Bukan Cinta Buta (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 18 August 2017

Aku mengenalnya pertama kali sebagai sesama karyawan yang bekerja di sebuah perusahaan yang sama, hanya saja aku ditempatkan di kantor cabang sedangkan dia di kantor pusat. Namanya Khainan, seorang staf senior di divisi akunting kami. Aku sebagai supervisor akunting di Kantor cabang bertugas memberi laporan ke Kantor pusat setiap minggunya, dan kebetulan untuk teamku ditangani oleh dia. Selain divisi keuangan, ada tiga divisi lain yaitu team finance, billing dan pajak yang ditangani oleh staf senior yang berbeda di pusatnya. Saat closing bulanan tiba, teamku lah yang paling sibuk di ujung deadline karena ada beberapa laporan yang harus menunggu tiga divisi lain closing, setelah itu baru team akunting bisa bergerak merampungkan tugasnya hingga menjadi laporan keuangan dan dilaporkan ke pusat, sudah biasa buat kami pulang larut malam bahkan dini hari apabila laporan belum selesai. Awal bekerja, aku kaget dengan ritme kerja teamku, laporan harus selesai tepat waktu dengan deadline yang mepet, beberapa kali sempat membuatku stress, tapi beruntunglah seniorku begitu baik, tidak jarang dari Kantor pusat Khainan membantu teamku menyelesaikan laporan supaya bisa tepat waktu.

Setahun lebih aku bekerja, belum pernah sekalipun bertemu dengan Khainan, dia tidak pernah ikut di jadwal visit ke Kantor cabang seperti staf senior yang lain, aku disebut sebagai putri kesayangan Khainan oleh mereka karena apabila di kantor pusat menemukan kesalahan di team akunting, Khainan selalu bisa pasang badan dengan berbagai penjelasan, berbeda sekali saat Khainan menangani team sebelum aku. Aku pernah bertanya kenapa tidak pernah mau mampir ke cabang, selalu dijawab bahwa dia mempunyai team yang hebat yang cukup dipantau dari jauh saja semua sudah beres. Aku sudah begitu familiar dengan suaranya karena kami setiap hari bicara melalui telepon dan email untuk masalah pekerjaan, Suara Khainan sangat nyaman didengar, dalam keadaan marah pun suaranya selalu tenang dan dia juga begitu perhatian pada anggota team yang sakit. Bukan hanya pekerjaan, terkadang Khainan juga iseng komen photo profilku di akun messanger, dan akhirnya menimbulkan obrolan yang panjang lebar dan ledek-ledekan juga, sebenarnya ke temen satu teamku yang lain juga dia melakukan hal sama, dia beralasan supaya hubungan kami tidak kaku satu dengan yang lain dan lebih terbuka setiap ada masalah. Tapi sepertinya aku telah jatuh hati dengan sosok yang belum pernah aku lihat itu karena intensitas komunikasi lebih sering denganku, sosok misterius yang bahkan photo profile di messangernya tidak pernah menampakan wajahnya. Kadang kami satu team bercanda membayangkan wajah Khainan seperti apa, ya… seperti apa ya? Aku sendiri penasaran.

Mungkin aku telah gila, selain teman-teman satu team di kantor, perasaanku ini juga aku sampaikan ke sahabat-sahabatku di luar Kantor, yaitu teman dulu sekampus, karena di antara kami berlima (Rita, Sasha, Elin, Ayu dan aku) hanya aku sendiri yang masih sendiri. Aku selalu jadi bahan ledekan dengan julukan jones (Jomblo ngenes) karena sudah 3 tahun aku tidak kunjung mempunyai kekasih. Ya… sudah 3 tahun sejak aku patah hati dikhianati dan ditinggal menikah dengan wanita lain oleh pacarku waktu itu, entah berapa kali mereka mencoba menjodohkanku dengan teman-teman mereka, tapi nihil, tidak ada yang bisa menarik perhatianku karena memang sosokku sendiri yang susah untuk jatuh cinta. Mereka kegirangan saat aku memberitahu bahwa aku sepertinya jatuh hati pada atasanku itu, tapi kemudian mereka tertawa dengan pengakuanku, bagaimana bisa sudah jatuh hati padahal bertemu pun belum pernah. Aku hanya menjawab bahwa aku menyukai namanya, Khainan… Khainan… Entahlah nama itu begitu indah didengar.

Akhirnya hari yang aku tunggu datang juga, aku mendapat undangan untuk menghadiri training selama seminggu di Kantor pusat bersama supervisor dari divisi lain juga. Itu berarti aku akan bertemu dengan Khainan di sana. Teman-teman satu teamku sudah heboh menitip pesan supaya aku mengambil poto sosok Khainan, oleh anak-anak divisi lain juga aku mendapat ledekan bahwa akhirnya akan bertemu dengan pangeranku. Suatu reaksi yang berlebihan mengingat aku ini hanya akan bertemu seorang atasan.

Jam 9.00 tepat kami team cabang telah berkumpul di lobi, kemudian diarahkan ke ruang meeting, aku membenahi rambutku, sedikit deg-degan saat memasuki ruangan, ternyata lumayan banyak yang sudah duduk di sana, ya mereka adalah anggota team pusat dan team cabang kota lain, satu dua wajah sudah aku kenal sewaktu mereka mengunjungi kantor cabang tempatku, beberapa lainnya asing di mataku, salah satu dari mereka mungkin Khainan tapi aku tidak berani memperhatikan mereka. Sebelum meeting dimulai, kami semua diperkenalkan oleh Mba Nina, salah satu team HRD pusat, disebut nama dan divisinya, satu persatu kami berdiri membungkuk saat nama kami dipanggil lalu duduk kembali. Saat anggota team pusat diperkenalkan, disitulah aku baru tahu sosok atasanku itu.

“Berikutnya, yang duduk di pojok kanan adalah bapak Khainan R. Tama, penanggung jawab team akunting cabang Kota Jakarta Selatan,” sebut Mba Nina. Tampak seorang pria tanpa bediri, hanya melambaikan tangan dari tempat duduknya dan tersenyum sambil menyapa sekeliling, “Halo… Semua, saya Khainan, senang bertemu kalian semua,” Aku menoleh ke arah datangnya suara, orang itu dari tadi luput dari pandanganku karena tempat duduk kami yang sejajar. Oohh… ini yang namanya Pak Khainan, Finally, I found you, batinku sambil tersenyum sendiri. Sosok yang lumayan tinggi dengan badannya yang sedang dan rambut yang dibiarkan lurus berantakan di dahinya.

Meeting berjalan lancar, dan aku pun begitu semangat mengikutinya. Saat selesai hari sudah gelap, masing-masing sibuk berbenah perlengkapan mereka dan bergegas untuk pulang, aku masih membereskan berkasku saat tinggal beberapa orang yang tersisa di ruang meeting tersebut. Dan terdengar Khainan memanggilku.
“Eriel… kamu pulang bareng siapa?” aku menoleh ke arah Khainan yang menatap ke arahku dari tempat duduknya, sembari tangannya masih sibuk membereskan charger laptopnya.
“Saya naik taksi sendiri pak, tidak ada arah yang sama dengan saya soalnya,”
“Ya udah… kamu bareng saya saja, sudah lumayan malam ini,”
“Ohh… memang pak Khainan searah sama saya?” tanyaku agak sungkan.
“Gampang, saya searah-arahin buat kamu,” guraunya sambil tersenyum, “kamu duluan saja, tunggu di Lobi, saya ambil mobil dulu”.
Aku menggangguk dan bergegas meninggalkan ruangan meeting. Ahh… Mimpi apa aku langsung diajak pulang bareng gini. Aku tersenyum sediri, please Eriela… Jangan GR dulu kamu, ini hanya perhatian atasan yang tidak tega melihat anak buahnya pulang malam sendirian, aku berusaha menekan perasaan senangku.

Tidak lama aku menunggu, tampak Khainan sudah di depan lobi dan membunyikan klakson mobilnya. Aku bergegas masuk ke dalam mobilnya. Kami bercerita kecil selama perjalanan, rasa kikukku perlahan lumer karena Khainan yang banyak bertanya ini itu ke aku seputar kerjaan, suaranya bener-bener mampu mencairkan suasana, dan membuatku berani nyerocos juga menjawab ini itu setiap pertanyaannya, lebih-lebih dia memintaku untuk tidak memanggil bapak apabila sudah diluar jam kerja, karena dia merasa seumuran juga denganku. Asli, aku benar-benar terpesona dengan sosoknya.

Satu setengah jam perjalanan ke rumahku terasa begitu singkat buatku, Khainan menolak saat aku menawarkannya untuk mampir dulu ke rumahku dengan alasan sudah larut malam, dia hanya melambaikan tangannya tanpa turun dari mobilnya dan menyuruhku segera masuk ke dalam rumah. Aku pun berterima kasih dan segera masuk, namun dari balik gorden jendela rumah, aku masih mengintipnya hingga mobilnya menghilang di ujung jalan. Fix, aku menyukai sosok itu.

Waktu seminggu itu berlalu dengan cepat, banyak hal yang pelajari dalam pekerjaan dan banyak pula hal yang aku perhatikan dari Khainan. Dia sosok yang supel dan humoris, tapi di jam-jam tertentu seperti jam makan siang dia lebih memilih tidak bergabung dengan teman-temannya, setiap yang lain beranjak ke kantin untuk makan siang, dia selalu saja tampak asyik dengan laptopnya, entahlah mungkin memang karena dia sedang banyak kerjaan. Begitu juga saat mengajakku pulang bersama, selalu aku disuruh turun duluan dari lantai 4 tempat Kantor kami dan menunggu di lobi, jawaban yang sama dengan hari pertama dia mengantarku juga selalu dia cetuskan setiap aku ajak mampir ke rumahku.

Di hari terakhir, Khainan kembali mengantarku, dia membelikanku makanan via Drive Thru di sebuah restoran cepat saji, macet membuatnya lapar katanya. Dalam perjalanan itu Khainan bercerita bahwa dulu dia termasuk orang yang keras dan tanpa toleransi ke anak teamnya, semua laporan harus perfect tidak boleh ada kesalahan, tidak sedikit yang menganggapnya menyebalkan dan bahkan beberapa anak cabang yang dibawahinya ada yang resign hanya karena sikap Khainan, tapi ada satu kejadian yang telah membuatnya berubah, yang membuatnya berpikir bahwa kalau kita ingin disukai orang lain, maka kita juga harus belajar menyukai orang terlebih dahulu. Saat aku tanya apa kejadian itu, Khainan hanya menggelengkan kepalanya. Aku pun hanya menggangguk-angguk maklum tanpa berniat mendesaknya. Ohh… mungkin ini alasannya selama ini dia begitu baik ke anak buahnya, termasuk aku. Aku tersenyum kecut begitu memikirkannya.

Hari Senin, aku memamerkan photoku bersama Khainan kepada teman-teman kantorku, photo yang aku ambil sebelum aku turun dari mobilnya saat hari terakhir Khainan mengantarku, itu pun sedikit memaksa dengan alasan bahwa kasihan teman-teman team akunting lain juga begitu ingin melihat sosoknya. Sedikit buram memang pencahayaan di photo tersebut sehingga wajah Khainan tidak begitu jelas terlihat. Aku bercerita bahwa sosok Khainan ternyata benar-benar sempurna seperti yang aku bayangkan, teman-teman yang lain pun meledek iri kepadaku. Sejak photo itu aku perlihatkan, gossip aku berpacaran dengan Khainan menyebar cepat di Kantor cabangku tanpa bisa aku cegah, aku menyangkal bahwa tidak ada hubungan apa-apa dengan Khainan pun tetap sia-sia, mereka tetap meledekku. Karena aku pikir, mereka hanya bercanda jadi aku tidak terlalu memikirkannya.

Dan pada teman-teman kampusku aku tunjukan pula photo itu supaya mereka berhenti meledekku jones, tidak ada maksud lain saat itu. Sampai pada akhirnya berita itu sampai ke orang-orang kantor pusat, dan aku merasa Khainan berubah terhadapku. Komunikasi pekerjaan hanya dia balas melalui email, telepon dan pesan-pesanku mulai jarang dia balas biarpun mengenai pekerjaan. Setiap ditelepon selalu sedang tidak berada di tempat, lebih sering menitip pesan untukku melalui teman satu teamku apabila ada koreksi atas pekerjaanku.
Ohh… Tuhan, beginikah rasanya ditolak sebelum menembak? Ya… bahkan aku pun belum mengutarakan perasaanku ini tapi aku merasa seperti sudah ditolak oleh Khainan. Dan aku pun tidak mempunyai keberanian untuk menanyakan ke Khainan kenapa dia berubah? Kenapa dia menghindariku belakangan ini? Kalaupun dia marah akan gossip itu, tidak bisakah dia tanyakan ke aku terlebih dahulu? Tiba-tiba ada kesedihan yang tidak bisa diceritakan, menusuk hati dan menyesakkan dadaku.

Dan di bulan kedua Khainan mendiamkanku, kesabaranku mulai habis, aku bertekad untuk menyelesaikan ini dengan mengirim pesan singkat ke Khainan malam itu.
“Nan, aku minta maaf kalau aku sudah melakukan kesalahan yang mungkin aku tidak sadari hingga kamu sekarang berubah, dan aku minta maaf apabila sudah membuatmu tidak nyaman atas berita yang beredar. Selama ini aku juga sudah menyangkalnya tapi aku tidak bisa membungkam semua orang untuk berhenti meledekku, salahku memang sudah membiarkannya tapi itu karena aku tahu mereka hanya bercanda. Aku harap kamu tidak marah atas ini dan kita bisa tetap bekerja sama dengan nyaman seperti sebelumnya,”
Pesanku terkirim dan Handphone-ku langsung berdering, aku kaget, itu telepon dari Khainan. Lama dering itu aku biarkan tak terangkat, entahlah entahlah aku seperti tidak punya keberanian untuk menghadapinya. Aku tiba-tiba merasa malu dan bingung harus mengatakan apa.

“Tolong angkat teleponku sebentar, Er,” pesan masuk dari Khainan.
“Maaf nan, lewat pesan saja, aku lagi ga bisa angkat telepon” balasku
“Sepertinya kita perlu ketemu, Er, kita perlu bicara”
“Maaf aku belum bisa ketemu kamu sekarang-sekarang ini, nan”
“Kenapa begitu?”
“Entahlah… tiba-tiba aku ga punya keberanian buat ketemu kamu”
“Loh… Kenapa Er?”

Lama aku membiarkan pesan terakhir dari Khainan tidak aku balas. Ada kebimbangan yang tidak bisa dijelaskan. Pesan masuk tampak di handphoneku lagi.
“Eriela…”
Aku masih membiarkan handphoneku tergeletak. Perasaanku makin berkecamuk tidak jelas. Semenit kemudian, berturut-turut pesan masuk berbunyi.
“Please… jawab aku. Kenapa?”
Khainan sepertinya sangat penasaran dengan alasan ketidakberanianku bertemu dia, aku putuskan untuk membalas pesannya.
“Karena aku menyukai kamu, nan. Itu yang sebenarnya terjadi”
“Kalau begitu, kita harus ketemu,”
Tiba-tiba handphone-ku langsung berdering kembali, Ohemji… Khainan menelponku lagi. Dengan gemetar aku beranikan menerima teleponnya.
“Kita harus ketemu,”
“Maaf nan, aku…,” belum selesai aku berbicara, Khainan sudah menyambarku.
“Tolong Er… jangan menolaknya. Aku tunggu kamu besok malam,” Tutt… Tutt… Tutt… Khainan mengakhiri panggilannya. Membiarkan aku gelisah menunggu esok hari.

Cerpen Karangan: Bee Artie
Blog: www.ceritapunyaarti.blogspot.co.id
Seorang ibu yang sedang ingin mengalihkan dunianya sejenak.

Cerpen Bukan Cinta Buta (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kisah Ku Sendu

Oleh:
Berawal dari kisah kami yang terukir dalam kertas putih. Saat itu aku dan Andre adalah teman satu kelas yang tak tau karakter masing-masing. Kita bagaikan anak-anak yang tak tau

Benang Tersembunyi

Oleh:
Kedua orangtuaku sudah bercerai sewaktu aku masih berumur 5 tahun. Dulu sewaktu SD, terkadang aku sangat iri melihat teman-temanku yang mempunyai orangtua lengkap dan mereka hidup bahagia. Tidak sepertiku

Coklat Untuk Adikku

Oleh:
Dua hari yang lalu, aku dan adikku sedang bertengkar. Kami memang sering sekali bertengkar akhir-akhir ini. Entah karena masalah cemilan dan masalah lainnya yang sangat sepele. Oh ya, kenalkan!

Sesal

Oleh:
Untuk terakhir kalinya ku belai kepala Boneng, seakan mengerti Boneng melirik ke arahku, matanya terlihat seperti berkaca-kaca. Mungkinkah Boneng juga sedih seperti yang ku rasakan karena kami harus berpisah.

Cinta di Akhir Cerita

Oleh:
Pagi yang cerah, sang surya mengintip dari balik jendelaku. Berbagi sinar dan senyumnya seakan menyuruhku untuk cepat bangun. Semburat sinarnya menerpa wajahku yang masih lesu. Dua tetes embun yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *