Dia Bukan Jodohku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam), Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 4 September 2018

Pov Shila
Aku menyesap choco hezelnut, minuman yang disediakan oleh kedai coffee and chocolate. Asapnya mengepul, aku mencium aromanya dan meminum kembali choco hazelnut. Aku melirik arloji yang ada di tangan sebelah kiriku, sudah lewat 5 menit yang dijanjikan. Saat ini aku sudah janjian. Bersama mantan. Entah mau membicarakan apa, tapi kata dia pembicaraan ini sangat penting. Aku menyesap kembali choco hazelnut sambil sesekali merasakan kehangatan yang diberikan minuman coklat tersebut.

“Hai, maaf membuatmu menunggu lama” aku kenal suara ini, suara seseorang yang 10 tahun lalu selalu memberiku kebahagiaan. Walau suaranya berubah berat, tapi aku tau siapa pemiliknya, ya, siapa lagi kalau bukan rama. Dia terlihat berbeda dan lebih dewasa. Aku menaruh secangkir minuman coklat itu di meja. Aku tersenyum ke arahnya. Sudah lama aku tak bertemu dengannya, semenjak dia pindah tempat dan sekolah. Aku merasa gugup.

“Tidak apa-apa” ucapku lembut. Dia duduk bersebrangan denganku. Ada rasa rindu di dalam hatiku. Kalau saja aku boleh memeluknya sekarang juga, aku akan memeluknya erat. Tapi siapa aku? Hanya mantan kekasihnya.

“Ada hal penting apa yang ingin kamu bicarakan padaku, sehingga kamu rela datang ke sini jauh-jauh hanya untuk berbicara denganku?” tanyaku setelah sedari tadi rama hanya diam tak berbicara dan sesekali hanya melirikku dan itu membuatku menjadi penasaran.

“Aku ingin mengantarkan ini, dan aku harap kamu datang” dia mengeluarkan kertas berwarna pink, serta hiasan-hiasan yang khas didesain untuk undangan pernikahan di sisi-sisi kertas, dan gambar dua kupu-kupu di pinggir kotak putih bertinta yang berisi nama itu. Dan arti dari dua kupu-kupu itu adalah dua orang sepasang kekasih.

Aku mengerutkan dahi. Detak jantungku berpacu lebih cepat dari biasanya. Dan aku… Rasanya aku ingin menangis sekarang juga.

Flashback on
Waktu kelas satu Smp, aku bertemu dengannya, kami sekelas dan kami duduk bersebelahan. Awalnya aku kira, dia tidak punya perasaan apapun terhadapku, tapi setelah mendengar pengakuannya, aku tahu kalau dia punya perasaan untukku. Aku tahu perasaanya untukku tak main-main. Awal-awal hubungan kami berkomunikasi dengan baik. Tapi semakin lama, kita jarang komunikasi. Sekarang dia begitu cuek. Sangat cuek. Hingga kesabaranku sampai di ubun-ubun, aku memutuskannya, walau aku tahu, hatiku ini masih mencintainya. Tapi aku gak bisa dan gak mau diginiin, dicuekkin terus-menerus. Setelah kejadian itu, aku dan dia yang tak lagi menjadi kita, long contact.

Setelah ujian kenaikan kelas berakhir, aku tak lagi melihatnya. Ya, rama. Dia pindah. Untuk pertama kalinya aku bisa mengis karena cowok. Apalagi menagisinya dihadapan al qur’an. Aku menyesal memutuskannya. Percuma menyesal, itu takkan membuat semuanya kembali.

Aku sadar, bahwa kebahagianku ada padanya. Hatiku telah dibawanya, sehingga aku merasa perih.

Bagai bertubuh tapi tak bernyawa tapi aku hidup dan aku masih bernafas.
Flashback off

Perih itu masih terasa sampai kini, walau 10 tahun lamanya.

“Maksudnya?” aku menggigit bibir bawahku berusaha agar tak menangis sekarang juga. Tapi pertahananku runtuh. Aku menangis. Aku tak boleh menangis. Tapi nyatanya aku menangis. Aku menundukkan wajahku dan meremas kedua telapak tanganku berusaha menguatkan diriku.

“Aku tahu akan ada kejadian dramatis seperti ini, aku menikah dengan orang lain dan kamu menangis. Tapi inilah takdirku, dan aku harap kamu menemukan cinta yang baru, yang lebih baik dariku” aku menghapus jejak air mataku dengan kedua telapak tanganku. Aku mendongakkan kepalaku dan melakukan kontak mata dengannya dan berusaha mencari kebohongan darinya. Tidak. Tidak ada kebohongan dari tatapannya dan undangan sudah berada di hadapanku.

Mana mungkin aku bisa menggantikanmu secepatnya?

Aku kembali mengeluarkan air mata. Ini sungguh dramatis. Aku tak ingin menangis. Tapi aku menangis. Aku sudah tak peduli lagi terhadap orang-orang di sekitarku yang menatapku penuh tanya.

“Aku minta maaf atas sikapku dulu, dan aku mengundangmu hanya untuk berdamai dengan masa lalu, masa laluku adalah kamu. Dan aku ingin mengucapkan terimakasih atas segalanya karena kamu pernah memberiku kebahagiaan walau hanya sedikit. Aku harap kamu datang di acara pentingku ini” rama menghapus jejak air mataku di pipi yang mengalir deras dengan tangan kanannya. Percuma kamu menghapus air mataku, karena air mataku telah tumpah karenamu. Dia bukan jodohku. Aku harus merelakannya dengan orang lain.

Aku harus menguatkan hati untuk berbicara lancar dengannya.

“Aku maafkan dirimu, aku juga minta maaf karena telah melukaimu. Dan aku terima undangan ini. Insya Allah aku akan datang di acara pentingmu itu” kataku berusaha tersenyum di hadapannya walau dengan senyum pahit dan dengan hati terluka.

Dari kejadian ini, aku mengambil pelajaran.

Masa lalu biarlah berlalu, jadikanlah masa lalu sebagai pelajaran. Dan jangan sampai masa lalu menghambat perjalanan hidupmu kedepannya.

“Bolehkah aku memelukmu untuk pertama dan terakhir kalinya?” aku gak peduli rama mau menilai aku sebagai cewek ganjen atau cewek gak tau diri, sudah putus juga masih minta peluk bahkan dia akan menikah. Aku tak peduli. Aku rindu cowok ini. Memang benar obat dari rindu adalah pelukan.

Dia menganggukan kepalanya dan tersenyum ke arahku. Aku memeluknya erat. Berdamai dengan masa lalu.

Aku pun ingin berdamai dengan masa laluku yaitu kamu.

Cerpen Karangan: Siti Nur Saadah
Blog / Facebook: Siti Nur Saadah
Masih penulis amatir. Jadi, wajar kalau diksinya ada yang salah atau penandaan bacanya.

Cerpen Dia Bukan Jodohku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


07.30

Oleh:
“Gubraaakk!!” Haduh keadaan jalanan di sekitar sekolahku memang tak pernah kunjung baik. Berkali-kali angkutan umum yang kunaiki terjebak beberapa detik di lubang yang sama. Aku memang berniat untuk memiliki

Penyesalan

Oleh:
Pagi itu, ku terbangun dari tidur karena hari sudah menunjukan pukul 6 pagi. Ku buka korden kamarku, dan cahaya matahari pagi menyinari kamarku yang indah ini. Aku berjalan menuju

Penyesalan Cinta

Oleh:
CINTA… Cinta bagiku adalah rasa kasih sayang terhadap sesama… cinta itu suci… indah… dan tak dapat di ungkapkan dengann kata-kata. PENYESALAN… Penyesalan untuk ku merupakan perasaan bersalah atas semua

Maaf

Oleh:
Sudah 1 tahun lebih gue pacaran sama bella. Dan sifat aslinya mulai Nampak seiring berjalannya waktu. Gue udah gak tau harus bagaimana lagi untuk menyikapinya. Seolah-olah dia itu adalah

Ku Ingin Dia Tahu

Oleh:
“gue gak suka sama dia yan, gue gak mau dia. gue benci. dia terlalu ngekang gue” sambil menangis. “yang sabar yah vit, kalau gitu lo putusin aja dia”. “udah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *