Aku Dan Penyesalan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 28 January 2016

Hujan hari ini dapat menyitaku untuk tidak beranjak dari sekolah. Kini badanku mulai terasa dingin karena kencangnya angin yang berhembus, meskipun begitu aku menikmati suasana saat ini karena, aku sangat menyukai hujan. Ketika aku sedang mengarahkan pandanganku pada salah satu jendela yang berada di dalam kelas, ku sadar ada seseorang yang baru saja datang.

“Dingin yah Din?” sapaku kepadanya yang baru saja datang dari kelasnya.
“Mmm.. Iyah begitulah” senyumnya kepadaku.
“Kamu kelihatan pucat Din” terangku sedikit khawatir.
“Nggak kok, aku gak apa-apa,” sekali lagi ia tampakkan senyuman untukku.
“Beneran nih?” tanyaku lagi. “Beneran Ardi,” dia sedikit meyakinkanku.
Sekarang hanya tinggal aku dan Dinda di kelas ini, saling terdiam menunggu hujan untuk berhenti mengizinkan kami pulang.

Keesokan hari wajahnya terlihat pucat sejak pertama dia datang ke sekolah. Sementara itu, aku khawatir dengan keadaannya yang sekarang ini. Aku selalu khawatir dengan penyakit yang ia punya. Yah.. Dinda memang memiliki penyakit bawaan yang belum ada obatnya, ia pernah bercerita kepadaku jika penyakit itu ia turunkan dari neneknya. Dari situlah aku selalu ingin menjaganya walaupun aku hanya bisa menjaga Dinda dari jauh, beberapa saat ku lihat seseorang menghampirinya.

“kamu kangen aku yah?” suara halus dari Raka kini sampai kepada Dinda. “Raka?” aku bisa mendengar suaranya sekarang antara terkejut dan senang. “Kamu baik-baik aja kan Din?” tanya Raka ulang.
“Iyah aku baik-baik aja kok,” jawab Dinda penuh yakin walaupun itu sebaliknya dari apa yang dia rasa. “sejak kapan kamu datang?” tanyanya balik kepada Raka.
“Entahlah, sepertinya ada seseorang yang menginginkan aku untuk pulang” Raka mencoba menggodanya. “siapa?” tanyanya pura-pura tak tahu. “Benaran nggak tahu atau pura-pura nggak tahu?” ledek Raka kembali kepadanya. Sementara Dinda hanya tertawa mendengar pertanyaannya.
“Oke aku nyerah deh sama kamu Raka,” kini Raka juga ikut tertawa.

Di sudut kelas tanpa sadar aku ikut tersenyum melihat kelakuan Dinda dan Raka, mungkin karena aku sudah jarang melihat tawanya Dinda yang dulu sejak dia didiagnosa. Walaupun aku hanya bisa melihatnya dari jauh, tapi buatku itu adalah sebuah keajaiban. Apalagi orang yang dia tunggu sekarang sudah pulang dari suatu lomba internasional yang mewakili sekolah, siapa lagi kalau bukan Raka. Pantas saja kan jika Dinda lebih menyukai Raka ketimbang aku yang mempunyai IQ biasa saja. Beberapa menit kemudian ketika Dinda dan Raka masih mengobrol tiba-tiba saja Dinda pingsan. Saat itu juga aku yang masih memperhatikannya dari jauh dan tanpa pikir panjang aku pun berlari dan membawanya ke ruang UKS. Sementara Raka hanya ikut di belakangku Kemudian dia pergi untuk memberitahu orangtua Dinda.

“Ah.. Sakit” lirihnya hampir tak terdengar.
“Dinda? kamu udah bangun?” tanyaku khawatir
“Ardi?” tampak dia heran kenapa aku bisa di sini. “Raka mana?” tanyanya kepadaku. Mungkin yang Dinda ingat Rakalah yang membantunya, sementara aku hanya menunjukkan senyuman pahit. “Dia.. Tadi ke luar sebentar” jawabku kepadanya.

Berhari-hari bahkan berbulan bulan sejak kejadian itu Raka selalu berada di sisi Dinda, dan sepertinya tidak ada waktu untuk aku mengobrol berdua dengannya lagi. Walaupun sekarang perasaanku masih sama meski dia tidak bersamaku. Sebenarnya aku pun tak harus memikirkannya lagi, karena ada Raka di sampingnya yang mungkin dapat membuat Dinda bahagia. Dan sejak saat itu pula, aku rasa dia sudah menemukan orang yang bisa menjaganya sehingga aku bisa perlahan-perlahan menjauh darinya.

Suatu hari Dinda ingin aku menemuinya di taman biasa kita bertemu. Dan pada saat aku datang dia sudah ada di taman tersebut. “Ada apa Din?” tanyaku dari belakang. Dia kini menengok ke arahku.
“Duduk dulu dong” pintanya kepadaku. Aku pun duduk di sebelahnya. “Kamu ke mana aja sih?”
“Aku nggak kemana-mana kok,” jelasku.
“Kamu jujur kenapa kamu kayak gini? apa aku punya salah?”
“Nggak.. Kamu nggak punya salah kok, cuma..” kata-kataku terpotong.

“Cuma apa?” tanyanya kini meninggi.
“Sebenarnya dalam waktu dekat ini aku mau pindah.. maaf,” suaraku pelan dan ku tundukkan mukaku. Sepertinya ia tampak kecewa. “Pindah? kenapa kamu baru kasih tahu aku sekarang? apa kamu nggak anggap aku sebagai orang pertama yang harus tahu soal ini? kenapa kamu bisa setega itu sama aku? menghilang tiba-tiba kamu pikir lucu hah? aku nggak tahan dan aku benar-benar kecewa sama kamu Ardi,” pernyataannya begitu membuatku merasa bersalah kepada Dinda dan kini ku coba untuk menjelaskan semuanya.

“Sebelumnya aku minta maaf ke kamu Din, bukan aku nggak ingat sama kamu, tapi kamu sadar kamu sendiri yang nggak ada waktu untukku. Kamu terlalu sibuk dengan urusan kamu sama Raka.” aku sedikit kesal. “Aku minta maaf, tapi kamu seharusnya jangan..” sebelum selesai ku potong perkataannya. “Jangan apa Din?! kamu mau bilang jangan apa? aku cape harus melihat kamu terus sama Raka. Karena, aku sayang sama kamu Dinda!” suaraku sedikit meninggi. Kini ku lihat dia mengeluarkan air matanya, sementara aku hanya bisa terdiam melihatnya. “maafkan aku Dinda, aku minta maaf..” setelah itu aku pergi meninggalkannya sendiri di taman itu.

Sekarang aku sedang menyiapakan semua yang harus ku bawa besok dan ku pastikan tidak ada barang yang nantinya aku tinggalkan. Sengaja hari ini hp-ku dimatikan agar tidak ada seorang pun yang tau keberangkatanku, termasuk Dinda, walaupun aku ingin sekali meminta maaf kepadanya. Tiba-tiba kamarku terdengar seperti ada yang mengetuk.

“Ardi.. Ardi?” suara mamahku terdengar dari luar kamar.
“Iyah Mah” ku buka pintunya.
“Tadi Mamah dapat telepon kalau..” mamah tidak meneruskan perkataannya.
“Kalau apa Mah?” tanyaku heran.
“Kalau.. Adinda masuk rumah sakit Di” suara mamah bergetar.

Tanpa pikir panjang aku langsung pergi ke rumah sakit yang mamah sampaikan. Pikiranku saat ini tak bisa ku jelaskan dengan apa pun. Bagaimana tidak, satu hal yang sangat aku takuti kepadanya sekarang terjadi. Aku takut jikalau nanti kehilangannya, tidak bisa melihatnya lagi dan pikiranku pun terus melayang. Namun semua itu aku buang jauh-jauh. Setelah sampai, aku pergi ke kamarnya. Tampak dari pintu jendela luar orang yang ku sayangi sedang terbaring lemas di sana. kini aku menyesal apa yang telah ku buat hingga dia seperti ini, aku benci diriku. Orangtua Dinda pun sedang menangis sekarang dan ku lihat juga di sana ada Raka, aku tak tega melihatnya seperti ini. Semua ini karena salahku, aku benci.. aku benci situasi ini. Tak lama dari itu dokter ke luar dari kamar Dinda.

“Dokter gimana keadaan anak saya dok?” mamah Dinda tak tahan lagi membendung air matanya.
“Anak Ibu sekarang dalam keadaan kritis dan Ibu bisa masuk ke dalam satu jam setelah ini.” jelas dokter tersebut, dokter itu pun pergi meninggalkan kita di luar kamar.

Aku sekarang menangis menyesali apa yang telah aku lakukan, orangtua Dinda menangis sejadinya, aku juga melihat Raka sedang menenangkan mamahnya Dinda. Sementara aku? Aku hanya bisa menyesali semua ini. Satu jam setelah itu, orangtua Dinda dan Raka masuk ke dalam. Aku tak sanggup untuk mengikuti mereka karena aku takut Dinda tidak ingin menemuiku lagi sehingga aku tetap menunggu di luar kamar.

Setelah beberapa menit di dalam ku dengar mamahnya Dinda berbicara, dengan keberanian yang ku buat aku mencoba masuk melihat ke dalam. Ku lihat Dinda hanya tersenyum melihat orang-orang yang ia cinta berada di dekatnya dan mungkin aku tak termasuk di dalamnya, begitu pun langkahku terhenti hanya di ambang pintu kamar. Tetapi pada saat ku ingin ke luar Dinda melihatku dan tersenyum, spontan aku membalasnya dengan senyumanku yang sangat manis yang dulu sempat hilang. Ku lihat Dinda meminta kepada orangtuanya untuk memperbolehkan dia berbicara denganku. Kemudian orangtuanya mempersilahkan aku untuk mendekatinya.

“Dinda.. maaf,” air mataku tak tertahan sekarang, dia hanya tersenyum kepadaku.
“Kamu kenapa nangis Di?” tanyanya sambil menghapus air mataku. “Aku sayang kamu Din,” ku terus menangis walaupun sudah ku tahan. “Aku tahu kamu sayang aku, aku juga sayang kamu tapi aku lebih suka kamu tanpa memandang hubungan Di” senyumnya kini terpancarkan, “Aku merasa senang ketika aku dekat dengan Raka tapi ada satu hal yang nggak bisa aku dapat dari Raka, yaitu kehangatan kamu Ardi. Aku jujur hanya kamu yang bisa buat aku nyaman dan aku nggak mau kehilangan kamu Ardi. Aku mau kamu janji akan terus menjadi sahabat aku Di,” jelasnya panjang.

“Aku janji Din, tapi kamu mau kan janji juga sama aku kalau kamu bakalan sembuh?”
“Maaf Ardi, aku nggak bisa janji sama kamu tentang ini”
“Kenapa nggak Din? Kenapa nggak! Jawab Din!” aku sedikit resah dengan jawabannya.
“Maaf Ardi..” kemudian Dinda pun menghembuskan napas terakhirnya dengan senyuman.

Beberapa minggu setelah pemakamannya, aku berencana pergi melanjutkan tujuanku yang sempat tertunda. Sebelum ku pergi, aku sempatkan ke makan Adinda hanya untuk sekedar berpamitan dengannya. Ku lihat nama Adinda di batu nisan itu, hati ini hancur tapi aku harus kuat sekarang karena, aku yakin ia tidak ingin melihatku bersedih lagi. Setelah ke makamnya, aku pergi ke taman tempat di mana aku sering bertemu dan tempat di mana aku pertama kali mengutarakan perasaanku kepadanya dengan salah. Rasanya aku tenang sekali di sini, sebenarnya aku tidak ingin pergi dari kota ini. Tapi sepertinya aku tidak sanggup untuk melakukan itu, sehingga ku putuskan untuk melupakan kekecewaanku, bukan untuk melupakan kenangan dengannya.

Sekarang ku pejamkan mataku, ku rasakan hadirmu di sini Dinda. Apakah kau benar di sini? Aku sangat rindu kamu Dinda. Maafkan aku telah membuatmu kecewa sebelumnya, maafkan aku yang tidak bisa memberimu kebahagiaan di sisa hidupmu, maafkan aku atas semua egoku, maafkan aku Dinda Maaf… Walaupun dalam pejaman mata, tapi ku rasakan air mata ini mengalir dan ku rasakan sepasang tangan menyeka air mataku kali ini. Apakah itu kau Dinda? Seketika ku tersadar dari pejaman mataku dan hanya ada bayanganmu yang pergi menjauh dengan senyuman manismu itu. Dan ku putuskan untuk meninggalkan semua penyesalanku di tempat ini juga.

Cerpen Karangan: Hada Apriani Rahman
Facebook: Hada Apriani Rahman

Cerpen Aku Dan Penyesalan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cacat Hati

Oleh:
Hari itu, senja mulai mendatangiku, adzan sudah di pangkal tenggorokan. Dan hatiku merintih kesakitan. Air mata mengalir membasahi pipiku yang melekat di atas bantal. Air itu menggenang kemudian meresap

Diary Ingatan Ku

Oleh:
Melupakan dia yang pernah hadir dan menjadi bagian dari hidupmu memang sulit, terlebih lagi jika kisah itu terkenang dan itu sungguh menyakitkan. Walaupun indah saat ada penggantinya tapi tetap

Nesha, Memandang Langit

Oleh:
“Kenapa?” Ia terkejut mendengar apa yang baru saja aku sampaikan padanya. Matanya menatapku lebih tajam. Aku bisa menangkap maksud dari guratan wajah yang ditampakkan tepat di mukaku. Kuhentikan sejenak

Buku Diary Dari Ibu

Oleh:
Dengan mata tersayut sayut tanganku tak hentinya merangkai kata demi kata yang kutulis kedalam buku diaryku yang hampir rampung. masih teringat dengan jelas ketika pertama kali aku mendapatkan buku

Memories

Oleh:
Kususuri setapak jalan kecil yang lenggang ini. Tak ada yang berubah dari tempat ini. Sedikit pun tidak. Matahari mulai naik, kupercepat lari kecilku. Entah apa yang membuat kakiku melangkah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *