Forbidden Space

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Romantis, Cerpen Patah Hati, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 11 April 2018

16 Februari 2011
“Vas! Woi!”
Teriakan dari arah jam tiga memekakkan telinga gue. Gue sudah sangat hapal siapa itu.
“Kenapa?” ucap gue jutek. “Eh, kalian duluan aja. Bentar doang kok.” kata gue kapada Saras dan Dian yang terlihat kekesalan. Tak lama kemudian mereka pergi.

“Anu–” ujar Leo putus-putus sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Ketemuan di warteg Bi Ijah yuk habis pulang?”
“Lah, ngapain?” Leo tak sempat menjawab. Dia langsung pergi menjauh.
“Pokoknya dateng aja!” gue menggeleng-geleng bingung.

Leo. Dia adalah sahabat gue. Maksud gue, beda sama Saras dan Dian yang baru gue kenal saat masuk SMA. Leo itu teman gue sejak Ninja Hattori masih tayang di televisi Indonesia. Gue dan Leo itu dekat banget. Bahkan dulu pas kami sekitar umur empat tahunan, kami sempat mandi bareng.
Perhatian Leo ke gue itu kadang-kadan berlebihan. Itu salah satu alasan yang bikin gue suka sama Leo. SEBAGAI SAHABAT. Karena siapa sih cewek yang nggak suka diperhatiin?
Walaupun gue nggak tahu apa tujuan Leo ajakin gue ke warteg Bi Ijah, gue tetap dateng. Memang, memang sih Leo enggak terlalu serius orangnya. Bisa jadi dia cuma berniat nge-prank gue? Tapi ya bodo amat lah.

“Bi Ijah lihat Leo nggak?” tanya gue kepada Bi Ijah, sang pemilik warteg dekat sekolah yang sering dijadikan markasnya anak-anak cowok untuk bolos. Gue emang cukup dekat sama Bi Ijah. Mungkin karena kebanyakan utang kali ya?
“Enggak tuh. Duduk aja dulu, Dek Vasya.” tawar Bi Ijah sambil tetap fokus mengelap meja.

Gue pun menuruti perkataan Bi Ijah dengan duduk di meja pojok warteg kecil itu. Gue menunggu hampir 15 menit di sana, tapi Leo belum juga datang. Gue hampir putus asa hingga sebuah panggilan mengurungkan niat gue untuk pulang.
“Vasya– Flamingo,” tanpa perlu pertimbangan, gue langsung memutar kepala dan menemukan Leo sedang berlutut.
Flamingo. Unggas berwarna pink itu adalah hewan kesukaan gue sejak kecil, dan yang cuma tahu hal itu adalah Leo. Saking sukanya, Leo ikut-ikutan memanggil gue dengan sebutan Flamingo.
“Le-”
“Lo mau nggak jadi pacar gue?”

Lo tau, saat Leo bilang kalimat itu, mata gue melotot, darah gue mendadak panas, dan jantung gue bunyinya dag-dig-dug. Saking sunyinya keadaan warteg saat itu, kemungkinan suara detak jantung gue bisa kedengaran.

“Hah? L-lo ngapain?”
“Perlu gue ulang?”
“E-enggak usah!”
“Jadi apa jawaban lo?”

Gue berpikir. Walaupun Leo itu tipe cowok yang gue suka, tapi kita itu sahabat. Kita saling sayang, tapi hanya sebatas teman. Kita memang saling peduli, tapi cuma sebagai sahabat.
Walaupun gue ragu.

“Leo, kita kan pernah janji kalo nggak bakalan saling suka. Kok lo ingkarin sih?”
Bullshit.
“Tapi gue nggak bisa, Sya. Lo tau, gue udah lama nunggu saat ini. Saat gue sudah berani ungkapin ke lo.”
Gue juga, Leo.
“Kita sahabat, Leo. Dan selamanya bakal tetap begitu.”
Omong kosong.
“Jadi… lo nggak mau?” tanya Leo dengan raut kecewa. Gue nggak memberi satu jawaban pun. Gue hanya diam, tapi diam itu mengisyaratkan iya.
Leo berada di posisi itu sedikit lama. Berlutut ke arah gue dan gue sendiri kebingungan mau ngapain. Sementara kami masih menjadi sorotan di sana.
“Gue bisa kok jadi apa yang lo mau. Gue bisa ngapain aja. Asal lo terima gue. Kedepannya kita bisa pikirin nanti.”
Gue tetap bertekad bulat untuk menolak karena gue nyaman sama posisi gue sebagai sahabat Leo. Belum tentu kan keadaannya sama kalau gue jadi pacar Leo? Yah, walaupun ada sedikit suara di hati gue untuk bilang iya.

Selang beberapa menit, Leo pun berdiri dari posisinya dan berlalu pergi dengan langkah putus asa. Dan saat itu juga, perlahan-lahan air mata gue mengucur deras. Seharusnya gue siap kalau sewaktu-waktu hal ini terjadi karena persahabatan antara lawan jenis itu memang beresiko.
Bi Ijah mengusap-usap punggung gue untuk menenangkan gue. Tapi itu nggak mempan. Gue cuma butuh jawaban. Apa yang gue lakuin ini benar? Apa gue nggak menyesal nanti?

Setelah kejadian itu, Leo nggak pernah datang ke sekolah lagi. Dia nggak tinggalin pesan apapun kepada gue. Gue nggak tahu dia ada di mana, gimana keadaannya, atau sedang apa dia. Tapi semua pertanyaan gue nggak terjawab karena surat itu nggak pernah datang hingga bertahun-tahun kemudian.

16 Februari 2017
Ini masih gue. Vasya. Sekarang gue adalah mahasiswi di salah satu kampus terkenal di Yogyakarta.
Sekarang gue sedang duduk di sebuah kafe. Sedang menyegarkan pikiran dari setumpuk skripsi yang penuh dengan coretan pena oleh dosen terkutuk itu. Sungguh, rasanya jadi mahasiswa tingkat akhir itu menyebalkan. Banget. Hingga sebuah punggung tak asing seolah menyapa gue di luar sana. Kebetulan posisi gue duduk adalah di samping kaca yang viewnya langsung menghadap trotoar sibuk.
Gue mengetuk-ngetuk kaca itu untuk membuktikan prediksi gue. Cowok itu menoleh dan betapa terkejutnya gue melihat siapa itu.
Kami bertatap mata dengan cukup lama. Pasti di dalam benaknya penuh dengan keterkejutan karena begitu juga dengan gue. Ada sedikit perubahan di sana. Kumis tipis tumbuh di atas bibir tebalnya dan rambutnya sedikit sampai ke leher. Berbeda, tapi lebih enak dipandang daripada enam tahun yang lalu.

Dia segera masuk ke dalam kafe dan mendekat ke meja gue.
“Vasya?” sapanya masih dalam tampang tak percaya.
“Lo di Yogya sekarang?” dia mengangguk kemudian mengambil tempat duduk berhadapan dengan gue.
Rasanya aneh saat melihat Leo lagi setelah dia menghilang selama bertahun-tahun tanpa kabar. Gue nggak tahu kata apa yang tepat untuk mengekspresikan perasaan gue. Mungkin semacam lega, terharu, terkejut, dan bahagia. Iya, bahagia.

“Lo inget kan kampus impian gue apa?” katanya sambil menyengir. “Wah, rambut lo nggak dikuncir lagi sekarang ya?” tambahnya.
“Iya nih. Lo juga berubah, tiba-tiba hilang begitu aja tanpa kabar.” muka excited Leo seketika berubah menjadi murung.
“Gue–” kata Leo terputus. “Gue ke sini karena paksaan Papa gue. Dia mau gue sekolah lebih giat di Yogya yang banyak sekolah bagusnya. Gue benar-benar minta maaf karena nggak kasih kabar. Gue takut persahabatan kita putus.”
“Hah? Lo mau persahabatan kita nggak putus? Tapi lo sendiri yang bikin itu putus. Lo yang hancurin! Yo, enam tahun ini gue selalu dihantui sama pertanyaan ngegantung dari lo. Kenapa nggak kirim surat atau sekadar kasih pesan singkat?”
“Karena-”
“Karena apa?”
“Karena gue takut sakit hati gue kembali!” raut wajah gue berubah bingung. “Setelah gue nembak lo. Itu pertama kalinya gue sesakit itu. Lo adalah yang pertama buat gue, Sya. Saat lo bilang apa gue pernah jatuh cinta sama seorang cewek beberapa tahun yang lalu, sebenernya iya. Itu lo. Gue memendam perasaan ini sangat lama dan gue menunggu momen yang pas untuk ungkapinnya. Jadi sebelum gue pergi, gue mau perasaan ini terungkap, Sya.” gue tertegun

“Jadi gunanya janji yang lo buat itu apa?”
“Itu demi menutupi perasaan gue.”
Setelah Leo mengatakan itu, kami kembali terlarut dalam diam. Kini semua pertanyaan gue terjawab. Tapi ada satu yang mengganjal. Rasanya sangat menggebu-gebu. Apa Leo nggak mau mengulang perkataannya saat itu?

“Gue harus pergi.” kata Leo.
“Lo mau ke mana?”
“Eh- bukan sesuatu yang penting.” apa cuma perasaan gue? Apa Leo menyembunyikan sesuatu?
“Ke mana? Segitu nggak pentingnya lagi gue buat lo?”
“Gue-” katanya seperti nggak ikhlas. “Mau ke La Diamond.” gue tertegun. Ngapain dia ke toko perhiasan?
“Hah? Ngapain?”
“Ketemu Farah.” balasnya singkat. “Tunangan gue.”
Saat itu juga, perasaan itu datang. Sakit, benci, tak rela dan semuanya. Emosi itu bercampur aduk dan mendatangkan perasaan amat menyakitkan. Ini pertama kalinya.

“Ma-maksud lo?”
“Gue harus pergi, Sya.” Leo tak menjawab dan melangkahkan kakinya menuju pintu kafe.

“Leo!” panggil gue untuk menghentikan langkah jenjang Leo. “Gue juga sebenernya sayang sama lo. Lebih dari sahabat.” aku gue dengan mata yang sudah basah. Dengan satu kedipan saja, air mata ini sudah bisa meledak.
Leo bukannya senang. Dia nggak kaget dengan ucapan itu. Dia malah membalas dengan wajah kecewa.
“Maaf, Sya. Tapi lo bener, memang kita itu sahabat dan selamanya bakal tetap begitu.” setelah mengucapkannya, Leo langsung beranjak dari sana dan keluar dari kafe seakan-akan nggak peduli sama gue.

Itu dia. Kalimat itu adalah penutup dari kisah persahabatan gue dan Leo. Berakhir dengan sesak dan penuh penyesalan. Kenapa gue dan Leo nggak mengungkapkan
perasaan kami masing-masing lebih awal? Tapi sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Leo sudah menemukan tambatan hatinya dan nggak bisa memberikan kesempatan lagi buat gue.

Seandainya waktu bisa diputar kembali. Seandainya.

Cerpen Karangan: LiviaR

Cerpen Forbidden Space merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Selamat Tinggal January

Oleh:
“Lo tahun baru mau kemana, Vir?” Tanya Rena padaku. “Entahlah. Mungkin Papaku ngajakin ke tempat bersalju untuk menghabiskan bulan pertama di tahun baru disana.” Jawabku singkat. Sesungguhnya aku malas

Now I Hate You

Oleh:
Aku duduk di belakang, meninggalkan tempat duduk yang biasa. Karena sebuah coklat tergeletak di sana. Tak perlu kusentuh apalagi buka coklat yang dihiasi pita berwarna merah marron itu. Sudah

Oh My Vampire, Because You Are My Sun (Part 2)

Oleh:
Seketika itu Ken berdiri. “Tunggu, apa aku salah lihat…!! ini aneh sekali…” kata Ken dengan ekspresi penasaran. Nana secara perlahan-lahan berdiri. “kaa.. kau.. mungkin salah lihat… ak..aku yakin itu..!”

Faris

Oleh:
Aku hanya ingin menulis. Entah kenapa, menurutku aku bisa menumpahkan segala kedukaanku dengan tulisan. Padahal aku tidak memiliki darah sastrawan ataupun penulis dalam keluargaku. Walaupun kakekku keturunan darah biru,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *