Cinta Yang Ditelan Bumi

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 7 December 2015

Balon warna–warni hiasi ruangan besar nan megah. Tampak pemandangan makanan dan minuman yang memang sengaja disiapkan untuk para tamu. Serta kue bertuliskan “Happy Bithday CINDY” dan angka 21 terbuat dari lilin berapi membuat siapa pun di ruangan itu tertarik untuk melihatnya. Ya, hari ini adalah perayaan ulang tahun Cindy yang ke-21, yang malam ini dia tampak memesona. Semua undangan hadir, kecuali satu orang spesial yang memang dinanti selama 2 hari ini tidak tampak oleh Cindy. “Ini hari spesialku, ke mana dia belum datang juga.” Gumam Cindy risau.

Meskipun begitu Cindy tetap tersenyum dan tak menampakkan kerisauannya kepada tamu yang datang, karena ia yakin, Gamal akan datang dan memberikan kejutan seperti yang dilakukannya di perayaan ulang tahun Cindy sebelum-sebelumnya. Lantunan lagu selamat ulang tahun dinyanyikan beberapa teman Cindy, yang kemudian diikuti para tamu undangan lainnya. Cindy masih berharap Gamal datang dengan kejutan yang ia harapkan. Namun yang ditunggu tak kunjung datang. Lagu selamat ulang tahun pun telah berganti.

“Tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga, sekarang juga, sekarang juga..” Para tamu undangan serempak berharap lilin ditiup dan segera menyantap kue.
Kali ini Cindy benar-benar gelisah. “Cindy, tiup lilinnya nak” Kata Ibunya pelan di dekat telinga anaknya yang cantik dan menawan pada malam itu.
“Tapi Gamal belum datang, Bun.” Jawab Cindy dengan suara lirih.

Di dalam benaknya, bercampur aduk perasaan senang, sedih, gelisah, marah, dan bingung. Cindy sangat tahu Gamal adalah orang yang penuh kejutan. Seperti tahun lalu saat Gamal memberikan kejutan datang dengan berbusana badut yang tak dikenali semua orang termasuk Cindy. Tahun lalu itu merupakan kejutan terbaik Gamal selama ini, dan ia mengharapkan malam ini Gamal memberikan kejutan lagi. Beribu pertanyaan di benak Cindy saat ini. “Kenapa Gamal tak menghubungiku selama 2 hari ini? Apakah ini adalah kejutan yang disiapkan Gamal untuknya? Apakah Gamal lupa hari ulang tahunku? Apa dia sudah tak cinta lagi kepadaku? Tak sempat Cindy menerka jawaban atas pertanyaan yang ia buat sendiri, seseorang datang membawa kotak kecil berbungkus kado berwarna putih dengan motif bunga. Semua mata di ruangan itu tertuju padanya.

“Selamat malam, saya belum terlambat kan?” Ucapnya dengan senyum menawan tanpa ada wajah malu.
Cindy tetap memasang wajah bingung, karena yang datang bukan Gamal. Melainkan seorang wanita yang ia tahu teman Gamal, bernama Aura.
“Silakan masuk nak.” Kata Ibunda Cindy mempersilakan.
“Maaf bu, saya Aura, temannya Gamal. Gamal menitipkan kadonya untuk Cindy. Selamat ulang tahun Cin.” Sambil menyerahkan kadonya ke tangan Cindy. Cindy masih bingung dan pertanyaan kembali muncul di batinnya.

“Kejutan apa lagi yang mau kamu kasih kepadaku sayang?” pikirnya bingung.
“Aura, Gamal ke mana kok tidak bisa hadir?” Tanya Ibunda Cindy mewakilkan pertanyaan anaknya.
“Dua hari yang lalu Gamal menitipkan ini kepada saya dan dia sedang ke luar kota.” Jawab Aura.

Tak sepatah kata pun malam itu diucapkan Cindy. Setelah semua para undangan meninggalkan rumahnya, ia mengambil satu kado putih yang tak lain berasal dari Gamal, kemudian ia lari ke kamar dan menguncinya. Pertanyaan-pertanyaan di dalam benaknya masih belum ada jawaban. Ia berharap entah besok atau lusa ia akan menemuinya dan menanyakan semua pertanyaannya. Kado yang ia pegang takkan dibukanya, karena mereka memiliki kebiasaan untuk membuka kado bersama-sama. Tiga hari berlalu, pertanyaan itu masih meracau dalam pikirannya. Apa ini masih bagian dari kejutannya? Apakah mungkin ada orang ketiga lagi? 2 tahun yang lalu Gamal memang ketahuan selingkuh dan Cindy memaafkannya karena Gamal berjanji setulus hati untuk tidak mengulangi lagi. Deringan ponsel membuyarkan semua pikirannya tentang Gamal. Segera ia meraih ponselnya, dan membaca pesan yang masuk. Ternyata Anggi yang bekerja di sebuah restoran cepat saji ternama di Surabaya.

Anggi: “Kamu dimana?”
Cindy: “Di rumah, kenapa nggi?”
Anggi: “Kamu harus ke tempatku, Gamal sedang duduk berdua di sini sama cewek yang membawakannya kado di Ulang Tahunmu.”

Tanpa membalas pesan terakhir temannya, Cindy langsung memacu motor matic-nya ke restoran yang bisa ditempuh selama 15 menit dari rumahnya. Tanpa disadari air mata menetes membasahi pipinya. Kecewa, hancur, terkhianati. Cintanya bagaikan ditelan bumi. Tak ada sedikit pun kenangan baik tentang Gamal dalam pikiran Cindy saat ini. Dia masih ingat kata perkata janji yang ke luar dari mulut manis Gamal kepadanya. “Cindy, aku janji. Kamu adalah satu-satunya wanita yang akan menemani sisa hidupku.”
“Mana janji tulusmu itu Mal?! Apa aku yang bodoh untuk terlalu mencintaimu? Apa aku yang bodoh untuk percaya sama kamu?” Geramnya sambil memacu kencang sepeda motornya yang kebetulan jalanan dalam keadaan sepi waktu itu.

Tak sampai 15 menit, Cindy sampai di restoran itu. Anggi menunggu di pintu depan dan menemaninya untuk melabrak Gamal yang sedang berduaan bersama wanita yang dikenalnya bernama Aura terebut. “Apa-apaan kamu Mal?!” gertak Cindy sambil menyeka air matanya.
“Ci.. Cindy?” Jawab Gamal bingung.
“Oh, jadi selama hampir satu minggu ini kamu milih berduaan sama wanita ini?! sampai-sampai hari ulang tahunku pun kamu tidak datang?!!” Bentak Cindy yang sudah tampak kesal serta isak tangis Cindy ikut membuat Gamal tampak terpojok.

“Dengarkan aku dulu sayang. Aku..” Ucap Gamal mencoba membela diri.
“Cukup Mal! Aku sudah tidak mau kamu bohongi dengan janji palsumu itu, aku cape. Mulai sekarang kita akhiri aja mal. Terima kasih.” Ucap Cindy dengan sedikit memelankan suaranya, karena ia tahu ia tengah menjadi pusat perhatian semua orang di restoran itu.

Gamal berusaha berdiri dan mencoba memberi pengertian kepada wanitanya, namun Cindy telah berlalu dan hanya meninggalkan bekas tetesan air mata di lantai restoran mewah itu. Cindy pulang dengan perasaan kecewa. Ponselnya dilempar di meja rias begitu saja. Air matanya tak berhenti menetes. Karena yang Cindy tahu, Gamal akan mencintai selamanya, dan menjadi pendamping hidup sampai akhir hayat nanti. Namun kenyataannya, Gamal sendiri yang meretakkan dinding kepercayaan Cindy sampai runtuh tak menyisakan apa-apa. Isak tangis kencang menggema di kamarnya yang cukup luas itu. Tangisannya membasahi bantal yang sengaja ia rapatkan erat-erat ke wajahnya. Tak berapa lama ponsel berdering. Kali ini panggilan masuk. Namun Cindy tak menghiraukannya. Tangisannya diliputi perasaan kecewa yang mendalam.

Beberapa kali ponselnya berdering. Kali ini ia terbangun sambil menyeka air mata dan mengusap pipinya, menuju meja. Bukan mengambil ponselnya, melainkan kado putih dari Gamal.
“Aku akan kembalikan ini sama kamu Mal. Tidak ada gunanya juga menerima kado dari pembohong seperti kamu.” Gumamnya yang diikuti tetesan air mata membasahi bungkus kado.
Kado dan ponsel ia masukkan ke dalam tasnya, lalu Cindy kembali ke restoran Anggi untuk mengembalikan kado Gamal. Lagi-lagi Anggi menyambutnya dengan wajah murung.

“Kenapa kamu tidak mengangkat teleponku, Cin?” Tanya Anggi pelan.
“Ke mana anak itu nggi?!” Tanya Cindy geram.
“Dia dibawa pulang, dia..”
“Ayo kamu ikut aku ke rumah Gamal aku mau kembalikan kado ini.” Potong Cindy.

Ditariknya Anggi menuju rumah Gamal yang memang tidak begitu jauh dari restoran itu. Sesampainya di rumah Gamal, Cindy sedikit tertegun. Ramai sekali orang di halaman depan maupun di ruang tamu. Di halaman depan terlihat Aura yang terlihat sedih sekali. Dan Cindy menghampiri dengan penasaran mendalam.
“Ini ada apa kok ramai sekali mbak?” Tanya Anggi.

“Setelah kamu meninggalkan kami di restoran tadi, Gamal sudah tidak bisa menahan penyakit yang baru saja ia derita.” Jawab Aura haru.
Cindy terdiam. Tidak percaya kekasihnya sudah tiada.
“Gamal mengidap kanker paru-paru Cin, sebenarnya aku sudah tahu sejak aku ke acara ulang tahunmu. Tetapi aku tidak boleh memberitahukannya kepada kamu karena Gamal tidak mau kamu sedih di hari ulang tahunmu. Pertemuan kami tadi di restoran tidak lain hanya untuk membicarakan bagaimana kelanjutan hubungan kalian.” Lanjut Aura melengkapi.

Cindy sudah seperti sudah tidak bisa mengucapkan satu huruf pun. Semua pertanyaannya beberapa hari ini sudah terjawab. Raut wajah kecewa yang ia bawa sedari tadi perlahan berganti dengan raut wajah sedih yang sangat mendalam. Sudah tak ada sedikit pun pikirannya tentang mengembalikkan kado itu. Dalam pikirannya, Gamal masih sempat memikirkan kebahagiaan untuk Cindy di saat-saat terakhirnya. Setelah pemakaman, Cindy kembali ke rumah dengan mata memerah. Masih belum percaya namun harus ia terima, semua tinggal kenangan. Senyumannya, kenangan saat bermain pasir di pantai, berfoto selfie di taman, bertukar cerita suka dan duka, canda tawa bersama dan pasti yang ia tidak akan bisa lupa dari Gamal, dia adalah orang yang penuh kejutan. Bahkan di hari-hari terakhirnya pun dia membuat kejutan yang tidak akan bisa Cindy lupakan selamanya.

Satu hal yang masih menjadi pertanyaan, Apa isi kado yang Gamal tahu, itu adalah kado terakhir darinya? Cindy membuka kado tersebut sambil mengenang kenangan bersama Gamal.
“Seharusnya kita buka kado ini bersama Mal, Aku berharap kamu di sini sekarang di sampingku.” Gumamnya sedih.
Sebuah kalung frame. Foto mereka berdua terpampang di setiap sisi frame kalung. Secarik kertas menarik perhatian Cindy untuk melihat dan membacanya. Sebuah pesan selamat ulang tahun yang membuatnya lemas tak berdaya. Tangisannya semakin menjadi, kertas putih tersebut hampir tak bisa dibaca lagi.

“Dear Cindy,
Selamat ulang tahun yang ke-21 kekasihku, semoga semua impianmu tercapai. Namun yang terpenting adalah kesehatanmu sayang. Tanpa sehat kamu tidak akan bisa melakukan apa-apa. Semoga hari ini kamu tetap bahagia tanpa kehadiranku. Maaf aku tidak bisa hadir malam ini sayang, aku terbaring lemas di rumah sakit selama dua hari ini. Aku tak mungkin memberitahumu tentang ini, aku tidak mau kamu sedih di hari bahagiamu. Simpan kalung itu baik-baik. Aku tahu kamu akan membuka kado ini setelah hari pemakamanku, anggap saja aku di sampingmu. Jangan sedih sayang, kamu pasti menemukan yang lebih baik, karena kamu adalah yang terbaik. I Love You.
Tertanda,
Gamal.”

Kekecewaan yang menyelimutinya. Kado ini memang bukan yang terbaik, namun tak kan bisa ia lupakan selamanya. Kali ini cintanya benar-benar ditelan bumi dan tak bisa lagi ia harapkan kembali.

Cerpen Karangan: Sholihin Bachtiar
Facebook: Muchammad Sholihin Bachtiar
Muchammad Sholihin Bachtiar. Kelahiran 28 November 1993 di Kota Tape Bondowoso. Saya lulus Diploma 3 tahun 2015, jurusan Teknologi Informasi. Saya sangat tertarik untuk melihat berbagai pandangan orang lewat tulisan-tulisannya.

Cerpen Cinta Yang Ditelan Bumi merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kutemukanmu Dalam Duhaku

Oleh:
Seberkas cahaya menerobos masuk tanpa meminta izin terlebih dulu padaku. Tak biasanya, aku terbangun dari alam bawah sadarku dengan cara seperti ini. Kaget setengah mati ketika kudengar suara yang

Gone

Oleh:
“Tiara Ananda Putri?” “Tiara Ananda Putri?” Aku tersentak begitu Kevin menepuk pundakku dari belakang. Hingga aku menoleh dan melihat ke arah Bu Clara yang tengah duduk di depan kelas.

Mengapa Aku Yang Menjadi Mangsa

Oleh:
Pernah dengar pepatah yang mengatakan bahwa “cinta itu buta” ya cinta itu buta seperti halnya mungkin yang mereka katakan kepadaku bahwa aku dibutakan oleh cinta. Usiaku dan dia jauh

Lady’s Diary

Oleh:
Diari ini masih tetap berdiri, bersandar pada dinding kamarku. Di cover depannya tertulis Lady’s Diary. Ibumulah yang menyerahkan buku itu malam tadi. Lembar demi lembar berisi tulisan tanganmu bergaya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *