Aku Kehilangan Radarku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 25 September 2015

Malam lalu aku tak dapat memejamkan kedua mata sipitku ini. Jarum jam yang menggantung di tembok unguku menunjukan pukul 2 dini hari.
“Sial, mau jadi apa aku esok bila masih belum dapat memejamkan mataku” gumamku dalam hati.

Aku memutar badanku ke sebelah kanan ranjang mungilku. Mataku berlari-lari mencari sesuatu yang aku sendiri tak tahu apa itu jelasnya. Sejenak, mataku berhenti menatap nanar sebuah boneka. Boneka monyet berwarna cokelat itu tertata rapi di atas meja belajarku. Khayalku terbang melambung setinggi angkasa, mengingat setiap kenangan yang terukir bersama boneka itu. Aku masih ingat betul kejadian itu, kejadian dimana aku harus kehilangan Uranusku.

“Pergi!!! Jangan lagi hubungi aku!” bentakku pada lelaki sipit itu. Berkali-kali kucoba melepaskan genggaman tangannya yang begitu pekik menahan tanganku. Aku merasakan tangan itu gemetar dan berkeringat. Sekali lagi aku menarik tanganku begitu keras. Ku lempar boneka monyet pemberiannya yang tergeletak di atas ranjang kamarku. Akalku tak lagi berfungsi. Emosiku kala itu menghancurkan logika dan ribuan sayangku padanya. Bagaimana tidak? Perempuan mana yang tak sakit hatinya mendapati sang kekasih masih menjalin komunikasi yang begitu akrab dengan mantan kekasihnya dulu?

Nampaknya ia sudah putus asa memberikan ribuan penjelasan padaku. Ia menundukkan kepalanya, menatapku sejenak dan mencium keningku. Sejenak air mataku menetes, butiran-butiran mutiara itu meleleh bak terkena semburan lava panas merapi. Ia membalikkan tubuhnya, berjalan meninggalkan kamarku yang dingin oleh air conditioner itu. Perlahan namun pasti punggung itu berjalan menjauh dariku. Makin lama makin kuat hatiku merasakan sakit. Mungkin aku memang harus mendengarkan penjelasannya tadi. Aku menyesal. Ku banting pintu kamarku sekeras mungkin, menguncinya dan membiarkan ribuan mili air mataku jatuh membasahi pipi.

Singkat cerita, sejak kejadian malam itu, aku tak lagi menghubungi Rafi, walau ku tau ponselku tak berhenti berdering semalam suntuk. Hingga sebuah kecelakan maut itu terjadi padaku. Mobil sedanku menabrak sebuah truk esok paginya. Kejadian itu merenggut semua yang ku miliki. Bahkan mataku. Aku tak lagi dapat melihat. Tak ada lagi sinar rembulan yang mampu ku tatap di setiap malam. Semuanya terasa begitu gelap. Dalam gelap, Rafi tetap bersamaku. Ia menemaniku menghabiskan ratusan malam yang gelap. Bahkan di saat semua orang menjauhiku dan menghujatku, hanya Rafi, Bunda, Ayah dan beberapa sahabat yang masih mau menopangku untuk tetap bangkit, berdiri dan melanjutkan hidup. Enam bulan sudah aku buta, menunggu orang-orang dermawan yang mau menyumbangkan matanya untukku.

Hingga akhirnya aku mendapatkan pendonor yang mau membantuku. Pagi itu aku siap menjalani operasi. Semua hadir untuk memberikan semangat padaku. Ayah, Bunda, Raisa, Chandra serta Nenek. Hanya Rafi yang tak nampak hari itu. Biarlah, mungkin ia sibuk. Aku tak lagi sabar untuk kembali melihat keindahan alam semesta ini. Melihat senyum manis yang terukir di bibir mungil Bunda dan Ayah, menatap mata sipit Rafi serta menyaksikan kekonyolan Chandra serta Raisa. Tunggu aku kawan. Operasiku berjalan lancar. Bahkan setelah 2 hari setelah operasi aku sudah dapat melihat dengan baik. Namun aku belum juga melihat Rafi. Ia belum menampakkan batang hidungnya di depan mukaku. Kemana dia? Hei, aku merindukan senyummu. Berkali-kali ku tanyakan keberadaannya kepada Bunda, namun Bunda hanya diam dalam senyumnya, begitu pula dengan Ayah dan sahabat-sahabatku. Baiklah, aku mulai kecewa padanya.

Seminggu setelah operasi, Rafi masih menghilang. Ke mana Uranusku? Ke mana perginya manusia itu? Sejenak aku terdiam mengingat pertengkaran terakhirku bersamanya. Apa mungkin ia benar-benar kecewa dengan perbuatanku malam itu? Baiklah, aku salah. Seharusnya ku biarkan saja Rafi memberikan penjelasannya padaku. Rasa menyesal itu melahirkan ide manis untuk memberikan sedikit kejutan padanya. Ku injak pedal gas mobilku dan meluncur menuju sebuah toko kue di dekat rumahku. Aku memang tak pandai memilih kue, tapi yang ku tahu, Rafi menyukai rasa lemon, sehingga ku beli saja sebuah tart lemon bertuliskan ucapan maafku di atasnya. Seusai itu, aku kembali menginjak pedal gas mobilku. Ku luncurkan sedan itu kesebuah rumah di kawasan elit, Kelapa Gading. “Aku harus meminta maaf pada Rafi” ucapku dalam hati.

Dari kejauhan ku lihat beberapa karangan bunga tertata rapi di depan rumah berpagar emas itu. Jantungku berdegup kencang, aliran darahku terasa begitu cepat, pikiranku tak karuan saat itu. Sial, aku panik, begitu panik hingga ku biarkan saja mobilku berhenti di depan pagar emas itu. Ku buka pintu mobilku dengan menenteng sekotak tart lemon yang hendak ku berikan pada Rafi.

Tunggu! Ini aneh, ada yang salah dengan ini semua. Karangan bunga itu mulai mengering dengan ucapan berduka atas kepergian seseorang. Siapa yang meninggal? Mamanya? Papanya? Atau adiknya? Ku cepatkan langkah kakiku. Itu pak Ilham! Aku menghampiri lelaki paruh baya yang mengenakan pakaian satpam lengkap itu.
“Pak, ada Rafi?” tanyaku mencoba buta akan keadaan.
“Mas Rafi? Aduh mbak, memang mbak belum tahu?”
“Tahu apa?” tanyaku semakin tak enak.
“Ini mbak Meli toh?” tanya pak Ilham dengan logat jawanya yang khas.
“Iya pak. Ada apa memangnya?” tanyaku kesal.
“Mbak.. maaf ya kalau pak Ilham lancang. Mas Rafi sudah nggak ada sejak bulan lalu. Sudah lama” ucapan pak Ilham itu bagai petir di siang bolong.

Aku menjatuhkan tart lemon yang baru saja ku beli. Ku lajukan mobil sedan merahku kembali ke rumah. Ku buka pintu kamar Bunda dan membiarkan emosiku meledak-ledak dengan tetesan air mata yang tak tertahankan.
“Bunda! Kenapa Bunda nggak bilang sama aku?” tanyaku.
“Lalu mata ini? ini mata siapa Bunda?” tanyaku berteriak.
“Tenang sayang tenang.. Bunda nggak bermaksud bohong, Rafi memang sudah tidak ada. Kamu tahu? Sudah sebulan ini ia mengidap kanker darah, pengobatan itu membuatnya menyerah dan menutup matanya. Mata itu milik Rafi. Ia yang memaksa orangtuanya mendonorkan mata untukmu” Aku terhenyak.

Lagi, air mataku menetes. Ku ambil boneka cokelat itu, ku letakkan dalam dekapanku. Ku langkahkan kakiku menuju taman belakang rumah. Membiarkan tubuhku melemas di atas gazebo kayu itu. Menatap nanar sang rembulan dan bintang yang begitu indah. Kali ini aku sudah terisak. Tuhan Aku kehilangan separuh jiwaku, aku kehilangan sebagian hidupku. Sungguh, rasanya ingin ku ulang waktu, datang dan kembali ke malam itu. Ingin rasanya ku bungkam mulut manisnya dan membiarkan ragaku jatuh dalam hangat dekapnya. Andai ku tahu akan seperti ini akhirnya, aku tak mau berkelahi dengannya. Aku tak mau mengusirnya ke luar dari rumahku.

Tuhan teganya Kau padaku. Teganya kau ambil separuh napasku. Jika boleh memilih, lebih baik kau butakan mataku seumur hidup, daripada kau ambil dirinya. Sungguh, aku masih mau melihat mata itu, mata sipit yang selalu menusuk tajam ke dalam mataku. Aku masih mau memandang senyum manisnya. Aku masih mau mendekap tubuh mungilnya. Aku masih mau merasakan kecupan mesranya, bahkan aku masih mau merasakan genggaman tangannya.

Malam-malam terasa begitu dingin tanpa kehadiranmu. Hujan-hujan terasa begitu menakutkan tanpa kehadiranmu. Aku menyesal. Aku menyesal telah menutup mata ini cukup lama, membaringkan tubuhku di ranjang rumah sakit tanpa tahu kau begitu menderita tanpaku. Bahkan dalam keadaan sakit pun aku masih saja menyusahkanmu. Uranus, kini panggilanmu itu benar-benar memiliki makna untukku. Aku dingin sedingin Uranus.

Aku hampa sehampa Uranus, bahkan aku tak terkendali layaknya Uranus. Ku lihat bintang tak seindah biasanya, ku lihat rembulan tak seanggun biasanya, bahkan langit tak sekokoh malam-malam sebelumnya. Aku melihat angkasa malam, lalu mengangkat ibu jari serta telunjukku di atas kepala dengan bodohnya, memancarkan radar Uranus yang biasa kita lakukan. Air mataku menetes. Kini ku sadari, tak akan ada lagi radar Uranus yang kau berikan untukku di setiap malam ketika kita melihat rembulan dan bintang-bintang di langit. Tuhan, Aku kehilangan radarku.

Cerpen Karangan: Dhea Yulia
Blog: catatanganggas.blogspot.com

Cerpen Aku Kehilangan Radarku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maafku Untuk Kakek Tua

Oleh:
Pagi itu aku tengah berjalan untuk pergi ke sekolah, dari jauh kulihat seorang kakek yang sedang meminta-minta. Aku pun membuka sakuku untuk mengambil handphone, lalu sibuk memainkannya, dan tak

My First Love

Oleh:
Hai kenalin nama gue nia, umur gue 16 tahun. Dulu gue gak kenal tuh apa cinta, dan setelah gue mengenal cinta semuanya berujung kesedihan buat pacar gue.. Gue ceritaiin

Satu Ruang

Oleh:
Kebahagiaan yang tengah dirasakan Kya mengupas seluruh kerinduan yang selama lima tahun terakhir dialami wanita 27 tahun ini. Ia sedang menanti seorang pria yang datang dari negeri Australia, yang

Maafkan Aku Nike

Oleh:
“Nik, kenapa kamu cepat banget sih perginya padahal aku belum sempat minta maaf” tangis Lulu di samping nisan bertuliskan NIKE NIRMALA. “seharusnya aku mendengar penjelasanmu dulu Nik aku menyesal

Hati Dalam Dusta

Oleh:
Berpura-pura untuk cinta sama saja membunuh hati secara perlahan “Gue pembunuh! Gue pembunuh! Gue Pembunuh!” Kia memukul-mukul gundukan tanah yang bertaburan bunga di bawah rintik hujan yang kian lama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *