Andaikan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 10 May 2016

Andaikan waktu itu dia tak pernah mengenal pria itu, andaikan waktu itu dia tak pernah mengikuti ajakan dari pria itu mungkin saja sekarang dia tak akan pernah semenyesal ini, mungkin saja kehormatan yang selama ini dia jaga kini masih akan ada. Bermula ketika dia mengenal si pria dari jejaring sosial Facebook, dia menganggap bahwa si pria adalah sosok yang menarik. Dia pun semakin penasaran dengan si pria, lama kelamaan hubungan mereka pun semakin dekat. Mereka sepakat untuk bertemu di kehidupan nyata, akhirnya mereka menyepakati untuk bertemu di sebuah cafe di kota Lamongan dan ini merupakan awal dari malapetaka. Terlihat seorang wanita duduk termenung di sebuah kursi di salah satu cafe, ‘Hmm kok lama banget sih, dia datangnya sih!’ batin si wanita sambil menatap layar gadgetnya. Tak lama kemudian datang seorang pria yang menghampiri si wanita.

“Hei Puput! Sudah lama yah?” tanya si pria.
“Nggak sih, baru beberapa menit saja! Well kamu tak sama persis di foto profilmu!” ujar Puput sambil mengalihkan perhatiannya dari layar gadgetnya.
“Ya foto itu diambil beberapa tahun yang lalu.” Ucap si pria sambil tersenyum canggung.
“Well Put, bagaimana kalau kita pergi ke tempat-tempat keren nan menarik di kota Lamongan ini!” tawar si pria kepada Puput. Puput yang tak tahu apa-apa langsung mengiyakan ajakan dari si pria. “Baiklah Don, aku setuju atas tawaranmu itu.” Ucap Puput. Doni yang mendengar itu hanya tersenyum tipis namun di balik senyum tersebut memiliki makna yang lain.

Doni dan Puput pun pergi ke tempat-tempat tersebut, mulai dari taman bermain, wahana rumah hantu, dan masih banyak-banyak tempat lainnya. Menit berganti menit, jam berganti jam tak terasa hari mulai malam. Doni dan Puput pun memutuskan untuk menginap di sebuah Hotel, tanpa Puput ketahui Hotel tersebut adalah milik dari Doni. Mereka pun memesan dua kamar yang saling bersebelahan. ‘Senangnya aku hari ini, aku mendapatkan pengalaman menyenangkan yang belum pernah aku dapatkan selama ini.’ Pikir Puput tanpa dia sadari sebuah bahaya sedang menantinya. Lalu Puput pun masuk ke dalam kamar mandi itu melakukan ritual membersihkan diri.

Tepat jam dua belas malam semua orang yang berada di hotel tersebut telah terlelap di alam mimpi mereka masing-masing namun tak dengan seorang pria yang memiliki nama Doni sekaligus si pemilik hotel ini. Dia sama sekali tak terlelap dia seakan menunggu-nunggu sesuatu. “Hahahaha sebentar lagi tubuh dari wanita bodoh itu akan aku jadikan milikku!” ucapnya sambil tertawa jahat membayangkan rencana yang akan dia lakukan kepada Puput, oh sungguh malangnya nasib dari Puput seorang wanita polos yang tak tahu apa-apa tentang gelapnya sisi dunia.

Waktu pun berlalu hingga jam di sebuah kamar hotel tepat menunjukkan angka dua belas yang menjadi pertanda bahwa hari berada di antara pertengahan waktu untuk memasuki hari esok. “Hahahaha saatnya menjalankan rencana yang telah ku susun!” ucap seorang pria yang berada di kamar hotel tersebut, lalu dia berjalan ke arah luar kamarnya dan memasuki sebuah kamar yang tepat berada di samping kamar dari pria tersebut. Berjalan mengendap-endap ke arah sebuah rancang yang terbuat dari kayu jati yang terdapat seorang wanita yang tidur diatas rancang tersebut. Lalu pria tersebut mulai melakukan rencana jahatnya terhadap wanita tersebut, wanita tersebut yang masih berada di alam mimpinya tak mengetahui bencana apa yang akan menimpanya. Tapi karena sebuah kesalahan yang dilakukan oleh pria tersebut membuat si wanita terbangun dari tidurnya.

“Hei Doni! Apa yang kau lakukan padaku!” teriak wanita tersebut terhadap pria yang mulai akan melucuti busana dari wanita tersebut.
“Well yang ku lakukan adalah menikmati dirimu Puput!” jawab pria tersebut sambil mendekati Puput yang terpojok di dinding kamar hotel tersebut.
“Jangan Doni! Tolong-tolong!” teriak Puput dengan sekuat tenaga sampai melemparkan benda-benda yang berada di dekatnya guna menjauhkan Doni dari dirinya.
“Ayo teriak Puput, teriak tak akan ada yang dapat mendengarmu karena kamar ini adalah ruangan kedap suara, tak akan ada yang dapat mendengar teriakan bodohmu itu!” ucap Doni sambil terus berjalan ke arah Puput.

Puput terus saja melemparkan benda-benda yang berada di sekitarnya sampai semua benda yang berada di sekitarnya habis, lalu pun berusaha melarikan diri dari Doni namun apalah dayanya yang hanya seorang perempuan tentu saja dia tak mampu melawan Doni yang seorang pria. Dan pada akhirnya Puput pun kehilangan kehormatan yang selalu dia jaga selama ini. Nasi telah menjadi bubur kini Puput hanya dapat duduk termenung sambil memikirkan dan menyesali perbuatan bodoh yang telah dia lakukan, karena telah terlalu percaya dengan pria tersebut.

Cerpen Karangan: Muhammad Adha Wahyudi
Facebook: Muhammad Adha Wahyudi
Seorang penulis pemula yang bernama Muhammaad Adha Wahyudi yangvberumur 16 tahun dan bersekolah di SMAN 13 Palembang dan tentu saja tinggal di kota pempek tercinta “Palembang, Sumatera selatan”.

Cerpen Andaikan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Walau Tak Berarti

Oleh:
Saat kutermenung memandangi belahan langit biru yang luas. Aku merenung tentang sebuah hal yang ingin aku tanyakan. Apakah hakekat hidup itu? Itulah kata kata yang kutanyakan. Namun ini bukan

Sadar

Oleh:
Minggu sore yang cerah, waktu yang pas bagi Rika untuk membaca setiap koleksi buku yang ia miliki. Sore ini alam sangat bersahabat, angin yang sepoi-sepoi, simponi alam yang menenangkan

Sesal

Oleh:
Hari mulai petang, Fera baru pulang dari latihan pramuka. Penat sangat terlihat dengan hanya sekali pandang. Sendinya bagai tak mampu menahan bobot tubuhnya. Namun, entah kekuatan apa yang menggerakkan

Cinta Datang Terlambat

Oleh:
Di sepanjang perjalanan pulang sekolah, aku hanya terdiam, mulutku terkunci. Telingaku tuli, tak kuhiraukan deru-deru kendaraan yang berseliweran di sampingku. Sengatan matahari yang begitu panas tak kuhiaraukan. Otakku terus

Home

Oleh:
Semburat warna merah dan biru bergradasi menghiasi langit. Burung-burung berterbangan mengantar sang raja langit ke tempat persembunyiannya. Lampu demi lampu mulai menyala menerangi jalanan. Orang-orang berlalu-lalang menelusuri trotoar dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Andaikan”

  1. Andi Wahyudi says:

    Aduh malang sekali nasib si puput ini. Andai saja dia tak pernah mengenal pria tersebut, mungkin kejadian itu tidak akan terjadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *