Aku Mencintaimu Untuk Seribu Tahun Lagi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 16 March 2015

Sepasang kekasih sudah bersama sejak 2 tahun yang lalu bernama Bagas dan Dewi. Mereka saling mencintai. 3 hari lagi ulang tahunnya. Dewi sangat senang mengingat kejutan yang diberikan oleh orang yang dicintainya di tahun lalu. Bagas membuatkan rumah pohon untuk Dewi dan Lina, sahabat Dewi. Bagas tak selalu bisa menemani Dewi karena jadwal latihan futsalnya. Sebagai gantinya, Bagas selalu minta Lina meluangkan waktunya untuk Dewi.

Bagas merenung di teras rumahnya, dia berpikir keras. Kejutan apa yang akan dia berikan pada Dewi saat ulang tahun. Sampai akhirnya dia menemukan sebuah ide. Dia akan membawakan “Thousand Year”nya Cristina Peri dan bermain piano, ditaburi seribu mawar merah di rumah pohon. Bagas mantap dengan rencananya.

Kurang sehari lagi, Dewi selalu minta Bagas ketemuan. Bagas tidak mau, ia hanya ingin menyukseskan kejutannya. Dewi sedih, dia pikir Bagas tidak ingat dengan ultahnya. Bagas mengajak Lina untuk ikut serta membantunya. Bagas dan Lina mempersiapkan semuanya dengan kerja keras.

Dewi yang sedih, ingin pergi ke rumah pohon. Di rumah pohon, Dewi melihat Bagas dan Lina berduaan. Saat itu, Bagas meniup mata Lina yang kelilipan. Dari jauh, mereka terlihat seperti berciuman. Dewi tertegun, dia menahan tangisnya. Kini Dewi mengerti kenapa Bagas tidak ingin menemuinya, ternyata karena Lina.

Pengkhianatan yang pedih ini membuat Dewi terdiam. Seakan tak percaya dengan semua yang tlah terjadi. Jadi, selama 2 tahun Bagas dan Lina… Hati kecilnya tak sanggup membayangkannya. Terlalu sakit semua ini.

Tepat jam 12 malam, Bagas dan Lina mengetuk pintu rumah Dewi. Mama Dewi mempersilakannya langsung ke kamar untuk membangunkan Dewi.
“Dewi, dewi, bangun sayang. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu.”
“Kamu.. kamu.. kamu berdua ngapain lagi kesini!! Belum puas kalian!! Aku sudah tahu semua pengkhianatan kalian!!”
“Pengkhianatan? Pengkhianatan apa?”
“Lin, kamu nggak usah sok nggak ngerti. Sudah dari kecil kita bersahabat, kamu menusuk temanmu dari belakang. Aku benci kalian berdua!!! Sekarang kalian pergi dari sini!! Pergiii!!!”
Bagas dan Lina tertunduk lesu. Mereka mulai mengerti arah pembicaraan Dewi. Dewi salah paham. Mereka sedih, harus bagaimana lagi membuktikannya pada Dewi.

Paginya, Bagas memaksa Dewi menemuinya di atas gedung tinggi. Dewi ingin pergi kesana karena belum puas memaki Bagas atas pengkhianatan yang dia lakukan.
“Aku seneng wi, kamu mau datang menemuiku.”
“Kamu nggak usah sok baik!!”
“Baiklah, wi. Hari ini ulang tahunmu. Jika aku benar-benar mencintaimu, aku akan lompat dari gedung ini.”
“Silahkan.” Dewi hanya menyangka Bagas berpura-pura
“Selamat tinggal, Sayang. Semoga Tuhan mempertemukan kita di surga nanti. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu untuk seribu tahun lagi. Dan selamanya.”
Bagas melompat, Dewi terkejut. Ia turun dari tangga dengan wajah pucat dan tak bisa membendung tangis. Dilihatnya Bagas. Orang yang dicintainya itu tergeletak lemas bersimbah darah. Saat Dewi menghampiri Bagas, ada sebuah gambar yang tak asing lagi baginya disertai tulisan besar di sampingnya. “HAPPY BIRTHDAY SAYANG. Aku mencintaimu untuk seribu tahun lagi. Dan selamanya.”
Dewi menangis, dia tak sanggup mencerna apa yang baru saja terjadi. Dia ingin marah dan memaki dirinya sendiri. Dia terlalu bodoh untuk menyadari betapa besar cinta Bagas untuknya.

Cinta itu tidak buta, dia hanya berusaha memahami. Percayalah pada pasanganmu, karena cinta sesungguhnya ada untuk mereka yang memegang teguh kepercayaan.

Cerpen Karangan: Dewi Ayu Atika Putri
Facebook: Dewi Atika

Nama lengkap: Dewi Ayu Atika Putri
Panggilan: Dewi
Umur: 14 tahun *masih anak-anak sih katanya

Cerpen Aku Mencintaimu Untuk Seribu Tahun Lagi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sebelum Cahaya Temaram

Oleh:
Cahaya, sebuah sinar terang yang selalu ada di sekitar kita. Entah itu cahaya matahari, cahaya bulan, maupun cahaya lampu pijar. Cahaya begitu penting bagi semua orang. Karena tanpa cahaya,

Di Sini

Oleh:
Laki-laki itu kembali tersenyum. Masih sama seperti tiga tahun lalu sejak aku pertama kali menemuinya. Namun senyuman itu bukan untukku, melainkan untuk perempuan yang dicintainya. Mereka berdua sangat cocok

Penyesalan

Oleh:
Keringat terus mengucur dari dahiku. Langkah kakiku makin berat, rasanya hampir tak sanggup lagi untuk berjalan. Berulang kali aku hampir pingsan, karena tidak dapat menahan rasa panas menyengat di

Gadis Pilu Dan Pekat Malam

Oleh:
“Sampai saat ini, aku masih belum berani menceritakan apa yang kurasakan kepada orang lain. Semenjak itu aku harus menahan diriku untuk jatuh cinta karena sejuta trauma semakin menghantuiku. Aku

30 Last Days

Oleh:
“Kamu divonis mengidap penyakit Kanker Otak stadium akhir, waktumu tersisa 30 hari lagi dan maafkan kami. Selesaikan urusanmu yang ada disini”. Kata-kata itu menghantam jantungku, bagaimana mungkin aku bisa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *