Plagiat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Pengalaman Pribadi, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 16 June 2016

Mungkin saat ini aku pantas berbangga hati. Sebab, apa yang kuimpi-impikan sedari dulu kini mampu ku genggam dengan kedua tanganku. Apa orang mulia itu sudah melihatku? Kalau benar sudah, aku ingin melihat tanggapannya padaku. Orang itulah yang telah berbaik hati menumbuhkan semangat besar dalam hidupku. Kalau bukan karenanya, mungkin saat ini aku takkan seperti ini. Bila aku dapat kesempatan untuk bertemu denganya kembali, akan kuucapkan ribuan rasa terima kasihku padanya. Dan, aku tetap ingin melihat senyum kemenangannya itu.

Omong kosong!!
Entah bagaimana bisa guru itu mengcapku sebagai seorang plagiator? Sedang, ia hanya melihatku dari satu sisi. Dan mungkin itu di bagian sisi burukku. Karangan kecil yang ku bacakan di hadapannya itu benar-benar telah kutulis dengan tanganku. Dan, aku tak meniru atau menulis ulang tulisan orang lain. Atau mungkin, cerita dalam tulisanku itu hampir sama seperti tulisan-tulisan pengarang besar yang tak kuketahui tulisannya. Atau, dari kualitasnya menyamai tulisan penulis kondang? (Aku belum bisa menebaknya). Namun, tak sepatutnya seperti ini yang kuterima. Selama semalam suntuk sudah kucoba selesaikan tulisan itu, dan yang kudapat adalah perlakuan seperti ini. Apa ia sengaja ingin mengetes mentalku di hadapan teman-temanku? Bagaimanapun, hal ini sudah mempermalukanku.
Diam-diam kucoba perhatikan tatapan mereka. Ada yang menatapku dengan tatapan kasihan, wajah kurang terima (itu kawanku), juga wajah bahagia. Tragis!

“Seorang plagiat itu bisa masuk penjara Rara!”, ujar guru yang dulunya kubanggakan itu. Memang aku bukan plagiat. Tapi, mengapa saat ini aku dipenjara oleh kebungkamanku sendiri? Aku tak bisa membela diri di hadapan mereka.
“Rara itu bukan plagiat, Bu. Dia itu nulis sendiri.” Sebuah teriakan terdengar dari arah belakang. Kata-katanya memang kurang sopan. Seorang temanku yang bersuara.
“Kalau begitu, mana buktinya? Apa ada di antara kalian yang melihatnya mengarang secara langsung?” tukasnya seketika meruntuhkan harapanku. Jelaslah tak ada lagi yang bersuara membelaku. Karena malam itu, aku seorang diri menulis (seperti kebiasaanku) tak pernah ada orang lain yang kuperbolehkan mengetahuinya.
“Jelaslah sekarang. Bahwa Rara itu seorang plagiat. Saya memberi kalian tugas untuk mengarang sendiri. Bukan meniru karya orang lain.” Katanya kasar. Entahlah, mengapa aku sebungkam ini di hadapannya. Guru sastra itu benar-benar mengecohku. Senyum kemenangannya itu membuatku terpuruk dalam sendu nestapa.
“Rara saja diam. Itu semakin membuktikan bahwa tuduhan saya benar bukan? Kalian harus tahu, saya seperti ini karena saya tidak mau anak didik saya akan nampak bodoh nantinya. Kalian harus berusaha sendiri, ciptakan sesuatu dari tangan kalian itu.” Timpalnya lagi. Kata-katanya bagai sang panglima yang ingin mengobarkan semangat pasukannya. Hatiku menangis tapi wajahku meringis. Mencoba bermain drama dengan orang yang digugu dan ditiru ini. Dramatis!
Dan, sejak saat itu. Aku bukan lagi aku. Sebuah tekad yang membara tiba-tiba tumbuh menjalar di sekujur relung sukmaku. Tak perlu dengan kata aku melawannya. Iya, aku akan berusaha, berdo’a semoga Tuhan membantuku. Aku akan membuktikannya suatu saat nanti! Akan kubuktikan padanya, ia, guru itu, akan tahu bahwa penilaiannya terhadapaku adalah salah. Dan, di kemudian hari nanti, aku akan melihatnya tersenyum sipu menyesali perlakuannya terhadapku saat ini. Dia, guru itu, benar-benar akan tahu apa aku pendendam atau tidak? Bukan, aku hanya ingin memberi sesuatu untuknya juga untukku. Suatu saat nanti!

Cerpen Karangan: Alfiriz Nadhira
Blog: alfiriz.blogspot..com

Cerpen Plagiat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sebuah Es Krim

Oleh:
“Kau! Kau sudah menghabisinya! Kau akan membayar untuk semua ini!!”, teriakku penuh dendam, armor putih yang kukenakan gugur berjatuhan. Harus kuakui, Jake memang lebih kuat dariku, armornya bahkan tidak

Be My Best Friend (Part 2)

Oleh:
Akhirnya aku pergi juga ke Jepang. Melanjutkan sekolah menengahku, kemudian masuk sebuah universitas di sini. Jepang adalah sebuah negara yang maju dan penuh hal-hal yang menarik. Budaya membaca di

A “I Love You”

Oleh:
– Kenapa disaat kita ingin menghindari seseorang, justru dia lebih sering muncul di hadapan kita? – Brakkk Sekali lagi Alsha mendobrak pintu gudang belakang sekolah yang terkunci. Yap! Ia

Kutukan

Oleh:
Hari kamis yang sangat indah, beginilah anak SMA tiap tidak ada guru di kelas pasti saja ribut kalang kabut, Para perempuan cuat-cuit sana sini, dan Para Lelaki selalu heboh

Salut D’Amour

Oleh:
Aku memandang ke luar jendela sejak pulang sekolah tadi. Memandangi hujan yang mengguyur Bumi hari ini membuat hatiku sedikit lega. Ya, rasanya dingin, tentram, menyejukkan, menyegarkan. Rasanya kedongkolanku hari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *