Bukan Cinta Buta (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 18 August 2017

Aku melirik jam di dinding kafe tempat aku akan bertemu dengan Khainan, sudah lewat seperempat jam tapi Khainan belum juga kelihatan. Sedikit tidak sabar aku menunggunya, jujur aku merindukan raut dan suara Khainan yang belakangan terasa sekali jauh dariku. Aku menyeruput minumanku yang sudah hampir habis. Mataku tak lepas mengawasi pintu masuk kafe, berharap Khainan segera muncul. Dan tiba-tiba mataku menangkap sosok seorang pria berjalan memasuki kafe, aku mengenal betul wajah itu, ya wajah yang aku rindukan belakangan ini, tapi aku terkejut melihat cara dia berjalan, langkahnya tampak pendek sebelah, kaki sebelah kanannya terlihat jelas lurus kaku dengan diseret perlahan menuju ke arahku.
“Khainan…,” Suaraku tercekat di tenggorokan, aku berdiri kaget tanpa bisa berkata-kata. Ingatanku seketika melayang saat-saat aku mengikuti training di kantor pusat, terjawab sudah mengapa Khainan selama ini tidak pernah ikut mengunjungi kantor cabang, mengapa dia tidak pernah bergabung untuk makan siang bersama, mengapa dia selalu menyuruhku duluan dan menunggu di Lobi saat mengantarku pulang, pesanan via drive thru hingga ajakan mampir yang selalu dia tolak. Benarkah karena ini alasannya?

Aku masih termenung di kamarku, mengingat cerita Khainan tentang kakinya, sebuah kecelakaan yang mengerikan 4 tahun lalu hasil perbuatan mantan anak buahnya yang sakit hati karena dipecat oleh Khainan saat ketahuan menggelapkan uang kas kantor, seperti yang diceritakan Khainan sebelumnya bahwa dulunya dia sosok yang tegas dan tanpa toleransi, tanpa mendengar alasan anak buahnya bahwa dia menggelapkan uang kas karena butuh biaya untuk membayar hutang sewaktu istrinya melahirkan, tapi Khainan tetap memecatnya. Aku masih memikirkan kata-kata Khainan di pertemuan kami tadi, supaya aku berpikir ulang untuk menyukainya, dia memberitahu bahwa akan tidak mudah jalan dengan pria dengan kondisi seperti dia, bagaimanapun akan ada saja orang yang melihat dengan aneh. Tapi tadi dengan yakin aku langsung menjawab tetap akan menyukainya dengan segala kondisinya karena aku sudah terlanjur sayang, dan lagi aku merasa alangkah jahatnya aku jika aku langsung berhenti menyukainya hanya karena kekurangan fisiknya.

Benar saja, hari pertama aku mengenalkan Khainan ke keluargaku, ibuku tampak sangat terkejut. Setelah Khainan pulang, aku disuruh berpikir ulang untuk tidak meneruskan hubungan dengan Khainan, ibuku khawatir Khainan tidak bisa menjagaku karena untuk menjaga dirinya sendiri Khainan pasti kesusahan, aku memohon pada ibuku untuk membiarkan aku mencoba menjalani hubungan ini.

Berjalan hampir 2 bulan hubunganku dengan Khainan baik-baik saja, aku menemukan kenyamanan dengan semua perhatian Khainan. Aku yang seorang anak tunggal merasa menemukan sosok seorang kakak yang mengayomiku. Tapi entah kenapa aku belum berani menceritakan tentang kondisi Khainan yang sebenarnya baik ke teman Kantor di cabang ataupun ke teman-temanku kampusku, aku selalu menyiapkan jawaban saat mereka menyuruhku mengajak Khainan untuk ikutan futsal bareng pacar-pacar mereka. Masih ada rasa malu terselip di hatiku karena di awal aku sudah menceritakan Khainan adalah sosok yang begitu sempurna.

Siang itu, aku berkumpul di salon dengan teman-teman kampusku untuk menghadiri pesta pernikahan Rita, ya… akhirnya salah satu dari kami menikah juga. Teman-temanku yang lain mengajak pacar mereka, hanya aku yang datang sendiri.
“Er, kok Khainan ga ikut?,” tanya Sasha sambil membantuku mengancingkan kebaya yang sedang aku kenakan.
“Iya, dia ada meeting keluar kota hari ini jadi ga bisa nemenin aku deh,” sahutku sekenanya. Bohong, aku berbohong lagi. Khainan bahkan tadi menawarkan diri untuk sekedar mengantarku yang pamit malam ini akan ada acara keluarga, tapi aku menolaknya. Masih terbayang jelas tatapan dalam Khainan kepadaku saat aku menolak diantar.
“Ohh.. ya sih dia orang sibuk kan. Ohya Er, aku kemarin ikutan interview di kantor pusat kamu tau, di bagian HRD, nama kantor kamu PT Astec bukan?,” cerita Sasha.
“Iya, itu kantorku. Kok ga cerita-cerita ngelamar di situ, Sa?”
“Aku juga ga niat tadinya, ditawarin kakakku, eh gantian dong pasangin kain buatku,” ujar Sasha sambil menyodorkan kain jarik miliknya. Aku membantunya dengan pikiran berkecamuk, bagaimana kalau Sasha benar-benar diterima kerja di Kantor pusatku?
“Ohya Er, waktu aku nunggu interview di resepsionist, ada orang yang manggil nama Khainan ke seseorang yang lewat depanku waktu itu, tapi orang itu kakinya ada kelainan, kaya pincang sebelah gitu. Bukan Khainan kamu kan itu?” Deg!! Aku terpaku, tanganku sedikit gemetar mendengar cerita Sasha.
“Eh… Mungkin aku yang salah denger ding, pasti itu orang lain. Mr. Khainan nya Eriela yang tercinta kan katanya perfect banget, ya kannn…,” Sasha keburu nyerocos tanpa sempat aku menjawab pertanyaannya, mencubit pipiku gemas sambil mengedipkan matanya ke arahku,’ awas kalau nanti di pernikahan aku, kamu ga ajak dia loh,”
Aku tersenyum kaku, “Iya.. pasti aku ajak dia,”

Esoknya aku mendadak menjadi lebih romantis, mengirimkan coklat ke kantor pusat untuk Khainan dengan serangkaian kata puitis untuknya, Khainan tertawa meneleponku saat sudah menerimanya, menanyakan dalam rangka apa itu?, aku hanya menjawab setengah bercanda.
“Dalam rangka takut kehilanganmu,” jawabku sambil membalas tawanya. Tapi dalam hatiku berkata lain, “Dalam rangka meminta maaf telah membohongimu kemarin, Nan”.

Hari ini, aku berencana nonton bareng bersama geng kampus, Rita akan mentraktir kami karena kemarin sudah membantunya sewaktu acara pernikahannya. Aku berencana menelepon Khainan saat tiba-tiba ada panggilan masuk yang ternyata dari dia.
“Hai sayang, baru aja aku mau nelepon kamu,” ujarku ceria
“Ohya… wah kita memang sehati nih,” tawa Khainan, “Aku mau ajak kamu nonton hari ini, kamu ada waktu tidak, yang? Ada film bagus katanya,”
“Wahh… aku udah ada janji sama temen-temen kampus hari ini, yang. Aku udah iyain ajakan mereka, baru aja aku tadi mau nelepon kamu buat ngasih tau, gimana dong?”
“Hmm… Pada mau ke mana memang hari ini?,”
“Emm.. Mau pada nyalon rame-rame, dapat traktiran dari Rita, yang. Maaf ya ga bisa ajak kamu, acara cewek soalnya ini,” Aku menggigit bibirku. Bohong, ya aku kembali berbohong pada Khainan, berat memberitahukan dia bahwa aku juga mau nonton, tapi bagaimana lagi, aku belum siap mengajak Khainan bertemu dengan teman-temanku.
“Ooohh… It’s OK, kita ganti hari aja ya nontonnya, nonton sendiri males ga seru, kamu hati-hati ya di jalan” kata Khainan, ada nada kekecewaan terdengar di telingaku.

Aku berlari-lari menuju lantai 3 tempat bioskop dimana aku mau nonton bareng teman-teman kampusku, aku terlambat karena macet. Tampak yang lain sudah berkumpul menungguku bersama pasangannya masing-masing, Aku masih ngos-ngosan saat masuk ke dalam bioskop karena film sudah akan dimulai.

“Khainan ga bisa ikut lagi, Er?” tanya Rita,” Dinas keluar kota lagi pasti ya?”
“Heee… Begitulah,” sahutku sekenanya sambil meringis. Terlihat dari tempat duduk kami di bagian atas, belum banyak bangku yang terisi. Dideretan bawah masih banyak yang kosong. Tiba-tiba aku melihat dua sosok pria memasuki ruangan, salah satunya tampak berjalan dengan kaki terseret, sejenak aku terkejut menahan nafas. Deg!! Itu Khainan…!.
Sasha tiba-tiba berseru, sambil menunjuk ke arah Khainan” Eh… Er, itu orang yang pernah aku lihat pas interview di kantor kamu, kamu beneran ga kenal?”
“Engga, aku ga kenal, duh kok aku ngantuk ya” jawabku gugup. Aku segera menutupi wajahku dengan tissue sambil berdoa semoga tempat duduk mereka jauh dari tempat dudukku, tapi Tuhan tidak mengabulkan permintaanku kali ini, mereka berdua terus naik ke atas menuju ke arah tempat duduk kami, aku melirik ke bangku seberang tempatku duduk persis, hanya dua bangku itu yang masih kosong untuk bagian atas. Matilah aku! Benar saja mereka duduk di situ. Dan Khainanlah yang duduk di sebelah seberangku persis, dia belum menyadari keberadaanku di situ.

Jantungku berdegup kencang dan bingung harus bagaimana, aku sudah terlanjur bilang ke teman-teman bahwa Khainan ke luar Kota dan aku terlanjur bilang juga bahwa aku tidak mengenal sosok yang ditunjuk Sasha tadi. Aku mengutuk diriku sendiri karena telah menutupi tentang Khainan dari awal.
“Eriel… Iihh ngapain sih mukanya ditutupin tissue gitu? Udah mau mulai tuh filmnya,” kata Sasha sambil menarik tissue yang aku gunakan menutupi wajahku.
“Damn… Sashaaaa…” Teriakku dalam hati sambil meringis, dan menundukan kepalaku ke bahu Sasha, tidak berani melihat ke arah Khainan, “Diem ih, kepalaku agak pusing tiba-tiba,” bisikku.
“Eriel…,” Suara orang dari sebelah dan sebuah tangan menyentuh bahuku pelan, suara yang biasa nyaman di telingaku sekarang terdengar seperti petir. Tamatlah sudah, aku harus bersandiwara apalagi ini?? Aku benar-benar menangis dalam hati. Aku beranikan diri menengoknya.
“Eh… Iya, saya?” suaraku terdengar sekali gugupnya.
“Loh… Kamu kenal dia, Er? Tadi katanya engga kenal,” suara polos Sasha setengah berbisik di telingaku. Argghh… Sashaaa betapa ingin aku sumpal mulut kamu saat ini. Khainan menarik tangannya mendengar kata-kata Sasha, dengan ragu dia duduk kembali, aku menengok ke arahnya, mata kami bertemu, ada kekecewaan yang begitu dalam terlihat jelas olehku karena dia menyadari bahwa aku baru saja sedang berpura-pura tidak mengenalnya, dia tampak tersenyum sendiri dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ada ketakutan yang begitu besar di mataku. Aku kehilangan kata-kata, tenggorokanku seperti tercekat. Teman-temanku masih belum sadar tentang yang terjadi.

Sejenak kemudian, Khainan berdiri dan tanpa berkata sepatah katapun berjalan meninggalkan ruangan bioskop, menuruni tangga tempat duduk dengan susah payah, dia tidak menghiraukan temannya yang memanggilnya. Aku masih tertegun tidak tahu harus berbuat apa melihat sosok yang aku cintai itu pergi, yang aku cinta?? Benarkah? Kalau cinta harusnya buta, harusnya aku tidak malu dengan kondisi Khainan, ahh… tidak… tidak… aku bukannya malu, tapi aku hanya butuh waktu untuk menjelaskan salah paham teman-temanku selama ini akan sosok Khainan yang sempurna, aku mencintai Khainan tulus selama ini. Tulus?? Berhentilah membela diri, Eriela! Cinta yang tidak buta, itu bukan cinta namanya, itu hanya obsesi! Ahh.. tidak, aku sungguh-sungguh menyayangi khainan, Perang batin terjadi di dalam diriku. Aku tiba-tiba merasa menjadi orang yang paling munafik yang pernah ada, dan merasa begitu bersalah kepada Khainan, tanpa sadar aku terisak. Sedetik kemudian aku putuskan mengejar Khainan, aku benar-benar tidak mau kehilangan orang yang aku sayang untuk kedua kalinya.

“Eriel… kamu mau ke mana?” seru Sasha setengah berbisik. Aku berlari tidak mempedulikan panggilan Sasha, yang ada di pikiranku hanya aku harus segera minta maaf kepada Khainan dan menyesali sikapku. Tapi aku tidak menemukan sosok Khainan di luar bioskop, aku mengedarkan padanganku ke sekeliling di setiap lantai mall yang aku turuni, belum terlihat juga. Tiba di lobby mall hujan turun dengan derasnya. Aku mencoba menelepon Khainan, tapi tidak diangkat. Aku harus menemukan Khainan saat ini juga, aku putuskan berlari ke arah jalanan menembus hujan, mataku mencari sosok Khainan dan aku melihatnya sosok itu di seberang jalan berteduh di halte bus.

“Khainannnn…!” teriakku memanggil, sosok itu menoleh melihat ke arahku, rautnya terkejut melihatku hujan-hujanan. Saking senangnya, aku berlari menyeberang jalan bermaksud mengejar Khainan, tepat dengan sebuah mobil melaju kencang. Terdengar bunyi klakson mobil begitu keras, dan aku merasakan tubuhku terhempas tinggi dan jatuh menghujam jalanan aspal yang keras dan basah, dan aku tidak bisa merasakan tubuhku, aku merasakan dadaku sesak dan semua tiba-tiba gelap.

Esok hari aku membuka mataku, aku melihat keluargaku, ada ibuku menangis di sampingku, ada sosok Khainan di sana menatapku dengan mata berkaca-kaca, aku bingung kenapa mereka semua sedih, tapi aku bahagia bisa melihat Khainan kembali, aku ingin minta maaf ke dia secepatnya, aku ingin dia tahu bahwa aku akan menyayanginya dengan tulus. Aku berusaha bangun dari tempat tidurku dan aku terkejut saat aku menyadari kakiku tidak bisa aku rasakan.
“Ibu… Di mana kakiku?”

SEKIAN

Note: Cerita ini hanya fiksi, apabila ada nama atau kisah yang sama, itu hanya kebetulan belaka, tidak bermaksud menyinggung siapapun.

Cerpen Karangan: Bee Artie
Blog: www.ceritapunyaarti.blogspot.co.id
Seorang ibu yang sedang ingin mengalihkan dunianya sejenak.

Cerpen Bukan Cinta Buta (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Putus

Oleh:
Ketika aku melihat mendung ada satu hal yang aku ingat, yaitu berakhirnya hubungan kita. Aku teringat bagaimana sedihnya dirimu. Engkau meneteskan air mata di hadapanku. Tersayat hatiku ketika aku

Takdir Cinta Indah

Oleh:
Suasana kampung begitu tenang ketika mentari telah berlabuh di peraduannya. Angin malam selalu membawa kerinduan masa lalu serta cahaya purnama yang selalu tampak gagah di antara bintang-bintang. Aku selalu

Ajal

Oleh:
“Apa? Loe gak bohong kan, Sya?” ujar gua. “gak Kar… gua gak bohong!” jawab Syara. “Loe yang sabar ya, Sya. Loe jangan percaya omongan dokter, dokter itu bukan Tuhan

Forbidden Love (Cinta Terlarang)

Oleh:
Matahari mulai muncul dengan sinarnya yang indah, Burung-burung saling berkicauan. Tetesan embun mulai berjatuhan dan jam dinding di kamarku menunjukkan pukul 06.00. Aku bergegas ke luar kamar, karena terburu-buru

Aku Percaya

Oleh:
“Tapi gue suka sama dia ca.” jelasku, “tapi apa yang lu dapet dari ini semua? ga ada! lu Cuma di sakitin!” amarah ica “gue ga ngerti sama perasaan ini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *