi kami juga tak sanggup jika harus menyetir sendiri.

Setelah rencana kami matang dan siap dihidangakan, akhirnya kami membicarakan niat mulia kami ini kepada para mereka. Dan mereka pun setuju.

“UN bentar lagi neng, kalian kok malah bikin rencana camping. Bukannya belajar yang rajin.” Saut Eko saat kami sibuk menentukan barang yang akan kami bawa.
“Ini juga lagi belajar bang. Belajar lari dari segala macam persoalan sekolah yang bikin sakit kepala.” Jawab ku yang langsung di sambut tawa Tyara dan Fitri.
“Wah mulai terkontaminasi ya tu otak sama mereka berdua.” Sekarang giliran Shandy, teman kecilku sekaligus partner perjalananku nanti. Aku nyengir saja mendengar kalimatnya. Wajar saja, di antara Tyara dan Fitri memang akulah yang agak peduli dengan permasalahan UNBK.

Akhirnya setelah melewati US, UN dan ujian praktek, kami bebas!! MERDEKAA! Sekali merdeka tetap merdeka! Sel.. (Woy.! Agustusan masi lama!). Eh salfok. Mab yak, Kita kembali ke ceritanya.

Dengan gundah gulana akhirnya Tyara mengatakan bahwa ia tak ikut, dan tak apa jika kami tetap pergi tanpanya. Kami pun setuju. Bagaimana pun juga kami telah membeli segala macamnya dan kasian juga cowok-cowok itu yang sudah meluangakan waktu dan mengatur waktunya untuk bisa pergi. Bahkan Eko sudah melibur narik angkot untuk bisa pergi.

TING!!
Suara apa itu?. Oh ternyata bunyi Hp ku yang memecah heningnya malam di kamarku. Kulirik sejenak karena memang aku tengah sibuk dengan barang-barang yang akan kubawa besok. Pesan dari Shandy. Ada apa ya? Batinku.

Shandy: Nas, kayaknya aku gak bisa ikut

Toweew…!
Apa-apaan si Shandy ini. Dengan dahi mengakerut kubalas pesannya.

Nasta: Kok kampret sekali, San!!. Knp emg??
Shandy: Aku ada acara kelas. Mau pemotretan alkena.

OMG!!
Aku kalang kabut macam kebakaran kumis. Apa-apaan Shandy ini. Kemarin oke sekarang nggak bisa. Lalu aku harus ngajak siapa lagi San!! Kamu Kampret! Umpatku dalam hati.
Aku jengakel, kesal, bingung, bimbang dan gelisah. Mengapa ini harus terjadi? (Lebayyy!). Aku bingung karena ini mepet banget waktunya. Siapa yang bisa diajak pergi dadakan gini?. Aku galau macam diajak balikan mantan.

“Ahha!” Aku dapat ide. (Ada lampu di kepalaku. wkwkwk)
Keinget mantan jadi inget Fajar. Mantanku yang baru. Iya, karena memang kami baru putus sekitar satu bulan yang lalu. Putusnya kenapa nggak usah dijelasin ya, nanti jadi curhat terus nggak selesai-selesai ceritanya. (Serah lu, Nas!)

Kami memang sudah putus, tapi komunikasi masih cukup baik. Bahkan kemarin dia menawarkan diri menjadi partnerku, tapi kutolak dengan halus karena aku pikir aku kan perginya sama Shandy. Tapi itu kemarin sebelum Shandy bilang “nggak bisa ikut”. Semoga tawarannya masih berlaku lah yaa. Harapku.

Tunggu apa lagi? Telepon sekarang!
“Halo.” Ucapnya.
“Halo, Fa.”
“Ada apa, Nas?.”
“Gini, Fa. Bla bla bla..”
“Ohh.. Bla bla bla..”

Percakapannya panjang, intinya dia MAU!.
Horeee!! Hatiku gembira senang tak terkira..! Tapiii… Ini terpaksa sih. Apa enaknya coba partneran sama mantan? Mana Fitri partneran sama cowoknya lagi.

“Duh!.” Kutepok jidatku karena bingung memikirkan bagaimana caranya bersikap di depan Fajar dan yang lain. Pasti kikuk banget deh. Secara selama ini Fajar sering mengajakku balikan. Tapi selalu aku gantungakan karena aku masih ingin menikmati kesendirianku ini. Lelah juga tiga tahun pacaran. Hah.. semoga Fajar nggak mikir kalo aku kasih kesempatan bagus buat dia.
“Serah deh, yang penting jadi pergi.” Kulanjutkan acara packing yang sempat tertunda.

Akhirnya hari yang ditunggu pun tiba. Kami semua janjian akan berangakat jam 7. Sebelum jam 7 semuanya sudah harus berkumpul di taman kota. Fajar sudah mejemputku saat jam menunjukkan pukul 06:15 am. Setelah berpamitan dengan orangtuaku, dia pun melajukan motornya mejauhi rumahku.

Brrrrr… Dinginnya embun terasa menusuk-nusuk tulang pipiku. Kurapatkan masker yang kupakai.
Setelah acara tunggu menunggu karena kebiasaan ngaret si Fitri, akhirnya kami berangakat juga. Perjalanan kami terasa menyenangakan saat awal-awal. Kami menyanyi di jalanan. Tapi .. setelah beberapa jam, mulut mulai lelah dari badan mulai pegal kami mulai kehabisan kekuatan untuk menyanyi. Kami sempat beristirahat di beberapa warung makan untuk mengisi perut atau hanya duduk mengistirahatkan badan.

“Haaahh.. Sampai jugaaa.” Gumamku saat telah menapakkan kaki di teras pak RT desa setempat. Ternyata lokasinya cukup jauh dari pusat kota. Di desa yang jauuuuhhh sekali dari jalan besar.

Setelah melakukan registrasi kami pun memulai mendaki setelah istirahat sebentar. Aneh sekali rasanya mendaki bersama mantan. Jika masih pacaran mungakin akan terlihat romantis. Tapi ini kan sudah mantan, keadaannya malah jadi kikuk dan.. ahh entahlah.

4 jam kami melakukan tracking dengan medan yang cukup menyiksa kaki.
Tapi semuanya tak sia-sia. Pemandangan yang kami dapatkan di puncak bukit ini sangat mempesona. Apalagi kami sampai di puncak saat matahari hampir tenggelam. Pemandangan sunset yang tak kudapat saat di gunung kemarin karena kami harus turun karena badai. Akhirnya di sini dapat sunset juga.

“Keren ya, Nas.” Ucap Fajar tepat di telingaku. Aku sedikit kaget lalu kemudian mengangguk setuju. Memang keren.

Kami pun memutuskan untuk mendirikan tenda. Karena hari sudah mulai gelap dan kami butuh tempat berteduh.

“Sini biar aku aja. Kamu kalo nggak bisa ngomong dong.” Fajar merebut pasak yang akan aku tancapkan.
“Tanahnya keras kok.” Ucapku. Fajar hanya mencebikkan bibirnya.
“Cari batu sana!.” Titahnya. Dasar tukang perintah. Umpatku dalam hati.

Setelah tenda siap. Eko mengajak kami bertiga menikmati malam di puncak. Pihak pengelola memang tidak membolehkan mendirikan tenda di puncanya. Takut kejadian tersambar petir beberapa bulan lalu terjadi lagi.
Fitri dan aku setuju, tapi raut wajah Fajar sepertinya keberatan. Kenapa ni bocah?. Pikirku.
“Kenapa, Fa?.” Aku mengernyitkan dahiku.
“Aku di tenda aja deh.” Katanya.
“Mau masak makan malam.” Lanjutnya lagi. Oh aku paham, dia lapar rupanya. Dia punya riwayat penyakit maag, jadi dia harus bisa mengatur jadwal makannya. Dari padi sakit maag di sini kan.

“Ohh.. ya udah aku aja yang masak. Kamu ke atas aja sama mereka.” Tawarku padanya.
“Ya udah kalo kamu mau masak, aku bantuin.” Katanya semangat lalu segera masuk tenda dan keluar lagi dengan membawa kompor mini dan alat masak kami.
“Ciee. Semangat banget, Fa?.” Fitri menggoda dengan menaik turunkan kedua alisnya. Aku cuma mengulum senyum mendengarnya. Sedangakan Fajar tersenyum kikuk.
“Udah ‘ek (panggilan sayang Eko ke Fitri). Biarinlah. Kali aja bisa balikan.”
“Hust.. udah sana kalo mau ke atas ya udah sana!.” Eko dan Fitri malah cekikikan melihat aku salah tingakah.
“Mau masak apa?.” Tanyaku sok sibuk memilih bahan makanan. Yang di tanya tak menjawab. Maka kuulangi lagi pertanyaanku.
“Mau yang mana?. Masak nasi dulu aja ya?” Kataku, sekarang ku beranikan menatap ke arahnya. Dia tersenyum lalu mengangguk. Senyumnya tetap sama. Jika dilihat-lihat wajah nya mirip dengan pemain sinetron Stefan William. Hehehe..

“Kompornya nggak nyala, Fa.” Sungutku seraya berusaha menghidupkan kompor itu. Sepertinya pemantiknya mati karena suhunya terlalu dingin.
“Coba siniin.”
“Nih.”

Fajar mencoba menghidupkannya dengan memancing menggunakan korek api yang dia bawa.

“Au!.” Pekik Fajar mengagetkanku.
“Fajar!. Aduh sori ya, Fa. Aku lupa kecilin kompor nya.” Ternyata tangannya terkena api karena aku lupa mengecilkan Kompornya.
“Sini biar aku lihat.” Aku panik
“Udah nggak papa kok, Nas.” Katanya sambil mengibaskan tangannya.
“Udah udah sini. Aku ambilin odol dulu ya bentar.” Lanjutku buru-buru masuk ke tenda.

Setelah kejadian itu aku hanya menyuruhnya untuk duduk diam di tenda. Dia menurut meski sempat beradu mulut denganku.

“Kamu udah punya pacar lagi ya, Nas. Kenapa nggak ajak dia aja?.” Tanyanya di tengah kesibukanku. Kulirik sekilas dengan ekor mataku. Lalu melanjutkan memasak tanpa menghiraukan dia. Fajar memang seperti itu, selalu menyimpulkan segala sesuatunya sendiri tanpa menunggu jawaban.

“Nas.”
“Belom, Fa. Kamu sok tau banget sih.” Ujarku masih sibuk dengan sosis yang kumasak. Dia hanya bergumam. Aku tak menayainya balik, pasti dia juga belum punya pacar lagi. Yaa meskipun banyak sekali cewek yang antri barisan macam antrian sembako padanya.

Setelah makan malam, kami pun menyusul Eko dan Fitri ke puncak. Pumpung belum larut. Banyak sekali rombongan yang datang ke sini hari ini, dan sekarang mereka semua tengah berkumpul di puncak menikmati malam bersama. Lampu kota terlihat indah dari atas sini.

“Rame ya.. Tapi hati aku sepi.” Kata Fajar.
“Dihh.. ” Gumamku.
“Kamu tau? Ini bakal jadi kenangan yang sulit banget buat aku lupain seandainya kamu nggak balik ke aku lagi, Nas.” Ucapnya memandangaku.

Hening.

Aku bingung harus bagaimana.

Balik? Nggak? Balik? Nggak?.
Ah balik aja deh.

“Balik aja yuk?” Ajak ku.
“Hah?! Serius, Nas?. Kamu mau balikan sama aku?.” Tanyanya heboh dengan mata melotot dan mengguncang kedua bahuku.
“Apasih, Fa. Maksud aku tuh, balik ke tenda aja. Udah malem soalnya.” Jawab ku cekikikan sebelum berlalu meninggalkan Fajar yang bengong.
“Ah elaaaaahh!! Dasar NASTAR!.”

Cerpen Karangan: Cholida Nastaini
Facebook: Iin Nastaini

Cerpen Partner merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cukup Kau Rasakan Saja

Oleh:
“Ini pacar lo? Cantik. Pinter lo milihnya!” decak kagum itu kian mengental. Membuat gadis yang diperkenalkan merasa risih sendiri karena mendapat respon seperti itu. “Ata, aku malu.” Bisiknya pelan.

Usaha Yang Tak Berujung Indah

Oleh:
Cinta, cinta, cinta dan cinta. Itulah yang aku rasakan saat ini. Pasti semua orang pernah merasakan rasanya cinta kepada seseorang yang spesial bagi kita, tidak memandang wajah, fisik, harta

Neighbor Love

Oleh:
Hari pertama diriku menginjakkan kakiku di sekolah yang berbeda, sungguh berbeda. Karena sekarang diriku sudah melepas seragam SMP-ku dengan seragam SMA. Dan sekarang pagi-pagi sekali aku harus datang ke

Merantau

Oleh:
Malam berlalu, ku lihat awan berkelabu, menemani sepi dalam lamunanku di teras depan rumahku. Namaku Ricky, ini sepenggal kisah yang entah berapa tahun yang lalu, waktu itu aku kelas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *