Dia, Laras

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 11 March 2016

Minggu, 15 Februari 2015, aku tiba-tiba terbangun dari mimpiku. Aku duduk sejenak, mengingat bagaimana mimpi semalam, hanya saja aku tidak mengingatnya seberapa pun keras aku mengingat, tiba-tiba aku teringat sesuatu. Lekas aku membuka ponselku, ternyata ada pesan darinya.

Jumat, 13 Februari 2015, jauh-jauh hari aku sudah berencana mengungkapkan perasaanku hari ini, hanya saja aku teringat bahwa besok adalah hari valentine. Aku berpikir bahwa mungkin akan terkesan romantis jika aku mengatakannya sambil membawa cokelat untuknya besok, jadi aku menggagalkan rencanaku lagi untuk mengungkapkan perasaanku padanya. Mungkin aku belum terlalu kenal dia, tapi apa salahnya memberitahu perasaanku kepadanya, masalah dia membalas atau tidak perasaanku itu urusan belakangan.

Ya, dia adalah Laras Clarissa. Wanita yang aku sukai sejak SMP sampai sekarang, aku dari dulu hanya suka memandanginya dari jauh. Tetapi sekarang aku tidak menyangka bisa satu sekolah lagi dengannya di SMA dan ajaibnya aku bisa sekelas bersamanya, sungguh sangat menyenangkan melihatnya dari jarak sedekat ini. Rambut panjangnya menggemaskan, kadang dia ikat dan kadang dia uraikan begitu saja. Alisnya tebal dan terlihat sedikit menyambung di antara keduanya. Matanya entah seperti menghipnotisku jika aku terlalu lama menatapnya, mungkin dia punya bakat hipnotis, tapi mungkin cuma aku yang terkena hipnotisnya. Hidungnya kecil tetapi mancung, pas sekali dengan wajahnya.

Senyumnya manis, ia mempunyai tahi lalat sebelah atas kanan bibirnya dan juga dia berbehel yang membuatnya semakin manis ketika tersenyum. Pipinya agak merona, mungkin dia menggunakan sedikit make-up. Mukanya terlihat ceria setiap hari, terlihat bahwa dia bahagia dengan hidupnya. Badannya lumayan tinggi untuk ukuran cewek pada umurnya, aku pernah berjalan di dekatnya dan tingginya sebahuku, dengan tinggiku yang 175 cm ini mungkin dia sekitar 170 cm. Dia sepertinya sederhana dalam berpakaian, terlihat dari seragamnya yang tidak dibuat aneh-aneh seperti yang lainnya. Dia terlihat lucu dengan kaus kaki panjangnya dengan roknya yang sedikit di bawah lutut, mungkin dia nyaman dengan itu. Karena beberapa kali aku melihatnya di luar sekolah dengan menggunakan rok.

Dengan dia sekelas denganku, aku jadi sering memperhatikannya. Dia duduk di bagian kanan dekat dengan pintu kelas yang berada di belakang, sedangkan aku duduk di sebelah kiri kelas dekat jendela. Aku dan dia dalam satu baris, sehingga aku bisa sering melihatnya. Kadang aku ketahuan sedang memerhatikannya dan aku langsung pura-pura melakukan sesuatu. Mungkin dia sadar jika aku suka memperhatikannya dan mungkin dia juga sadar jika aku menaruh rasa padanya. Tetapi itu tidak penting selama aku bisa memandanginya itu sudah cukup bagiku.

Walaupun sudah mengenalnya dari SMP dan sekarang sekelas, aku jarang mendapat kesempatan mengobrol dengannya. Dia ingat dengan namaku saja sudah seneng apalagi diajak ngobrol dengannya, mungkin jika aku mendapat kesempatan untuk mengobrol dengannya dunia akan kiamat karena tidak rela bidadari berbicara dengan makhluk pendiam yang jarang bergaul sepertiku. Fadil, teman sebangku sampai menggodaku jika aku ketetahuan sedang memandangi Laras. Dan terkadang dia suka berkata, “Udah, kalau beneran suka aku yang bilangin nih jangan cuma ngelihatin doang beraninya, haha.” dan kami pun hanya tertawa setelah dia mengatakan itu.

Bel sekolah pun berbunyi semuanya pun bergegas pulang, tetapi aku hari ini kebagian jadwal piket sehingga aku membersihkannya kelas terlebih dahulu sebelum pulang. Karena sekelas hanya berisi 24 anak, jadi setiap hari hanya 4 anak yang membersihkan kelas dan itu dibagi lagi menjadi piket sebelum kelas dan piket setelah kelas. 2 orang membersihkan sebelum kelas di mulai dan 2 orang membersihkan setelah kelas. Tetapi Putri, temanku yang kebagian piket setelah kelas tidak masuk. Jadi hanya aku sendiri yang membersihkan kelas. Ketika aku membersihkan kelas, aku melihat kertas pink terlipat dengan rapi di dalam meja Laras. Ketika hendak mengambilnya tiba-tiba Laras datang ke kelas dengan berlari, terlihat dari napasnya yang terengah-engah. Kami pun bertemu mata, mematung.

“Kemal, kamu lihat kertas di dalam mejaku tidak? warnanya pink gitu,” kata Laras sambil mencari napas. Dunia seakan berhenti ketika suaranya yang lucu itu menyapaku, aku hendak terbang dibuatnya tetapi aku lupa hanya bidadari sepertinya yang punya sayap.
Sambil mengambil kertas pink itu dari dalam mejanya aku berkata, “Oh, yang ini?”
“Iya, Kemal. Yang itu,” sambil menunjuk kertas yang aku pegang. Duniaku berhenti kedua kalinya ketika aku mendengar dia memanggilku namaku lagi.
“Untung aja belum aku bersihin, nih, hehehe.” aku pun tersipu sambil menyerahkan kertasnya padanya.
Laras menerima kertas itu dariku, “Makasih ya, Kemal. Ternyata kamu ramah ya, jarang loh aku denger kamu ngomong, kamu kan suka diem gitu di kelas.”

Aku pun tertawa kecil, “Hahaha, enggak kok, ini cuma kebetulan aja lagi baik.” Gara-gara kertas pink itu aku mendapat kesempatan ngobrol dengannya, mungkin bentar lagi dunia benar-benar akan kiamat. Setelah percakapan kecil dengannya, dia izin pulang karena sudah ditunggu di bawah.
Laras tersenyum manis, “Kemal, aku balik dulu ya, dah di tungguin nih.”
“Iya, hati-hati ya.” kataku dengan tersenyum. Ternyata Laras orangnya ramah, sudah lama aku mengenalnya, tapi baru pertama kali ini aku berbicara langsung dengannya.

Kemudian Laras berjalan ke luar kelas sambil melambaikan tangannya, aku pun membalasnya dengan senyuman. Aku keluar kelas dan melihatnya berlari kecil dari belakang. Sepertinya dia sedang terburu-buru, mungkin. Setelah melihatnya menuruni tangga dari kejauhan, aku langsung berlari ke jendela dan melihat ke luar. Sesaat kemudian aku melihat Laras sedang berjalan ke luar sekolah. Di luar gerbang terlihat ada seorang lelaki yang sedang menunggunya. Mungkin umurnya 4 atau 5 tahun lebih tua dariku. Sepertinya anak kuliahan dan sepertinya juga dia adalah pacar Laras. Dan benar saja, terlihat Laras dan lelaki itu berbicara. Tak lama setelah itu, mereka berdua masuk ke dalam mobil berwarna biru dan pergi.

Sekarang aku merasa ragu-ragu untuk mengungkapkan perasaanku padanya. Jika dia sudah mempunyai pasangan buat apa aku menyatakan perasaanku, pasti ditolak. Aku memilih memikirkannya nanti jika sudah sampai di rumah. Sesampainya di rumah, aku langsung mandi. Sejenak pikiranku merasa tenang setelah mandi. “Ya, sudah aku tetapkan, aku bakal tetap bilang ke Laras kalau aku suka padanya.” pikirku.

Kemudian aku pergi ke minimarket membeli cokelat untuk Laras besok. Ketika sampai di minimarket, ternyata cokelatnya habis dan terpaksa aku harus mencari lagi di minimarket lain. Setelah berjalan cukup jauh, aku menemukan minimarket dekat rumah sakit. Ketika masuk, aku melihat sosok wanita yang aku kenal sedang melihat-lihat di bagian cokelat-cokelat valentine. Rambutnya terurai dengan bando hitam, memakai jaket tebal dan ketika menoleh terlihat senyum manis dengan gigi berbehelnya itu. Tetapi ada yang aneh, tumben dia memakai celana panjang berwarna putih seperti piyama tidur padahal belum jam 8 malam.

“Kemal!!” Sapa wanita itu.

Benar, ternyata memang Laras. Apa yang dilakukannya di sini, sepertinya rumahnya tidak di daerah ini. Aku tahu betul rumahnya di dekat stasiun, aku pernah mengikutinya sewaktu SMP.
“Halo, hehe.” sapaku sambil cengengesan. Laras mengangkat alisnya. “Kemal, kok jauh-jauh ke sini, mau beli apa? perasaan rumahmu agak jauh dari sini.” Dia memanggil namaku lagi, untuk ketiga kalinya dalam hari ini!

Duh, masa iya aku jawab mau cari cokelat buat kamu, kan gak lucu. “Lagi jalan-jalan nih, bosen, terus haus. Jadi lagi mau beli minum, hehe.” kataku sambil cengengesan.
“Oallah..” muka polosnya menunjukkan bahwa dia percaya kata-kataku. “Kamu lagi cari cokelat buat siapa tuh, kok kelihatan bingung gitu?” tanyaku. Laras mengalihkan matanya dariku.
“Emm, ini lagi, emm, lagi pingin makan cokelat aja, udah lama enggak makan.”

Terlihat dari mukanya, kalau dia lagi berbohong. Mungkin dia ingin membelikan untuk pacarnya atau mungkin sahabatnya. “Kemal juga mau? aku beliin sini.” Kata Laras.
“Hah? Gak usah, hehe,” Kataku. Sambil sedikit cemberut Laras berkata, “Ya udah, aku duluan ya.”
Kemudian Laras membayar cokelatnya, kemudian dia ke luar minimarket. Dia terlihat seperti terburu-buru. Entah kepikiran apa, aku mengejarnya.
“Laras, boleh minta nomor teleponmu nggak?” Laras menyatukan alisnya.
“Hah? Boleh, tapi minta punyamu juga ya, hehe.”

Setelah bertukar nomor hp dengannya, dia berpamitan ingin segera pulang. Setelah melihatnya berjalan menjauh, aku kembali ke minimarket untuk membeli cokelat untuk besok. Aku sangat kegirangan ketika berjalan pulang ke rumah karena bisa bertemu dengan Laras lagi. Setelah sampai rumah, aku mencoba mengirim pesan ke Laras. Setelah menunggu beberapa saat, Laras membalas pesanku. Entah kenapa, ini sepertinya hari yang bener-bener langka. Dari obrolan kecil sampai pertemuan tidak terduga dan yang paling menyenangkan bisa sampai bertukar nomor telepon. Mimpi malam ini mungkin akan lebih baik dari yang sebelumnya. Setelah beberapa kali berbalas pesan sampai lupa belajar, akhirnya Laras tidak membalas. “Laras, besok sepulang sekolah. Jangan pulang dulu ya, aku pingin ngobrol bentar denganmu di kelas, hehehe.” Setelah mengirim pesan itu, aku pun tertidur.

Sabtu, 14 Februari 2015, aku bangun lebih awal hari ini, moodku sedang bagus-bagusnya. Kemudian aku mengecek ponseklu apakah pesanku dibalas oleh Laras. Ternyata tidak. “Mungkin dia sudah membacanya, hanya saja tidak sempat membalasnya.” pikirku.

Setelah mandi dan sarapan, aku bergegas ke sekolah tidak lupa juga aku membawa cokelat yang aku beli untuk Laras. Sesampainya di kelas, seperti ada yang aneh. Ternyata bangku yang biasa diduduki Laras, kosong. Biasanya dia datang lebih awal dariku. Mungkin saja dia telat. Bel masuk pun berbunyi dan Laras tak kunjung datang, perasaanku tidak enak. Rencanaku hari ini gagal total. Pelajaran dimulai dan guru pun mulai mengabsen. Ketika sampai nomor absen Laras, guru menanyakan alasan Laras tidak masuk. Kemudian Flora, teman sebangkunya dan teman dekatnya menjawab. Bahwa Laras sedang berada di rumah sakit, penyakitnya kambuh.

Aku baru tahu Laras punya penyakit, sejak SMP aku sering melihat dia masuk ruang kesehatan dan jika olah raga dia sering minta istirahat dulu. Aku kira kebanyakan cewek seperti itu dan aku menganggap itu hal biasa buat anak cewek seumurannya. Tetapi sekarang sejak sekelas bersamanya, dia sudah jarang masuk ruang kesehatan dan tidak meminta izin jika pelajaran olahraga. Dia terlihat lebih menikmati pelajaran olah raganya daripada ketika SMP.

Mendengar apa yang dikatakan Flora, membuatku muram. Aku sama sekali tidak konsentrasi dengan pelajaran hari ini. Rasanya seperti ingin pulang saja dan tidur. Bel pulang sekolah pun berbunyi, semuanya pada bergegas pulang. Ketika berjalan pulang, aku tidak henti-hentinya memikirkan Laras. Aku ingin menjenguknya, tetapi tidak tahu di mana dia dirawat dan apa alasanku ketika menjenguknya nanti. Teman dekat bukan, hanya sebatas kenal saja dan kenalnya pun baru kemarin.

Setelah tiba di rumah, aku teringat kejadian semalam. Aku bertemu dengan Laras di minimarket dan minimarket itu dekat dengan rumah sakit. Mungkin dia dirawat di rumah sakit itu. Tanpa pikir panjang aku langsung bergegas menuju rumah sakit di mana Laras kemungkinan dirawat. Ketika sampai di rumah sakit. Benar saja, ada mobil biru yang kemarin digunakan untuk menjemput Laras. Aku pun semakin yakin bahwa Laras berada di sini dan berjalan ke bagian informasi untuk memastikannya. Dan ternyata benar, ada nama pasien bernama Laras Clarissa dan yang bikin terkejutnya lagi Laras sekarang berada di ruang ICU.

Aku pun mengurungkan niatku untuk menjenguk dan berjalan pulang sembari memikirkan skenario terbaik yang mungkin akan terjadi besok. Ketika berjalan pulang aku bertemu dengan seorang lelaki di pintu ke luar rumah sakit. Lelaki itu adalah orang yang kemarin aku lihat menjemput Laras. Setelah berpapasan dengannya, dia kembali berjalan ke arahku dan dia menepuk bahuku pelan dan memanggilku.

“Kemal, bukan ya?” sapa lelaki itu.
“Iya Mas, saya Kemal, ada apa ya?” kataku pelan.
“Oh, saya Dony Kurniawan. Saya Kakaknya Laras.” katanya dengan sopan.
Ternyata dia adalah kakaknya Laras dan bukan pacarnya, aku baru tahu Laras punya kakak laki-laki.

“Abis menjenguk Laras ya?” Timpalnya.
“Ah, enggak, enggak. Saya belum menjenguk Laras, Mas,” kataku dengan gagap.
“Loh, kok gitu. Ayo deh aku anterin ke kamarnya, gak usah malu-malu gitu. Merah itu mukamu, hahaha.”
Entah, dia mengada-ada tentang mukaku atau emang sebagai laki-laki dia sadar aku ingin menemui adik perempuannya.
“Ehh, jangan Mas, nanti saya malah mengganggu. Laras kan sedang butuh istirahat.” Kataku.
Tiba-tiba mas Dony menarik lenganku dan berkata, “Udah, ikut saja, pasti Laras seneng ada cowok yang menjenguknya.”

Tanpa berkata-kata pun aku mengiyakan ajakannya atau lebih tepatnya dipaksa. Ketika berjalan menuju kamar Laras, aku terganggu dengan aroma rumah sakit yang khas dengan bau antiseptik. Banyak orang terbaring di ruangannya masing-masing, entah kenapa itu sangat menggangguku. Mungkin aku hanya tidak suka terlalu lama di rumah sakit atau ini mengingatkanku akan Ayahku. Lorong demi lorong aku lewati dan terlihatlah bangunan dengan tulisan ‘ICU’ di atasnya. Kamar pertama dari kiri, aku melihat Laras dari jendela sedang terbaring dengan kabel infus yang tersambung di tangannya.

Mas Dony kemudian masuk duluan ke kamar Laras dan berkata, “Oi, Raras, ini ada temenmu yang mau jenguk kamu, tapi dia malu-malu,”
“Siapa, Kak?” Tanya Laras. Kemudian aku pun masuk, “Halo, Laras, hehe.”
“Oallah, Kemal, tahu dari mana aku di sini?” Kata Laras.
Saat ingin menjawab pertanyaan Laras, tiba-tiba mas dony berkata, “Ya udah, kalian ngobrol dulu, aku mau menemui Ayah dan Ibu dulu di ruang dokter.” Kemudian mas Dony ke luar dari ruangan dan berjalan ke arah bangunan utama.

“Emm, anuu, kemarin kan kita bertemu di minimarket daerah sini dan aku pikir kamu mungkin dirawat di rumah sakit ini,” Kataku dengan tergagap. Laras terdiam sejenak. Seketika raut wajah Laras menjadi serius dan berkata sambil menatap mataku, “Tadi mau ngobrol apa kalau aku tadi masuk?”

Aku pun mematung sejenak, berusaha mengalihkan mataku terhadapnya tetapi aku tidak tega untuk mengacuhkannya dengan kondisinya saat ini. Aku hanya tidak ingin mengatakannya dengan kondisinya yang seperti ini. Aku tidak tahu mengapa Laras tiba-tiba mengubah topik menjadi serius seperti ini, kita kan baru mengobrol dua hari ini. Jika saja kondisinya berbeda mungkin aku akan menjawabnya, hanya saja aku tidak mau menambah beban pikirannya untuk saat ini.

“Kemal? Kok ngelamun?” Kata Laras.
“Gak apa-apa kok, aku cuma ingin ngobrol biasa seperti kemarin, hehe,” Kataku bohong.
“Ya udah deh kalau gak apa-apa, aku kira–”
Belum selesai berbicara aku menyanggahnya, “Aku suka kamu Laras, dari dulu.”
Belum sempat dia menjawab, aku langsung berjalan ke luar kamar. Aku tidak kuat menatap matanya.

Aku pun berjalan menuju pintu keluar dan berpapasan dengan Mas Dony, “Udah, selesei ngobrolnya?” katanya. Aku menghiraukannya dan berjalan cepat menuju pintu keluar. Setelah ke luar rumah sakit, aku berjalan pulang dengan menyesali apa yang aku lakukan. Aku berjalan pulang dengan memikirkan tindakanku yang bodoh tadi, mengapa aku langsung ke luar bukannya mendengarkannya terlebih dahulu. Ketika sampai rumah, aku langsung menuju kamar dan merebahkan diri. Tanpa sadar aku tertidur dalam penyesalanku.

Minggu, 15 Februari 2015, aku tiba-tiba terbangun dari tidurku dan tiba-tiba aku teringat sesuatu, lekas aku membuka hp-ku ternyata ada pesan dari Laras. “Kemal, kamu inget kertas pink yang kemarin? Itu ada di laciku, coba deh baca, aku pingin kamu baca itu. Hehe.”

Tanpa membalas pesannya, aku pun bergegas menuju ke sekolah. Berlari secepat yang aku bisa. Sambil mencari napas, aku mencari penjaga sekolah untuk meminjam kunci kelas 10-2. Aku mengatakan bahwa ada barangku yang tertinggal dan penjaga sekolah pun meminjamkanku kunci kelas. Aku berjalan cepat menunju kelasku. Setibanya di kelas, aku langsung menuju meja Laras dan melihat isi lacinya. Terlihat ada buku di laci Laras, ketika aku membukanya ternyata ada kertas pink yang kemarin aku temukan. Masih terlipat rapi seperti saat aku menemukannya. Sewaktu ingin membuka kertas itu, ponselku berdering. Aku mendapat telepon dari nomor yang tidak aku kenal.

“Halo, siapa ya?”
“Ini Kemal, kan?” terdengar suara wanita dan sepertinya aku mengenal suara ini.
“Ini aku Flora, aku dapet nomor teleponmu dari Fadil. Eh, Kamu tahu rumahnya Laras, kan?”
“Iya tahu, dekat stasiun itu kan? Rumah luas dengan pagar warna putih itu kan? Ada apa, Flora?”
“Cepetan ke sini, aku sudah menelepon hampir semua anak kelas untuk datang ke sini,”
Aku menelan ludahku, “Emang ada apa dengan Laras?”
“Dia mengalami gagal jantung saat operasi. Tolong ya cepat ke sini,”
“Iya.”

Telepon pun terputus. Suasana kelas yang hampa menyatu denganku, aku merasa lemas. Aku berjalan pelan ke luar dengan membawa surat yang belum aku baca. Aku mengunci kelas dan mengembalikkannya kepada penjaga sekolah. Setelah itu aku berjalan menuju ke rumah Laras. Perasaan ini sungguh tidak karuan, aku menyesal tidak mendengar jawabannya tadi malam. Aku menyesal tidak mengatakannya lebih awal. Aku menyesal. Setelah berjalan mendekati rumah Laras, terlihat bendera putih dari kejauhan, banyak orang berdatangan ke rumah Laras. Banyak kendaraan di parkir di pinggir jalan. Dan dari luar pagar aku melihat banyak tempat duduk yang terisi oleh para pelayat di halaman rumah.

Kemudian aku bertemu dengan Bu Suci, wali kelas kami yang berada di depan rumah Laras. Bu Suci kemudian menyuruhku untuk masuk dan duduk berkumpul dengan teman sekelas di depan teras yang luas itu. Aku melihat banyak teman kelas yang sudah datang, Flora pun juga sudah datang dan duduk termenung. Saat aku ingin duduk di sebelah Flora, ia mengajakku untuk melihat ke dalam. Dia ingin aku masuk ke dalam rumah itu. Aku berjalan masuk ke dalam ruang tamu. Dan aku sangat lemas ketika melihat tubuh Laras yang terbaring kaku di ruang tamu dengan terbalut kain kafan yang dikelilingi oleh kerabat-kerabatnya. Ibunya pun terlihat masih menangis, aku melihat Mas Dony sedang berdiri di pojok. Aku berjalan ke arah mas Dony dan mengucapkan perasaan bela sungkawa sebisaku. Aku pun berjalan ke luar rumah dengan Flora dan duduk kembali di tempat semula.

Tiba-tiba Flora menggugah lamunku dan berkata.
“Kem, kamu sudah mengambil kertas pink yang aku taruh di laci Laras?”
“Belum..” aku pun berbohong.
“Itu titipan Laras ketika aku mengunjunginya dua hari lalu, dia ingin aku menaruhnya di lacinya. Sebenarnya aku ingin memberitahumu kemarin, tetapi saat pulang, kamu sudah hilang entah kemana. Besok senin akan aku berikan kepadamu.” kata Flora.

Aku hanya diam. Setelah beberapa saat aku berpamitan pulang kepada teman-teman bahwa aku tidak bisa ikut ke pemakamannya. Saat berjalan pulang, aku membuka kertas itu dan memulai membacanya. Tak sadar aku mulai meneteskan air mata saat membacanya. Aku hanya bisa berharap memutar waktu kembali dan membacanya waktu aku menemukan surat itu untuk pertama kali. Di jalan pulang, aku tiba-tiba teringat mimpiku tadi malam. Bahwa aku akan bermimpi buruk saat aku terbangun nanti.

Cerpen Karangan: Bagas Sinaro
Blog: http://readmyystory.blogspot.co.id

Cerpen Dia, Laras merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mama Memang Kejam

Oleh:
Hay, namaku adinda taniadewi.. aku punya kembaran yang bernama aninda taniadewi, dia sangat baik denganku.. tapi mama lebih menyayangi dia, mama selalu memuji mujinya.. sedangkan aku tidak! aku seperti

Gadis Pasar Malam

Oleh:
Hidupku selalu tertawa, ceria berubah temtram ketika melewati pasar malam sejak kecil gue doyan ke pasar malam tapi gue selalu menanti datangnya teman kecil gue… yang punya janji ngejagain

Foot Light

Oleh:
Apakah cinta selalu berarti memiliki seseorang itu seutuhnya? Aku mencintainya namun dengan cara yang berbeda. Dalam percintaan, kami tidak saling mengisi maupun melengkapi. Kami hanya mengungkapkannya dengan isyarat yang

Dandelion Garden

Oleh:
Entah sudah berapa lama aku duduk diam tanpa kata di sini, Menatap peri peri kecil yang menari kian ingatkan aku pada senyum gadis yang amat aku rindukan. Kau begitu

Jantungku Masih Hidup

Oleh:
Hembusan angin tiada terasa hari ini, suara merdu sang burung pun tiada terdengar, semua itu terlihat sunyi dan sepi, nampak di atas bukit itu gadis bersyal biru masih terus

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *