Saatnya Upi The Explorer

Judul Cerpen Saatnya Upi The Explorer
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Bahasa Daerah, Cerpen Pengalaman Pribadi
Lolos moderasi pada: 5 February 2016

Hutan. Iya kali ini gue berpetualang ke hutan guys, hutan bukan tempat asing untuk anak ‘Dayak’ seperti gue, pedalaman Kalimantan Selatan, tepatnya di desa Maradap, di sanalah berdomisilinya gue sejak ditetapkan Tuhan sebagai manusia, desa gue merupakan desa yang masih belum banyak kemajuan pada saat tahun-tahun terakhir di bawah pimpinan presiden kedua Indonesia pada kala itu. Sebagian besar penduduk desa di tempat gue bekerja sebagai petani, gue adalah salah satu anak dari ibu yang seorang petani dan ayah seorang kepala desa, nama jelas gue adalah Siti Ulfi Amrullah, dan nick name gue selama hidup adalah Upi.

Umur gue waktu itu sekitar 3-4 tahun, hanya sedikit dan juga samar-samar gue ingat kejadian hari itu. Kejadian yang sesungguhnya gue dapat dari cerita nyokap (mama) gue. Umur segitu yang ada di ingatan gue cuma kabut asap (anggap aja nggak ada yang bisa gue ingat haha). Pagi itu mama ngajak gue dan kakak gue, sebut aja dia bawang putih. Tak lupa kepala gue dipakai kan tangkuluk (tutup kepala dari sarung khas petani pedesaan), untuk menghindari terpaan panas dan menyilaukannya sang surya. Ya nyokap peduli sekali dengan gue, mungkin agar anaknya yang sudah berkulit hitam nggak jadi arang. Baik banget mama gue. Kita ke hutan dengan berjalan kaki sekitar kurang lebih 1 jam, gue sih nggak jalan, gue nemplok di belakang nyokap gue. ‘Imbah tu’ (bahasa daerah) ehh maksud gue kemudian. Di perjalanan nyokap gue udah kayak tour guide yang senantiasa dengan ramahnya menjawab tiap pertanyaan gue yang keheranan, ingin dan perlu tahu tentang banyak hal.

“Ma ngintu daun ngapa?” (mama itu daun apa?)
“Daun halalang nak’ai? (daun ilalang)
Beberapa saat kemudian, “Ma, ngintu buah napa?” (Ma, itu buah apa).
“Buah usar, kada kawa dimakan!” (Buah hutan warna ungu, nggak bisa dimakan,) nyokap tahu aja gue udah melet-melet dan berencana buat ngunyahin semuanya, abis menggoda banget tuh buah. Setelah banyaknya pertanyaan yang gue ajukan, nyokap mulai muak sepertinya, gue putuskan buat menyampaikan hal terakhir sama dia.

“Mama!”
“Ngapa pulang?” (Apa lagi?) nadanya? sedikit terdengar kesal kali ini.
“Handak e e!” (Mau BAB!) dengan muka polos kebiruan nahan sesuatu yang mau ke luar.

Nyokap gue sigap, segera menyusuri jalan, mengais-ngais rumput-rumput tinggi di hadapannya, seperti mengharap menemukan sesuatu tempat yang disebut sungai. Ketemu, keren nyokap gue, sigap cepat tanggap dan tahu arah. Akhirnya lega juga, muka gue kembali ke warna semula, sawo matang kehitaman -haha. Banyak kelokan yang dilalui saat itu, mungkin gue saat itu harusnya bilang, “mau ke mana kita?” (ala dora), ke hutan! lalu untuk mengetahui jalan mana yang harus kita lalui agar kita tidak tersesat? jadi “katakan peta, katakan peta” (peta). (Sorry bray gue terbawa suasana), gue bersyukur di masa kecil gue nggak ada dora, kalau nggak gue udah nyanyi-nyanyi dan bersua di sepanjang jalan terus berharap menemukan dan menangkap bintang di siang bolong, kan nggak banget tuh.

Akhirnya sampai juga, wajah cantik nyokap tampak berkeringat, bawang putih selonjoran menikmati indahnya hasil setelah melewati perjuangan panjang. Nyokap gue nampak sibuk dengan perkakasnya, saatnya gue bilang I love you mama dan terima kasih Tuhan ternyata dunia ini teramat indah menikmati hembusan sejuknya angin di bawah pepohonan rindang dekat pondokan kecil tempat bernaung, sambil merentangkan tangan kayak rose di kapal titanic. Sayangnya nggak ada jack di belakang gue. Due jomblo saat itu guys. Ya? iya lah fi aduuuh. Gue memejamkan mata, lalu berasa ada yang beda, ada sesuatu yang nyentuh-nyentuh pundak gue.

“Nih Nak, belajar merumput,” (nih nak belajar ‘ngeramput’/berdusta, eh bukan ngerumput maksud gue haha)

Mama menyentuhkan tangannya ke bahu gue sampil ngasih semacam benda pusaka gitu! Sebut saja ‘parang’ (pisau rumput). Bersama dengan itu maka buyarlah kenikmatan gue yang hampir menyatu dengan alam, padahal elemen dalam diri gue hampir sempurna dikuasain, yaitu semu elemen yang ada di bumi, seperti air, tanah, dan udara. Tapi semua berubah saat negara api menyerang -Avatarnyasarweeeeww? Waduh nggak kebayang deh kalau tubuh hitam gue dipenuhin panah biru ke mana-mana gitu, siapa yang mau nikahin gue -maaf curhat. Oke kita kembali kepada rumput, anak manis mau ngerumput dulu ya guys.

Hutan tempat gue berpijak itu namanya hutan DARAT, di sana gue menghabiskan banyak waktu dan bisa menyatu dengan alam (kayak acara di tarangTV sengaja disalahin takut dituntut), (etnik runway, tapi gue nggak pakai koteka kok). Gue berdiri di lahan yang kurang lebih berluas 4 ha, banyak tanaman yang tumbuh subur. Lahannya sengaja diberdayakan, dengan ditanami berbagai macam buah sayuran dan kacang-kacangan. Kami menggantungkan niat pada Tuhan dan beharap alam terus berbaik hati kepada kami dengan selalu menyuguhkan kesuburannya.(buat nyambung hidup coy). Ada sayuran seperti kacang panjang, timun, bayam, buncis, jagung, terong, tomat, cabe, pepaya, rambutan, cempedak, kacang tanah dan lainnya. Tanaman-tanaman itu ditanam secara bergiliran atau dengan sistem bagi lahan.

Kembali kepada suruhan nyokap “belajar merumput.” Gue dan kakak gue bawang putih ngerumput sambil nyanyi-nyanyi, di tangan gue ada ‘parang’ berukuran cukup besar buat tangan mungil gue di waktu itu. “Susu indomilk indomilk indomilk, sehat dan kuat bersama susu indomilk” gue ngerumput sambil berdendang, cuma lagu dari iklan susu itu yang gue bisa. Gue nggak kenal lagu balonku atau pelangi-pelangi bray, gue belum sekolah waktu itu -haha.

Nyokap berjarak agak jauh dari gue dan kakak gue. Kakak gue hari ini jadi macan nggak bertaring. Dia kayak orang mati dua hari (diam kaku) kalau nggak ada kakak pertama atau si bawang merah, bully akan berkurang kalau dia sendirian. Kekuatan mereka akan penuh saat duet di malam bulan purnama (ganteng ganteng serigala) haha. Sesekali bawang pulih ngeledek gue. “Yuy palipi kacang karing kada bisa marumput, yuuuy.” Bawang putih ngeledek kalau gue tuh nggak bisa ngerumput, sambil melet-melet. Dengan perasaan kesal gue sambit dia pakai dedaunan kering di sekitar gue, dengan wajah kesal, sekali lagi dia kayak gitu, bukan daun lagi yang melayang. Parang di tangan gue yang akan melayang -hahahaa (sadis), itu cuma pikiran aja, pikiran yang nggak akan pernah terjadi. Akhirnya gue selesai ngerumput di batas yang ditentukan nyokap gue.

“Mama, hudah imbah, coba lihati bersihnya!” (Mama, udah selesai, coba lihat bersih kan) mata gue berbinar-binar saking bahagia dan bangganya dengan diri gue sendiri. “Uma pintarnya anak mama heh, sini pang Mama melihat!” (Pintarnya anak mama, coba mama lihat), nyokap muji gue, nyokap adalah ibu penyayang yang hampir nggak pernah ngebentak gue. Dia selalu punya cara ajib buat ngebujuk, menyuruh, dan memuji anaknya seperti saat ini. Nyokap gue tahu ilmu psikologi dari mana? -tahu aja deh dia kalau anak nggak boleh dididik dengan bentakan, salut sama nyokap tercinta gue.

“Astaghfirullahaladzim.” Nyokap nyebut dengan wajah syok, sepertinya ada yang salah dengan pekerjaan ikhlas gue. “Ini latikan jagung nak’ae, lain rumput” (ini anak jagung Nak, bukan rumput). Muka gue udah kayak makhluk di duit pecahan kertas Rp. 500 di zaman itu, datar merenung dan polos -haha. Anakan jagung yang baru tumbuh, habis gue babat, gue nggak bisa bedain yang mana jagung yang mana rumput. Yang gue lihat berwarna hijau, gue tebas, gue nggak pilih kasih coy gue mah gitu orangnya. Nyokap nggak marah, dia malah ngejelasin yang benar sama gue. Ya iyalah, muka gue udah ancang-ancang membleh siap menerjunkan air mata. Mana tega nyokap gue ngomel, I love you full mamaaaah (gaya alay tangan melambai).

Akhirnya gue hanya diperbolehkan diam di pondokan, gue bukan tipe kayak DPR (wakil rakyat) juara, maksud gue juara diam juara iya juara hahaha (lagu iwan fals jreng jreng). Selagi raga tak lelah, tangan bisa meraih, kaki mampu berjalan, diam bukan pilihan. Gue milih jalan-jalan ke sungai kecil nan tenang, sambil main-main.
“Jangan bebasa Nak lah!” (jangan basah-basahan) Nyokap teriak ke gue. “Inggih Ma,”

Gue nggak basah-basahan, gue cuma main air, ngambil dedaunan yang agak besar dan batang kayu yang berukuran kecil berbentuk seperti sikat. Gue celup-celup tuh daun sambil ngomong sama diri sendiri. “Sebentar ya, aku nyuci baju dulu, habis ini dijemur, biar kering” (anak alay, gue baru sadar kalau gue itu alay dari kecil) -haha. Habis gue kucek-kucek, gue celup-celup, gue peras, gue mau jemur, eh udah ancur aja tu daun. (Ya iyalah, nyikatnya aja pakai kayu). Gue buang, gue mulai bosan, gue nungging, sok-sok-an mau wudhu ceritanya, eh -byuuuuur. Gue nyebur, kelelep di air cetek. (daratan mana daratan). Basahlah sudah.

Nyokap langsung lari dan ngangkat gue, gue akting nangis biar nggak dimarahin. Nyokap diam aja, lumut-lumut nyangkut-nyangutan dirambut gue (ampuni dirikuh mamah). Lalu nyokap mau jemurin baju gue, tapi gue nggak mau, akhirnya gue yang dijemur nyokap -haha. Jam 11, kita pulang. Baju gue masih agak basah, matahari takut sama gue kayaknya padahal gue berjemur cukup lama, sekitar 10 menit -haha. Pulaang, marilah pulaang, abah di rumah sudah menanti. Kali ini gue memilih berjalan kaki, nyokap nampak lelah jadi gue putuskan buat memanfaatkan kaki mungil gue (sok baik, padahal memang baik -hahaha).

Di rumah. Nyokap antusias menceritakan kejadian hari ini sama bokap atau abah gue, abah gue ngakak nggak jelas. Gue mojok dekat lemari baju (malu bro). Besoknya gue nggak mau ikut ke hutan, gue milih mancing sama bokap sama kedua kakak gue, dan ternyata hari itu lebih mengerikan daripada gue harus ngerumput di hutan. Cukup sampai di sini cerita pendek yang sedikit panjang ini. Semoga kalian para pembaca terhibur, ambil positifnya, masukkan negatifnya ke dalam ransel. Yaaa ayo katakan ransel katakan ransel -haha. Sekian cerita Upi The Explorer dan terima kasih.

Cerpen Karangan: Ulfi
Facebook: Sitti Ulfi Amrullah

Cerita Saatnya Upi The Explorer merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sarcasm is a Custom

Oleh:
Bagi kalian yang bertelinga lebar, apa ada pernah diejek lembeng sebelumnya…? Lembeng dalam artian ini adalah, seseorang yang bertelinga lebar. Di kampungku, orang-orang yang bertelinga lebar adalah mayoritas. Dan

Tarawih Bersama Teman

Oleh:
Pada hari Senin, 27 Juni 2016, saya bersama teman-teman remaja masjid menjaga takjil di masjid sentral perumahan. Kegiatan ini rutin dilakukan ketika akan berbuka puasa. Tetapi pada hari ini,

I’ll Miss you, Miss …

Oleh:
“Miss, kenapa ya saya itu selalu ngerasa risih kerja disana?” tanya seorang perempuan cantik yang duduk disebelahku. Pandangannya tertuju pada sebuah gedung sekolah swasta yang berada tepat di depan

Pengalaman Cinta

Oleh:
Rasa sayang yang dihancurkan begitu saja memang rasanya tidak enak sekali, pahit sekali seperti meminum kopi pahit tanpa gula sedikit pun. Rasanya seperti mimpi, di saat hari kemarin masih

Androidku

Oleh:
Tangan Wini sangat gatal ingin mereset gadget androidnya. Tadi hpnya dibawa untuk dibetulkan, tapi tak bisa. Wajar, ia membetulkannya ke seorang siswa SMK yang mungkin masih belajar. Wini lupa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *