B.I.R

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 28 April 2013

Malam dingin ini aku menikmati sebatang coklat dan kopi hangat, di depan komputer aku melihat seluruh fotomu. angin berhembus kencang menerpa gorden di tambah teriakan bunyi kilat, menambah beban di hatiku. aku menarik napas panjang di keluarkan dari belakang, skalian ampasnnya*

Sebuah lagu. “white dove sejak kau di hatiku” *kalau yang punya lagu ini, dengerin sambil baca ini ya.* mengiringgi air mata yang tak dapatku tahan. di kamar ini kosong. aku memandang seluruh sudut rasanya selalu ada bayangan kekasihku. Sekian lamanya kami hidup dalam kedamaian. atau mungkin itu hanya sandiwara antara kami.

Aku menatap fbnya.. membuka bolak-balik berandanya, aku tahu tak akan ada update terbaru. aku melirik ke sebuah foto di mana, ciuman hangat dengan pelukan di sebuah altar gereja. memutarkan kembali imajinasiku dulu.

Langkah kaki ku berdetak di iringi bunyi menyusuri tangga. Beberapa bunga mawar di tangan. aku baru pulang dari kantor, hari ini aku sengaja pulang cepat hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun untuk kekasihku. sekaligus tahun hari jadinya kami yang ke 10. Aku berdiri di pintu. menarik napas panjang dan “kreeeek” aku tertegun. terpaku, diam tak bergerak di depanku dua manusia sedang memadu kasih. Aku menjatuhkan bunga. hening sekali, rasanya lebih dari di tusuk berkali-kali. aku menutup kembali pintu. saking asyiknya mereka tak menyadari kehadiranku.

Aku berlari menyusuri tangga. beberapa menit kemudian aku mendengar langkah kaki menuruni tangga. Sengaja aku berdiri di pintu keluar dengan tanpa kata. Dua sosok yang tak lain adalah kekasihku dengan selingkuhannya berdiri tepat beberapa meter dariku. Mereka antara kaget atau…
kekasihku menutup mulut, berdiri diam terpaku. aku melangkah lunglai menyusuri jalan dengan mobilku. di spion ku lihat kekasihku berlari dan berteriak. sementara selingkuhannya. terduduk lemas yang tak lain adalah teman kantorku.

Aku memasuki cafe dan memesan begitu banyak minuman keras, seorang wanita datang mendekat, dan mencoba merayuku. ku menamparnya antara sadar atau tidak. Yang jelas aku telah di hajar masa. seluruh tubuhku remuk. Yang terakhir ku ingat. hanya wajah kekasihku memeluk erat di rumah sakit dan nyawaku melayang.

Aku menjatuhkan foto di meja. menutup foto, beranda fb kekasihku yang ikut menhilang bersama cahaya. Aku kembali kembali melayang menyusuri jalan ke arah gelap malam, yang ku lihat hanya sebuah wanita tua di kursi goyang, berayun menunggu mati dengan sebotol bir dan segelas bir. Ia tersenyum dan menangis memeluk sebuah foto.
Aku mendekat, ternyata foto itu adalah aku dan dia. Aku mengulurkan tangan mencoba menyentuhnya ternyata hampa. wanita tua itu adalah kekasihku. beberapa saat ia meraih bir di botol dan meneguknya. ia membanting gelas dan teriak mencakar tubuhnya. Beberapa orang dengan pakain putih datang dan menyuntiknya dengan obat penenang. Aku berlalu menembus angin malam dan ku hanya ingin katakan pada sahabatku

Cerpen Karangan: Alfred Pandie
Facebook: alfredpandie[-at-]yahoo.com

Cerpen B.I.R merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Malaikat Tak Bersayap

Oleh:
Ketika kau datang dengan membawa beribu warna, dan pergi meninggalkanku dengan jutaan luka. Sore itu, langit sudah mulai gelap. Tapi, seorang gadis berambut hitam legam tersebut masih duduk dengan

Pergi Tak Kembali

Oleh:
Sebuah cerita bermakna Yang ingin ku tulis Bukanlah sebuah mimpi Yang terbang melayang Hanya di atas angan-angan Rasa sepi di tengah keramaiaan ini Buat ku tau apakah aku bisa

Cinta Berakhir Kematian

Oleh:
Pagi ini tidak bersahabat, langit yang biasa terlihat indah dengan sinar mentari indahnya, tiba-tiba enggan membagikan sinarnya pada bumi. Sehingga tampak mendung yang disertai gerimis. Membuat hati ini semakin

Akulah si Siti

Oleh:
Bulan menatapku tajam di jendela kamarku. Sinarnya membuatku enggan kembali ke meja belajarku. Aku pun menghabiskan beberapa menit waktuku untuk menatap Ratunya Malam yang begitu tampil sempurna dengan kecantikannya.

Faris

Oleh:
Aku hanya ingin menulis. Entah kenapa, menurutku aku bisa menumpahkan segala kedukaanku dengan tulisan. Padahal aku tidak memiliki darah sastrawan ataupun penulis dalam keluargaku. Walaupun kakekku keturunan darah biru,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *