Asmara Belia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 19 February 2016

Ku lajukan armada roda duaku perlahan, dengan hembusan angin yang terasa menyentuh kulitku perlahan. Sesekali ku guratkan senyuman, namun tetap saja wajahku nampak masam. Kini kembali ku terbawa dalam kisah yang telah usang, namun menyimpan beribu kenangan yang kadang bisa membawaku ke awang-awang. Terlintas masa-masa liburan saat aku masih duduk di bangku SMP dulu.

Malam ini malam minggu, aku sudah siap untuk menghabiskan malam ini bersama kedua sepupuku. Dengan jeans biru, dan switter ungu kesayanganku. Ku gerai rambut ikalku, dengan bando yang melekat indah di atasnya. Oh iya Namaku Rossy. Murid kelas 3 di salah satu SMP di kotaku. Dan sekarang aku sedang menikmati liburan di rumah saudara sepupuku. Aku berjalan bergandengan dengan Nida, sepupu perempuan yang sesusia denganku. Sedang Kak Handy (saudara laki-laki Nida) berjalan sendiri di belakang kami.

Mengawasi dua gadis belia yang mulai riweuh di mana saja. Bagaimana tidak, sepanjang perjalanan kami terus mengoceh tak ada hentinya. Dan Kak Handy hanya bisa menggeleng dengan tawa kecilnya. Kini kami sampai di tempat tujuan, tempat berjajarnya bermacam permainan, kerlap-kerlipnya lampu warna-warni, serta ribuan kembang gula. Tempat ini begitu padat, dipenuhi insan yang menghabiskan malam panjang dengan orang-orang yang mereka sayang. Sama seperti yang kami lakukan.

“Waaahhh.. rame banget ya, Da.” Ucapku antusias dengan mata yang mengitari setiap sudut pasar malam, tempat kami berdiri. “Iyalah.. Sy, namanya juga pasar malam. Kalau sepi, namanya kuburan. Hehehe,” ledek Nida padaku.
“Sok tahu kamu, Da. Orang di kuburan juga lagi rame, tante kunti sama om pocong kan lagi disco. Hahaha,”
“Huuuss.. jangan sembarang kalau ngomong kamu, Sy.” Sahut Kak Handy dengan nada yang sedikit meninggi.
“Iya-iya Kak, aku kan cuma bercanda.” Jawabku yang mulai mengguratkan raut masam di wajahku.
“Makanya kalau bercanda itu jangan kelewatan, Sy. Mereka itu lagi bikin acara khitanan Si Tuyul, kok kamu bilang lagi disco. Hahaha,”
“Huuuuufftt.. kakak.. gak lucu tahu.” Ucapku.
“Iyaa.. garing kayak emping.” Imbuh Nida. Aku dan Nida hanya menghela napas melihat Kak Handy yang masih tertawa dengan lawakan garing yang lucu baginya.

Aku menunggu Nida di depan kamar mandi umum, sedang Kak Handy masih membeli kembang gula pesanan kami. Namun, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang menangis mencari ibunya. Ku hampiri dia. Dia pun bercerita jika ia baru saja kehilangan orangtuanya, saat ia tergoda melihat tumpukan boneka. karena tak tega aku pun mengantarkan ia mencari ibunya.

“Da.. kamu masih lama?” Teriakku pada Nida.
“Bentar Sy, perutku lagi korslet niih.”
“Aku pergi bentar ya, nanti tunggu aku di sini. Jangan ke mana-mana.”
“Iya, jangan lama-lama.” Sahut Nida.

Aku pun berjalan menyusuri setiap sudut pasar malam bersama gadis kecil tadi, yang bernama Rara. Kami terus berjalan, hingga kami bertemu kedua orangtua Rara yang nampak gelisah bercampur haru. Setelah itu, aku pamit dan berlalu. Di perjalanan aku bertemu Kak Handy, bersama seorang temannya. Dia adalah Kak Gumilang, teman sekelas Kak Handy di SMA tempat mereka menimba ilmu. Lalu kami pun berkenalan. “Astaga.. tampan sekali pangeran ini, Kak Gumilang. Wajahmu begitu cemerlang.” Batinku sembari sesekali tersenyum tak jelas.

Sejak saat itulah kami semakin dekat. Hampir seluruh waktu liburan, ku habiskan bersama Kak Gumilang. Dari lari pagi bersama, bersepeda, bermain pasir di pantai, hingga beberapa kali kami ke pasar malam lagi. Tapi tentu kami tak hanya berdua, ada Nida dan Kak Handy yang ikut bersama kami. Meskipun begitu, aku sangat bahagia. Hubunganku dan Kak Gumilang berlanjut, bahkan saat kami terpisah oleh jarak. Karena aku yang harus kembali ke kotaku. Memang cinta tak mengenal jarak dan waktu, tapi kata orang cinta kami ini cinta monyet belaka. Dan akan hilang begitu saja saat kami beranjak dewasa, tapi terserahlah. Yang penting aku bahagia bersama cinta pertamaku, Gumilang.

Terdengar dering ponselku, dan tertera nama “My Gumgum”. Namun kali ini aku enggan mengangkatkan.
“Aaah.. mana ada pacaran cuma lewat telepon doang, kamu pacaran sama orang apa sama handphone? Hahaha..” Terngiang ejekan teman-temanku tadi, di sekolah.
“Atau.. jangan-jangan kamu pacaran sama operator yaa, Sy?” Ledek temanku lagi, yang kembali terngiang-ngiang di telingaku.

Ingin rasanya aku masukkan sebongkah es balok untuk menutup mulut mereka, tapi apa dayaku. Semua yang mereka katakan adalah fakta. Kak Gumilang memang pacarku, tapi tak seperti pacar teman-temanku. Mereka selalu diantar jemput pacar mereka, nonton bareng, jalan-jalan, dan masih banyak hal indah yang mereka lakukan. Sedang aku, aku hanya berkutat dengan ponsel. Terlebih saat Kak Gumilang diharuskan pindah ke Papua bersama nenek dan kakeknya, hubungan kami semakin renggang. Bahkan untuk memasang foto bersama pacarku di akun sosial media, aku pun tak bisa. Itulah yang membuatku lelah, dan ku putuskan untuk berpisah darinya.

“Maaf Kak, lebih baik kita akhiri saja hubungan ini.”
“Apa maksud kamu, Sy? Memangnya apa salahku?” Suara Kak Gumilang terdengar nyaring di telingaku.
“Kakak gak salah, tapi aku hanya ingin kita fokus ke kehidupan kita masing-masing. Aku ingin fokus ke sekolah Kak, jadi aku harap kakak bisa mengerti posisiku.” Jawaban yang terdengar klasik, yah memang itu bukan alasanku sesungguhnya. Berbagai macam penjelasan terlontar dari mulutnya, ia berusaha meyakinkanku untuk tetap mempertahankan hubungan kami. Hati tergetar, namun kalimat sumbang teman-temanku kembali terngiang hingga kembali mengeraskan hatiku.

“Baiklah, jika itu yang bisa membuatmu nyaman. Aku terima. Tapi, kita masih bisa berteman kan?” Ucap Kak Gumilang lirih. “Tentu Kak.” Jawabku singkat, hatiku kembali tergetar namun ku abaikan.

Libur sekolah kembali menyapa, dan seperti biasa. Aku menghabiskannya di rumah sepupuku, Nida. Namun tak ada Kak Handy, karena ia kini kuliah di Jogja. Tergambar jelas akan seperti apa jadinya liburanku kali ini, tak ada Kak Handy dan Nida juga sibuk dengan pacar barunya. Sedang aku, hanya berdiam diri di rumah. Duduk di depan layar kaca, hingga pedih di mata. Tujuanku ke mari untuk mencari hiburan, namun yang ku dapat sama seperti saat aku di rumahku sendiri. Biasa saja, dan tak ada yang istimewa.

Bosan menonton drama aku pun merebahkan tubuhku di kamar, berharap aku bisa tertidur lelap hingga waktu gelap. Namun, justru hal yang menjengkelkan terlintas di benakku. Kenangan saat aku putus dengan Kak Andre tepat setelah acara pensi usai, padahal kami baru jadian sekitar 4 bulan. Dan hal yang membuatku kesal adalah alasannya yang sangat klasik. Ya.. ingin konsentrasi ke kuliahnya, sama seperti alasanku putus dengan Kak Gumilang dulu. Ini mungkin karma yang ku terima, sebagai balasan sakitnya hati Kak Gumilang saat ku putuskan dia demi keegoisanku. Handphone-ku berdering, nomor yang tak ku kenal. Sebenarnya aku enggan mengangkatnya, takut jika hanya orang yang iseng saja. Tapi entah kenapa, aku kemudian mengangkatnya.

“Hallo,” suaraku terdengar datar.
“Hallo.. Rossy.” Suara itu terdengar lembut, seperti lantunan nada yang sering ku dengar dulu.
“Kak Gumgum.” Jawabku spontan.
“Hehehe.. masih hafal aja kamu sama suara kodokku, Sy.” Suara tawa yang terdengar nyaring dari sang empunya di seberang sana. Tak banyak yang kami bicarakan, karena lidahku masih terasa kaku. Antara senang dan penyesalan yang bercampur menjadi satu, membuat kalimat-kalimat dingin yang justru keluar dari bibirku.
“Maafkan aku Kak.” Batinku lirih. Namun yang keluar dari mulutku hanyalah, “Oh.. iya, ya, gak.. udah,” dan bermacam kata dingin lainnya. Bahkan tawaku begitu kaku.

Kak Gumilang justru terus mengajakku bicara, seolah ia tak mendengar jawaban-jawaban dingin dariku. Lalu ia ingin menemuiku di rumah Nida. Karena ia tahu benar jika liburan aku pasti ada di sana, dan karena itu ia pulang dari Papua. Aku menolaknya halus, ku katakan jika liburan ke Bali bersama kedua orangtuaku. Penyesalan di dalam hatiku, membuatku malu jika harus bertemu dengannya.

“Sayang ya, padahal aku ingin sekali aja bisa ketemu kamu lagi, Sy.” Terdengar suara kekecewaan Kak Gumilang yang teramat dalam. “Maaf yah Kak.. hmm tapi kan kita masih bisa ketemu lagi tahun liburan tahun depan Kak. Hehehe,” sahutku ringan, mencoba menutupi hatiku yang semakin diliputi rasa bersalah. Dan itu perbincangan terakhir kami.

Aku masih melaju dengan motorku, dengan rasa yang semakin kacau. Perasaanku hancur, saat kembali ku ingat barisan-barisan kalimat di surat itu. Surat yang ia kirimkan untukku. Sepenggal Surat.

“Aku sangat-sangat merindukanmu, Sy. Dan sekarang kamu tahu kan semua rahasiaku? Jadi jaga diri kamu baik-baik yah “My Osy”, belajar yang rajin. Semoga kelak kamu bertemu pangeran impian kamu, yang bisa menemanimu setiap waktu. Meskipun itu akan membuatku cemburu dari alam sana, tapi tak apa. Yang terpenting kamu bahagia. Oh iya, aku ingin sekali makan ice cream berdua dengan kamu, Sy. Nanti abis baca ini kamu beli yaah, rasa cokelat aja. Kayak ice cream favorit kita dulu. Bye.. bye My Osy. Tertanda, Gumilang Arfian.”

Setiap barisan tulisan di lembaran surat itu, terus saya terngiang di benakku. Betapa hancur hatiku, kekasih pertamaku pergi dari dunia ini karena keegoisanku. Hal yang selama ini ia simpan sendiri kini ku ketahui, ia pergi ke Papua karena kedua orangtuanya bercerai. Dia sangat frustasi, namun ia hanya menyimpanya sendiri. Dia tak ingin aku sedih karenanya. Hanya dengan mendengar suaraku dan beradu dalama gelak tawa saja itu sudah membuatnya bahagia. Namun aku justru mencampakkannya, membuatnya semakin hanyut dalam kepedihan diri.

Aku yang seharusnya menghibur kekasihku, tapi aku justru mementingkan egoku. Bahkan saat ia ingin menemuiku dulu, dia tahu jika aku berbohong. Dia tak marah, bahkan dia hanya mengamatiku dari jauh. Mengambil potretku dari sudut yang tak ku ketahui. Mengabadikan setiap raut wajah yang tergurat di wajahku, yang kini ku simpan bersama surat darinya. (Gumilang memutuskan untuk bunuh diri karena frustasi, setelah mengirimkan surat terakhirnya pada Rossy). Sesalku tak bertepi, namun semuanya terasa terlambat bagiku. Tak ada yang bisa ku lakukan, selain berusaha mengabulkan keinginan terakhirnya. Lalu ku putar balik arah lajuku, menuju sebuah mini market. Membeli 2 buah ice cream cokelat yang dulu biasa kami nikmati bersama.

Aku terduduk sendiri di sebuah bangku taman, menikmati ice cream yang melumer di tangan. Bercampur tetesan air mata yang terus mengalir dari kedua bola mataku. Penyesalanku semakin dalam, namun aku tak lagi mempunyai waktu untuk menebus semua kesalahanku padanya. Bahkan aku tak bisa melihat batu nisannya. Kak Gumgum sayang, maafkan aku yang terlalu mementingkan egoku. Dan semoga Tuhan juga memaafkan aku, yang telah membuatmu khilaf dan mengambil jalan pintas. Dan itulah akhir dari asmara belia antara aku dan dia.

Cerpen Karangan: Erlin Cardiva
Facebook: Erlin Cardiva

Cerpen Asmara Belia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Always Remember

Oleh:
Felly, gadis cantik itu masih tetap di tempatnya. Tidak bergerak. Tetap diam membisu. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir tipisnya itu. Dia berdiri dengan tatapan kosong

Goodbye My Lover

Oleh:
Hmmm… Entah bagaimana perasaan yang aku rasakan saat ini. Apakah ini bentuk penyesalan yang teramat mendalam atau apakah ini hanya untaian masa lalu yang membuatku kadang bisa gila memikirkannya.

Listen to My Heart

Oleh:
Nadia membuka lembar demi lembar yang tertulis not angka dan not balok, ia mainkan nada-nada itu dengan piano. Lama-lama ia merasa bosan, jadi ia meninggalkan piano itu. Ia membuka

Maut

Oleh:
“Lusi, ayo sholat bareng!” Ucap Hasni, saudaraku. Aku pun mengangguk pelan sambil masih terus berkutat pada majalah yang sedang kubaca. “Iya. Duluan aja ya.” Ucapku malas. Hari ini aku

Cinta Alfa Dan Omega

Oleh:
Di sebuah taman hidup bunga berbagai rupa mereka berbaris rapi membentuk hati. Di tengah-tengah taman itu terdapat padang rumput hijau yang dapat dijadikan tempat kisah kasih antara dua insan.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *