Salam Rindu Ayla

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Covid 19 (Corona), Cerpen Penantian, Cerpen Pengalaman Pribadi
Lolos moderasi pada: 21 July 2021

Baru saja siang tadi aku bertemu teman-temanku tapi rasa rindu sudah membasahi jiwaku sekarang. Tadi, hari terakhir Penilaian Akhir Tahun. Hari terakhir aku bertemu mereka di kelas 8 ini. Aku yakin saat sampai di rumah, aku akan memikirkan teman-teman lagi. Kami akan bertemu pada tahun ajaran baru, 3 pekan lagi dan rasanya lama sekali.

Sekarang aku lebih mengerti arti teman sekolah. Saat di Sekolah Dasar dulu, aku merasa teman sekolah hanyalah mitra dalam mencari ilmu. Tapi sekarang saat kami hanya punya waktu 3 tahun bersama, semua tampak lebih berarti. Dulu sebelum aku memulai tahun pertamaku di SMP, mamaku pernah berkata, “Sekolah di SMP akan terasa lebih singkat lho Ayla.” Tapi aku belum terlalu merasakannya.

Kini aku mengerti, teman sekolah sangat berarti terutama bagiku. Saat aku sedih bagaimanapun keadaannya, ketika berada di tengah hiruk-pikuk kelas, sedihku sirna. Aku tersenyum memandang mereka. Aku tak pernah punya kesempatan untuk sedih di dekat mereka.
Jiwa-jiwa mereka menggugurkan semangat padaku. Membuatku makin menyayangi mereka dan merindu juga.

Hari berganti hari, sampai pada saat aku sudah tak sabar bertemu teman-teman. Tinggal sepekan lagi, semangat! ucapku dalam hati. Namun pada malam itu, salah satu guruku mengumumkan bahwa kegiatan belajar mengajar di sekolah kami akan diadakan secara daring dari 12 Juli sampai tanggal 20 bulan itu. Aku tidak bisa menerimanya. Aku sudah menjalani hari-hari yang panjang di rumah menabung rasa rindu hanya supaya aku segera bertemu teman-temanku.

Harapanku tentang hari pertama kelas 9 yang penuh semangat dan udara segar di sekolah yang akan kuhirup sirna sudah. Bangku terdepan yang akan kududuki, wajah-wajah yang kurindukan dan akan kujumpai sekarang tinggal angan. Karena corona telah merambat cepat. Merajalela di mana-mana. Aku hanya menitikkan gerimis dari mataku setelah membaca pengumuman itu.

Lalu aku menenangkan diriku setelah lima belas menit. Kalau aku bisa sabar dan menjaga kesehatan sampai waktunya, aku akan bertemu teman-teman lagi. Aku akan mendapatkan hal yang aku harapkan walau terlambat. Harapanku hanya satu sekarang, jikalau memang harus Belajar Dari Rumah, aku ingin Tuhan selalu membimbingku dan teman-temanku dalam setiap hembusan napas kami.

Aku berusaha ikhlas menjalani ini. Nyatanya hari pertamaku BDR berjalan dengan lancar. Aku menguatkan diri menjalani hari-hari sunyi sambil menghitung hari.

Di hari ketiga BDR mamaku berkata, “Kayaknya PPKM diperpanjang Ayla, jadi BDR nya juga. Mungkin sampai 6 pekan.” Aku berusaha tidak memikirkannya. Tapi semakin tak memedulikannya, setengah jiwaku semakin percaya. Apalagi saat temanku yang memberitahu.

Aku diombang-ambing perasaan. Setengah diriku berkata, “Aku sangat merindukan mereka, teman-temanku. Aku ingin berasa di dekat mereka. Aku ingin mengukir sejarah yang indah dalam setahun ini. Rinduku bertumbuh setiap harinya. Tanpa bisa kutahan dan tanpa bisa kuobati selama ini.” Dan setengahnya lagi mengatakan, “Kalau tidak di rumah, semua orang di negeri ini akan terjangkit virus. Lalu siapa yang akan menyembuhkan? Kalau aku atau temanku terjangkit, aku juga akan sedih.” Di tengah-tengah suara itu aku bertanya, “Apakah mereka yang kurindukan setiap hari juga merindukanku?”
Aku sedih dengan pertanyaan itu. Aku selalu mudah mengucapkan kalimat “aku merindukanmu” semata-mata karena aku benar-benar merindu. Tapi tak ada yang merindukanmu seperti itu.

Aku ingin mendekatkan diri pada teman-teman terutama pada yang tidak terlalu menyukaiku. Tapi bagaimana? Kapan?
Bayang-bayang koridor kelas yang ramai bergentayangan di benakku. Pohon trembesi di halaman sekolah dan bangku-bangku kelas serta perpustakaan selalu ada dalam pikiranku. Seakan menertawakanku dan bertanya dengan nada mengejek, “Kapan kau akan bertemu semua itu lagi?” Dan, “Entahlah,” jawabku lesu.

Kuharap orang-orang mau bekerja sama mengatasi pandemi ini dan sekolahku bisa dimulai.
Kuharap teman-teman sehat, mengingat dan merindukanku serta kita dapat bertemu lagi obati rasa rindu yang telah menjamur.

Salam rindu,
Ayla

Cerpen Karangan: Luna Nariswari
ig: vincen_luna.mn

Cerpen Salam Rindu Ayla merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jatuh Cintalah di Usia Muda

Oleh:
Jatuh cinta memang indah dan bahagia pastinya, saya merasa tertarik dengan kisah saya sendiri dari dulu memenag saya ingin sekali menuliskan kisah saya, tapi sayang tidak ada keberanian saya

My Online Friend

Oleh:
Hay. Aku ingin cerita. Sesuatu yang, ya aku ingin mengabadikan setiap kisah bersama mereka. Seseorang kau sebut sahabat. Bahkan saat kau merasa sendiri, mereka ada walau hanya via telepon.

1000 Bangau Kertas

Oleh:
“Juki, kau tahu apa itu Senbazuru?” tanyaku pada Yuki. Saat kami berjalan menuju halte. Pohon-pohon mahoni dan munggur tumbuh rindang dan meneduhkan di sisi kanan kiri jalan kecil itu.

Adik Yang Entah Dimana

Oleh:
Namaku shanty. Aku lahir di kota tangerang. Ketika usiaku 3 tahun, ayah dan ibuku bercerai. Aku tinggal bersama ibuku sampai usiaku 5 tahun. Usai merayakan ultah yang kelima, ayah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *