Bye My Star

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 21 May 2016

“Bagaimana bintang bisa bersinar bila matahari nggak memancarkan sinarnya?” ucapan itu selalu terngiang-ngiang dalam otakku. Terus berlari dan berputar di otakku. Satu tahun lamanya aku tidak mendengar ucapan itu lagi dan selama itu juga aku jarang bergaul dan menutup diri. “Matahari masih bisa bersinar tanpa ada bintang.” Kata terakhir yang ku dengar dari bibirnya itu menusuk hatiku.

Aku tidak ada artinya tanpa kehadiran dirimu. Semua terasa hampa. Semua tidak berarti bagiku, hanya dirimu yang membuatku hidup, apa pun yang menurut mereka konyol, menurut kita itu hal yang menyenangkan. Hari yang tak bisa ku lupakan, hari yang membuatku terus mengutuk diriku, hari yang membuatku seperti sampah tak berguna. Hari itu membuatku tidak ingin merasakan indahnya mencintai dan dicintai lagi. Kecuali itu denganmu.

“Dafa..” suara yang tak asing lagi bagiku. Ya, itu Bintang, gadis polos, cantik, dan manis yang mampu membuatku nyaman. Aku tersenyum saat ia duduk di sampingku.
“Mata kuliahnya udah selesai?” tanyaku.
“Iya, udah.” Jawabnya lembut. Aku dan Bintang terus berpandangan sambil tersenyum. Itu selalu terjadi setiap kami bertemu.
“Hahaha..” Bintang tertawa saat melihat alisku bergerak seperti ombak, aku pun ikut tertawa.

“Dafa, kamu ikut nggak ke Bali?” tanya Bintang. Aku pun mengangkat sebelah alisku, siapa yang mengajak? Pasti sahabat-sahabatnya yang mengajak Bintang liburan. Bisa ku tebak dengan mudah. “Kapan? Dan siapa yang ngajak?” tanyaku, ya, walaupun aku sudah tahu jawabannya, tapi biarkan saja.
“Sahabat-sahabatku. Perginya minggu depan. Kamu ikut ya.” Pintanya, mana mungkin aku menolak ucapannya, tapi, kalau aku iseng sedikit tidak apa-apa lah.
“Ngapain? Emang kenapa kalau aku nggak ikut? Lagian aku males sayang. Cape.” Ucapku, wajah Bintang pun langsung ditekuk, bibirnya monyong lima senti, aku ingin sekali tertawa saat ini, tapi ini demi suksesnya rencanaku.
“Bagaimana bintang bisa bersinar bila matahari nggak memancarkan sinarnya?” ucapnya. Ya, ucapan itu selalu bisa membuatku luluh.
“Hahaha.. iya bintang aku bercanda. Aku ikut.” Mendengar itu bintang terlihat sangat senang.

Satu minggu telah berjalan dan besok aku akan pergi ke Bali bersama Bintang dan sahabat-sahabatnya. Aku menyiapkan semua yang ku butuhkan di Bali besok sambil membayangkan serunya bermain bersama Bintang dan sahabat-sahabatnya besok. Saat aku sedang mempersiapkan semuanya SMS masuk, kulihat ternyata Bintang yang SMS. Ku kira Bintang hanya akan mengucapkan selamat tidur, mimipi indah, dan sejenisnya, tapi ternyata tidak, Bintang memintaku untuk tidak usah ikut kembali besok, ada apa dengannya? Sebaiknya ku tanyakan sebabnya.

“Memangnya kenapa?” tanyaku, tak lama kemudian Bintang membalasnya.
“Perasaan aku nggak enak. Jadi mendingan kita nggak usah ikut, daripada perasaanku nanti jadi kenyataan. Lebih baik nggak usah daripada kita menyesal nanti.” Balasannya membuatku tersenyum geli, aku tahu Bintang bilang seperti ini karena belum pernah pergi berlibur tanpa orangtuanya, jadi wajar Bintang punya perasaan takut atau tidak enak. “Itu karena kamu nggak pernah liburan tanpa orangtua. Jadi wajar kamu takut.” Kataku, Bintang pun hanya membalas dengan.
“Ya udah. Selamat tidur, semoga mimpi indah. Tuhan Yesus memberkati.” Aku pun membalasnya dengan balasan yang sama.

“Dafa, please dengerin aku, kita nggak usah ikut.” Bintang masih memohon padaku untuk tidak usah ikut.
“Bintang, kamu nggak akan kenapa-kenapa. Kita semua ada sama kamu.” Bujukku.
“Tapi..” aku langsung memotong ucapannya dengan berpamitan pada orang tua Bintang.
“Bintangnya dijaga ya Dafa. Nggak tau kenapa tante berat banget ngelepas Bintang.” Ucap tante Sheren menahan tangis, aku mengerti, mungkin karena Bintang anak satu-satunya tante Sheren dan om Rafa. “Iya tante.” Aku pun menyalimi tante Sheren dan Om Rafa. Saat hendak masuk ke dalam mobil Bintang menahan tanganku sambil memasang wajah memohon, aku pun menggeleng sambil tersenyum.

Di bali sangat menyenangkan. Aku dan sahabat-sahabat Bintang terus bermain ke sana ke mari. Kita bermain di pantai dan mencoba hal-hal menarik di bali. Saat sedang di pantai sahabat-sahabat Bintang terus saja membuat lelucon yang membuat kami terus tertawa. “Di pantai gini enaknya pacaran. Kalian semua pacaran, tapi gue jomblo abadi di sini.” Ucap Louis tiba-tiba membuat kami tersenyum.
“Lo dikabulin Tuhan, baru tobat.” Kata Tiara sambil menunjuk-nunjuk Louis, Louis pun mengetuk-ngetuk kepalanya lalu mengetuk tanah sambil bilang, “Amit-amit jabang bayi.” Kami semua tertawa terbahak-bahak melihatnya. Menyenangkan.

“Dafa, Bintang kita mau jalan-jalan. Kalian mau ikut nggak?” tawar Jennifer, aku pun mengiyakannya dan Bintang? Ia tampak ragu.
“Ada apa? Kamu mau ikut nggak?” tanyaku, Bintang pun hanya menunduk resah sambil menggigit bibir bawahnya, sepertinya ada yang ingin Bintang katakan.
“Ada apa?” tanyaku sedikit lebih keras, Bintang pun mengangkat wajahnya lalu menatapku dan sahabat-sahabat yang lain bergantian.
“Jangan pergi. Hati kecil aku bilang kita nggak boleh pergi, firasat aku juga buruk.” Jawabnya, aku dan yang lain pun mengerutkan alis, keheranan, ada apa sebenarnya dengan Bintang? Dari kemarin Bintang selalu bilang firasatnya buruk dan Bintang selalu melarang kami untuk pergi jalan kaki.

“Itu cuma perasaan kamu aja kali sayang.” Kataku menenangkan, yang lain ikut mengangguk setuju.
“Lagian dari kemarin kamu selalu bilang gitu, tapi buktinya nggak terjadi apa-apa kan?” sambung Feby, Bintang pun menunduk lesu.
“Tapi..” belum selesai Bintang bicara Kevin memotongnya.
“Ayo!”

“Kamu mau es krim juga?” tanyaku karena yang lain membelikan untuk pacar mereka.
“Nggak usah. Kamu jangan nyeberang. Firasat aku nggak enak.” Ucap Bintang mengulang kata itu lagi. Ada apa dengannya?
“Bintang, itu cuma perasaan kamu aja. Aku nggak akan kenapa-kenapa kalau aku hati-hati.” Ucapku meyakinkan.
“Tapi kalau kendaraannya nggak hati-hati gimana?” tanyanya.
“Sudahlah. Kamu tunggu sini aku beliin dulu.” Aku pun menyeberang tanpa mempedulikan larangan Bintang.

Saat sedang menyeberang jalan sebuah mobil tiba-tiba saja hilang kendali. Ku lihat Bintang langsung berlari ke arahku dan mendorongku. Ku kira Bintang akan ikut selamat, tapi tidak. Bintang sudah tergeletak lemah di tanah dan dipenuhi darah. Aku langsung berlari ke arah Bintang dan memeluk Bintang.
“Bintang, kenapa kamu lakukan ini?” tanyaku di sela-sela tangisku. Sahabat-sahabatku juga ikut menangis.
“Dafa, ka.. kalau aku nggak menyelamatkan ka.. kamu, gimana na..nasib kamu nanti?” Bintang menahan sakitnya, aku tidak tahan melihatnya.
“Kamu bertahan ya, aku akan bawa kamu ke rumah sakit.” Ucapku, tapi Bintang melarangku.

“Nggak usah. Aku u..udah nggak tahan lagi. A..aku kesakitan. Aku.. aku harus pergi.” Ucapannya itu membuat kami kaget. “Nggak. Bintang kamu nggak boleh pergi!” kata Hana sambil terus menangis.
“Harusnya aku dengerin kata-kata kamu! Aku keras kepala! Aku nggak bisa hidup tanpa kamu!” ucapku terus menangis.
“Ma..matahari masih bisa bersinar tanpa bintang. Se.. sedangkan bintang? Bintang tergantung dari ca.. cahaya matahari. Ka..kalau nggak a..ada mata.. matahari bintang nggak akan berguna dan nggak akan per.. pernah bersinar. A..aku lakukan i..ini demi matahariku a.. agar terus bersinar. Aku nggak ku.. kuat lagi. Aku harus pergi. Selamat ti.. tinggal.”

Setelah mengucapkan itu Bintang menutup matanya, aku pun mengecek napasnya dan nadinya, napasnya sudah tidak berhembus dan nadinya sudah tidak berdenyut lagi. “BINTANG!!!!” Aku berteriak sekeras-kerasnya, sahabat-sahabatku pun menangis tersedu-sedu. Kenapa kita nggak dengerin kata-kata Bintang? Kalau saja kita mendengarkan ucapan Bintang semua ini nggak akan terjadi.

Satu tahun sudah Bintang pergi meninggalkan kami semua dan selama itu juga aku menjadi orang yang jarang bergaul dan menutup diri. Semua aktivitas yang biasa ku jalani sekarang ku tinggalkan. Tidak ada artinya lagi. Biasanya Bintang yang menemaniku dan menyemangatiku, tapi kali ini tidak ada penyemangat lagi, ia telah pergi jauh ke atas sana. Aku terus mengutuk diriku sendiri. Aku merindukan tawanya, candanya, senyumnya, pelukannya, ocehannya, tingkahnya, caranya membuatku nyaman, caranya mencintaiku, caranya bicara, tariannya, dan semua tentangnya.

“Dafa, ada yang mau ketemu.” Ibuku memberitahuku, aku tak menghiraukannya, aku diam di tempat tak berkutik sama sekali, jika itu Bintang mungkin aku akan langsung datang, tapi tidak mungkin Bintang hidup kembali. Ibu pun menutup pintunya dan tak beberapa lama kemudian sahabat-sahabatku datang menghampiriku. Aku tak peduli, apa pun yang mereka bicarakan tak akan ku dengar, aku hanya ingin Bintang yang bicara.

“Dafa.” Panggil Vincent, aku tidak menanggapinya, pandanganku kosong.
“Dafa, jangan kayak gini terus. Campus butuh kamu untuk perform di acara perpisahan.” Venecia memberitahuku.
“Untuk apa? Nggak ada gunanya. Nggak ada penyemangat.” Ucapku sambil terus menatap kosong ke depan.
“Dafa, lo bisa manfaatin ini untuk mengungkapkan perasaan lo ke Bintang. Dengan cara nyanyi untuk Bintang. Gue yakin Bintang pasti seneng karena mataharinya mau bersinar lagi.” Ucap Kevin, aku pun memandang Kevin.
“Apa kalian yakin?” tanyaku, aku mulai setuju dengan Kevin.
“Ya.”

“Dafa semangat!” semuanya menyemangatiku, tapi aku tetap lemah karena bukan Bintang yang menyemangatiku. Aku maju keatas panggung dan menyiapkan gitarku lalu mulai bernyanyi.

“Pernah ada rasa cinta antara kita kini tinggal kenangan. Ingin ku lupakan semua tentang dirimu. Namun tak lagi kan seperti dirimu oh bintangku.” Ku lihat semua orang menangis mendengarnya, karena ku yakin mereka tahu untuk siapa lagu ini, aku pun ikut menangis karena tak sanggup mengingat semua kenangan bersama Bintang.
“Jauh kau pergi meninggalkan diriku. Di sini aku merindukan dirimu. Pernah ku coba mencari penggantimu. Namun tak lagi kan seperti dirimu oh kekasih.” Tak sanggup lagi ku tahan emosi dan air mataku.

Aku langsung pergi meninggalkan panggung menuju mobilku. Ku kendarai mobilku menuju makam Bintang.

“Bintang, makasih untuk semuanya. Tadi kamu dengar aku nyanyi kan? Lagu itu untuk kamu. Maaf kalau suara aku jelek. Hiks.. hiks.. aku sayang kamu. Tunggu aku di sana.” Aku pun mencium nisan Bintang dan pergi dengan beban yang tak akan pernah bisa berkurang. Hanya satu yang ingin ku katakan padamu. “Bye my star. Your sun can not shining whitout his star. I love you.” Aku pergi dengan tekadku yaitu, aku tidak akan pernah menginginkan lagi indahnya mencintai dan dicintai, kecuali denganmu.

Cerpen Karangan: Beby Evangelica Christy
Facebook: Christy Evangelica

Cerpen Bye My Star merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bukan Yang Dulu

Oleh:
“Udah gak usah diliatin terus, dulu aja disia-siain” ucap zidan sambil menepuk pundak iqbal yang sedari tadi asyik memandangi seorang perempuan yang sedang asyik dengan laptopnya. “Apaan sih lo?”

Love Story

Oleh:
“Hai” sapa ku pada seorang cewe yang duduk manis di taman sambil baca buku. “Hai juga” balasnya “Boleh aku duduk disini” “Boleh aja, tidak ada yang larang kok” “Perkenalkan

I Love You

Oleh:
Sore ini angin bertiup perlahan menemani sang senja yang mulai bersembunyi dari peraduannya, cahayanya memancar remang berwarna jingga keemasan. Sungguh indah mempesona menghipnotis setiap mata yang memandang. Ku pandangi

Terikat Tanpa Mengikat

Oleh:
Cahaya redup rembulan menggambarkan suasana hati yang bergemuruh di antara ketidakpastian menerima kenyataan bahwa aku sudah dijodohkan, malam ini terasa seperti mimpi buruk rasanya aku tak ingin bangun dan

Secangkir Kopi in Story

Oleh:
Ketika pagi datang mempertemukan pada sosok lelaki yang dulu sempat berencana merajut masa depan. Kita berada di sebuh cafetaria di pinggiran kota kecil menikmati secangkir kopi, menunggu senja. “Kita

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *