Seluas Samudera Setinggi Bumi Langit

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sejati, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 2 January 2017

Gerimis rinai turun menyiram bumi.
Tengah hari saat itu. Bel pulang SMU Jatisari sudah sejak tadi lenyap dari pendengaran. Mengalirkan lengang ke setiap sudut kelas.
Wulan terpaku di ujung koridor. Wajahnya murung. Tetes gerimis terasa seperti mengejek. Untuk apa menunggui kelas yang sepi? Lalu angin ikut latah menampar di pipi yang kecoklatan.
Dingin.
Dengan gerakan pelan Wulan memundurkan kursi rodanya.

“Belum pulang, Lan?” Martha, kawan sebangkunya, muncul di belakangnya.
Wulan menggeleng.
“Kalo gitu aku akan nemenin kamu. Kita pulang bareng.” Kata Martha.
“Terserah.”
Hening. Keduanya saling bisu.

Martha melirik diam-diam ke wajah Wulan. Tetap saja warnanya kelabu. Tak ada tanda-tanda akan ada benih semangat dan keceriaan yang bisa tumbuh di sana.
Biang keroknya adalah kecelakaan mobil setahun lalu. Kaki Wulan terlindas dan urat-urat syarafnya terputus. Rumah sakit yang menanganinya angkat tangan. Kaki Wulan lumpuh permanen.
Wulan seperti menerima vonis mati. Dunianya tiba-tiba gelap. Yang terlihat hanya dirinya sendiri. Layu dan kehilangan gairah hidup. Tak ada yang begitu gigih membangkitkannya dari keterpurukan. Kecuali Martha.
Wulan sadar. Kalau orang lain begitu ngotot ingin membantunya tegar kembali, masa yang bersangkutan secuil pun tidak menghargainya?
Wulan memutuskan kembali sekolah.

Gerimis perlahan reda. Reda pula pikiran tentang Wulan yang bermain di benak Martha. Jemari Martha menempel di sandaran kursi roda Wulan. Lalu mendorongnya menuruni koridor.
Wulan ingin menolak diperlakukan seperti itu. Namun Martha memaksa dengan alasan takut gerimis turun lagi. Mereka sendiri yang akan repot.
Wulan terpaksa menurut. Mungkin sudah begini suratan takdirnya. Menjadi gadis invalid = menjadi beban buat orang lain.

Buat Wulan Tersayang…
Tulisan itu tergantung di sela-sela tangkai Mawar merah. Ini bunga ketiga yang ditemukan di bangkunya.
Bunga pertama oleh Wulan hanya dianggapnya sebagai lelucon. Bukankah orang cacat sering jadi bahan ejekan? Satu dua memang ada yang berbaik hati memberinya rasa hormat dan perhatian. Tapi itu lebih didorong karena rasa iba.
Menyusul bunga kedua. Wulan masih bersikukuh dengan pemikirannya. Apa menariknya seorang gadis cacat? Tak secuil pun ada sisi yang patut untuk dibanggakan. Orang akan jijik melihat sepasang kaki yang menggelantung seperti sayuran layu.
Tapi ketika bunga yang ketiga masih juga menyambanginya, cara pandang Wulan mulai berubah. Timbul rasa penasaran untuk mengetahui siapa si pengirim misterius itu dan apa tujuannya.
Ini bukan tentang rasa ge-er. Tak sedikit pun Wulan berpikiran akan ada cowok yang menaksirnya. Merepotkan punya pacar lumpuh. Kemana-mana harus didorong-dorong.
Ini tentang sepotong masa lalu yang tidak ingin dialami lagi. Awalnya adalah ketika dokter memvonis bahwa kedua kakinya mengalami kelumpuhan permanen. Mental Wulan benar-benar rubuh. Yang pertama hancur adalah rasa percaya dirinya. Kemudian menular ke pemikirannya menjadi serba pesimis dan inferior. Semua orang dilihatnya memandang ke dirinya dengan sebelah mata.
Langkah pertama saat itu yang diambil adalah memutuskan Pacarnya, Dion. Dion pasti malu punya pacar lumpuh. Barangkali dalam hati cowoknya itu sudah sangat ingin meninggalkannya. Cuma karena melihat keadaan dirinya yang masih shock, niat itu dipendamnya saja.
Lagi pula kalau ia yang terlebih dulu mengucapkan kata putus, itu tidak akan terlalu menyakitkan. Dion memang sempat ngambek dan tetap ngotot ingin jadi pacar Wulan. Tapi menurut Wulan itu hanya basa-basi dan sandiwara.

“Mawar merah?”
Wulan hampir memekik oleh kemunculan Martha yang tiba-tiba.
“Makanya jangan keasyikan ngelamun. Mentang-mentang dapat kiriman dari pengagum rahasia” Goda Martha.
Wulan cemberut dengan mata mendelik.
“Aku justru lagi bingung. Ini bunga ketiga. Tapi aku masih nggak tau siapa yang ngiriminnya.”
“Sabar aja… pada waktunya nanti bukan hanya bunganya, melainkan sang pangerannya pun akan bersimpuh di hadapanmu dengan membawa sejuta kata cinta.” Martha mengedipkan mata.
Wulan mencubit pinggangnya gemas.
Martha senang bercampur sedih. Wulan tak lagi murung. Sudah mau bercanda dan tersenyum.

Cinta memang kekuatan untuk merubah. Dunia bisa penuh warna karena cinta. Sebuah dunia juga bisa kiamat oleh sebab cinta. Cinta juga melahirkan kekejaman. Contohnya adalah perceraian orangtuanya karena kasus kekerasan rumah tangga. Cinta kepada mamanyalah yang menyebabkan Martha jadi begitu membenci papanya. Ketika laki-laki itu akhirnya masuk penjara setelah menganiaya mamanya, Martha satu-satunya orang yang paling bahagia.
Sejak itu ia jadi rajin belajar beladiri. Alasannya supaya bisa melindungi mamanya. Tak peduli teman-temannya jadi menilainya tomboy karena aktifitasnya tersebut.

“Apa mungkin Dion ya…” Wulan tiba-tiba menggumam memutus lamunan Martha.
“Menurut filingmu?”
“Aku nggak berani mereka-reka. Malu sama diri sendiri. Soalnya aku yang ninggalin dia. Padahal dulu dia berusaha ngeyakinin aku kalo cintanya tulus bukan karena kasian.”
“Itulah kamu. Terlalu melibatkan emosi. Kamu pikir si Dion itu naksir kamu karena kaki? Nggak kan? Atau mungkin wajah yang cantik? Ah, di sekolah kita ini masih banyak yang jauh lebih cantik. Jadi menurutku, dia mencintai kamu karena sesuatu yang ada dalam jiwa kamu. Orang nyebutnya inner beauty atau kecantikan yang terpancar dari dalam. Dan itulah yang sekarang ini hilang dari diri kamu. Ngerti, non?”
“Iya deh ngerti. Jadi sekarang aku harus gimana?”
“Biasa aja. Kita nggak tau orang itu serius atau main-main.” Jawaban Martha praktis.
Namun dalam prakteknya teori bersikap biasa itu tidaklah gampang. Makin Wulan berusaha cuek, teka-teki tentang si pengirim bunga misterius itu malah makin lengket dalam pikirannya.

Seiring hujan yang siang itu kembali turun, Wulan terus mengoceh hanya tentang hal itu saja. Martha jadi pendengar setianya. Wulan yang sekarang ada di sisinya, laksana orang sakit yang sedang belajar untuk bangun lagi. Membiarkannya mengungkap segala yang dirasanya adalah hal yang paling tepat.
Keduanya berhenti di ujung koridor menunggu hujan reda. Berbeda dengan sebelumnya kali ini Wulan tampak sangat menikmati tiap tetes hujan yang jatuh menimpa rerumputan. Bahkan didengarnya sahabatnya itu menyenandungkan sebuah lagu cinta.
Martha tersenyum kecil.

“Tumben…” Ia berujar.
“Apa?”
“Nggak… aneh aja denger kamu mau nyanyi lagi. Mirip orang yang baru jatuh cinta.”
Wulan tersipu.
“Aku nggak tau siapa yang mencintaiku dan kepada siapa aku jatuh cinta. Itu semua nggak jelas. Tetapi bukankah menyenangkan saat kita tahu di luar sana ada yang memperhatikan kita. Meski itu rahasia. Kamu sendiri pernah jatuh cinta. Pasti tau seperti apa rasanya”
Martha memegang pundak Wulan lembut dan berkata dengan nada pelan.
“Aku nggak seberuntung kamu, Lan. Sampai detik ini aku nggak tau seperti apa rasanya dicintai oleh orang yang kita cintai. Bagiku cinta itu sakit dan menakutkan.”
“Kenapa ngomong begitu, Mar? Apa kamu pernah disakitin cowok?” Tanya Wulan.
“Nggak.”
“Terus?”
“Maksudku begini. Tidak masalah kalau kita nggak bisa jalan, nggak bisa ngeliat, atau kita bisu dan tuli. Selama kita masih bisa mencintai dan dicintai maka berbahagialah. Nggak perlu ngerasa sebagai orang yang paling menderita”.
“Hubungannya sama kamu?”
“Nggak ada. Udah ah, jangan dibahas lagi. Lebih baik kita cepet pulang.” Martha hendak mendorong kursi roda Wulan. Padahal hujan belum sepenuhnya reda.
“Aku nggak mau sebelum kamu cerita. Sepertinya selama ini ada sesuatu yang kamu sembunyiin. Aku yakin itu. Kalo kamu nggak mau cerita, biar aku pulang sendiri aja. Kamu duluan,” Wulan menahan laju kursi rodanya
Martha tak peduli. Kursi roda wulan didorongnya paksa.
Wulan menahannya. Hampir ia terjatuh kalau tangannya tidak keburu meraih tas Martha. Karena digelantungi isi tas Martha berhamburan ke lantai.
Wulan cepat memungutinya. Buku-buku, alat tulis, hape, hingga benda terakhir yang menggeletak di lantai seketika membuat sekujur tubuhnya terasa merinding.
Sekuntum Mawar merah!
Dan ada tulisan di sela-sela tangkainya.

Buat Wulan tersayang

Tangan Wulan gemetar memegang bunga itu. Kepalanya mendongak.
Martha sedang melihat ke arahnya dengan mulut setengah terbuka.
“Ini… ini… apa artinya, Mar?” Suara Wulan terbata.
Martha tak bisa menjawab.
Sebuah kesadaran terangkai dalam pikiran Wulan.
“Aku ngerti… Jadi ini semua perbuatanmu. Kamu sengaja melakukan ini supaya aku bisa ceria lagi. Bisa gembira lagi. Bisa semangat lagi seperti dulu bukan? Tapi semangat seperti apa yang kamu inginkan?” Sekarang suara Wulan mulai meninggi.
“Apa kamu mau membuatku gede rasa. Liat, orang cacat pun ada yang naksir. Begitu? Aku malu. Selama ini aku ternyata hanya bermain dengan bayang-bayangku sendiri. Tega sekali kamu melakukan ini, Mar. Padahal tanpa ini semua pun aku sedang berusaha untuk bangkit. Aku malu jadi beban orang lain terus-terusan. Harusnya kamu mendukungku. Bukan malah merendahkan seperti ini…!” Wulan terisak. Pundaknya berguncang menahan tangis.
“Ma…mafkan aku, Lan…” Suara Martha terbata. Perasaan bersalah dan sedih yang campur aduk, menghadapkannya kepada satu kenyataan yang selama ini rapi ia sembunyikan. Haruskah ia jujur?
Kalau diam saja, maka selamanya Wulan akan terjebak pada sikap salah paham. Tapi kalau diceriakan yang sebenarnya, Martha sadar dirinya akan jatuh dalam kehinaan lalu dikucilkan semua orang.
Namun bukankah cinta sejati menuntut setiap orang untuk jujur dan terbuka kepada yang dicintanya walau itu menyakitkan?

Martha memutuskan untuk jujur. Dan kejujuran itu ia ceritakan dengan sebagian sukma seolah sudah keluar dari raganya.
“Aku yang salah, Lan. Seharusnya nggak perlu mengirimimu Mawar. Seharusnya aku nggak perlu mencurahkan isi hati tentang cinta. Tapi siapa yang sanggup membendung cinta manakala ia telah menguasai akal dan hati? Kamu setuju itu kan?.”
“Aku nggak tahu kenapa Tuhan menjadikanku seperti ini, Lan. Cinta yang buat orang lain terasa indah, namun bagiku amat menakutkan. Aku nggak pernah tau gimana rasanya dicintai oleh orang yang kita cintai. Karena aku… aku… hanya seorang le*bian…”
Suara Martha pelan namun di telinga Wulan terdengar seperti ledakan petir. Wulan tersurut mundur dengan mulut ternganga dan mata membelalak.
Martha tertunduk. Runtuh sudah pertahanannya agar dirinya tidak menangis.

“Kamu pasti jijik berdekatan denganku sekarang, Lan. Maafkan aku, Lan… sudah mencintaimu…”
Wulan benar-benar shock. Tidak. Ini semua pasti mimpi buruk. Dan yang harus dilakukannya adalah segera meninggalkan tempat ini. Untuk pertama kalinya Wulan merasa begitu takut kepada sosok tomboy yang ada di hadapannya.
Wulan memacu kursi rodanya tak peduli hujan masih deras. Di sebaranginya jalan raya di depan gerbang sekolahannya. Tak menyadari sebuah mobil berkecepatan tinggi melaju ke arahnya.
Bunyi decit rem melengking tinggi. Setinggi jeritan Wulan. Ia terpental bersama kursi rodanya ke tepi jalan. Lalu pandangannya gelap.

Gerimis rinai turun menyiram bumi. Merangkum debu-debu di jalanan dari cabikan angin yang liar. Tengah hari saat itu. Bel pulang SMU Jatisari sudah sejak tadi lenyap dari pendengaran. Mengalirkan lengang ke setiap sudut kelas.
Wulan murung terkungkung sunyi. Tetes gerimis terasa seperti mengejek. Untuk apa menunggui kelas yang sepi? Lalu angin ikut latah menampar di pipi yang kecoklatan. Dingin.

Dengan gerakan pelan Wulan memundurkan kursi rodanya. Tak ada yang berdiri di sisinya seperti setahun lalu. Juga ketika cuaca seperti ini. Sahabatnya itu telah pergi untuk selamanya. Martha memilih membiarkan dirinya yang tertabrak asalkan bisa menyelamatkan Wulan.

Tamat.

Cerpen Karangan: Ade S
Facebook: Bumicerpen

Cerpen Seluas Samudera Setinggi Bumi Langit merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Prisilla

Oleh:
Tujuan akhir dari kehidupan kita adalah agar kita dapat berguna bagi semua mahluk hidup yang diciptakan oleh tuhan, karena hanya amal kebaikan kita yang akan dihisab setelah kita meninggalkan

Buku Bergambar (Part 2)

Oleh:
Kemesraan dan perhatian Nova tak pernah pudar, bahkan semakin kuat cinta mereka, begitu pula persahabatannya dengan Raya. Akhirnya masa SMA mereka selesai. Banyak kenangan yang tak pernah terlupakan. Nova

You’re Sky, I’m Earth

Oleh:
Kau langit yang tak mungkin tersentuh oleh gapaian tanganku Di sini, bumi, tempatku berpijak Hanya berandai-andai setiap menatapmu Kau yang jauh di sana Akankah bisa bersatu? Nya, lihatlah ke

Cinta Lama Datang Kembali (Part 2)

Oleh:
Langit senja mulai menorehkan guratan jingga bercampur tinta emas yang diselimuti udara yang hangat. Kemacetan sore hari seakan semakin membuktikan bahwa Jakarta memang kota yang sibuk. Bahkan sampai malam-pun

Sesal

Oleh:
Untuk terakhir kalinya ku belai kepala Boneng, seakan mengerti Boneng melirik ke arahku, matanya terlihat seperti berkaca-kaca. Mungkinkah Boneng juga sedih seperti yang ku rasakan karena kami harus berpisah.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *