Gadis Pejalan Kaki

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Penyesalan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 5 June 2017

Manusia terlahir sebagai pejalan kaki, begitulah kata orang. Tapi di era modern ini, kalimat itu mulai sirna. Semua serba canggih, tak kalah dengan dunia otomotif yang selalu berkembang. Motor dan mobil semakin menjamur di setiap sudut kota. Tak jarang pula terjadi kemacetan di mana-mana bagai pasukan semut yang terlihat dari sang pencakar lagit. Beralasan kenyamanan, pengguna kendaraan semakin banyak, banyak dan banyak.

Tak terkecuali aku yang hari ini menanti kehadiran motor yang kudambakan selama ini. Setelah menunggu sekian lama, motor itu hadir di depan mataku. Berwarna merah membara membakar semangatku. Bentuknya yang besar akan membuatku semakin gagah dan terpandang. Sahabat-sahabatku pasti terkesima melihatnya. Bagaimana tidak, motor ini adalah CBR 1000 RR Fireblade. Ayah menghadiahkannya di hari ulang tahunku ke-17. Betapa murah hatinya beliau membuatku bertekad kelak kelulusanku akan kujadikan kado manis untuknya.

Embun pagi terasa sejuk. Matahari mulai menampakkan sinarnya, menyinari sepanjang jalan perkotaan. Hari ini langit tampak bersahabat. Terdengar burung-burung bernyanyi menyambut pagi. Tibalah aku di sekolah bersama CBR1000RR Fireblade. Sesuai dugaanku, ribuan memandang motor itu. Tak sedikit orang menawarkan adu kecepatan. Sayangnya aku bukan pembalap murahan, sehingga aku tidak tertarik dengan tawaran itu. Niatku sekolah untuk menimba ilmu. Walau otakku tak cermelang, biarlah tahun terakhir ini menjadi tahun kebanggaan ayah terhadapku.

Suasana kelas tak pernah sunyi. Di antara ramainya kelas, ada seorang gadis yang terdiam. Ia sedang mempeajari calon soal-soal yang akan dihadapinya tahun depan. Najla namanya yang berarti bermata elok. Aku melangkah menghampirinya. Kedua bola matanya yang berwarna coklat tua itu menyambut kehadiranku dengan tatapannya. “Eh, Riyadi. Ada apa?” Tanyanya.
Aku terdiam sejenak, “Najla, boleh minta tolong ajarin tentang analisis vector parabola?”
“Ya udah duduk aja. Biar kujelasin,” jawabnya. Detik-detik berlalu, Najla menjelaskanku tentang konsep maupun rumus demi rumus. Aku pun mulai memahami materi tersebut, ya walau tak banyak yang kupahami. Dengan sabar Najla mengajariku selama berjam-jam. Untung saja sedang free class, yang memberi kesempatan untuk menguasai materi itu. “Riyadi, kalau kamu masih ada yang nggak paham. kita belajar bersama, ya”.
“Sebenarnya, Najla. Masih banyak yang belum kupahami,” jawabku.
“Kalau begitu, besok kita belajar lagi saja. Besok kan libur, mungkin bisa pas paginya. Berhubung otak juga masih fresh” kata Najla.
“Besok mau kujemput?”
“Nggak usah, Riyadi. Aku jalan kaki saja. Kalau kamu tidak keberatan kita sekalian jogging pagi,” Aku pun mengiyakan usul Najla.

Seumur hidupku, aku belum pernah mengendarai motor bersama Najla. Gadis itu tak pernah suka untuk naik kendaraan, kecuali untuk jarak yang sangat jauh. Aku tidak pernah tau apa alasannya. Mungkinkah dia punya phobia? Tapi itu alasan yang sangat aneh. Aku selalu penasaran dengannya, tidakkah ia berkeinginan untuk mencoba menaiki CBR 1000 RR Fireblade milikku? Di saat gadis-gadis lain sangat penasaran dengan motor itu. Gadis itu memang unik, ia berhasil menenggelamkanku dalam rasa penasaran.

Hari telah berganti, aku mengendarai motorku menuju alun-alun kota. Di sanalah tempat masyarakat berkumpul untuk menikmati waktu senjangnya. Sesampainya, Najla sudah menantiku. “Riyadi!” sapanya dari kejauhan. Aku turun dari motor itu, dan menghampirinya. Kami pun melakukan jogging pagi mengitari alun-alun. Aku mecoba untuk melontarkan beberapa pertanyaan kepadanya karena rasa penasaranku sudah mulai tak terbendung lagi.

“Najla, kenapa kamu nggak suka menaiki kendaraan?” tanyaku
“Aku nggak suka aja,” jawabnya.
“Apa kamu punya phobia tentang kendaraan?”
“Tidak juga…” ia diam sejenak, “Mungkin aku ingin melestarikan budaya yang hampir punah di Indonesia,”
“Maksudmu?” aku mencoba untuk memahami perkataannya.

Setelah kami mengitari alun-alun, kami menyeberang jalan melalui zebra cross. Tiba-tiba ada motor dengan kelajuan tinggi nyaris menabrak kami, tepatnya menabrak Najla. Aku dengan sigap menarik Najla agar bisa menghindari motor itu. Jatungku langsung berdebar kencang karena terkejut akan keberadaan motor tadi.
“kamu nggak apa apa?”.
“Nggak apa-apa… Terima kasih, ya,” ucapnya tulus. Aku kesal dengan motor tadi. Padahal kami berjalan di zebra cross yang fungsinya sebagai tempat penyebrangan. “Ah… iya. Soal pertanyaan tadi,” suara Najla memecahkan lamunanku. “Aku hanya ingin melestarikan budaya jalan kaki. Sayangnya tak ada yang menghargai pejalan kaki. Padahal setiap manusia terlahir menjadi pelajan kaki,”

Sekian hari telah melangkah meninggalkan peristiwa itu. Aku semakin rajin belajar untuk dapat lulus dengan nilai yang memuaskan. Najla masih tetap menjadi guru private gratisku. Kami biasa belajar di perpustakaan kota dekat dengan alun-alun. Hari ini aku berjanji untuk belajar matematika di sana. Setengah jam sebelum waktu yang dijanjikan, aku mendapat pesan dari Najla. Gadis bermata coklat itu mengabariku, ia hendak berangkat menuju perpustakaan. Seperti biasa ia ke sana dengan jalan kaki. Sedangkan aku masih mengendarai motor kesayanganku. Aku tidak perlu berangkat jauh sebelum waktu perjanjian. Aku semakin percaya diri akan mendapat nilai memuaskan saat kelulusan nanti. Aku mulai memahami pola soal yang akan kuhadapi nanti. Ayah akan sangat bangga, apalagi kalau aku berhasil menjadi lulusan yang terbaik. Aku bisa membayangkan ekspresi rasa bangga beliau terhadapku.

Aku terhanyut dalam imajinasi membuat aku lupa akan belajar bersama. Aku melihat jam pada dinding kamar. Sebentar lagi?! Aku tidak ingin terlambat. Telat bukanlah prinsipku. Aku terburu-buru mengenakan pakaian yang pantas, mengambil tas selempangku, dan kunci motor. Aku bergegas mengendarai motor menuju perpustakaan. Akibat ambisiku tidak mau terlambat, aku memasang kecepatan tinggi. Aku tidak mau membuat Najla menunggu terlalu lama. Tiba-tiba rambu berwarna hijau padam dan rambu merah menyala. “Sial!” batinku. Aku nekat menerobos lampu merah. Aku melihat samar-samar ada orang di depanku, aku berusaha untuk memberhentikan motorku, dan membanting stir. Aku tidak tau bagaimana keadaan orang itu, apakah itu hanya imajinasiku. Aku pun terpental, terakhir yang kulihat semua orang mengelilingiku, dan dunia pun menjadi hitam kelam.

Aku terbangun di kasur rumah sakit. Aku memandang Najla yang ada di sampingku memberikan senyuman termanisnya. Aku hanya tersenyum kecil. Aku tidak tahu mengapa Najla ada di rumah sakit. Sepertinya ia hendak menjengukku atau menegur karena aku tidak datang ke perpustakaan. “Riyadi udah merasa baikan?” Tanya Najla.
“S…udah,” jawabku lemah. Aku memperhatikan gadis itu, berpindah posisi. Tapi, tunggu! “Mengapa kamu menggunakan kursi roda?” tanyaku. Aku belum bisa menyadari alasan apa Najla menggunakan kursi roda. Tetapi aku tidak bisa memandanginya dengan jelas. Aku sungguh penasaran apa yang terjadi.
“Kurasa impianku untuk melestarikan budaya ini pupus,” katanya yang kemudian melihat sekelilling luar jendela. Aku mencoba mencermatinya. Oh, tidak. Kakinya… ia kehilangan keduanya.
“Kau? Kenapa bisa begitu?” tanyaku.
“Sebuah kecelakaan di Zebra Cross,” jawab Najla.
“Siapa yang tega menabrakmu?”
“Kau,” jawabnya singkat.

Cerpen Karangan: Jasmine Hany Tazkia
Jasmine Hany Tazkia siswi kelas XII SMAN 1 Bekasi

Cerpen Gadis Pejalan Kaki merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jangan Nyontek Dong

Oleh:
Ussst!! Ussttt!!! Terdengar ramah pada setiap daun telinga dan terasa sangat akrab tak lama dari itu terdengar suara berbisik dari arah belakang, “Nomor 1 apa?” serasa risih dengan perbuatan

Maafkan Aku (Part 1)

Oleh:
Malam ini teman Marsha ulangtahun Vita namanya, Disana seluruh siswa SMA BANGSA MULYA hadir di pesta ulangtahun Vita, termasuk Riko anak kelas XI IPA, dia mantan Marsha setelah putus

Mencontek

Oleh:
Jam pelajaran terakhir di kelas Shela adalah Seni Budaya dan Keterampilan (SBK). Pelajaran ini diajar oleh Ustadzah Atiqah. “Assalamualaikum anak-anak!” sapa Ustadzah Atiqah saat memasuki kelas Shela. “Waalaikumsalam Waramatullahi

Secret Admirer In Rainy Season

Oleh:
November ceria. November musim hujan. Bulan ini adalah bulan paling disukai Anka. Biancha Ulinanta nama lengkapnya. Cewek serba lumayan. Lumayan pinter. Lumayan manis. Lumayan gaul dan juga lumayan kaya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *