Cara Melewatinya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 15 January 2019

“RRooaarrr!!” Suara dari mesin itu berteriak seolah dia yang terhebat. Mereka saling bersahutan seakan menantang siapapun yang ada di sampingnya. Seorang wanita berdiri tepat di hadapan mereka dengan sebuah kain di tangannya bersiap memberi aba-aba.

“Siap! Mulai!”
“Rrrooaarrr!” Kelima mesin yang mereka sebut motor itu berteriak dan melesat dengan cepat.
Untuk beberapa saat kelima pemuda dan kelima gadis yang duduk di belakang mereka mencoba mengadu adrenalin dan kemampuan.

“Hati-hati, di depan tikungan tajam!”, teriak seorang gadis mencoba mengingatkan pria di hadapannya.
“Aku tau!”, jawabnya singkat.

Beberapa pria itu memperlambat laju mereka. Seseorang masih melaju dengan kecepatan yang sama.
“Hati-hati!”, teriak gadis di belakangnya.

Tiba-tiba muncul sebuah mobil dengan kecepatan tinggi dari arah berlawanan.
“Awas!!!!!!”, gadis itu berteriak.
“Krrtttt! Ckittttt!!!!”
“Bruaakkkkk!!!”

“Haaahhh!!” Dana berteriak. Dia terbangun dengan tubuh penuh keringat dari tidurnya. Sejenak dia duduk lalu mendekap kedua lututnya seolah kedinginan. Airmatanya menetes. Butiran bening itu membanjiri seluruh mata coklatnya. Mata itu semakin erat terpejam menahan air yang terus mengalir. Dia masih mencoba bertahan tapi tidak bisa. Kejadian beberapa bulan lalu itu masih terbayang jelas dalam ingatannya. Setiap malam bayangan itu selalu masuk dalam mimpinya. Dana masih terus berusaha menghapus rasa bersalahnya atas kejadian saat itu yang telah merenggut nyawa kekasihnya.
“Hgghh”, tangisnya tertahan. Untuk kesekian kalinya dia merasakan sakit dan luka yang sama.

Sejenak terlintas dalam benaknya untuk pergi menyusul gadis itu ke alam sana tapi beberapa kali dia mencoba namun hasilnya nihil. Dia selalu berakhir di ruang penuh obat dan jarum di tangannya. Terakhir kali dia mencoba dia terjatuh dan membuat luka robek tepat di pelipis kirinya.

“Srrrt”, Dana membuka perban di kepalanya. Kain putih itu penuh dengan darah segar bercampur keringat. Nafasnya sesak, rasa perih itu merangsek masuk di kepalanya. Sayang, luka itu tidak membuatnya jera.

“Mau ke mana?”, sahut seseorang di belakangnya.
Dana terdiam sambil mengikat kain bersih di kepalanya sendiri.
“Jangan pergi dulu, lukamu cukup parah lebih baik gunakan waktumu untuk istirahat”
“Aku tidak apa-apa”
“Jangan memaksa”
“Jangan sentuh aku!”, bentaknya seraya berlalu.

“Kenapa?”
Dana masih terdiam. Cairan merah pekat itu masih mencoba keluar lewat pori-pori kain putih di kepalanya. Mata coklatnya menerawang jauh ke depan.

“Kau baik-baik saja?”
“Kau terlihat kurang sehat”, lanjut seorang pria di sampingnya.
“Aku ingin tau, bagaimana cara melampaui batas ketakutan kita”
“Maksudnya?”
“Terkadang aku masih takut saat aku sampai pada batas dimana aku membuat gadis itu pergi”
“Sejujurnya, ada waktu dimana itulah batas akhir dari kita, kita tidak akan bisa melampauinya. Satu-satunya jalan ialah maafkan dirimu sendiri”
“Apakah aku bisa?”
“Tidak ada seorangpun yang tau dimana batas orang lain. Hanya kau sendiri yang tau”
“Lalu, soal kecepatan itu, bagaimana cara melampauinya?”
“Jangan pernah terpacu dengan tulisan di speedometermu, potong kabelnya dan lewati batasnya. Lalu cara yang paling berani adalah”, ucap pria itu terputus dan tangannya meraih kabel di samping mereka.
“Potong remnya”, lanjutnya.
“Tapi jangan pernah coba itu, itu sangat berbahaya”
“Kapan ada race lagi?”
“Nanti jam 11 malam”
“Aku akan coba melampauinya”
“Tapi jangan bodoh, lukamu masih belum sembuh”
“Lukaku tidak akan pernah sembuh”, ucap Dana seraya berdiri dan mengendarai motornya.

“Siap!”
“Mulai!”
“Rrrooaarrr!” Dana masih mencoba melawan rasa takutnya. Di benaknya tidak ada apapun kecuali cara melewati rasa takut itu sendiri. Otaknya berputar, memorynya mencoba mengingat apa yang diucapkan pria tadi. Potong kabel speedometer dan juga.
“Rooaarr”, suara motor di sampingnya berteriak dengan garang. Dana melihat jarumnya tidak bergerak. Dia merasa sedang berhenti, hanya terdengar suara mesin saja yang terus meraung. Fikirannya melayang. Kenangan itu terbayang jelas di depan matanya.
“Jangan”, ucap bayang gadis di belakangnya. Wajahnya pucat pasi terbalut kesedihan.
“Potong kabel remnya”, gumamnya tersenyum.
“Aku akan menyusulmu sayang”, lanjutnya seraya memejamkan mata.
“Brraakkkkk!!!!”

“Kau bangun? Kau tau, kau bodoh. Sudah kubilang jangan potong remnya. Masih untung bisa hidup sampai sekarang, kalau saja teman-teman tidak segera berlari menolongmu pasti”, ucap pria itu terhenti.
Dana terdiam, butiran bening itu mengalir begitu saja dari mata coklatnya. Kepalanya penuh dengan balutan perban berwarna merah. Bibirnya tertutup rapat. Tidak ada sedikitpun suara yang keluar darinya.

“Oiya, aku hampir lupa, kata dokter tubuhmu cukup lemah. Kau tau, kau sudah tidur selama 10 hari. Katanya kau akan lumpuh sementara. Tenang saja, kata dokter cuma perlu sedikit waktu untuk membuatmu sehat kembali. Jadi jangan khawatir.”
“Aku akan terus di sini, selain itu ada juga calon dokter cantik yang sedang praktek dan kebetulan akan merawatmu selama aku sibuk”, lanjut pria itu seraya menatap keluar jendela.

“Kenapa? kenapa kau tidak membiarkanku ikut denganmu? Kenapa kau tidak membiarkanku mati saja? Kenapa sayang? Kenapa?”, teriak Dana dalam hati namun bibirnya masih tetap terkunci. Hanya airmatalah yang kembali menetes.

“Kau tau, satu-satunya jalan melewati semua ini adalah”
“Maafkan dirimu sendiri”

Cerpen Karangan: Wahyu Danarga
Facebook: facebook.com/ergayosa
Wahyu Danarga
Pujangga Yang Terkurung Dalam Kamar Kosnya

Cerpen Cara Melewatinya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Maafkan Aku, Mas

Oleh:
Aku terpaku. Perempuan itu menarik punggung tanganku dan menciumnya dengan khidmat. Dan menyisakan beberapa tetes air matanya yang masih menempel di punggung tanganku, lalu diiringi ucapannya yang lirih, “Maafkan

Hujan

Oleh:
“Na.. na.. nanna..” Aku bersenandung kecil sambil mematut diri di cermin, sambil sesekali mengambil baju yang pas untuk ku kenakan. 3 jam yang lalu. Kring.. Kriiing.. “Ugh siapa ini

Rindu Senja (Sebelum Senja Part 2)

Oleh:
“Terkadang hidupku, hidupmu dan hidupnya saling berhubungan. Terkadang hidup ini tak menentu dan tak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Terkadang juga hidup ini tak kita mengerti. Namun bagaimanapun

Pengorbanan

Oleh:
Semuanya berawal dari pertama aku mengenal pria bernama tama. Awalnya aku hanya merasa kagum, tapi setelah aku mengenalnya lebih lama aku merasa nyaman berada di sampingnya. Suatu hari ia

Jemput Aku Pukul 13:45

Oleh:
“Yank nanti tolong jemput aku jam 13:45” bunyi isi pesan singkat yang Via kirim kepada Gio. Gio dan Via adalah sepasang kekasih, mereka pertama kali bertemu 6 bulan yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *