Cintaku Untukmu, Zia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sejati, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 13 November 2017

Malam ini hujan begitu derasnya mengguyur bumi. Suara gemuruh yang terkadang diselingi sambaran kilat pun tak kunjung mereda. Aku duduk terpaku menatap seraut wajah indah yang terselip dalam dompet usangku. Senyum yang teramat manis itu selalu bisa menyejukkan hatiku. Dia telah merebut tiap detak dari jantungku. Aku memang mencintainya. Tulus. Tanpa ternodai keinginan birahi untuk sekedar mengecup bibir tipisnya atau merengkuh tubuh indahnya. Aku hanya ingin mencintainya saja.

Kututup dompetku lalu kubaringkan tubuhku. Mataku menerawang ke atas langit-langit kamar kontrakanku. Hidup sendiri memang tak enak. Tapi aku tak ada pilihan lain. Selepas kepergian kedua orangtuaku, tak ada lagi yang bisa kupertahankan. Berbekal peninggalan mereka, kuputuskan hijrah ke kota. Mencoba bekerja dan syukurlah bisa kuliah seperti harapan mendiang orangtuaku. Siapa sangka itu pula yang mempertemukanku dengan gadis pemilik senyum terindah. Zivana Angelica. Zia, teman sekampus yang berujung menjadi sahabatku. Hanya saja dia tak tahu kalau aku menganggapnya lebih dari itu.

Tok! Tok!
Kudengar pintu rumah kontrakanku diketuk. Aku bangkit, melangkah tergesa karena bunyinya semakin keras.
“Zia..?!”
Aku terbelalak. Gadis yang baru saja memenuhi isi kepalaku kini muncul di depan pintuku. Bajunya basah kuyup. Zia langsung menerjang masuk dan duduk di kursi kayu di ruang tamuku.

“Boleh pinjam bajunya, Ren? Dingin banget ini.” katanya menggigil.
“Oh, iya.” aku segera tersadar dari sekian detik lamunanku. Untung saja Zia tak menyadari aku yang tengah menatapnya.
Setelah berganti baju, Zia duduk di sebelahku sambil menyeruput teh panas yang kubuat untuknya. Kulirik jam dinding. Jam sembilan. Apa gerangan yang membawanya kemari malam-malam begini?

“Halo?! Rendi..?”
Zia mengibaskan tangannya di depan wajahku. Aku terkejut. Huft! Sekarang aku ketahuan melamun.
“Ngelamunin apaan sih?” tanyanya.
Aku menggeleng.
“Aku malam ini boleh nginep sini ya, Ren?”
Aku terkejut dan langsung menatapnya. “Kamu kenapa?” tanyaku hati-hati.
Zia diam. Lalu menatapku sejenak. Tiba-tiba matanya berkaca-kaca.
“Zia, ada apa?” tanyaku khawatir.
“Rendi…” Zia justru terisak-isak di lenganku.
Aku bingung tak tahu harus bagaimana. Apa yang terjadi padanya? Tak tahan lagi, kubelai lembut rambutnya yang masih basah.

“Ren, aku hamil…”
Aku terhenyak. Seakan ribuan pisau menusuk tepat ke jantungku. Tanpa sadar aku mendorong tubuhnya dan langsung bangkit. Zia terkejut dan menarikku kembali duduk. Aku hanya menatapnya tak percaya.
“Aku kabur dari rumah.”
Kalimat berikutnya dari mulut Zia membuatku semakin terkejut. Kenapa gadis yang kucintai jadi begini?
“Aku takut Papa akan murka, Ren. Aku nggak berani bilang.”
“Dan cowok brengsek itu?” tanyaku dengan sorot mata tajam.
Zia makin terisak. “Hans menghilang begitu saja. Aku nggak bisa menghubunginya.”
Rahangku mengeras. “Kamu udah cari ke rumahnya?”
“Rumahnya kosong. Kata pembantunya, Hans nyusul ortunya ke luar negeri.”
Aku mengepalkan tanganku. “Itulah kenapa aku nggak pernah suka kamu berhubungan sama dia, Zi. Hans itu brengsek! Dia cuma bermanis-manis di depan kamu biar kamu takluk sama dia.”
“Maafin aku, Ren. Selama ini aku nggak dengerin kamu.” ucapnya menyesal dengan tangis yang semakin menjadi.
Mataku redup menatap wajahnya. Kuelus perlahan bahunya.
“Ya udah, kamu istirahat dulu. Besok kita bicarain lagi. Untuk sementara kamu di sini dulu, jangan ke mana-mana. Nggak usah ke kampus.”
Zia mengangguk. “Makasih, Ren. Kamu memang sahabat yang baik.”

Aku tersenyum getir. Tahukah kamu, Zia? Hatiku sakit mendengar kesucian martabatmu telah dinodai si brengsek itu. Hatiku sakit melihat dirimu tercampakkan seperti ini. Zia, ingin rasanya aku merengkuhmu untuk menghapus kepedihanmu.

Pukul enam pagi. Kutengok kamarku telah rapi. Meja makanku pun telah terhidang nasi putih dan telur dadar. Zia keluar dari kamar mandi dan menyapaku. Wajahnya segar meski kulihat masih nampak bengkak di matanya.
“Zi, nanti sore sepulang aku kerja, kita ke dokter ya buat periksa kandungan kamu.” kataku di sela-sela sarapan.
Zia tampak kaget. “Ke dokter?”
Aku tersenyum. “Biar gimanapun kandunganmu harus dijaga. Kamu belum pernah periksa kan?”
“Kamu apa nggak kuliah nanti sore?”
“Hari ini aku nggak ada kelas kok. Lagian tinggal skripsi ini.”
“Tapi aku malu, Ren.” Zia menunduk.
“Kan ada aku, Zi.” kataku berusaha menenangkannya.

Akhirnya Zia setuju dan sorenya sepulang kerja aku mengantarnya ke dokter. Rupanya kandungan Zia sudah jalan delapan minggu. Sebentar lagi perutnya pasti akan kelihatan. Dan aku pun harus membujuk Zia agar mau berterus terang pada Papanya.
“Pasti Papamu nyariin, Zi. Ayolah, pulang. Nanti aku bantu bicara sama Papamu.” kataku membujuknya.
“Papa akan marah besar, Ren. Aku takut. Papa pasti shock.” Zia bersikeras tak mau pulang.
“Aku akan bertanggung jawab.”
Zia menatapku. “Maksud kamu?”
“Aku akan menikahi kamu.” ucapku pelan.
Zia terperanjat, lalu menggeleng cepat.
“Nggak, Ren! Buat apa kamu lakukan itu?”
“Zi, anakmu butuh seorang ayah.”
“Dengan ngorbanin kamu? Nggak, Rendi! Aku ini gadis kotor. Jangan tutupi aibku dengan kebaikanmu.”
Kulihat mata Zia berkaca-kaca.
“Aku nggak mengorbankan diri. Aku hanya ingin membantu sahabatku. Apa itu salah, Zi?” tanyaku.
Zia justru terisak. “Jangan, Ren..”
“Kita akan menemui Papamu, dan aku akan bertanggung jawab atas kehamilanmu. Jangan pernah katakan pada Papamu atau siapapun kalau anak dalam kandunganmu itu bukan anakku. Hanya kita yang tau hal ini, Zia. Kali ini kumohon dengarkan aku.”
Zia terus menangis menatapku. Entah apa yang ada di pikirannya. Namun pelan-pelan kulihat dia menganggukkan kepalanya.

Papa Zia begitu murka saat kami mengaku kalau Zia kini tengah mengandung anakku. Zia dimarahi habis-habisan. Aku pun sempat kena bogem mentah dari papanya. Kami diam saja tak berani melawan, namun kulihat Zia menangis sesal saat melihatku dipukuli papanya.
“Saya kemari untuk bertanggung jawab, Om. Saya akan menikahi Zia.” ujarku disela pukulan papanya yang semakin membabi buta.
Tiba-tiba Papa Zia memegang dadanya dan kesakitan. Aku dan Zia sama-sama terkejut.
“Papa… Ren, jantung Papa kumat!” seru Zia.
Aku kaget. Sungguh aku tak tahu kalau papanya punya riwayat penyakit jantung. Kalau tahu, mungkin aku takkan bertindak segegabah ini.

Kami langsung membawa papa Zia ke rumah sakit. Zia menangis di pelukanku. Dia sungguh merasa berdosa pada papanya. Tak lama dokter keluar dan mengatakan kalau papa Zia ingin bertemu kami berdua.
Zia mencium tangan papanya sambil menangis. Papa Zia menatap ke arahku. Aku yang semula hanya berdiri di samping pintu, kemudian mendekat. Sepertinya beliau ingin bicara padaku. Aku menundukkan tubuhku lebih mendekat.
“Jaga, Zia.. Jaga cucuku..”
Aku menatap Zia yang semakin terisak. Saat itu juga aku tahu apa yang harus kulakukan.
“Zia, kita menikah sekarang. Di hadapan Papamu.”
Zia terkejut. Aku hanya mengangguk meyakinkannya.

Saat itu juga, aku mempersiapkan semuanya sementara Zia menunggui papanya di rumah sakit. Kucari penghulu, kuhubungi seorang teman lelakiku dan juga asisten papa Zia di restoran milik beliau untuk menjadi saksi. Kusiapkan pula baju panjang dan kerudung untuk Zia. Akhirnya pernikahan sederhana itu bisa terlaksana dengan papa Zia sebagai wali nikahnya. Dan setelah itu… tangis Zia pun tak tertahankan lagi melihat orang yang disayanginya pergi untuk selamanya.

Sepeninggal papa Zia, kami berdua tinggal di rumah Zia. Aku mengejar target skripsiku yang tinggal sedikit lagi sementara Zia meneruskan usaha restoran papanya. Zia tak mau kembali kuliah, dia terlanjur malu dengan keadaannya. Perut Zia makin lama makin membuncit, dan entahlah aku sangat suka melihat perut buncitnya. Ingin rasanya aku membelainya, namun aku tak pernah berani melakukannya kalau Zia tak memintaku memegang perutnya. Aku sama sekali tak berani menyentuh Zia. Namun setiap tengah malam kusempatkan diri menegok ke kamarnya untuk melihat keadaannya, mengingat pada awal-awal kehamilannya dia sering terjaga tiap tengah malam. Kami memang tidur terpisah. Zia di kamarnya sendiri, dan aku tidur di kamar tamu depan. Namun aku bahagia selama ini bisa menjaganya. Siapa sangka gadis yang kuimpikan kini telah menjadi istriku, walau aku tahu pernikahan ini bukan menjadi keinginannya.
Andai kamu tahu, Zia… semakin lama semakin rasa ini tumbuh untukmu.

“Rendi…!”
Teriakan Zia mengejutkan aku yang tengah belajar untuk menghadapi sidang skripsiku besok pagi. Aku langsung bangkit dan berlari ke kamarnya.
“Kenapa, Zi?” tanyaku panik saat kulihat Zia meringis kesakitan sambil memegang perutnya.
“Ren, perutku sakit banget.. Aduh! Mungkin aku mau lahiran..”
“Apa??” aku semakin panik. Wajahku memucat karena bingung.
“Ren.. Jangan panik.. Kita ke rumah sakit..” ujar Zia.
“Oh iya!”

Aku langsung tergopoh-gopoh menyiapkan keperluan Zia. Dia langsung kupapah menuju mobilnya. Sepanjang jalan aku panik sehingga Zia berusaha menenangkanku sambil meringis menahan sakit di perutnya.
“Jangan ngebut, Ren.. Gelap..” Zia berulang kali mengingatkanku.
Aku langsung berteriak memanggil dokter saat sampai di rumah sakit. Zia pun langsung ditangani. Seorang perawat setengah baya mencoba menenangkanku.
“Anak pertama ya, Pak? Jangan panik begitu. Harus kuat karena sewaktu-waktu istri Anda akan membutuhkan Anda.”
Aku hanya mengangguk saja tanpa bisa meredam gejolak di hatiku.

“Bapak Rendi? Istri Anda ingin bicara.”
Aku langsung menerjang masuk ke ruang bersalin. Kulihat Zia tersenyum. Langsung kugenggam tangannya.
“Ren, kamu pulang aja. Besok kan kamu sidang skripsi pagi.”
Aku menggeleng. Mana mungkin aku meninggalkannya?
“Aku nggak bisa ninggalin kamu, Zi. Sidangnya bisa diundur lain hari.”
“Rendi, dengar! Aku mau kamu lulus, Ren. Kamu harus datang buat sidang. Aku akan nunggu. Bayinya belum mau keluar kok.”
Zia berusaha tersenyum meyakinkanku.
“Aku nggak maafin diriku sendiri kalau kamu sampai batal sidang skripsi.” tandasnya.
Aku menatapnya khawatir, lalu mengangguk. “Aku akan tetap sidang. Tapi aku nggak akan pulang sekarang.”
“Ren..”
“Besok pagi-pagi aku pulang. Dan setelah sidang aku akan kemari.” tegasku.
Zia tersenyum. “Makasih, Ren. Aku nggak tau apa jadinya hidupku kalau nggak ada kamu.”
Aku sangat mencintaimu, Zia. Apapun pasti kulakukan untukmu, walau kau tak pernah tau isi hatiku.

Aku bergegas ke rumah sakit seusai sidang skripsi. Sepanjang sidang aku tak bisa konsentrasi karena memikirkan Zia, namun aku tak ingin mengecewakannya, karena itu aku berusaha sebaik mungkin menjawab pertanyaan para dosen penguji.

“Suami Ibu Zivana?” tanya seorang perawat saat aku hendak ke ruangan tempat Zia dirawat.
“Iya, Sus. Istri saya kenapa, Sus?” tanyaku panik.
“Tenang, Pak. Ibu Zivana masih di ruang persalinan. Tadi Ibu Zivana meminta saya menyampaikan kalau Bapak sudah datang. Selamat, Pak.. putra Bapak dan ibunya alhamdulillah sehat.”
Aku terperangah. Tak bisa kugambarkan senangnya perasaanku mendengar kalimat tadi. “Anak saya laki-laki?”
Perawat itu mengangguk. “Nanti kalau istri Anda sudah dipindah ke ruang perawatan, Bapak bisa menemuinya.”
Zia tersenyum menatapku yang tengah menghampirinya. Aku langsung menggenggam tangannya.

“Kamu udah lihat anakku, Ren?” tanyanya.
“Ya. Anak kita.. wajahnya mirip kamu, tapi ganteng.” aku sengaja menyebut ‘anak kita’ karena dia telah kuanggap anakku sendiri.
Zia menitikkan air matanya. “Terima kasih kamu mau menganggapnya anakmu juga, Ren.”
Kuberanikan diri menghapus air mata di wajah Zia.
“Istriku yang cantik nggak boleh nangis, kan udah jadi mama sekarang.”
Zia tertawa kecil mendengar kelakarku.

“Gimana sidang kamu, Ren?”
“Berkat doamu, aku lulus, Zia.”
“Selamat ya, Ren.”
Aku mengangguk. “Kamu mau kasih nama siapa jagoan kecil kita?”
Zia tersenyum. “Kamu aja, Ren.”
Aku berpikir sejenak. “Rizki Ziadi Putra. Anugerah ini putra Zia dan Rendi.” ucapku seakan ingin menegaskan kalau anak itu adalah buah cinta kami.
Zia tertawa kecil. “Kamu pintar, Ren.”
“Sekarang kebahagiaan kita sudah lengkap.” aku mempererat genggamanku di tangan Zia.

Tanpa terasa tiga tahun sudah aku hidup bersama Zia. Hidup kami semakin mapan. Karirku makin merangkak, dan bisnis restoran yang dikelola Zia pun berkembang. Rizki tumbuh menjadi anak yang sehat dan lincah. Wajahnya begitu mirip Zia. Namun aku tak bisa memungkiri ketika melihat mata Rizki, aku bagaikan melihat mata Hans yang begitu hidup. Rizki memiliki mata ayah kandungnya. Entahlah apa Zia merasakan hal yang sama denganku. Tapi aku berusaha untuk tidak mengubah apapun. Rizki adalah anak kami. Dan aku menyayanginya seperti menyayangi ibunya.

“Kiki makan sama Mama yuk. Biar Papa mandi dulu.” Zia membujuk Rizki yang sedari aku pulang kerja tadi bergelayut di lenganku.
“Papaa…” serunya semakin memeluk lenganku. Aku sendiri tak mengerti kenapa anak itu dekat sekali denganku.
“Ki.. Papa mandi dulu ya, bau asem nih.. Coba Kiki cium kalau nggak percaya.” bujukku.
Rizki mengendus bajuku lalu menutup hidungnya.
“Mamaa..” serunya berlari kecil ke arah Zia.
“Heran deh, selalu nurut kalau sama kamu.” komentar Zia.
Aku hanya tertawa kecil lalu menuju kamar.

Sejak Rizki berusia satu tahun, aku benar-benar telah hijrah sekamar dengan Zia. Awalnya karena Rizki selalu rewel kalau aku tak menidurkannya, dan akhirnya Zia memintaku untuk pindah ke kamarnya saja. Tapi bukan berarti itu menjadikanku suami seutuhnya. Aku tetap saja tak pernah menyentuh Zia. Paling berani hanya cium pipi atau cium kening saja. Mungkin aku memang bodoh, selama tiga tahun hidup bersama, tak kubiarkan Zia tahu sedikitpun perasaanku padanya yang sebenarnya. Tapi aku tetap bahagia. Hidupku kini terasa lengkap. Dan kurasa Zia pun bahagia hidup bersamaku, bersama sahabatnya. Zia lebih sering menggunakan kata sahabat daripada suami untuk menyebutku.

“Zia, kamu nggak apa-apa?” tanyaku saat sampai di rumah sakit. Tadi Zia menghubungiku kalau dia keserempet mobil setelah pulang belanja.
Zia mengangguk. Namun aku melihat wajahnya yang mendung. Zia menarik Rizki dari gendonganku dan langsung memeluknya.
“Zia, kamu kenapa?” tanyaku bingung.
“Zi…”
Kudengar sebuah suara berat memanggil. Aku menoleh ke belakang. Tiba-tiba kurasakan ratusan pisau menghujamku. Wajahku mengeras seketika. Dia pun tampak terkejut melihatku.
“Rendi?” matanya kembali menatap Zia. “Tadi aku yang bawa Zia kemari. Kalian berdua sudah menikah?” tanyanya menyelidik.
“Ya, Hans. Kami sudah menikah tiga tahun.” sahutku.
“Apa??”
Hans begitu terkejut. Dia kembali menatap Zia. Tiba-tiba dia mendekati Zia dan menatap Rizki. Hans mendadak mundur.
“Berapa usia anak ini?” tanyanya.
Aku dan Zia sama-sama terkejut. Mungkinkah Hans menyadari sesuatu?
“Dia bukan anakmu kan?” Hans menatapku tajam.
“Dia anakku. Buah cintaku dengan Zia.” jawabku berusaha tenang.
“Berapa usia anakmu, Zia?”
“Dua tahun.” jawab Zia cepat. Kulihat Zia berusaha menutupi kegugupannya.
“Dan kenapa mata anak kalian bisa mirip mataku?!” Hans memandang kami bergantian.
“Ren, ayo kita pulang.” ujar Zia.
Hans menghadang kami.

“Ok! Kita bicara berdua.” tegasku. Kuminta Zia ke mobil duluan sementara aku dan Hans bicara.
“Jadi dia memang anakku kan?” Hans membuka kata.
“Kamu ninggalin Zia, Hans. Kamu nggak tau betapa menderitanya dia menghadapi semua sendiri.” kataku datar.
“Kamu salah kalau menganggapku Hans yang dulu. Zia berbeda. Aku sama sekali nggak berniat mempermainkannya. Ayahku sekarat. Mau tak mau aku harus menyusul orangtuaku.”
“Itu pembelaanmu?”
Hans menggeleng. “Aku nggak berani berpamitan sama Zia. Segalanya begitu cepat terjadi. Ayahku meninggal dan aku harus mengurusi bisnisnya. Aku tak bisa memikirkan hal lain. Sumpah, Ren! Aku nggak berpikir jauh kalau Zia ternyata hamil akibat perbuatanku.”
“Simpan saja sumpahmu! Jangan ganggu keluargaku!”
Jujur saja aku sangat takut kalau kehadiran Hans akan mengusik Zia dan Rizki.
“Aku masih mencintainya, Ren.”
Aku mendadak geram mendengar kata-kata itu.
“Dan aku ingin ketemu anakku.”
“Jangan pernah katakan dia anakmu!” seruku.
“Hei, dia darah dagingku!” Hans tak mau kalah.
“Terserah! Tapi selama ini akulah ayahnya.”
“Zia mungkin memang telah jadi milikmu, tapi anaknya sama sekali bukan milikmu. Kamu pikir aku nggak tau saat kuliah dulu kamu sudah menyukainya kan? Jadi sekarang kamu ketakutan aku muncul dan mungkin saja bisa mengambil apa yang seharusnya menjadi hakku.”
Tanganku terkepal. Namun aku masih berusaha menahan diri untuk tak membungkam mulut lelaki di hadapanku ini.
“Kuperingatkan sekali lagi, Hans. Jangan ganggu keluargaku!”
“Kita pakai cara masing-masing. Dan kamu nggak berhak melarangku!”
Aku tak menanggapinya lagi. Aku langsung meninggalkan lelaki itu dan menuju mobil. Zia pasti gelisah menungguku.

“Ren, kamu baik-baik aja?” tanya Zia panik saat melihat wajahku yang menahan amarah.
“Ren…” Zia mengelus lenganku.
Kulirik Rizki yang tidur di pangkuan Zia.
“Zi, apa kamu bahagia hidup bersamaku?” tanyaku lirih.
“Kenapa kamu tanyakan itu, Ren? Apa yang Hans bilang sama kamu?” Zia mengguncang lenganku.
Aku pun menceritakan pembicaraan Hans denganku. Tidak semuanya. Hanya alasan Hans menghilang saat itu dan keinginannya untuk bertemu Rizki.
“Kamu sudah tau kan? Jadi mungkin kini kamu nggak sepenuhnya menyalahkan dia lagi.”
Kulihat Zia terdiam. Entahlah. Mungkin dia bimbang.
“Jujurlah, Zia.. Kamu masih menyimpan perasaan padanya?”
Zia hanya mendongak menatapku kemudian mengelus rambut Rizki. Aku menanyakan pertanyaan bodoh yang mungkin sudah kuketahui jawabannya. Hans cinta pertama Zia. Dan darah lelaki itu mengalir dalam tubuh bocah kecil di pangkuan Zia. Mana mungkin perasaan cintanya bisa lenyap semudah membalikkan telapak tangan? Atau mungkinkah kini aku harus bersiap menerima kekalahanku yang mungkin takkan pernah bisa memiliki hati Zia sekalipun raganya bersamaku?

Hans membuktikan ucapannya. Tiba-tiba saja dia telah muncul di rumah kami. Entah kenapa aku merasa tak punya hak menghalanginya karena Zia justru diam saja dengan kehadiran Hans.
Zia memang terlihat berat hati saat Hans meminta menggendong Rizki, namun dia tetap mengijinkan. Tahukah dirimu, Zi? Aku sebenarnya tak rela melihat Rizki dalam pelukan Hans, namun aku tak bisa berbuat apa-apa.
“Papaa.. Papaa…”
Tiba-tiba kudengar seruan Rizki disusul kemudian isaknya. Aku menghampiri mereka, namun aku sendiri tak enak mengambil Rizki dari Hans walau kulihat bocah itu meronta dan mengacungkan kedua tangannya padaku.
Hans tampak tak senang melihatku. Namun Zia segera meraih Rizki dari Hans dan memberikannya padaku. Aku langsung mengelus rambut Rizki dan isaknya perlahan berhenti. Kurasakan tangan mungilnya begitu erat memeluk leherku.
“Kuharap kamu bisa memberiku kesempatan untuk mengenal darah dagingku.” Hans menatapku tajam sebelum pergi.
Zia memandangku penuh sesal. “Maaf, Ren.. aku nggak mungkin melarang Hans. Bagaimanapun Rizki adalah….”
“Ya, aku tau.” potongku.
Aku tahu Hans adalah ayah kandung anakmu, Zia. Tapi tahukah kau siapa aku bagi anakmu?

Hans semakin sering menemui Zia dan Rizki. Entah apa sebenarnya maksud lelaki itu. Benarkah hanya sekedar membagi kasih sayang pada darah dagingnya? Atau juga untuk mendekati Zia?
“Ren, Hans udah minta maaf.” kata Zia suatu malam setelah menidurkan Rizki.
Tanpa Zia bicara lebih lanjut aku sudah tahu kalau dia pasti memaafkan lelaki itu.
“Dia masih mencintaimu.” ucapku menahan ketidakrelaan dalam hati.
“Dia juga sudah bilang.”
“Dan kamu?” pancingku.
Zia menatapku. “Kamu takut aku balik sama dia?”
Pertanyaan itu sebenarnya mudah bagiku, namun suaraku jelas takkan mampu keluar untuk menjawabnya.
Zia meraih tanganku.
“Setelah apa yang kita lalui bersama, kamu pikir aku akan meninggalkanmu? Setelah semua pengorbanan yang kamu lakukan, apa bisa semudah itu aku pergi darimu?”
Jantungku terasa berdarah. Jadi ini karena balas budi? Apakah hanya itu arti kebersamaan kita bagimu, Zia?
“Aku takkan menghalangi apa yang menjadi kebahagiaanmu.” ucapku datar.
“Rizki adalah kebahagiaanku. Dan aku bisa lihat bahagianya Rizki saat memanggilmu Papa.”
Aku tau Rizki bahagia denganku, Zia.. tapi apakah kau begitu? Bisikku dalam hati.
“Kamu tau kan Hans nggak akan nyerah?” tanyaku.
“Aku nggak tau apa Hans tega merenggut kebahagiaan darah dagingnya sendiri..” ujarnya lirih.
Aku memeluk bahu Zia.
“Sekalipun tetap bersamaku, suatu saat nanti Rizki pasti akan tau kalau aku bukan ayah kandungnya.”
Zia mendongakkan wajahnya untuk menatapku. Matanya yang bening begitu sayu penuh kegusaran. Zia, aku begitu takut kehilanganmu dan juga Rizki.. Entah keberanian dari mana tanpa sadar aku telah menyentuh bibir tipisnya. Menyesap kelembutannya.
“Ren..?”
“Maaf… Maafkan aku, Zi.. aku khilaf..” kataku segera bangkit dari ranjang.
“Emm.. Rizki udah tidur. Aku mau lanjutin kerjaan kantor lagi. Kamu tidur duluan aja.” Aku berusaha menutupi kegugupanku.

“Kumohon jangan usik keluargaku, Hans.. Aku sangat mencintai Zia dan Rizki. Aku tau dia darah dagingmu, tapi aku menyayanginya seperti anakku sendiri. Kumohon, Hans.. Biarkan kami membuka lembaran hidup kami. Kamu boleh menemui Rizki, tapi jangan ambil dia dariku. Aku janji, suatu saat nanti dia akan tau kamulah ayah kandungnya.”
Kini aku berdiri di hadapan Hans, merendahkan diri. Aku sudah berpikir matang-matang. Aku harus mempertahankan keluargaku. Apapun masa lalu Zia, aku sudah menikahinya dan dia adalah tanggung jawabku.
Hans terdiam menatapku.
“Sudah kamu tanyakan pada Zia apa dia juga mencintaimu?”
“Hans, kumohon.. Relakan Zia.. Kami baik-baik sebelum kehadiranmu.”
“Kamu pikir aku akan melepaskan mereka untukmu? Rendi, pikir baik-baik sebelum bicara denganku.”
Hans tersenyum kecut lalu meninggalkanku.

Plaakk!
Aku memegang sudut bibirku. Zia menatapku penuh amarah.
“Hans sudah cerita semuanya! Buat apa kamu mengemis sama Hans? Bodoh! Kenapa kamu lakukan itu, Ren?!” seru Zia sambil terisak.
Aku hanya terdiam.
“Sudah kubilang aku nggak akan ninggalin kamu!”
“Aku nggak perlu balas budimu.” jawabku datar.
“Siapa yang balas budi? Aku menyayangimu, Ren. Kamu satu-satunya orang yang bisa mengerti aku.”
“Ya. Aku sahabatmu yang paling baik kan?” tanyaku dengan sorot mata tajam.
Zia semakin terisak. “Lebih dari sahabat, Rendi… Aku menyayangi kebaikanmu. Aku menyayangi perhatianmu. Aku menyayangi suamiku lebih dari sekedar sahabat… Aku bisa belajar mencintai kamu…”
Aku tersentak. “Zia.. kamu…”
Zia langsung memelukku. “Katakan kamu mencintaiku, Ren! Kenapa kamu nggak pernah bilang? Kenapa aku harus tau dari mulut orang lain?”
Aku membalas pelukan Zia. “Sejak dulu aku mencintaimu, Zi.. Sangat mencintaimu..”
Entahlah. Hatiku begitu lega setelah mengatakan perasaanku yang sebenarnya.

“Kita buka lembaran hidup kita yang baru, Ren?” tanyanya setelah melepas pelukanku.
“Hans?” tanyaku gusar.
“Hans akan lebih sering di luar negeri mengurus bisnisnya. Dia hanya minta sesekali diijinkan untuk menemui Rizki.”
“Aku bahkan mengizinkannya menyayangi Rizki. Aku takkan bisa mengingkari darahnya yang mengalir di tubuh Rizki. Hans tetaplah ayah kandungnya.”
“Dan kamu juga ayah yang sangat disayanginya.” ucap Zia tersenyum.
“Papaa…” Rizki berlari kecil dan langsung memeluk kakiku. Aku langsung membungkuk dan menggendongnya. Rizki memeluk leherku dengan erat.
“Lihat sendiri kan? Aku saja kalah denganmu.” komentar Zia.
Tiba-tiba Rizki mencium pipiku.
“Mama juga dong, sayang.” pintaku.
Rizki pun maju dan mencium pipi kanan Zia. Begitu Rizki mundur aku buru-buru mengecup pipi kirinya.
“Ih, Papanya nggak mau kalah!” seru Zia.
“Malam ini kita bikin adik buat Rizki yuk?” godaku.
Zia melotot lalu mencubit lenganku. Kami pun tertawa bersama.

Mungkin Zia bilang pengorbananku terlalu banyak untuknya. Tapi sesungguhnya aku tidak berkorban, Zia. Aku hanya mencintaimu. Itu saja yang kutahu.

Tamat

Cerpen Karangan: Taniya Naya
Facebook: facebook.com/taniya.naya
Taniya Naya adalah nama penaku

Cerpen Cintaku Untukmu, Zia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku Akan Menjaga Mata Ini

Oleh:
Pagi yang cerah matahari bersinar menerangi kota jakarta yang padat dengan berbagai kendaraan salah satunya adalah Bryant dan Callysta mereka adalah sepasang kekasih yang bersekolah di SMA yang sama,

Mimpi Buruk dan Zombi

Oleh:
Cerita ini sesuai dengan mimpiku pada suatu malam. Jalan ceritanya hampir sama seperti halnya ‘HIGH SCHOOL OF THE DEAD’ jika kalian tahu atau setidaknya seperti ‘RESIDENT EVIL’ yang episode

Pelangi Sahabat

Oleh:
Sahabat adalah kawan yang selalu ada di saat kita senang maupun ketika kita susah, Sahabat juga menjadi semangat dalam hidup kita. Semua orang pasti punya seorang sahabat. Begitu pula

Hingga Napas Ini Habis

Oleh:
“Kita pernah coba hempas, kita pernah coba lawan, kita pernah coba melupakan rasa yang menghadang. Kau bilang perbedaan ini bagaikan jurang pemisah maka biarkan aku menyeberang dan coba berjuang.

Sahabat atau Cinta?

Oleh:
Pagi yang mendung, aku segera merapikan dasiku. yang ber-motif kotak-kotak warna biru. dangan kemeja berompi kotak-kotak biru, dan rok di bawah lutut kotak-kotak biru juga. Di rompi nya terdapat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *