Sang Bendahara Kelas 9 dan Fotocopy

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Pengalaman Pribadi, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 22 January 2019

Aku ini bernama Cea, gadis yang tak pernah dihargai. Aku ini merasa hidupku ini hanya dimanfaatkan saja oleh teman-temanku. Aku hanya mempunyai beberapa teman dekat yang tak pernah memanfaatkanku. Mereka adalah Levia, Tara, dan Arya. Mereka selalu menemani diriku.

Kini, diriku sudah kelas 9 di sebuah SMP swasta. Aku kelas 9B, Levia kelas 9A, Tara kelas 7A, dan Arya kelas 7B. Memang, mereka sering pulang naik angkot bersamaku. Ya begitulah nasib anak angkot.

Pernah sewaktu pertama kali masuk kelas 9, aku mengalami beberapa kejadian yang sangat tidak pernah aku bayangkan. Wali kelasku bernama bu Rima. Bayangkan jika wali kelas kalian adalah guru Matematika yang termasuk guru killer. Menyeramkan bukan?

Yang kedua, aku tiba-tiba ditunjuk oleh Wella untuk menjadi kandidat pengurus kelas. Aku sudah berusaha keras, namun bu Rima tetap saja memilih aku untuk menjadi kandidat. ‘Kan nyebelin banget sih? Yang ketiga, aku akhirnya menjadi bendahara.

Yang aku sesalkan di hari itu adalah, kenapa aku waktu itu masuk sekolah? Kenapa aku harus menjadi bendahara kelas? Dan apakah aku bisa melaksanakannya sedangkan aku tidak terlalu akrab dengan teman sekelasku? Ya sudah, aku laksanakan saja.

Beberapa hari kemudian…
Aku mendapat tugas untuk memfotocopy buku karena jumlah buku terbatas. Sepulang sekolah, aku pun memfotocopy di dekat rumahku. Itu pun bayar pake uang pribadiku. Mamaku sampai memarahiku.

Keesokan harinya, aku hanya dapat menjual 3 buah buku. Para murid lelaki kelasku malah mengejekku.
“Alah, fotocopy apaan sih? Nggak jelas deng. Buang duit aja!” sindir Dono.

Aku pun menangis sedih karena merasa mereka tidak menghargaiku. Sakit tahu nggak? Udah difotocopyin, dibawain jauh-jauh dari rumahku, nggak tahu terima kasih. Setelah pulang, aku pun merasa stress berat. Untung saja, kakak angkatku menghiburku.

Keesokan harinya lagi, banyak yang membeli bukuku. Namun, aku masih mendengar ocehan mereka tentang buku ini.
“Kok fotocopyannya nggak jelas sih?” tanya Deta.
“Iya ya.” ucap Wella.
“Masih untung mau difotocopyin!” batinku.

Beberapa hari kemudian…
“Kalo mau fotocopy, pinjem satu aja. Siapa yang mau bertanggung jawab?” tanya pak Wityo.
“Jangan aku lagi!!!” teriakku secara langsung.

Cerpen Karangan: Dhycia DhyneCia
Blog / Facebook: Dhycia DhyneCia
Hai. Ini adalah pengalaman pribadi dari temanku yang sering aku tulis cerita tentangnya. Namun, nama-namanya aku ganti semua. Jadi, tidak ada nama aslinya.

Cerpen Sang Bendahara Kelas 9 dan Fotocopy merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tak Disangka

Oleh:
Namaku Felicia. Teman-temanku biasa memanggilku Feli. Aku duduk di bangku SMA kelas 10, atau kelas X. Aku juga sangat menyukai musik sejak aku kecil. Hobiku adalah bermain musik dan

Seruan Adzan Pemanggil Cinta

Oleh:
Kerumunan siswa dan siswi yang berjalan menuju mushola sekolah SMAN 2 Batu sangkar untuk menunaikan sholat berjamaah siang itu membuatku gerah. Akhirnya aku memutuskan untuk duduk di salah satu

Miss 5R

Oleh:
‘Romantika Seorang Teman’ Udara pagi begitu menyegarkan, sinar mentari menyembul dari langit biru. Susana seperti ini adalah waktu para siswa berangkat sekolah untuk menimba ilmu. Ralat, kecuali hari minggu.

Kisah Sedih Di Sekolah

Oleh:
Saat pertama kali ku masuk sekolah, setelah lulusan smp 2 bulan yang lalu alhamdulilah aku lulus dari smp dan akhirnya aku masuk smu, rasa senang pertama kali masuk smu,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

3 responses to “Sang Bendahara Kelas 9 dan Fotocopy”

  1. terdapat kejanggalan antara paragraf tiga dan empat, di paragraf ketiga masih menjelaskan tentang bu Rima.
    Kemudian di paragraf keempat tiba-tiba langsung masuk kalimat “yang kedua…” dan ada tokoh Wella.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *