Arca

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Pertama, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 20 November 2017

Dulu sekali. Sering kulihat seorang gadis duduk di bawah pohon beringin di samping perpustakaan. Dia selalu duduk di situ. Berdiam diri. Sesekali tersenyum saat seseorang yang dikenalnya lewat. Aku tak tahu siapa namanya. Yang pasti semua orang memanggilnya unyil.
Pantas saja. Tubuhnya begitu mungil dan kecil. Kutafsir tingginya hanya 130 cm atau kurang ya? Entahlah, yang jelas dia sangat pendek.

Aku mengenalnya saat dia MOS. Yang kalian pikirkan aku adalah OSIS. Ya kalian benar. Sejak itu perhatianku teralihkan padanya. Dia selalu tersenyum. Pernah kelasnya mendapat hukuman berlari di lapangan. Aku tak tahu jenis kesalahan yang dilakukan kelasnya. Yang jelas, saat semua temannya menggerutu. Dia tetap tersenyum seolah tak kepanasan dan kelelahan.

Di minggu-minggu pertama sebagai siswi resmi SMP. Dia senang duduk di kelas. Sendiri, atau terkadang bersama temannya. Baru di bulan-bulan selanjutnya. Dia beranjak menjadikan kursi beton di bawah pohon beringin tempat nongkrongnya.

Aku selalu memperhatikan. Jelas saja. Tempat dudukku pas di jendela. Dan jendela tersebut mengarah langsung ke pohon beringin, dengan jarak sekitar dua puluh meter. Walau tak terlalu jelas. Tapi, aku masih bisa melihat segala aktifitasnya.

Pernah juga aku terpergoki memperhatikannya. Aku salah tingkah. Namun dia malah tesenyum manis sekali. Mau tak mau aku membalas senyumnnya dengan senyum canggung nan kaku.

Masih kuingat dengan jelas. Hari itu hari rabu, 23 januari 2002. Semua siswa sibuk dengan aneka kegiatan saat class meeting. Namun, dia tetap duduk di bangku tersebut. Memakai baju olahraga dan sepatu kets berwarna abu-abu.

Dengan ragu aku mendekatinya. Dia tersenyum. Aku ikut tersenyum. Manis kali ini, bukan kaku atau canggung. Aku duduk di sampingnya. Sebenarnya tidak sopan. Tapi masabodohlah. Dengan berani aku bertanya.
“Kenapa duduk di sini?”
“Ramai”
Suaranya sangat lembut. Seperti kue apem yang baru keluar dari kukusan. Merdu lagi, seperti suara burung bul-bul.
“Ohh”
“Kakak sendiri?”
“Ya, sama”

Aku meringis canggung. Sebenarnya jika saja tidak ada dia di sini. Mana mau aku ke sini. Gosip-gosip sih, katanya ini pohon beringin ada penunggunya. Takut sih nggak. Tapi kalau itu hantu mau jadikan aku pelayan gimana? Kan rusak tatanan.

Kembali ke awal. Setelah kata terakhir yang aku ucapkan kami diam. Dia memainkan tanah dengan kakinya. Menimbulkan bunyi gesekan yang sebenarnya sangat tidak apik didengarkan.
“Nggak takut duduk di sini sendirian”
“Kan ada kakak”
Bodoh. Pertanyaan apa yang kau ucapkan. Yang salah pertanyaanku atau otaknya unyil ini.

“Maksudnya itu ka—”
“Iya aku tahu kak” dia memalingkan mukanya ke arahku “Takut apa? Toh kalaupun ada makhluk lain. Kita sama-sama hamba. Sederajat di hadapan Tuhan”

Jawaban paling epik yang pernah terlontar pada mulut manusia yang menempati SMP ini. Kupandang wajahnya. Dia punya tipe wajah seperti bocah. Bola matanya besar. Bibirnya tipis dan merah. Rambutnya lurus sebahu, ada poni menghiasi pipi chuby nya yang menggemaskan. Dan tak lupa pipinya yang selalu merona. Pas dengan kebiasaan tersenyumnya.

“Kakak mau tanding basket kan? Kelas kakak sudah dipanggil”
Karena meneliti wajahnya. Aku sampai tak mendengar suara panggilan. Buru-buru aku berdiri.
“Aku dulu ya” dia mengangguk.

Aku lupa tidak menanyakan sesuatu yang bermanfaat. Nama misalnya. Arghh, bodohnya. Tadi kan kesempatan langka. Sudahlah masih ada hari esok. Lagipula masih ada tiga hari lagi sebelum libur panjang.

Keesokannya. Aku menunggu dia di kursi. Sampai hari sabtu pun dia tak pernah datang. Aku ke kelasnya. Temannya bilang dia tidak masuk. Tiga hari menyebalkan. Uhh, sangat bodoh.

Dua minggu kemudian. Hari pertama masuk sekolah. Upacara bendera. Aku berada di barisan pertama. Sesekali aku mencuri pandang ke barisan kelasnya. Sayang sekali. Si unyil yang pendek tak terlihat.

Saat istirahat baru aku melihat sosoknya. Dia tetap sama. Tidak berubah barang sepercik pun. Kali ini dengan berani aku menghampirinya. Banyak pertanyaan yang aku susun rapi di otak. Aku hafalkan tadi malam. Supaya tidak sia-sia lagi.

Dari percakapan itu. Aku tahu namanya. Namanya adalah Arca Aras. Sangat unik dan menarik. Dia suka dengan warna abu-abu. Pantas saja, setiap hari bebas memakai sepatu berwarna, dia selalu memakai sepatu abu-abu. Sekalipun modelnya berbeda.

Dia juga senang dengan Doraemon, puzzle, rubik, dan musik. Sangat berbeda dengan kesukaan semua gadis pada umumnya. Jangan berfikir aku mengetahui semua hal tentang dia dengan pertanyaan langsung. Tentu saja dengan bahasa ungkapan agar dia tidak curiga. Lucu juga kalau dia ilfil denganku. Sejak itu, kami sering duduk bersama di kursi itu. Membicarakan banyak hal.

Sesudah ujian nasional, sekolah mengadakan prom night. Tahun-tahun sebelumnya sangat banyak surat terselip di lokerku. Begitu pula tahun ini. Malas sebenarnya, tapi bagaimana lagi. Aku begitu ingin mengajak Arca perg bersama.

Saat istirahat. Aku mengutarakan keinginanku. Dengan paksaan, dan Arca mau pergi bersamaku. Malamnya kami bertemu di depan gerbang. Aku memakai setelan jas lengkap dengan dasi dan tatanan rambut serapi mungkin. Arca memakai dress unggu. Ada hiasan renda di lehernya yang berbentuk V.

Kami berdansa. Entah kenapa senyum yang biasanya selalu terukir malah lenyap. Jika kutanya. Dia menjawab hanya lelah. Kutawari dia pulang. Dia menggeleng. Jadinya kami berada di sana sampai acara berakhir.

Pengurus osis sibuk membersihkan sampah yang berserakan. Sedangkan aku dan Arca masih setia duduk di tempat biasa. Kuajak dia pulang, namun dia tidak mau pulang. Arca memecahkan keheningan dengan bertanya.

“Cinta itu seperti apa kak?”
“Entah. Kata anak-anak sih, seperti ada yang berdebar-debar di hati. Rasa nyaman dan sayang”
“Sialan”
Aku sedikit terhenyak dengan umpatannya. Kukira dia gadis selembut sutra.

“Aku selalu merasakan hal itu saat bersama seseorang”
“Siapa?”
“Seseorang. Aku ingin mengungkap semuanya sebelum aku pergi”
“Kamu mau ke mana?”
“Palembang. Ayah tugas di sana”

Ayahnya seorang tentara. Aku baru tau saat tadi dia diantarkan ayahnya yang masih memakai seragam tentara.

“Ada saran?”
“Kalau mau sih. Coba kamu datangi dia. Katakan kalau kamu mencintainya. Kalaupun dia tak mencintaimu, setidaknya kamu lega mengutarakan rasa di hatimu”
Dia tidak menjawab. Jadi aku mengajaknya pulang.

“Ayo pulang?”
“Kak, apa ada seseorang yang mengisi hati kakak?”
“Tidak. Aku nggak percaya dengan cinta monyet. Membuang waktu. Bagiku cinta adalah orang yang akan berdiri di samping kita dalam keadaan sudah terikat tali pernikahan”
“Dan sialnya aku jatuh cinta ke kakak”

Aku membeku. Aku diam saja saat dia berlari menjauh. Lalu hilang ditelan gelap malam. Aku juga menyadari segala gejolak saat aku duduk dengan Arca. Tapi, ini hanya cinta monyet. Dan aku tidak mau terjebak dengan cinta monyet.

Malam itu adalah malam terakhir aku bertemu dengannya. Setelahnya dia menghilang. Aku tak tahu ke mana. Perlahan kusadari. Cinta yang dulu kukira hanya cinta monyet malah tetap bertahan sampai sekarang. Jujur, aku menyesal. Seharusnya aku mengejar Arca saat dia berlari. Mengatakan kalau aku juga mencintainya.

Rasanya memang tidak terlalu menohok. Namun entahlah, saat aku mencoba mencintai gadis lain. Rasanya gejolak di hatiku sangat jauh berbeda saat dengan Arca. Sekarang baru bisa aku katakan Arca Aras adalah cinta pertamaku. Dia adalah satu-satunya gadis yang membuatku tersenyum.

Lima belas tahun berlalu. Dia sekarang berdiri di hadapanku. Memakai kemeja dan jeans biru. Tubuhnya sedikit lebih tinggi. Lekukan khas wanita sangat melekat sempurna di tubuhnya. Arcaku sudah menjadi gadis seutuhnya.

Ingin sekali kupeluk tubuhnya mengatakan kalau aku mencintainya. Tapi, aku tahu kemungkinan Arca sudah tak mencintaiku lagi. Lagi pula mana bisa kita bersama lagi.

“Ini istriku Yun. Namanya Arca”
Aku mengerjap. Dan tersenyum kaku. Senyum sama yang aku sunggingkan kala dulu. Arca telah menjadi kakak iparku. Istri dari kakakku. Lucu sekali takdir bermain denganku.

“Yudi…”
“Ya kak” aku mengerjap. Kemudian mengulurkan tanganku “Yudi. Yudi Januratama”

Arca mengulurkan tangannya kemudian menyambut uluran tanganku. Rasanya masih sama seperti dulu. Rasa gejolak di dada dan sayang yang semakin dalam saja.

“Arca Aras”

Suaranya pun sudah berubah. Makin merdu dan halus. Sedikit ada tambahan serak-serak basah. Kami bertatapan dalam diam. Dunia seolah berhenti bergerak. Kakakku berdehem.

“Aku tau Arca cantik Yun. Aku cemburu loh”

Buru-buru aku melepas genggaman tanganku. Dan tertawa canggung. Dari dulu Arca sudah cantik. Namun bukan itu yang membuatku jatuh cinta pada sosoknya. Lebih dari itu. Aku jatuh cinta padanya karena karakter yang melekat pada dirinya. Sosok gadis penuh senyum dan pembawa kebahagiaan.

“First love”

Aku mengguman saat kakakku berjalan menjauhi kami. Katanya dia akan menemui ibu di halaman belakang. Arca sedikit terkejut dengan ucapanku.

“And you also my first love. However it was to late”

Dan Arca mengikuti langkah suaminya alias kakakku. Arca benar. Sekarang sudah terlambat.

Cerpen Karangan: Sheilah Aktar Naina
Facebook: Na Naina

Cerpen Arca merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rindu Ayah

Oleh:
Aku adalah seorang anak yang terlahir dari sebuah keluarga kecil yang sederhana. Keluargaku terdiri dari enam orang, yaitu Ayah, Ibu, aku dan tiga orang adikku. Aku sangat bahagia, mempunyai

Penyesalan Cinta

Oleh:
CINTA… Cinta bagiku adalah rasa kasih sayang terhadap sesama… cinta itu suci… indah… dan tak dapat di ungkapkan dengann kata-kata. PENYESALAN… Penyesalan untuk ku merupakan perasaan bersalah atas semua

Secarik Surat Untuk Billy

Oleh:
“Billy sahabatku teman terbaikku. Aku ingin minta maaf padamu, atas semua kesalahanku dulu kepadamu. Aku tahu kau pasti sakit hati atas semua itu. Billy aku yang sekarang bukan aku

Best Friend

Oleh:
“Aku melihat Mas Aldi menunggangi kuda putih. Ia datang menghampiriku, Fit. Mengajakku berkeliling. So sweet banget.” Dengan wajah sumringah Siska menceritakan mimpi indahnya semalam. Mimpi indah bersama sang pujaan

Tak Tersampaikan

Oleh:
“brisik” grutuku mendengar orang-orang di sebelah rumahku sedang melakukan pembangunan rumah. Bangunan tingkat dua sama seperti rumahku. Rumah itu sudah hampir jadi sekarang. Aku tak sabar menuggu rumah itu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *