Perjalanan Pulang dari Kedai Kopi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Pengalaman Pribadi, Cerpen Slice Of Life
Lolos moderasi pada: 18 July 2018

Malam tidak terlalu larut, bagiku, saat aku memutuskan untuk pulang terlebih dahulu dari kedai kopi langgananku; meninggalkan teman-temanku yang masih ingin tinggal lebih lama. Aku memutuskan pulang terlebih dahulu karena suasana malam itu sudah mulai membosankan bagiku: semua teman-temanku sudah sibuk sendiri dengan ponselnya. Setelah kopiku benar-benar habis dan hanya menyisakan ampasnya, aku bergegas membayar dan beranjak pulang.

“Berapa semuanya, Mas?” tanyaku pada Mas Pri, pemilik kedai kopi langgananku.
“Apa saja, Mas Andik?” pertanyaan balik dari Mas Pri.
“Kopi satu, sama sate telur puyuh satu.”
“Semuanya enam ribu, Mas Andik.”

Di tengah perjalanan pulang laju sepeda motorku terhenti; aku menepi. Aku merasa ada sesuatu yang terlupakan. Setelah beberapa menit mengingat, aku baru sadar bahwa ada sesuatu yang ingin aku beli. Mencari toko yang buka pada pukul sebelas malam bukan hal yang mudah, dan mampir ke mini market untuk membeli barang itu juga bukan pilihan yang tepat karena harganya pasti memiliki selisih lebih mahal ketimbang membeli di toko biasa.

Aku putuskan untuk berkeliling sejenak; berharap ada toko yang masih buka pada saat itu. setelah hampir lima belas menit aku berkeliling dengan sepeda motoroku, aku berhasil menemukan toko kecil yang masih buka. Toko itu terletak di antara deretan ruko yang sudah tutup. Nampak ada enam remaja, yang sepengamatanku, masih duduk di bangku SMP sedang nongkrong di depan toko. Enam remaja itu terlihat serius mengobrolkan sesuatu.

Keinginanku untuk segera membeli sesuatu dan segera pulang mendadak hilang, ketika aku iseng mendengarkan percakapan singkat enam remaja itu. Sembari berpura-pura mengingat barang yang ingin dibeli, aku menguping pembicaraan mereka.

“Memang apa yang kamu pikirkan, hah? Biar terlihat keren begitu?” kata seorang remaja yang terlihat lebih tua dari lainya kepada salah satu temanya.
“Ya, nggak. Aku sudah tidak nyaman saja di rumah,” kata remaja yang ditanya.
“Sudahlah. Kamu mending pulang saja. Kasihan orangtuamu. Memangnya kamu senang melihat kondisi orangtuamu yang sedang bingung mencari kamu.”
“Aku sebenarnya ingin pulang, tapi..”
“Tapi apa? Gara-gara masalah sepele kamu sampai marah sama orangtuamu.”

Saat aku fokus menguping pembicaraan itu, pemilik toko mengurku, dan bertanya ingin membeli apa. “Iya mas sebentar. Saya lupa,” jawabku kepada pemilik toko.

Pembicaraan kedua remaja itu masih berlanjut, sementara empat remaja lainya hanya diam dan mendengarkan.
“Sudahlah, kamu pulang sekarang. Orangtuamu menunggumu di rumah. Jangan sampai kamu menyesal sama keputusanmu. Mungkin untuk sekarang, karena kamu emosi, kamu masih yakin ingin meninggalkan rumah. Tapi, nanti, kamu pasti menyesal. Percaya sama kata-kataku.”
Remaja yang diceramahi hanya diam tertunduk, seperti menyesali perbuatanya.

Melihat pembicaraan itu sudah mencapai klimaks dan malam juga semakin larut, aku memutuskan untuk segara menyelesaikan akting pura-pura lupa dan segera membeli barang yang sudah aku niatkan sebelumnya.

“Oh iya. Saya baru ingat. Saya beli yang itu mas,” kataku kepada pemilik toko seraya tanganku menunjuk sesuatu yang ada di bagian depan etalase toko itu. “Berapa harganya?”
“Tiga belas ribu,” kata pemilik toko dengan mimik wajah sedikit kesal.

Sewaktu aku akan segera pergi dari toko itu, langkahku terhenti. Aku melihat remaja yang menasehati temanya itu mulai menyulut sebatang rokok. Ada niat ingin menegur remaja itu bahwa rokok bukan untuk dikonsumsi anak yang masih di bawah umur seperti dia. Hampir saja aku laksanakan niatku, tapi seketika itu pula aku urungkan. Aku baru sadar bahwa tangan kananku masih menggegam sebungkus rokok yang baru saja aku beli dari toko itu.

Cerpen Karangan: Achmad Soefandi
Blog / Facebook: Blog: siand1k.wordpress.com | Facebook: Achmad Soefandi (Andik)

Cerpen Perjalanan Pulang dari Kedai Kopi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Nostalgia 17 Agustus

Oleh:
Pagi ini langit begitu cerah mendukung suasana hari. Ya, hari ini 17 Agustus 2013 hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-68 tahun. Terlihat banyak anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak semua berkumpul di

Menjadi Ketua OSIS

Oleh:
Ketika aku berusia tiga belas tahun dan duduk di bangku SMP kelas delapan, aku masih belum banyak mengenal orang-orang di sekitarku, yang ku kenali hanya guru-guru dan teman-teman sekelasku

Getaran Apakah ini?

Oleh:
Kamis siang di sekolah saat itu sedang diguyur hujan deras. Ketika bel pulang sekolah berbunyi, aku yang ingin segera pulang dengan terpaksa menunggu sejenak di sekolah hingga hujannya mereda.

Krisis Identitas

Oleh:
Hari ini, dari mulai membuka mata pada pagi hari sampai tulisan ini dibuat pada pukul sebelas malam, perasaan gelisah bercampur dengan rasa sesal dalam hidup berkecamuk dalam diri ini.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *